
Keadaan hening itu kembali. Namun, Berti masih melayani suaminya. Semalam ia tidur di kamar bawah, lalu pukul lima pagi naik ke atas menyiapkan air mandi serta perlengkapan kantor suaminya.
"Kita ke kantor migrasi," kata Cakra.
"Hanya ke Malaysia dan Singapura tidak perlu pakai visa, kan? Kita bisa ke sana sampai waktu tiga puluh hari.
"Aku hanya ingin kamu ke kantor migrasi untuk mengurus perpanjangan paspor. Oh, ya, aku ingin kita ke Maladewa."
"Buat apa?" tanya Berti. "Kamu mau buat usaha?"
Cakra mendengkus. "Liburan. Setelah dari Malaysia dan Singapura, kita ke sana untuk seminggu."
"Artinya, kita akan lama di luar negeri?"
"Kenapa banyak tanya, sih? Turuti saja ucapanku."
Mulut Berti terkunci mendengar perkataan Cakra. Memang apa salahnya bertanya. Berti cuma ingin obrolan ini berlanjut. Lebih banyak kosakata yang ia lontarkan kepada suaminya. Dengan begini, hubungan mereka bisa lebih akrab. Namun, Cakra tetap dengan sikap cueknya. Malas bicara jika itu tidak penting.
"Bagaimana dengan perusahaanku?" tanya Berti.
"Untuk sementara ada ayah dan asistenmu itu, kan? Setelah pulang, aku akan mengurusnya. Aku akan pastikan kita tidak terlalu lama di luar negeri."
Selesai sarapan bersama, Berti ikut bersama Cakra menuju kantor migrasi untuk mengurus paspor. Ia tidak tahu menahu tentang ini, tetapi Berti akan ikut saja.
Sesampainya di sana ada hal yang membuat Cakra uring-uringan. Apalagi kalau bukan antri karena ada banyak orang dengan keperluaannya masing-masing.
Berti diam saja sampai akhirnya giliran namanya dipanggil. Berti melakukan wawancara, pengambilan foto serta sidik jari. Paspor itu akan jadi setelah lima hari kerja atau seminggu.
"Kita langsung ke kantorku. Kamu belum pernah ke sana, kan?" tanya Cakra setelah urusan istrinya selesai.
"Kan, kamu enggak pernah mengajakku ke sana," sahut Berti.
"Makanya hari ini aku mau membawamu."
Entah apa mau Cakra. Tumben sekali menjadi baik. Mungkin juga karena ingin minta maaf atas kejadian tadi malam, tetapi Berti tidak akan luluh begitu saja. Hanya ada maunya saja suaminya itu menjadi baik.
Tentu karyawan Cakra sedikit heboh lantaran ada nyonya dari atasan mereka yang tiba-tiba berkunjung ke perusahaan. Senyum pun selalu terbit di bibir Berti ketika ada bawahan suaminya menegur. Sementara Cakra, wajahnya kaku. Ada untungnya juga memiliki rupa seperti itu. Bawahannya menjadi segan serta karyawan wanita malah takut.
"Bibirmu itu tidak kering apa?" tanya Cakra, ketika keduanya berada dalam lift.
__ADS_1
"Apa?" Berti balik bertanya.
"Sedari tadi senyum tidak jelas."
"Kamu itu yang tidak jelas," kata Berti membalas.
Giliran Cakra yang tidak bisa berkata apa-apa. Keduanya keluar dari lift. Lantai yang luas. Ada sekitar tiga orang wanita yang berada di lantai itu. Berprofesi sebagai sektetaris pribadi, senior dan junior. Serta ada asisten Cakra yang datang menyambut.
"Selamat datang, Nyonya," kata Ariel.
Berti tersenyum. "Terima kasih."
Cakra membuka pintu ruangannya sendiri, ia mempersilakan Berti untuk masuk lebih dulu. Cakra memandang Ariel serta ketiga sekretaris wanitanya.
"Jangan menganggu kami jika tidak penting," ucap Cakra.
"Baik, Tuan," sahut Ariel.
"Selesaikan tugas kalian karena aku akan memeriksanya. Ingat! Jangan sampai ada kesalahan."
"Siap, Tuan," kata Ariel lagi.
Cakra duduk di samping Berti. Ia bergeser semakin dekat, tetapi istrinya itu malah menjauh.
"Aku lapar," kata Berti.
"Kita pesan makan dulu," ucap Cakra.
Jantung Berti malah berdegup kencang didekati Cakra, padahal seharusnya ia biasa saja. Tiba-tiba saja suaminya itu mendekat. Tidak seperti biasanya saja.
Cakra memesan online makanan, lalu ia memberitahu Ariel agar menyuruh seseorang di bawah sana untuk mengantar makanan ke atas bila kurir datang.
Degup jantung Berti semakin cepat ketika Cakra menutup pintu dan menguncinya. Langkah tegap itu mendekat. Cakra kembali duduk di sampingnya.
"Kamu enggak kerja?" tanya Berti membuka bicara agar Cakra tidak melakukan hal aneh.
"Semalam belum dikasih," kata Cakra.
"Tubuhku sakit," kilah Berti.
__ADS_1
Cakra mengembuskan napas kasar. Ia memandang Berti dan yakin jika itu adalah alasan istrinya yang masih marah kepadanya. Cakra sudah jujur apa adanya, tetapi kenapa Berti masih tidak bisa menerima keadaannya. Ia tidak bisa bersikap romantis seperti pria yang lain.
"Lagian ini di kantor," ucap Berti lagi agar suaminya tidak berpikir yang bukan-bukan.
"Ada kamar, kok."
"Tapi aku lapar," kata Berti.
"Iya, kita makan dulu," ucap Cakra seraya beranjak dari duduknya, lalu melangkah menuju meja kerja.
Selagi menunggu makanan, Cakra menyelesaikan pekerjaannya dulu, sedangkan Berti melakukan video call kepada sang ayah. Untuk sementara, maka Ilham yang mengurus perusahaan sampai Cakra mengambil alih semua.
Pintu diketuk dari luar, Berti beringsut bangun membuka. Ariel muncul dengan memberi titipan makanan Cakra.
"Mas, kita makan dulu," kata Berti.
Cakra mengiakan, keduanya makan bersama. Setelah makan, Cakra mulai meminta dilayani. Sebenarnya Berti enggan karena hatinya masih kesal, tetapi ini adalah kewajibannya.
"Nanti malam saja," kata Berti.
"Tapi aku mau sekarang," desak Cakra.
Berti mengangguk. Tidak tega juga melihat suaminya yang sengsara. Dari tadi malam Cakra meminta, tetapi ia abaikan.
Baru saja Berti membuka kemeja, terdengar pintu diketuk. Cakra mendecakkan lidah, lalu bangkit membuka pintu.
"Ada apa?" tanya Cakra pada Ariel.
"Maaf, Tuan. Ini berkas yang harus ditandatangani. Kita sebentar lagi mau ke luar negeri. Jadi, harus selesai semua."
"Taruh di atas meja," kata Cakra.
Secepatnya Ariel masuk, meletakkan berkas itu, lalu segera keluar. Cakra mengusap wajahnya. Ia harus menunda hasratnya untuk hari ini. Pekerjaan setidaknya lebih penting ketimbang napsu.
"Tidur saja di kamar. Aku harus menyelesaikan pekerjaan," kata Cakra.
Dengan senang hati Berti mengiakan ucapan suaminya. Memang ia tidak ingin melayani Cakra pada siang hari ini. Untung saja Ariel menyelamatkannya.
Bersambung
__ADS_1