
Cakra cuma bisa pasrah dengan pilihan yang Berti tunjukkan. Sudah jelas calon istrinya itu ingin buat pakaian sendiri lantas untuk apa mencoba begitu banyak gaun pengantin.
Cakra juga tahu kalau bentuk tubuh Berti terbilang bagus. Jika ia harus datang, dan memuji, maka Berti salah besar. Cakra tidak suka wanita yang haus akan pujian.
"Kalau ini bagaimana?" tanya Berti yang muncul dengan gaun pengantin warna pink.
"Bagus, Sayang," sahut Santi.
"Kamu semakin cantik. Iya, kan, Sayang?" Widya menekan pundak Cakra.
"Sangat sempurna," ucap Cakra.
Pujian terpaksa yang keluar dari bibirnya. Sungguh Cakra ingin lekas pergi dari butik ini. Lebih baik ia berkutat dengan segala macam berkas daripada pusing melihat Berti berganti gaun sedari tadi.
"Apa kita sudah mengukur pakaian? Aku sudah harus kembali ke kantor," kata Cakra.
"Bisa. Saya akan mengukur Anda lebih dulu," sahut Avanie.
Akhirnya, Cakra bisa juga terbebas dari semua ini. Ia segera melakukan pengukuran, sedangkan Berti sibuk dengan memilih pakaian yang lain.
"Aku sudah selesai mengukur, apa kalian masih ingin berada di butik?" tanya Cakra.
"Aku belum selesai," jawab Berti.
"Aku perlu bekerja lagi." Cakra mendekat, meraih tangan tunangannya. "Aku harus menyelesaikan pekerjaan sebelum hari sakral kita, dan besok aku sudah harus pergi ke Singapura."
"Aku boleh mengantarmu?" tanya Berti.
"Aku berangkat sangat pagi. Bagaimana kalau malam ini kita habiskan waktu bersama?" usul Cakra.
Berti mengangguk cepat. "Kita makan malam bersama."
"Aku akan menjemputmu nanti malam. Sekarang aku harus pergi."
Berli mengiakan permintaan Cakra. Ia benar-benar jatuh cinta kepada pria itu hanya dalam beberapa hari saja. Cakra sangat lembut memperlakukan dirinya hingga Berti tidak pernah rela menolak apa yang tunangannya ucapkan.
Dalam hati, Berti memang sedikit kecewa Cakra yang pergi terburu-buru. Namun, ia dapat menerima alasan itu terlebih calon suaminya menyelesaikan pekerjaan demi hari besar mereka.
"Aku akan tunggu kamu," ucap Berti.
Cakra tersenyum. "Aku pergi dulu."
Cakra mengusap rambut Berti, lalu berpamitan kepada ibu dan calon mertua. Widya cuma bisa meringis di dalam hati sebab sang putra lebih mementingkan pekerjaan daripada Berti. Ia tahu siapa Cakra sebenarnya. Berkas serta proyek yang lebih penting bagi pria itu.
__ADS_1
Berti mengantar Cakra sampai ke depan pintu butik. Lambaian tangan sebagai tanda perpisahan keduanya. Berti belum beranjak dari tempatnya sebelum mobil yang dikendarai Cakra menghilang dari pandangan.
*****
Makan malam yang ditunggu Berti telah tiba. Cakra datang tepat waktu menjemput. Pria itu masih memakai setelan jas yang dikenakan tadi siang, dan Berti sudah tahu jika tunangannya itu pasti baru pulang kerja.
"Aku pamitan sama bapak dan ibu dulu," kata Cakra.
"Ibu dan bapak enggak ada di rumah."
"Mereka ke mana?" tanya Cakra.
"Ke rumah kerabat. Tapi aku sudah izin tadi," jawab Berti.
"Oh, kita langsung berangkat saja," kata Cakra sembari membuka pintu penumpang bagian depan.
Cakra segera menyusul masuk kemudian mengendarai kendaraan roda empat miliknya menuju restoran. Sekitar tiga puluh menit perjalanan, keduanya sampai di tempat makan elit.
Cakra melirik calonnya, Berti tetap diam di kursi. Yang pasti Cakra tahu kalau ia harus membuka pintu mobil untuk sang tuan putri tercinta.
"Ayo," ucap Cakra seraya mengulurkan tangan sesudah ia membuka pintu.
Berti menyambut uluran tangan itu. "Terima kasih."
"Aku suka tempatnya," ucap Berti.
"Benarkah? Tidak sia-sia aku meminta Ariel menyiapkan ini semua."
"Ariel?" tanya Berti.
"Dia asistenku. Maaf, aku tidak sempat mencari restoran untuk kita berdua. Jadi, aku meminta Ariel," jawab Cakra.
Berti memaksakan senyum terbit di bibirnya. "Tidak masalah buatku. Mungkin restoran ini juga rekomendasi darimu."
"Kamu benar. Aku cuma meminta dia yang memesan meja. Lebih baik kita segera pesan makan saja," kata Cakra mengalihkan pembicaraan.
Pelayan dipanggil dan keduanya memesan menu yang diinginkan. Cakra melirik calon istrinya. Hampir saja ia mengecewakan wanita itu terlebih telah bicara jujur siapa yang memesan restoran ini sebenarnya.
Cakra tidak tahu apa-apa. Ia menyuruh Ariel memesan restoran untuk makan malam saja, dan asistennya itu rupanya pintar mencari tempat untuk pasangan kencan. Untung saja didetik terakhir, ia masih bisa memikirkan alasan yang masuk akal. Melihat perubahan gembira wajah Berti, itu artinya ia berhasil mengalihkan perhatian.
"Kita tunggu makanannya datang," kata Berti.
"Semoga cepat karena aku sangat lapar," ucap Cakra dengan tawa kecil.
__ADS_1
"Aku juga berharap demikian." Berti ikut terkikik.
"Oh, ya, kamu ingin dibawakan apa selama berada di Singapura?"
"Kamu jadi pergi?" tanya Berti sekali lagi.
Cakra mengangguk. "Jadwalnya sudah diatur. Aku akan kembali sebelum pernikahan. Jika ada yang kamu inginkan, aku bisa membelikannya untukmu."
Berti ragu untuk menolak, ia teringat kejadian di taman pada malam pertunangan. Ia tidak ingin Cakra berpikir kalau dirinya terlalu jaga imej, dan tidak menginginkan menjadi wanita matre. Pilihan serba salah. Terjebak di antara keraguan yang pelik.
"Bisakah kamu membelikanku tas? Ya, itu untuk hadiah pernikahan kita," kata Berti.
Berti sudah menahan diri, sebenarnya ia menginginkan banyak barang dari luar negeri, tetapi pikiran bertanduk dan bersayap saling bertarung.
"Hanya itu?" tanya Cakra.
Berti tersenyum lebar. "Aku tidak mau merepotkanmu. Bukannya kamu ke sana karena pekerjaan?"
Sudah Cakra duga jika Berti sama seperti wanita lainnya. Hanya sebuah tas yang diinginkan tunangannya, tetapi Cakra yakin sekali jika Berti tidak terlalu menginginkan benda tersebut.
Seharusnya Berti meminta hal lain yang lebih bermanfaat misalnya. Cakra tahu jika tas itu untuk hadiah pernikahan, tetapi Cakra menanyakan keinginan Berti bukan untuk hadiah pernikahan, tetapi memang ia ingin memberi sesuatu untuk wanita itu.
Sia-sia ia menuruti saran dari ibunya. Kalau tahu kejadiannya seperti ini, Cakra tidak akan bertanya pada Berti. Ia juga tahu cara menyenangkan wanita. Tinggal beli tas bermerek, maka wanita akan lengket.
Cakra mengangguk. "Oke, aku berikan permintaanmu tadi."
"Terima kasih," balas Berti.
"Aku belum memberikan barangnya."
"Tidak apa-apa. Aku ingin mengucapkannya lebih awal saja."
Pelayan datang membawa makanan yang telah dipesan. Piring-piring berisi hidangan lezat, ditata di meja dengan rapi. Cakra mengucapkan terima kasih kepada wanita yang menghidangkan, lalu mengajak Berti untuk menyantap semua menu nikmat itu.
"Aku belum menanyakan kegiatanmu di butik setelah kepergianku," kata Cakra.
"Tenang saja. Semua sudah beres," jawab Berti.
"Baguslah. Jadi, aku akan tenang berada di Singapura mengurus bisnis."
"Semoga kamu berhasil dengan apa yang kamu impikan," ucap Berti tulus.
"Pasti! Karena di kamusku tidak ada kata gagal."
__ADS_1
Bersambung