Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Butterfly Untuk Tiara


__ADS_3

"Ehm!" Suara deheman Revan menyadarkan Gio dan Tiara. Mereka langsung bangun dan berdiri, membersihkan pakaian masing-masing yang sempat kotor. Keduanya terlihat canggung apalagi ketika ditatap Revan.


"Tidak perlu pamer kemesraan semua orang sudah tahu hubungan kalian," ucap Revan lalu pergi meninggalkan mereka.


Sedetik Gio melirik pada Tiara lalu bertanya, "Apa kamu baik-baik saja?" Tiara hanya mengangguk sebagai jawaban.


Tiba-tiba Tiara merasa mual yang langsung muntah di hadapan Gio. Awalnya Gio tercengang, lama-lama Gio jadi panik karena Tiara tidak berhenti muntah.


"Tiara!" Gio membantu memijat tengkuk leher Tiara, setelah puas Gio mendudukkan Tiara di atas kursi.


"Tiara kamu masih mendengarkan aku, kan?" tanya Gio takut jika Tiara hilang kesadaran.


"Aku hanya mual, aku tidak tahu jika akan muntah," jawab Tiara dengan suara lemah.


"Apa kamu membawa obat?" tanya Gio.


"Di dalam tas," jawab Tiara. Gio tidak mungkin meninggalkan Tiara sendirian. Gio membawa Tiara ke klinik dan meminta Mytha untuk mengantarkan obat Tiara ke klinik.


"Gio!" Panggil Mytha memasuki klinik. "Ini obat Tiara," katanya memberikan obat itu pada Gio.


"Terima kasih," ucap Gio lalu memberikan obat itu pada Tiara.


"Tiara kamu baik-baik saja?" tanya Mytha khawatir. Tiara hanya mengangguk lalu berkata, "Iya, aku baik-baik saja," jawab Tiara.


"Kamu bisa kembali ke kelas," titah Gio pada Mytha. Mytha pun mengangguk dan pergi. Kini hanya ada Gio yang menemani Tiara.


"Aku menjatuhkan daun sirsak tadi," ucap Gio membuat Tiara tersenyum.


"Tidak apa-apa kita bisa memetiknya lain kali," ucap Tiara lalu memandang ke arah jendela.


"Gio, jika hari ini adalah hari terakhir hidupmu apa yang akan kamu lakukan? Bersenang-senang atau …," ucap Tiara terhenti.


"Jangan berkata seperti itu," sanggah Gio tidak suka dengan ucapan Tiara.

__ADS_1


"Aku ingin mewujudkan impian Mama," ucap Tiara yang menerawang cahaya mentari di luar sana. "Semalam aku baru melihat betapa putus asanya orang tuaku. Mungkin mereka lelah, atau mereka menyerah. Dalam hidup ini aku tidak menginginkan apa pun selain hidupku yang panjang. Aku ingin mewujudkan impian Mama yang bisa melihatku menjadi seorang pengantin," ucap Tiara yang menatap teduh Gio. Gio yang ditatap itu pun diam.


"Dan jika hari ini hari terakhirku apa kamu mau mewujudkan impian itu? Tidak harus menikah sesungguhnya kita hanya memakai pakaian pengantin saja agar mamaku melihat itu." Gio tidak mengatakan apa pun yang langsung memeluk Tiara.


Tiara tertegun.


"Jangan katakan itu, ingatlah mataharimu, ingatlah harapanmu," ucap Gio tanpa terasa bulir air mata Tiara jatuh.


Tetap saja Gio, matahariku … harapanku tidak bisa mengubah takdirku, batin Tiara yang memejamkan mata.


Di tengah taman Revan menunduk hanya untuk mengambil daun sirsak yang terjatuh. Revan terus memandangnya yang kembali membayangkan Tiara dengan Gio. Lalu mengambil daun-daun itu lagi.


Revan memasuki klinik, tetapi Gio sudah tidak ada di sana. Revan semakin mendekati ranjang yang terdapat Tiara di atasnya.


Tiara masih tertidur, Revan menyimpan segelas air di atas nakas samping Tiara. Ketika hendak pergi tiba-tiba Tiara terbangun dan memanggilnya.


"Revan …," panggil Tiara lembut. Tiara bangkit lalu duduk dia melihat gelas yang ada di sampingnya.


Revan langsung mendaratkan bokongnya di sisi ranjang.


"Terima kasih," ucap Tiara lalu meminum air itu. Revan melihat jelas wajah Tiara yang begitu pucat, memang Tiara selalu terlihat seperti itu bukan.


"Apa itu di tanganmu?" tanya Tiara yang melihat kedua tangan Revan yang mengatup.


Revan pun membuka tangannya sambil berkata, "Aku menemukan kupu-kupu," ucap Revan memperlihatkan kupu-kupu yang sudah mati.


"Apa dia mati? Tidak bergerak sama sekali," ujar Tiara mencoba menyentuh kupu-kupu itu.


"Karena itulah takdirnya," ucap Revan membuat Tiara menatapnya. "Kamu tahu apa arti kupu-kupu?" tanya Revan, Tiara hanya menggeleng.


"Perjalanan yang penuh perjuangan hingga menjadi bentuk indah," ujar Revan. "Dari mulai telur, ulat, kepompong sampai akhirnya berbentuk kupu-kupu. Bagiku kamu seperti kupu-kupu," kata Revan menatap Tiara.


"Aku?" Tunjuk Tiara pada dirinya.

__ADS_1


"Perjalanan yang penuh perjuangan untuk menjadi sehat," ucap Revan. "Apa kamu tahu berapa lama waktu kupu-kupu hidup?" tanya Revan Tiara hanya menggeleng.


"Delapan bulan itu paling lama, dua bulan, ada juga yang bilang empat minggu. Dan ada kupu-kupu yang hanya hidup selama 24 jam. Namun, apa kamu pernah melihat mereka menyerah atau bersedih? Mereka bahkan selalu terlihat indah terbang ke sana ke mari membuat manusia tersenyum saat melihatnya. Akan tetapi siapa yang menentukan matinya setiap makhluk hidup? Hanya Tuhan walaupun itu seorang Dokter mereka tidak bisa menentukan kapan terakhir hidupmu. Dokter bisa mengatakan Delapan bulan, enam bulan atau satu tahun." Revan berkata lalu mendekat pada Tiara, mencondongkan tubuhnya lalu menunjuk Tiara dengan jari telunjuknya.


"Yakinlah hidupmu lebih dari satu tahun," ucap Revan meyakinkan.


Tiara tertegun, seketika matanya membulat sempurna. Senyum indah terlukis sudah ketika kupu-kupu kecil beterbangan di sekitarnya. Revan sengaja membawa kupu-kupu itu yang dia masukan ke dalam wadah yang ditutup.


Lalu wadah itu dibuka membiarkan kupu-kupu itu terbang bebas di hadapan Tiara.


"Revan, dari mana kamu mendapatkan semua ini? Mereka sangat cantik penuh dengan warna," kata Tiara yang terus tersenyum.


"Butterfly untukmu Tiara," ucap Revan dengan sedikit senyuman.


***


Di dalam kamar Tiara terus memandang kupu-kupu yang Revan berikan untuknya. Ada tiga kupu-kupu yang berwarna-warni Tiara masukan ke dalam kotak yang sudah dia hias dan diberi lubang udara agat kupu-kupu itu bisa bernafas.


Saking senangnya Tiara memberikan nama untuk kupu-kupu itu. "Gio, Revan, dan Tiara," ucapnya yang menunjuk satu persatu kupu-kupu itu.


Tiara terus tertawa sampai tawanya terhenti ketika sebuah cairan kental merah menetes di bawah hidungnya. Tiara segera menahan darah itu dengan tangannya dan berlari menuju meja rias untuk mengambil beberapa lembar tisu.


Tiara terus mendongak agar darah itu tidak keluar. Beruntung darah mimisannya berhenti. Tiara segera membersihkan sisa-sisa darah dan tissu di lantai.


"Mama! Papa!" panggil Tiara yang mencari Susan dan Danu. Namun, Tiara tidak melihat kedua orang tuanya yang sedang berada di luar. Susan dan Danu sedang bertemu Baskara dan Junita.


Sedangkan Gio sedang menuju rumah Tiara untuk menemaninya.


"Kemana Mama?" tanya Tiara yang memindai setiap sudut ruangan. Keadaan begitu sepi membuat Tiara harus kembali ke dalam kamar.


Namun, Tiara tiba-tiba jatuh ketika hendak melangkah. Tubuh kecilnya tergeletak di atas lantai. Gio, baru saja sampai di depan rumah Tiara, turun dari motor dan membuka helmnya.


Ketika hendak masuk seseorang menghubunginya.

__ADS_1


__ADS_2