Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Pernikahan


__ADS_3

Pesta segera digelar, para tamu undangan mulai berdatangan. Tiara sudah siap dengan gaun putihnya, yang masih diam di dalam kamar.


Mengingat gaun putih sebelumnya Tiara jadi takut, gaun itu akan ternodai lagi.


"Tiara?" Panggil Susan yang menghampiri Tiara. Mengingat kepalanya yang botak Tiara tidak ingin dirias orang lain selain ibunya.


Susan membawakan Tiara sebuah wig, rambut palsu yang sudah dihias layaknya rambut pengantin. Perlahan Susan membuka rambut palsu itu menggantikan dengan yang pendek seperti di sanggul.


"Kamu sangat cantik sayang," ujar Susan, menatap Tiara pada pantulan cermin.


"Makasih Ma," balas Tiara menatap sedih dirinya.


Susan menunduk, memeluk Tiara dan berkata, "Yakinlah jika Gio, akan menerimamu apa adanya."


Tiara hanya diam dan berharap semua itu benar. Kecupan hangat Susan berikan untuknya.


.


.


Gio sudah rapih dengan tuxedonya, yang terus memandang dirinya pada pantulan cermin. Pria itu tidak menyangka akan menikah di usia muda.


Baskara menghampiri Gio, lalu memeluknya. "Kamu sudah dewasa, dan akan segera menjadi seorang suami dari Tiara," ujarnya lalu melepaskan pelukan.


"Maafkan aku, jika selama ini selalu keras padamu. Aku seperti itu demi kebaikanmu." Perkataan Baskara sangat kaku, dan formal.


Mungkin karena hubungan mereka tidak begitu akrab. "Bersiaplah sebentar lagi kita berangkat," ucap Baskara lalu pergi meninggalkan kamarnya.


Gio, menuruni tangga, melihat Junita tersenyum padanya. Mengingat perlakuannya yang buruk Gio melangkah pelan ke arah Junita dan berkata, "Terima kasih sudah menjadi ibuku."


Junita melongo dia tidak percaya apa yang sudah dikatakan oleh Gio, untuk pertama kalinya Gio mengucapkan terima kasih.


Senyum Junita merekah membawa Gio dalam gandengannya. Namun, senyuman itu hanya sesaat ketika Bella datang. Bella berjalan ke arah mereka yang melepas gandengan Junita menggantikan dengan dirinya.


"Aku ibu kandungnya, jadi aku yang akan menemaninya," ucap Bella begitu percaya diri.


Namun, Gio malah melepaskan gandengannya. "Jangan menuntunku, aku bukan anak kecil. Kenapa kalian antusias sekali ingin menjadi pendampingku di hari pernikahan?" Gio tetap sama dingin dan kaku.


Gio melangkah ke arah mobil meninggalkan kedua wanita yang saling menatap.


.


.


Revan, masih berada di dalam kamar, sangat malas menghadiri pernikahan Tiara dan Gio. Namun, Revan harus pergi mengucapkan selamat untuk mereka.

__ADS_1


"Revan!" Panggilan Nico sangat keras hingga melengking di telinganya, Revan mendengkus sesaat lalu turun dari kamarnya.


"Tidak bisakah kamu tidak berteriak?" Revan jadi emosi.


"Acaranya akan segera dimulai, ayok!" Dengan malasnya Revan memasuki mobil Nico, mereka pun segera pergi menuju pesta.


.


.


"Permisi, Permisi," Rara berkata seraya melewati para tamu undangan.


Entah kenapa pakaiannya sangat berbeda dari yang lain, ketika semua orang menggunakan gaun, Rara hanya memakai seragam cathring. Sepertinya Rara bukan sebagai tamu melainkan pekerja.


"Mereka semua sangat cantik-cantik, kapan aku menggunakan gaun indah seperti itu?" Rara berandai.


Gio, Revan dan Nico memasuki ballroom, seketika ruangan pun riuh, mereka bersorak menyambut kedatangan mereka. Rara, yang berada di tengah-tengah kerumunan itu penasaran yang ingin melihat juga.


"Ada apaan sih, apa pengantinnya sudah datang?" Rara segera berjinjit di antara para tamu undangan.


Matanya membulat seketika ketika melihat Gio yang berada paling depan, serta Revan yang berjalan di belakangnya.


"B-Bukankah itu … cowok yang merampas cincinku? Kenapa dia ada di sini, dan satu lagi, cowok berjas biru siapa dia? Seperti pernah bertemu." Pikirnya sampai tidak sadar terseret ombak kerumunan.


Para gadis sangat heboh dan antusias ingin melihat T-C-K dari dekat. Rara pun tidak bisa menahan dorongan dari mereka, hingga dia terjatuh dan … hap, para gadis tercengang, melihat Revan menangkap tubuh Rara.


Revan dan Rara sedetik saling memandang, hingga suara Gio mengejutkannya.


"Kau!" Rara segera bangkit dan menjauh dari Revan, tubuhnya langsung mematung ketika ditatap tajam oleh Gio.


"Hai, kita ketemu lagi," ucap Rara pada Gio. Revan dan Nico hanya mematung.


"Apa kamu pelayan cafe itu?" tanya Revan yang mengingat pertemuan mereka.


Rara segera melirik, dan berkata, "Ya, kamu pembaca buku romansa, kan?" tanya Rara seakan sudah akrab dengan Revan.


"Rara!" Panggilan seorang pria membawa Rara pergi dari kerumunan itu.


"Rara, apa-apan kamu ini cepat pergi ke belakang," tegur pria itu, Rara pun segera pergi.


"Oh ternyata pelayan cathring, tapi sangat beruntung sekali," rengek para gadis.


"Revan, apa kamu tidak ingat dia gadis itu," ujar Nico. "Yang menjatuhkan bukumu," sambung Nico. Revan pun varu mengingatnya.


"Apa kalian tidak ada waktu membicarakan gadis itu? Sekarang kita pergi ke ruanganku," kata Gio lalu melangkah menuju ruangan privatnya.

__ADS_1


Tiara masih duduk, di depan cermin. Kedua tangan ia rekatkan pada gaunnya. Rasa sakit kembali Tiara rasakan, wajahnya semakin pucat, tetapi Tiara harus kuat sampai acara pernikahannya selesai.


"Tiara?" Panggil Susan berjalan ke arah Tiara.


"Acaranya sudah dimulai, ayok." Tiara berdiri menyembunyikan rasa sakitnya, menggenggam tangan sang ibu sebagai pegangan.


Ketika sampai di depan pintu, Danu mengambil alih genggaman Tiara.


"Papa, Tiara sangat dingin sekali." Susan khawatir ketika menggenggam tangan Tiara.


"Tiara, kamu baik-baik saja? Katakan pada Papa jika kamu merasakan sakit." Danu ikut khawatir.


Tiara hanya tersenyum, dan berkata baik-baik saja. Tiara meminta acara sakral itu segera dimulai.


'Ya, Tuhan. Kuatkanlah aku. Aku mohon," batin Tiara.


Semua orang terpana melihat kedatangan Tiara, rambut sanggul gaun putih dan riasan sederhana menutupi kepalanya, menambah kesan yang cantik.


Gio, tersenyum manis ketika menatap Tiara, begitupun Tiara yang mencoba tersenyum walau sakit. Perlahan Tiara melangkah mendekati Gio, walau sesekali tubuhnya akan terjatuh karena hilang keseimbangan.


Gio, panik melihatnya. Namun, Tiara segera berdiri. Hingga langkahnya sampai di depan Gio. Acara sucil pun dimulai, Gio mulai melapalkan kalimat sakralnya.


Dalam waktu singkat, akhirnya mereka sah menjadi suami istri. Dengan senyum yang bahagia, Gio menyematkan sebuah cincin ke jari manis Tiara.


Tarikan nafas berat Tiara hembuskan, ketika sudah tidak kuat lagi untuk bertahan. Namun, Tiata tetap kuat, yang mencengkram tangan Gio dengan erat.


Gio segera menoleh pada Tiara, ketika merasakan genggaman itu."


"Tiara apa kamu baik-baik saja?"


Baru saja bertanya, mata Gio terbelalak, ketika sentuhan Tiara mulai longgar. Tubuhnya semakin goyang, hingga akhirnya terjatuh.


"Tiara!" Gio segera menangkap tubuh Tiara, yang berbaring di atas lantai. Kesadaran Tiara semakin melemah, hingga mata itu tertutup rapat.


"Tiara!"


Semua orang langsung menghampiru Tiara, terutama Susan dan Danu.


"Tiara, Tiara bangun." Gio, cemas hingga membawa Tiara pergi dari tempat itu.


Semua tamu tercengang ketika Tiara dipangku Gio keluar dari ballroom. Susan dan Danu segera menyusul, begitupun dengan Revan dan Nico.


"Ada apa ini? Kenapa pengantin wanita?" Rara yang melihat jadi penasaran.


"Mytha, ayok kita susul mereka." Zy berkata seraya menuntun Mytha keluar dari ballroom.

__ADS_1


"Padahal mati saja, kenapa harus menyusahkan semua orang," ujar Angel yang mendengkus.


__ADS_2