
Cakra dan keluarga pun berlalu dari kediaman Ilham karena mereka tidak ingin memaksa atau menekan Berti yang malah akan membuat wanita itu stress nantinya.
Selagi di rumah, Cakra kembali mendapat ceramah dari kedua orang tuanya. Cakra diam saja mendengarkan tanpa menyanggah sedikit pun karena memang pikirannya berada di tempat lain.
Untuk pertama kalinya isi kepalanya itu memikirkan Berti dan bukan pekerjaan. Cakra merasa kalau istrinya itu akan benar-benar pergi lantaran pria bernama Banyu.
"Sekarang apa?" tanya Widya. "Mama pusing mikirin kalian. Mending kamu bujuk istrimu. Turuti apa mau dia."
"Enggak bisa begitu juga, Ma. Masa Cakra enggak kerja dan harus menemani Berti melulu," sahut Adhitama.
"Setidaknya kasih waktu, Pa. Berti itu lagi hamil. Wajar dia minta perhatian. Pengin dimanja. Selalu dekat sama suami."
"Enggak begitu konsepnya, Ma. Ini pasti karena Berti sudah lama kesal sama Cakra. Lagian istri itu, ya, harus patuh dengan suaminya."
"Istri juga bakal kesal kalau punya suami kayak Cakra begini. Siapa pun mau diperlakukan lembut dan diperhatikan," ucap Widya.
"Sudahlah, kalau membahas begini sampai lebaran juga enggak bakal habis. Semua perempuan sama saja. Mereka itu tidak mau disalahkan."
"Oh, Papa, kok, ngomongnya begitu. Ini, nih, sifatnya turun ke Cakra. Heran, kalian para suami tahunya hanya menyalahkan istri."
Adhitama mengelus dada. Ia langsung bungkam dan tidak ingin berdebat lagi. Kembali ke pasal awal kalau wanita itu selalu benar.
"Kak Berti itu punya selingkuhan," sela Dafa.
Cakra langsung menoleh pada adiknya. Ia sudah memberitahu Dafa untuk tidak bicara sembarangan, tetapi pria muda itu malah mengatakannya di depan orang tua.
Cakra bangkit dari duduknya. "Kalau ngomong jangan sembarangan. Kamu ingin memperkeruh suasana. Mau aku hajar kamu."
"Kenapa Kakak tidak kasih tahu Mama dan Papa? Aku lihat sendiri, kok, kalau kak Berti itu jalan sama cowok lain. Teman-temanku juga melihatnya," ungkap Dafa.
"Sialan!" Cakra menghampiri adiknya, lalu melayangkan tinju ke wajah Dafa. "Aku bilang diam!"
"Cakra!" tegur Adhitama.
Dafa langsung berlari menuju punggung belakang ibunya. "Lihat, Ma. Kak Cakra meninjuku."
"Kamu jangan main pukul, Cakra!" ucap Widya.
"Mama ajari, tuh, mulutnya biar enggak ember," kata Cakra.
"Apa benar itu, Cakra?" tanya Adhitama. "Berti punya pria idaman lain?"
__ADS_1
"Ini urusanku bersama Berti. Kalian tidak perlu ikut campur."
"Kamu pulang cepat karena ini?" tanya Widya.
"Jangan ikut campur urusan rumah tanggaku. Aku bisa mengatasinya."
"Enggak bisa begitu, Cakra. Ini sudah masuk urusan kita," kata Adhitama.
"Mereka cuma teman. Tidak ada yang spesial dari itu. Kalaupun Berti selingkuh, tidak mungkin mereka jalan di tempat umum. Aku percaya pada istriku," tutur Cakra.
"Tetap saja tidak pantas seorang istri bepergian bersama pria lain," sela Widya.
"Aku yang mengizinkannya. Sudah kubilang kalau aku percaya pada istriku. Kalian jangan bicara macam-macam. Berti bisa stress nantinya," ucap Cakra, lalu melangkah pergi.
Adhitama dan Widya cuma bisa menghela napas panjang. Jika ini sudah keputusan Cakra, maka biarkan saja. Namun, sebagai orang tua tentu saja sangat kecewa pada Berti.
"Kamu lihat di mana, Dafa?" tanya Widya.
"Di mal. Kak Berti tampak sangat senang bersamanya."
"Kan, sebagai suami juga tidak boleh cuek. Istri bisa saja berpaling. Mama tidak heran kalau misalnya Berti lebih nyaman dengan pria itu."
"Enggak begitu juga, Ma. Tindakan itu tidak bisa dibenarkan. Papa harus bicara pada Ilham."
"Mama, pipi Dafa sakit, nih."
"Salahmu sendiri bikin emosi kakakmu."
Dafa mendengkus. Seharusnya ia dipuji karena telah memberitahu skandal kakak iparnya. Ini malah ia mendapat bogem mentah dari sang kakak. Sungguh nasib tidak baik tengah menghampirinya.
...****************...
Cakra sungguh tidak sabaran menunggu seseorang yang berjanji untuk menemuinya. Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, dan seharian ini ia tidak datang ke kantor.
Pintu masuk kafe terbuka, dan memang Cakra tidak melepas perhatian ke arah depan. Ia tidak tahu apakah pria yang barusan masuk itu adalah lelaki bernama Banyu. Memang benar karena lekaki yang umurnya tidak jauh beda dengan Berti ini berjalan menghampirinya.
Cakra beranjak dari kursi, lalu mengulurkan tangannya. "Cakra, suami Berti."
"Banyu," ucapnya dengan menerima jabatan tangan itu.
"Silakan," kata Cakra, lalu memanggil pelayan dengan memesan minuman.
__ADS_1
Cakra memperhatikan seksama pria yang disukai istrinya saat ini. Sang mantan yang membuat Berti tidak bisa move on karena perlakuan romantisnya.
Soal penampilan, bolehkah Cakra meremehkan Banyu? Ia sangat percaya diri bisa mengalahkan pria yang saat ini tersenyum padanya.
"Bicara saja," kata Banyu.
Cakra mendapat nomor kontak Banyu dari ponsel Berti. Untungnya semalam telepon genggam itu masih hidup, hanya saja layar depannya yang retak.
"Apa alasanmu mendekati istriku?" tanya Cakra.
"Istrimu kesepian dan aku menemaninya. Lagian Berti itu seperti tidak punya suami," ucap Banyu.
"Oh, istriku selalu curhat padamu rupanya."
"Aku juga mencintainya. Kami berjanji untuk saling menunggu, tetapi kalian malah dijodohkan."
"Jadi, cinta lama bersemi kembali." Cakra mengangguk, lalu berkata, "Kamu ini tidak malu dekat bersama istri pria lain."
"Apa yang malu kalau kita benar-benar cinta pada wanita itu?"
"Memang tampak dari tampangmu yang tidak tahu malu," ucap Cakra.
"Berti benar kalau kamu ini suka sekali berkata pedas. Pantas saja dia tidak betah bersamamu," balas Banyu.
"Setidaknya aku tidak munafik. Aku apa adanya dan tidak seperti seorang pria yang berpura-pura baik, rupanya dia seorang maling."
"Apa maksudmu? Istrimu datang kepadaku karena aku lebih baik darimu."
"Istriku tidak akan datang kepadamu kalau kamu sendiri tidak menganggunya. Sebenarnya aku heran. Kamu sungguh buta atau apa? Berti sudah menikah dan dia tengah mengandung anakku. Kamu malah ingin mendekatinya," kata Cakra.
"Berti tidak bahagia bersamamu. Dia lebih cocok bersamaku."
Pelayan datang membawa minuman untuk keduanya. Cakra mencegah pelayan wanita itu pergi, ia langsung membayar minumam yang baru dipesan itu.
"Jangan ganggu istriku," ucap Cakra.
"Kamu mengancamku?"
"Aku memperingatkanmu selagi aku bicara baik-baik." Cakra beranjak dari duduknya. "Ingat ini, jika aku melihatmu bersama istriku lagi, tahu sendiri akibatnya."
Setelah mengatakan itu, Cakra melangkah pergi dari kafe. Sementara Banyu terlihat kesal karena ucapan rivalnya.
__ADS_1
Bersambung