
Cakra sudah berada di atas tempat tidur. Matahari belum juga beranjak dari singgasananya, dan Cakra malah sudah terlelap. Berti mengerti. Suaminya sangat kelelahan. Lebih baik ia menikmati pemandangan sore yang menakjubkan di langit Swiss.
Berti duduk di kursi santai sembari mengaktifkan ponsel yang baru sempat ia pegang. Ia memberitahu ibu dan ayahnya jika mereka telah sampai di tujuan. Tidak lupa dengan sahabat Berti, yaitu Sari. Wanita itu tidak boleh dilewatkan. Ia juga menghubungi mertuanya melalui pesan. Hari ini Berti tidak ingin mengobrol melalui telepon. Ia lelah. Entah karena perjalanan atau kelakuan dari Cakra sendiri.
"Indahnya negara ini. Lebih baik mengambil beberapa foto," ucap Berti.
Ia mengambil beberapa selfi. Memotret awan yang mulai gelap, lalu matahari yang perlahan mulai turun. Berti juga tidak melewatkan pemandangan lampu jalan yang sudah menyala.
Jam tidak terasa sudah menunjukkan pukul tujuh malam waktu setempat. Berti masuk ke dalam kamar dan melihat Cakra masih pulas. Ia ingin pergi makan malam di luar, tetapi teringat jika Cakra bilang malam ini mereka hanya akan di kamar saja.
"Apa makan di restoran hotel tidak boleh juga? Dia tampak lelah. Aku tidak ingin membangunkannya, tetapi tidak ingin juga meninggalkan Cakra sendirian di sini," gumam Berti. "Lebih baik bangunkan dia dulu. Ini juga sudah waktunya untuk santap malam."
Berti mencoba membangunkan Cakra. Pertama, suaminya itu tidak bergeming sama sekali. Berti menguatkan guncangannya, menyerukan nama Cakra yang membuat pria itu mengeluh.
"Ada apa?" tanyanya.
Berti merasa bersalah karena menganggu tidur Cakra. "Maaf menganggumu. Ini sudah waktunya makan malam."
Cakra menatap istrinya dan baru tersadar atas penampilan Berti yang memakai pakaian terbuka. Ia memalingkan wajah, lalu turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.
"Ada apa dengannya?" tanya Berti heran.
Berti duduk di sofa sembari menunggu Cakra keluar dari kamar mandi. Ia berselancar di dunia maya. Mencari spot wisata terbaik di negara Swiss.
Cakra selesai mencuci wajahnya. Ia melihat Berti duduk di sofa dengan bersilang kaki. Jelas sangat tampak di depan matanya warna putih tanpa noda yang menggoda untuk disentuh.
Cakra berdehem. "Kamu mau makan apa?"
"Terserah kamu saja. Aku makan apa pun. Jangan lupa makanan penutupnya."
"Seharusnya aku mengajakmu makan malam di luar. Sudah terlambat untuk memesan meja," ucap Cakra.
Berti tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku mengerti. Besok saja kita rencanakan perjalanan."
Cakra mengangguk, ia meraih gagang telepon untuk memesan makan lagi. Kereta dorong makan siang tadi, ia letakkan di luar agar petugas dapat mengambilnya nanti.
Sekarang keduanya dalam suasana canggung. Baik Berti maupun Cakra tidak tahu apa yang harus mereka bahas. Tiga puluh menit berlalu dilewatkan dalam keheningan. Ketukan pintu di kamar membuyarkan semua. Berti dapat bernapas lega. Saat duduk bersama Cakra tadi, ia susah untuk menghirup udara.
"Makanannya tiba," kata Cakra.
"Kebetulan aku sudah lapar."
__ADS_1
"Bukannya kamu tadi makan banyak," goda Cakra.
"Enak saja. Kamu yang makan banyak."
Cakra tersenyum, dan Berti sama sekali tidak menyangka jika suaminya banyak bergurau. Keduanya makan bersama dalam diam. Lagi-lagi tidak ada topik pembahasan.
"Aku sudah selesai," kata Cakra.
"Biar aku yang bereskan."
"Aku lelah. Aku ingin tidur lagi," ucap Cakra.
"Oh, begitu."
Berti tidak menduga jika Cakra tukang tidur. Suaminya bilang ingin memejamkan mata lagi. Oh, ayolah! Ini malam pengantin. Apakah Cakra tidak tahu kewajiban dari seorang suami? Berti tidak ingin membantah. Ia tidak ingin Cakra beranggapan kalau dirinya sangat menginginkan sentuhan.
******
Hari pertama di Swiss, Cakra dan Berti berkunjung ke Sungai Limmat. Di sana mereka dapat menikmati angin semilir, bangunan tua di sepanjang aliran sungai yang menjadi pemandangan indah.
Berti tidak melewatkan sesi foto, dan Cakra yang menjadi fotografernya. Dari sana, mereka tidak melewatkan untuk berkunjung ke stadion sepak bola. Itu keinginan Cakra yang ingin pergi ke sana.
Berti tidak ingin menahan segala makanan yang enak. Ia melahapnya tanpa peduli akan kenaikan berat badan. Ini kesempatan hidup yang diberikan, dan Berti tidak akan menyia-yiakannya.
"Setelah ini kita ke mana?" tanya Berti.
"Kita pulang dulu. Kita lanjutkan jalan-jalannya besok," ujar Cakra.
Berti tersenyum. "Oke."
Cakra membayar terlebih dulu makanannya setelah itu mereka berjalan pulang dengan diantar taksi.
Sesampainya di hotel, lagi-lagi muncul gejala sakit jantung. Tiba-tiba saja degup jantung Berti berdetak kencang. Terlebih mereka telah masuk ke dalam kamar. Apakah ini saat yang ditunggu-tunggu? Hari masih sore. Ada banyak waktu untuk beristirahat guna menyimpan tenaga untuk nanti malam.
"Malam ini kita makan di restoran. Aku sudah pesan meja," kata Cakra.
"Bagus," jawab Berti. "Aku akan lekas bersiap nanti."
Cakra tersenyum kemudian menuju bilik mandi. Berti menghidupkan TV agar suasana kamar tidak sepi. Ia membuka lemari pakaian, memilih gaun untuk kencan nanti malam.
Selagi asik menyiapkan gaun, ponsel berdering. Berti meraih tas di atas tempat tidur, lalu merogoh gawai yang berbunyi dari sana. Sang ibu tercinta yang melakukan panggilan video. Berti lekas mengangkatnya.
__ADS_1
"Hai, Bu," sapa Berti.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Santi.
"Tentu," jawab Berti.
"Sepertinya kamu sibuk." Santi melihat gaun yang dipegang putrinya.
"Hanya menyiapkan gaun. Nanti malam Cakra akan mengajakku makan malam."
"Ibu menganggu rupanya. Kamu lanjutkan saja. Bersenang-senanglah dan Ibu harap setelah pulang akan mendapat kabar baik."
Berti memaksakan senyum terbit di bibirnya. Bagaimana bisa ia membawa kabar baik jika mereka belum pernah melakukannya. Berti cuma bisa mengiakan agar sang ibu tidak khawatir.
"Siapa?" tanya Cakra tiba-tiba.
"Oh, Ibu," jawab Berti kemudian mengalihkan ponsel kepada Cakra.
"Hai, Ibu," sapa Cakra.
"Maaf kalau Ibu menganggu kalian," ucap Santi.
"Tidak, kok, Bu. Kami juga baru pulang dari jalan-jalan," kata Cakra.
"Ya, sudah. Kalian lanjutkan saja. Ingat, kasih Ibu cucu pulangnya," goda Santi.
Sambungan video diputus. Baik Berti dan Cakra sama-sama salah tingkah. Cakra meletakkan begitu saja ponsel istrinya di atas tempat tidur, lalu mendaratkan tubuhnya di sofa.
"Bert, bisa kemari sebentar?"
Berti menyusul Cakra duduk. "Ada apa?"
"Sebelumnya aku minta maaf. Aku belum bisa melakukannya. Aku tau ini kewajibanku, tapi aku tidak bisa melakukannya tanpa cinta. Lebih baik kita saling mengenal dulu," tutur Cakra.
Berti cukup kaget atas ucapan Cakra. Sungguh ia tidak menduga sama sekali, tetapi apa yang diucapkan oleh suaminya memang benar. Mereka perlu saling mengenal dulu.
"Iya, aku mengerti. Jangan pedulikan ucapan ibuku. Dia hanya menggoda saja," ucap Berti.
"Baguslah kalau kamu mengerti. Aku tidak canggung dan serbasalah sekarang."
Bersambung
__ADS_1