
Baru saja Tiara mendaratkan bokongnya di atas ranjang, sebuah deringan ponsel mengalihkan pandangannya, Melihat benda pipih yang menyala dan bergetar Tiara pun berpindah pada kursi roda.
Niat ingin memberikan ponsel itu pada Gio, tidak sengaja jari jempolnya menyentuh layar hingga pesan dari Bella terbuka.
Awalnya Tiara tidak ingin tahu apa yang Bella katakan pada Gio, tetapi nama Tiara tertulis mendorongnya untuk membaca.
Tiba-tiba Tiara menjatuhkan benda pipih itu, dia menjerit kesakitan ketika merasakan nyeri di bagian sumsum tulang belakang. Karena rasa nyeri itu luar biasa tidak bisa Tiara tahan hingga akhirnya Tiara pun tumbang.
Gio yang baru memasuki kamar sangat terkejut, mendapati Tiara di tengah lantai.
"Tiara!" Gio segera memangku Tiara membawanya keluar kamar, kedua orang tua mereka pun terkejut, dan Tiara akhirnya dibawa ke rumah sakit.
Gio duduk dengan gelisah, menunggu Tiara yang masih ditangani Dokter.
Susan dan Danu berdiri ketika Dokter keluar dari ruangan. Gio yang melihat itu langsung menghampiri mereka.
"Dokter bagaimana keadaan Tiara?" tanya Susan.
Mereka semua harap-harap cemas menunggu jawaban Dokter. Namun, perkataan Dokter membuat mereka tenang, kondisi Tiara tidak begitu buruk hanya kelelahan dan stress.
Tiara sudah kembali sadar, mereka semua memasuki kamar untuk melihat Tiara. Gio, orang pertama yang merasa khawatir hingga tidak henti-hentinya mengecup tangan Tiara.
Tiara yang melihatnya sangat sedih, mendorong dirinya untuk sembuh.
"Dokter, apa aku akan sembuh?" Pertanyaan Tiara membuat semua orang terdiam.
"Tentu, kamu pasti sembuh," jawab Dokter itu dengan ragu, karena tidak tahu apa yang akan terjadi pada Tiara.
"Aku akan menjalani setiap terapi, pengobatan apa pun itu. Aku ingin sehat dan bisa menamani Gio ke mana pun," ucap Tiara membuat semua orang sedih apa lagi Gio.
Untuk pertama kalinya mereka melihat semangat Tiara. Semua orang meninggalkan kamar, membiarkan Tiara bersama Gio.
"Kamu membuatku cemas," ucap Gio. Tiara hanya tersenyum.
"Gio, apa kamu akan selalu ada bersamaku? Apa kamu benar-benar mencintaiku?" tanya Tiara dengan suara lemahnya.
"Kenapa bertanya begitu? Jika aku tidak cinta aku tidak akan menikahimu." Gio berkata seraya mengelus lembut kepala Tiara.
'Mulai hari ini aku akan semangat untuk sembuh, aku tidak akan menyulitkanmu lagi, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebut dirimu,' batin Tiara.
Tiara masih ingat apa yang dituliskan Bella dalam sebuah pesan, Bella memang tidak pernah setuju dengan pernikahan mereka, hingga sampai saat ini Bella terus membujuk Gio agar berpisah dengan Tiara.
Tidak hanya pesan itu, Bella juga pernah mendatangi Tiara setelah pernikahannya, saat Tiara masih di dalam rumah sakit.
Tiara tersenyum ketika Bella masuk ke kamarnya, Tiara kira Bella akan mengucapkan selamat, atau menjenguk sang menantu.
Namun, yang Bella lakukan diluar dugaan. Bella meminta Tiara untuk meminta cerai pada Gio.
"Kita ketemu lagi," ucap Tiara. "Aku tahu, kamu adalah ibu Gio, terima kasih sudah datang menjengukku, tapi Gio sedang pergi keluar," tambah Tiara.
__ADS_1
Ekspresi Bella tidak bisa diartikan sangat datar. Berbeda pada saat mereka bertemu.
"Baguslah, jika kamu sudah mengetahuinya. Awalnya aku ingin memberitahumu," ujar Bella.
"Bolehkah aku tahu sejak kapan kamu menderita leukimia?" tanya Bella.
Tiara terdiam sejenak, sebelum akhirnya menjawab, "Sangat lama," jawab Tiara singkat.
"Kamu mencintai Gio?" Pertanyaan kedua Bella lontarkan.
"Ya," jawab Tiara.
"Jika kamu mencintainya, tentu kamu ingin yang terbaik untuknya bukan?" tanya Bella lagi, Tiara semakin bingung dengan semua pertanyaan itu.
"Kamu ingin Gio bahagia?"
"Ya," jawab Tiara.
"Maaf, aku mengatakan ini," ucap Bella tertahan sejenak. "Biarkan Gio bahagia, tinggalkan Gio sebelum terlambat," sambung Bella.
Tiara cukup terkejut mendengar semua itu.
"Apa anda meragukan kebahagiaan Gio jika bersamaku? Gio sudah memilih, dan pilihannya aku. Gio sudah mengetahui penyakitku dari dulu, dan dia tetap ingin bersamaku, dia bilang bahagia," ujar Tiara.
"Apa Gio akan mengatakan jika dirinya menderita? Gio selalu menurut apa kata ayahnya, dan kalian menikah karena dijodohkan, apa Gio akan menolak? Dia tertekan dengan semua yang Baskara perintahkan, termasuk menikahimu."
"Pikirkanlah baik-baik perkataanku," ujar Bella lalu pergi meninggalkan Tiara.
Setitik butiran bening menuruni sudut matanya hingga jatuh pada daun telinga. Mengingat hal itu Tiara jadi ingin menangis.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Gio, mengusap lembut air mata itu.
"Apa kamu ragu dengan ucapanku?" tanya Gio lagi.
Tiara menggeleng lalu menjawab," Karena aku bahagia." Tiara beralibi.
"Sudah, jangan menangis lagi. Kamu pasti sembuh, istirahatlah yang cukup, karena rumah kecil kita akan sunyi tanpa kita." Tiara mengangguk mendengar ucapan Gio.
.
.
"Di mana ponselku," ucap Gio, baru menyadari ketidak hadiran ponselnya.
"Apa tertinggal di rumah," ucap Gio.
Gio menatap Tiara yang sudah terlelap, lalu keluar dari kamar dan menitipkan Tiara pada Susan dan Junita yang kebetulan menjaga.
Gio pamit pulang ke rumahnya, setelah sampai di rumah Gio terus mencari keberadaan ponsel. "Kenapa ponselku ada di sana," katanya yang melihat benda pipih di bawah ranjang.
__ADS_1
Gio segera mengambil, tetapi ponsel itu dalam keadaan mati daya. "Mati lagi," ucapnya lalu mencari charger dan beberapa pakaian untuk dibawa ke rumah sakit.
Gio tidak sempat membaca pesan dari Bella.
.
.
Tiara mengerjap, orang yang pertama dia cari adalah Gio, tetapi Gio tidak ada di sampingnya. Membuat Tiara gelisah.
...'Ke mana Gio? Di mana Gio, kenapa tidak ada? Apa Gio …,' batin Tiara yang gelisah dan khawatir. Tiara kembali teringat pesan yang Bella kirimkan....
...Pesan...
Gio bagaimana kabarmu? Apa kamu bahagia? Apa Tiara masih sakit?
Tante tidak perlu khawatir Gio bahagia bersamaku, Tiara.
Kamu sudah berani membuka ponsel Gio? Bukankah itu privasi.
Kami sudah menikah, jadi tidak ada privasi untuk kami.
Baiklah Tiara, berhubung kamu yang membalas pesan, aku ingin memberitahumu bahwa aku sudah menemukan wanita yang akan membahagiakan Gio. Jika kamu mementingkan kebahagiaan Gio, biarkan dia menemui wanita itu.
...----------------...
"Tiara!" Susan dan Junita panik dan segera berlari pada Tiara yang kini menangis.
"Tiara ada apa sayang?" tanya Susan segera memeluk Tiara.
"Aku akan panggilkan Dokter," Junita segera berlari ke luar mencari Dokter.
"Di mana Gio," lirih Tiara, suaranya mulai melemah.
"Gio? Gio tadi pamit pulang pada Mama, dia akan segera kembali," balas Susan.
"Pulang?"
"Ya, mencari ponselnya."
Mendengar kata ponsel Tiara semakin takut jika Gio membacanya, dan pergi menemui wanita itu. Dokter memasuki kamar yang segera memeriksa Tiara.
Susan dan Junita menunggu dengan gelisah, tidak berselang lama Gio datang dengan wajah paniknya. Gio melihat Susan menangis.
"Mama ada apa? Apa terjadi sesuatu pada Tiara?" tanya Tiara.
"Dokter masih memeriksanya, tadi Tiara mencarimu dia menangis karena kamu tidak ada di sana, mungkin Tiara khawatur jika kamu akan pergi," jawab Susan.
Gio segera mendekat, melihat Tiara pada kaca jendela.
__ADS_1