Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Berhasil?


__ADS_3

"Tunjukkan pesonamu, Sari. Kamu cantik, seksi, dan di atas segalanya. Aku saja iri padamu. Yakin, deh, Cakra bakal tertarik sama kamu," ucap Berti.


"Kalau dia sungguh tertarik padaku, bagaimana? Kamu bakal nyesel, Bert. Enggak baik nyuruh sahabat sendiri jadi pelakor," tutur Sari.


"Aku ikhlas, Sari. Kalau Cakra jatuh cinta padamu. Hidup bersamanya aku hanya makan hati."


Sari tidak tahu harus berkata apa. Ini sudah ke sekian kali Berti menginginkan dirinya menggoda Cakra. Memang suami sahabatnya itu masuk dalam tipe yang ia inginkan. Kaya, tampan dan Sari tidak peduli akan sikap cuek yang dimiliki pria itu.


"Jangan menyesal jika Cakra akhirnya bersamaku," kata Sari.


Berti menggeleng. "Tidak akan dan malah bagus jika Cakra bisa bersama orang yang tepat."


Cakra bilang jika ia terpaksa menikahinya, lalu untuk apa Berti masih mempertahankan hubungan pernikahannya lagi. Ia menerima dan sisi lainnya merasa terpaksa. Ikatan ini tidak akan pernah bahagia bila tetap dijalankan.


"Aku akan coba. Kamu ingin tetap di sini?" tanya Sari.


"Aku menyusul Arjuna saja. Kamu pergilah."


Sari mengiakan kemudian melangkah mendekati Cakra yang tengah berbaring di atas kursi pantai. Berti memandang ketika Sari telah duduk di bangku sebelah. Segera saja ia lekas pergi untuk tidak menganggu keduanya. Mungkin lebih tepatnya tidak ingin sakit hati.


Sari memesan minuman dulu untuk melancarkan aksinya. Sengaja membuka atasan bajunya hingga yang tersisa hanya pakaian renang yang menunjukkan sisi kelebihannya.


"Kamu enggak mau main bareng?" tegur Sari.


Cakra menaikkan kacamata hitamnya, ia beringsut bangun, lalu menoleh ke sisi kira dan kanan.


"Di mana Berti?" tanyanya.


"Dia lagi sakit perut. Nanti dia menyusul kemari," jawab Sari.


Pelayan datang membawa minuman. Sari mengambil jus jeruk, menyodorkannya kepada Cakra, tetapi pria itu menolaknya. Sari menyeruput minuman dingin itu seakan ia tengah menikmati sesuatu yang lebih dari itu.


Cakra menelan ludah melihatnya. Malah ia menganggap Sari saat ini tengah menikmati kehormatan milik seorang pria. Tiba-tiba saja Cakra merasakan bawahnya beraksi.


"Aku mau cari istriku dulu," kata Cakra yang beranjak dari duduknya, tetapi Sari lekas meraih tangan itu. Cakra menepisnya. "Jangan menyentuhku sembarangan!"


Sari tersenyum. "Kamu mau ke mana?"


"Tidak dengar? Aku mau cari Berti."


"Kita bisa mengobrol dulu. Berti akan menyusul kemari," ucap Sari dengan senyum menggodanya.


"Apa-apaan kamu ini? Jangan mencoba menggodaku!"


Sari terkesiap. "S-siapa yang menggodamu?"


"Kamu pikir aku tidak tahu gelagatmu itu. Memakai baju terbuka seperti ini di depan suami wanita lain."


Sari membelalak mendengarnya. Jika marah, Cakra tidak akan irit bicara. Pantas saja Berti menginginkan perceraian. Rupanya beginilah sifat Cakra yang sesungguhnya.

__ADS_1


"Kamu itu jangan terlalu percaya diri, ya," kata Sari.


Cakra berdecak. "Heran saja. Berti malah dapat sahabat yang tidak baik seperti dirimu. Aku harus cari dia untuk memberitahu perbuatanmu."


"Aku tidak menggodamu," bantah Sari.


Cakra mengibaskan tangannya. "Wanita sama saja. Tahunya hanya pandai menggoda."


Selepas mengatakan itu, Cakra berlalu. Sari terduduk, menyilangkan kedua tangan menutupi tubuh bagian depannya. Ia seperti dikuliti oleh Cakra habis-habisan. Harga dirinya diinjak-injak oleh pria itu.


"Berti!" teriak Sari.


Tentu saja ia mendapat teguran dari pengunjung yang lain atas aksinya. Namun, Sari tidak memperdulikan itu, ia langsung saja pergi dari sana.


Cakra balik ke kamar hotel. Rupanya Berti sudah kembali dan tengah bersantai menikmati es krim.


"Kok, enggak bilang kalau balik kemari?" tanya Cakra.


"Aku lupa kamu masih di pantai."


"Bert," panggil Cakra.


"Apa?" jawab Berti ketus.


"Buat anak, yuk!"


"Ada maunya kamu baik sama aku."


Berti mengerutkan kening. "Kamu apakan dia?"


Ponsel berdering, Berti lekas mengangkat panggilan telepon dari Sari. Dari seberang sana, Sari menangis tersedu-sedu.


"Kamu kenapa?" tanya Berti.


"Kamu kemari pokoknya," ucap Sari.


"Aku ke sana sekarang."


Sambungan telepon diputus. Berti meraih cardingan serta tas ransel miliknya, tetapi sebelum itu ia harus menghadapi Cakra yang bersandar di pintu.


"Tetap di sini," kata Cakra.


"Sari lagi nangis."


"Paling dia mau curhat. Pokoknya kamu enggak boleh sahabatan lagi sama Sari."


"Kita itu udah sangat lama bersahabat," ucap Berti.


"Sahabat apa yang menginginkan suami temannya sendiri!" ungkap Cakra.

__ADS_1


Berti terkesiap. Sari tidak berhasil menggoda Cakra. Apa? Berti mengusap wajahnya. Ini idenya dan sekarang ia tidak tahu apa yang terjadi pada sahabatnya.


"Sari enggak mungkin seperti itu," bantah Berti dengan menyembunyikan kebohongannya.


"Pokoknya jangan main sama dia lagi," ucap Cakra yang merangkul, lalu membawa Berti jatuh ke atas tempat tidur.


Berti pasrah Cakra melucuti semua pakaian yang ia kenakan. Ia sendiri pun tidak tahan atas godaan dari tubuh kekar yang begitu memanjakan pandangan mata. Herannya Cakra tidak memperlihatkan otot-otor kekarnya ketika di pantai tadi. Ia setia dengan kaus kebesaran dan celana pendek.


Berti kaget ketika Cakra mengusap bagian dalam kakinya. "Kamu melakukan apa?"


"Hanya ingin memegangnya," jawab Cakra.


Pria itu menunduk, membuka perlahan dua lipatan yang melindungi harta karun paling berharga bagi wanita.


Cakra mendekat, menghirup aroma khas yang mulai basah hanya karena sentuhan jarinya. Ia menelan ludah, ragu untuk memulai, tetapi penasaran akan rasanya.


Ia kecup permukaan bagian itu. Wangi seperti sabun susu dicampur aroma mawar. Namun, ketika ia menuju ke dalam sana, aromanya berbeda lagi.


Cakra memberanikan diri, menjilat bagian dalam itu dengan indra pengecapnya. Berti bergumam tidak karuan ketika sapuan lembut itu semakin sering ia rasakan.


"Rasanya kayak ...."


Cakra bingung buat mengatakannya. Ia kembali membuat puas Berti akan sapuan lidah dan bibirnya.


"Lebih lama lagi," kata Berti ketika Cakra menarik diri dari pusat terlarang miliknya.


Cakra bangun, mengecup bibir Berti agar istrinya itu bisa merasakan miliknya sendiri. Aroma dari bagian tubuhnya.


"Gantian," bisik Cakra.


"A-aku?"


Cakra mengangguk. "Iya, gantian. Aku juga mau."


"Iya," ucap Berti.


Cakra berbaring telentang. Berti ragu saat melihat bagian menantang itu. Ia memegangnya. Terasa hangat dan keras kemudian mengusapnya.


"Lakukan sekarang," pinta Cakra.


Masuk, lalu keluar. Berti mual karena tidak pernah mencucupnya. Pertama yang dirasakan adalah hambar. Tidak ada rasa sama sekali. Lalu, ia kembali memasukkanya ke dalam mulut.


"Sudah, ya?" ucap Berti.


"Nanti dulu. Lakukan lagi," kata Cakra.


Berti melakukannya lagi, tetapi sungguh ia tidak tahan. "Aku enggak kuat."


Cakra meraih sang istri dalam perlukannya, mengambil alih pada permainan utama. Tubuh Berti bergetar dengan Cakra yang masih memeluknya erat. Pria itu membaliknya, mendesaknya dari depan hingga permainan itu usai dengan masing-masing mencapai puncaknya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2