Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Bertemu Kembali


__ADS_3

"Mama, aku pergi sebentar," ujar Rara yang berlari pergi.


"Hei! Mau ke mana?" tanya Miranti sedikit berteriak. "Jangan lama-lama, kita akan pergi ke pantai sebentar lagi," tambah Miranti dengan emosi karena Rara pergi begitu saja.


Rara mendatangi pemakaman. Langkahnya terhenti di depan sebuah pusara dengan bunga matahari di atasnya. Segera Rara berjongkok membiarkan lututnya mengenai pusara milik Tiara.


"Apa ada yang mengunjunginya kemarin?" monolognya yang melihat bunga matahari di atas pusara.


Rara meletakkan bunga yang dia bawa di samping bunga itu.


"Sudah dua tahun kamu pergi Tiara, tetapi semua yang dekat denganmu tidak pernah lupa, justru mereka semakin merindukanmu," ucap Rara, lalu menyiram pusara itu.


Setelahnya gadis itu pergi meninggalkan pemakaman.


.


.


"Mama, katanya mau ke pantai. Tapi malah ke dermaga," keluh Rara.


"Apa kamu tidak lihat sekelilingmu? Air laut yang jernih apa kamu tidak melihatnya," ujar Miranti dengan kesal karena Rara selalu saja protes.


Miranti pergi ke dermaga untuk membeli ikan segar untuk rumah makannya, bukan sengaja berlibur. Rara yang kesal hanya menggerutu hingga mencebikkan bibirnya.


"Tidak bisakah kamu diam? Baiklah pergi sana, anak gadis zaman sekarang susah sekali membantu orang tua," umpat Miranti.


"Aku hanya pergi sebentar saja. Nanti Mama menyusul oke." Rara langsung pergi meninggalkan Miranti.


Rara berlari dengan ceria, menapaki pasir putih yang panas karena cuaca hari ini. Langkahnya terhenti di pesisir pantai memandangi gelembang ombak yang begitu indah.


Tiba-tiba mata itu menitikkan butiran bening. Rara segera menunduk dan menghapusnya.


"Kenapa tiba-tiba aku jadi menangis," ucap Rara. "Apa pemilik mata ini punya kenangan? Menatap gelembung ombak dan pantai seperti ada sesuatu yang terjadi di masa lalu. Huh, kenapa dengan mataku ini, terus saja berair."


Rara semakin terisak karena tangisnya tak kunjung berhenti.


Di sisi pantai yang lain, Gio berjalan gontai sambil menikmati angin laut yang sepoi-sepoi. Setiap tarikan nafas berhembus dengan lembut. Pantai itu mengingatkannya pada Tiara.


Gio melirik sesaat ke samping kanannya, seorang gadis yang sedang menunduk. Namun, Gio tidak tahu jika itu adalah Rara.


'Setiap kali aku melihat wanita selalu saja ingat dirimu Tiara,' batin Gio yang masih memandang Rara.


Pandangan itu teralihkan saat sapuan ombak menerpa kakinya. Gio menunduk bersamaan dengan Rara yang menoleh ke arahnya. Namun, pandangan mereka tidak bertemu.


"Aku selalu berharap akan bersama kekasihku saat pergi ke pantai." Rara berkata seraya menarik nafasnya pelan.


"Namun, siapa yang mau denganku," tambahnya lalu pergi meninggalkan pantai.


Bersamaan dengan itu Gio pun pergi meninggalkan pantai. Langkah mereka berjauhan, Gio yang mengambil arah kiri sedangkan Rara menuju arah kanan, kembali ke dermaga.


"Mama!" teriak Rara memanggil Miranti.


Miranti pun menoleh. "Sudah selesai lihat pantainya? Bawakan ini, kita pulang sekarang." Miranti berkata seraya menyerahkan dua kantong kresek belanjaannya.

__ADS_1


"Pulang? Tidak ke pantai?" tanya Rara.


"Bukankah tadi kamu sudah pergi ke pantai?"


"Mama." Rara merengek.


"Masih banyak kerjaan. Mama dapat telepon, kita harus menyiapkan makan malam untuk pak Direktur Healvito grup. Lain kali saja kita jalan-jalannya." Perkataan Miranti membuat Rara kesal.


Namun, Rara tetap mengikuti perintah ibunya, mereka kembali ke kedai dan memasak.


.


.


Gio menghentikan motornya di depan sebuah mansion. Membuka helm full face itu lalu turun dari kuda besi favoritnya dan berjalan memasuki mansion itu.


Terlihat sepasang suami istri sedang mengobrol di tengah ruangan, mereka terkejut saat melihat Gio datang.


"Romantis sekali kalian," ujar Gio mengalihkan pandangan keduanya.


"Gio," ucap Junita sedangkan Baskara hanya diam dan menatapnya.


Gio duduk diantara mereka.


"Dasar anak nakal sama sekali tidak berubah," umpat Baskara.


Baskara masih kesal pada Gio yang memutuskan pergi ke Amerika dengan Bella. Padahal Baskara sudah menyerahkan tanggungjawab perusahaan padanya. Namun, Gio pergi tanpa pamit.


"Lumayan menyenangkan," ujar Gio. Membuat Baskara semakin kesal.


"Anak ini … sekarang kamu sudah senang tinggal bersama ibumu? Apa yang dia berikan padamu?" tanya Baskara dengan sedikit sinis.


Gio hanya diam.


"Gio, ayahmu ini sangat merindukanmu. Jangan dimasukan ke hati ucapannya," tutur Junita. "Kapan kamu datang?" tanya Junita.


"Kemarin," jawab Gio yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Baskara.


"Kemarin! Tapi kamu baru mendatangiku?" tanya Baskara dengan nada tinggi, Junita selalu menjadi penengah dan penenang.


"Sudahlah, mungkin kemarin dia lelah karena perjalanan jauh itu sebabnya putramu baru datang. Kebetulan kamu datang hari ini, kita makan malam bersama. Aku akan memasak untukmu."


Junita pergi membiarkan Baskara dan Gio berduaan.


"Kembalilah ke perusahaan," kata Baskara.


"Tidak bisa," jawab Gio yang langsung menatap tatapan tajam. "Aku akan bekerja di rumah sakit, karena profesiku sekarang seorang Dokter."


"Apa!" Baskara merasa terkejut.


"Aku tidak mengerti apa jalan pikiranmu. Sudah aku bilang kamu adalah pewarisku."


"Maaf jika aku mengecewakanmu, tapi inilah keinginanku. Aku ingin menjadi seorang Dokter."

__ADS_1


"Apa semua itu karena Tiara?" tanya Baskara yang membuat Gio diam.


"Itu sudah keputusanku, menjadi seorang Dokter tidaklah begitu buruk," ujar Gio.


"Ya, dibanding menjadi seorang gengster itu lebih baik," cibir Baskara.


Baskara menghela nafas panjang lalu berkata, "Kamu sudah dewasa bebas memilih apa yang kamu inginkan. Namun, jangan lupakan takdirmu sebagai pewaris Baskara Grup, apa pun yang kamu impikan tetap kamu adalah penerusku."


Gio tersenyum sinis.


"Kamu memang tidak pernah berubah dari dulu," ucap Gio.


"Kalian berdua memang sama-sama keras," ujar Junita membuat mereka terdiam.


.


.


Rara mengantarkan pesanan catering untuk perusahaan Healvito Grup. Untuk pertama kalinya Rara memasuki perusahaan besar, melihat gedung yang tinggi, lipt yang naik turun dan lobi yang luas gadis itu merasa takjub.


"Ehm," deheman seorang wanita berpakaian formal mengejutkannya.


Rara segera menoleh lalu membungkuk hormat.


"Anda yang membawa pesanan pak Direktur?" tanya wanita itu sedikit tengil, tetapi Rara selalu ceria.


"Ya," jawab Rara dengan senyuman.


"Ikut saya," ujar wanita itu yang melangkah pergi.


Rara segera mengikutinya. Rara semakin tercengang saat lipt itu buka tutup dalam sekali sentuhan. Wanitu itu menganggapnya rendah, Rara sepertu gadis kuno.


Mereka berdua pun keluar dari lift.


"Lurus, belok kanan, itulah ruangan Direktur," ujar wanita itu.


"Terima kasih," ucap Rara dengan ramah.


"Ingatlah jangan terlihat nora di depan pak Direktur, itu sangat memalukan." Tiba-tiba saja wanita itu berkata.


"Nora? Maksudnya?" tanya Rara bingung.


"Di dalam ruangan itu lebih mewah dari pada di sini. Jadi jagalah sikapmu itu," ucap wanita itu lalu pergi.


"Apa aku terlihat nora," ujar Rara lalu melangkah ke arah ruangan Direktur.


Rara mengetuk pintu terlebih dulu. Setelah seseorang menyahut dari dalam barulah Rara memasuki ruangan itu.


Seorang pria duduk di atas kursi kebesarannya, yang membelakanginya. Rara berjalan gontai mendekati meja yang terpampang nama Direktur.


"Selamat sore, Pak. Saya dari catering ingin mengantarkan pesanan anda," ujar Rara.


Sedetik kursi itu berputar memperlihatkan seorang pria tampan dan elegan. Rara terbelalak ketika pria itu mendongak menatapnya. Pria itu hanya diam dengan wajah datarnya.

__ADS_1


__ADS_2