
Kini Tiara dan Gio bermain di atas atap, mereka berlari dan tertawa riang tidak tahu apa yang terjadi di bawah sana. Semua orang panik mencari mereka, bahkan Baskara sudah sangat marah menghubungi Gio yang tidak menjawabnya.
Gio mengabaikan panggilan itu tidak peduli dengan ayahnya.
"Tempat ini sudah seperti rumahku. Kamu lihat itu … dan itu." Tunjuk Tiara pada gambar-gambar yang terlukis pada tembok. "Aku menulis kenangan itu setiap tahunnya. Karena tidak ada yang bisa ku lakukan selain di sini. Dan bunga-bunga ini bertumbuh dengan cepat aku jadi pandai menanam. Atap ini terlihat indah bukan?" tanya Tiara setelah memperlihatkan atapnya.
"Ketika semua orang ingin mengenang masa kecil, aku ingin melupakannya," tutur Gio yang menatap lurus ke depan. Sepertinya tidak ada kenangan sedikit pun di masa kecilnya.
"Kenapa? Kenapa kamu ingin melupakannya?" tanya Tiara.
Sedetik Gio meliriknya lalu berkata, "Karena tidak ada yang indah untuk dikenang." Tiara tertegun mendengarnya. "Di sini sangat panas lebih baik kita turun." Ajak Gio seraya menuntun tangan Tiara.
Namun, baru saja satu langkah, kedua orang tua mereka sudah datang menghentikan langkah keduanya.
"Mama!" Susan langsung berlari dan memeluk Tiara. Dia benar-benar khawatir ketika Tiara hilang.
Perlahan Gio melepaskan genggaman tangannya. Menatap sang ayah yang siap menerkamnya, tatapan Baskara sangat tajam begitu pun raut wajahnya yang penuh emosi.
"Kenapa kalian pergi tanpa pamit? Mama sangat khawatir padamu Tiara. Kita turun sekarang." Sedetik Susan melirik Gio sebelum membawa Tiara pergi.
Ketika hendak melewati Baskara langkah Tiara tiba-tiba terhenti. Dia menatap Baskara lalu berkata, "Jangan salahkan Gio ini adalah keinginan ku," ucapnya lalu melangkah pergi.
Semua orang mulai pergi meninggalkan atap kecuali Baskara dan Gio yang masih diam. Baskara berjalan ke arah Gio dia terlihat tenang tiba-tiba satu tamparan ia layangkan. Saking kerasnya wajah Gio berpaling ke sisi kanan, kedua tangannya mengepal dengan kuat. Dia ingin membalas tapi tidak bisa.
Mungkin Gio ingin menangis tapi itu bukanlah sifat dirinya yang lemah. Gio mendongak menatap tegas sang ayah, tidak hanya wajah matanya pun terlihat sangat merah. Sangat jelas Gio sedang menahan amarah.
"Aku semakin yakin jika aku bukan putramu."
"Dasar anak keras kepala! Bukannya meminta maaf malah berbicara hal konyol." Baskara berkata dengan penuh amarah.
"Apa kamu masih mengharapkan ibumu? Apa dia pernah datang melihatmu? Sampai sekarang pun dia tidak pernah muncul. Sekarang katakan siapa yang lebih menyayangimu aku … atau wanita itu?" tanya Baskara dengan nada tinggi.
"Kamu yang membiarkannya pergi. Jika kamu mencegahnya dulu mungkin sekarang dia masih bersamaku," ucap Gio masih menatap tajam sang ayah. Namun, cairan bening terlihat turun dari sudut matanya.
"Apa kamu tidak mengerti! Dia pergi itu artinya dia tidak menyayangimu. Sudah berapa kali aku bilang!"
__ADS_1
"Lalu apa apa bedanya denganmu? Apa kamu pernah menyayangiku? Entah tamparan ke berapa kali yang aku terima." Kata Gio sambil mengusap sudut bibirnya.
"Terserah aku sudah lelah menjelaskannya padamu. Cari saja wanita itu jika kau mau." Baskara semakin mendekat, mencengkram kedua bahu Gio lalu berkata, "Jika dia menyayangimu tidak akan pernah meninggalkanmu ingat itu," ucapnya yang menatap tajam. Sampai saat ini Gio belum mendapat jawaban apa alasan sang ibu meninggalkannya.
Baskara lebih memilih pergi dari pada harus memarahi Gio. Emosinya tidak akan terkendali jika berhadapan dengan putranya itu. Sifat Gio memang keras sama sepertinya diantara mereka tidak ada yang mau mengalah.
Tiara kembali berbaring di dalam kamar. Dokter dan kedua orang tuanya masih setia menunggu. Namun, Tiara tidak melihat Gio lagi dia tidak datang setelah bertemu di atap membuatnya khawatir.
Tidak berselang lama senyum Tiara sedikit terlukis ketika melihat Baskara masuk dan senyumnya kembali menciut saat tidak melihat Gio.
"Bagaimana keadaan Tiara apa baik-baik saja?" tanya Baskara pada Susan dan Danu.
"Keadaannya masih baik," jawab Susan.
"Maaf, aku ingin meminta maaf karena Gio sudah membawanya pergi tanpa izin." Baskara masih menyangka jika Giolah yang berulah.
"Jangan khawatir Pak Baskara, kami tidak menyalahkan Gio. Tadi kami hanya syok karena melihat Tiara yang tiba-tiba menghilang. Jadi jangan menyalahkan Gio," ucap Susan.
Namun, semua tiada arti karena Baskara sudah terlanjur memarahi Gio.
"Ngomong-ngomong di mana Gio? Apa dia tidak masuk atau masih di atap?" Baskara hanya diam ketika Susan bertanya. Dan dia baru sadar jika Junita pun tidak ada.
"Mungkin mereka masih di luar. Istriku juga tidak ada di sini," jawab Baskara.
Junita kembali ke atap menemui Gio yang tengah duduk bersandar pada tembok. Dia merasa kasihan melihat Gio yang terus terluka, tetapi Gio tidak akan pernah mengharap belas kasih dari nya.
"Gio?" Gio segera menoleh ketika namanya dipanggil.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Gio dingin tapi Junita tetap mendekat.
"Apa kamu senang melihat hubunganku dengannya? Dia menamparku hari ini." Dengan sinisnya Gio berkata.
"Bisakah kamu berhenti? Berhenti menjadi pemberontak," ujar Junita.
"Apa pedulimu?"
__ADS_1
"Aku tidak peduli jika kamu tidak menganggapku sebagai ibumu. Aku sadar seorang ibu sambung tidak akan mudah diterima tapi … sayangilah dirimu, lihatlah tubuhmu. Jika kamu menurut apa katanya dia tidak akan menamparmu. Dan berhentilah membantah, lebih baik diam dari pada dipukul." Junita benar-benar tidak tahan melihat Gio yang terus dipukul sang suami.
"Apa aku harus menjadi anak yang pendiam?" tanya Gio setelah berdiri. "Dia memang tidak pernah menganggapku sebagai putranya itu sebabnya dia selalu menyiksaku. O ya, terima kasih karena sudah membelaku tapi itu tidak akan merubah apa pun, aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibuku," ucap Gio lalu pergi.
Perkataan Gio sungguh menyakiti hati, dia tidak peduli setitik air mata pun turun dari mata Junita. "Mungkin kesalahan ku dulu tidak akan pernah dia maafkan," ucap Junita yang mengingat masa lalunya.
Delapan tahun lalu, ketika Junita membuang semua barang milik mantan istri Baskara. Bahkan foto-fotonya semua dia buang dan bakar. Gio melihat semua itu.
"Mama," ucap Gio yang melihat foto ibunya. Sedetik Junita menoleh lalu berkata, "Gio!" Bocah kecil itu berlari ke arah tong sampah di mana kobaran api sudah menyala.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Gio dengan tangisan. Junita pun bingung menjawab dia hanya menjalani perintah dari Baskara.
"Kamu sudah merebut posisi ibuku. Membuat ibuku pergi!" Gio berteriak seraya memukul pahanya karena tubuhnya saat itu masih kecil. Gio yang belum mengerti apa yang orang dewasa alami.
"Gio, berhenti! Aku melakukan ini karena perintah ayahmu." Nada bicara Junita yang tinggi membuat Gio semakin marah dan berpikir mereka semua yang telah membuat ibunya pergi.
Gio menangis berlari menemui Baskara, tetapi bukan mendapat pembelaan malah mendapat teguran.
"Papa dia telah membuang semua foto-foto mama. Bahkan dia membakarnya." Tunjuk Gio pada Junita sedangkan Baskara hanya melirik Junita sesaat.
"Gio mengertilah ibumu saat ini adalah mama Junita, lupakan ibumu yang dulu," kata Baskara. Namun, Gio sulit untuk mengerti.
"Papa! Aku tidak mau ibu mana pun. Aku ingin ibuku kembali. Bawa mama kembali!"
"Gio!" bentak Baskara.
Menghadapi sikap Gio membuat Baskara emosi. Gio hanya bisa menangis saat itu.
"Kenapa kamu tidak mengerti perkataan Papa Gio?" tanya Baskara dengan Nada tinggi. Baskara memang tidak pernah tahu cara menghadapi anak kecil. Dia hanya melewati Gio lalu meninggalkannya. Tidak peduli isakan tangis Gio yang semakin keras.
...****************...
Jangan lupa like dan vote setelah membaca
Tinggalkan komentar yang menarik juga ya ☺
__ADS_1