
Cakra tidak menelepon, melainkan hanya berkirim pesan. Pria itu mengabarkan kalau dirinya telah sampai di negeri yang dituju. Cakra juga mengirimkan jadwal kerjanya kepada sang istri.
Berti yang menerima pesan-pesan itu cuma membaca saja tanpa berniat untuk membalasnya. Ia tahu kalau Cakra ingin membujuk, tetapi bukan ini yang Berti harapkan. Ini sama saja Cakra seperti seorang anak yang mengabarkan aktivitasnya kepada sang ibu yang khawatir jika putranya bertingkah.
Jika Cakra sibuk dengan jadwal pekerjaannya yang padat, maka Berti akan melakukan hal yang sama. Ia akan bekerja dengan giat. Dengan begitu ia bisa melupakan kekesalan hatinya terhadap Cakra.
Selama seminggu kepergian Cakra, keduanya tidak ada bertukar kabar. Cakra cuma menghubungi Berti saat hari pertama datang ke Singapura. Menurut jadwal, Cakra akan ke Malaysia minggu berikutnya.
Sementara itu, Berti punya jadwal kunjungan ke kota Pontianak. Ya, di sana ia tengah membuka departemen store di salah satu mal. Selama tiga hari ia akan di sana tanpa memberitahu Cakra sama sekali.
Deringan telepon berbunyi. Berti masih sibuk dengan kegiatannya. Sang asisten Yuni tidak ingin menganggu, tetapi ia melihat nama Cakra di layar.
"Maaf, Bu. Ada telepon," kata Yuni.
"Kamu tidak bisa lihat aku bicara dengan Pak Ridwan?" Berti tersenyum kepada rekannya, lalu beralih menatap tajam Yuni.
"Ini dari suami Anda."
Berti tersentak, ia meraih ponsel dari tangan Yuni. "Maaf, Pak Ridwan. Saya tinggal dulu sebentar."
"Enggak apa-apa, Bu. Silakan," ucap Ridwan.
Berti menjauh dari Ridwan dan Yuni. Ia mengangkat telepon dari Cakra yang tidak henti berdering. Baru mati saja, Cakra sudah kembali menelepon. Berti menggeser tanda warna hijau.
"Halo."
"Kamu ada di mana?" tanya Cakra.
"Aku lagi kerja," jawab Berti.
"Di mana?"
"Di kantor-lah. Memangnya di mana lagi?"
"Kamu ke luar kota tanpa bilang apa pun padaku. Jika mama enggak bilang, maka aku enggak tau," ucap Cakra.
"Wah! Kamu saja tidak bilang padaku kalau ingin ke luar negeri. Kenapa aku harus mengatakan padamu segala hal tentang kegiatanku?"
__ADS_1
"Aku tidak ingin berdebat. Jangan membuat kesalahpahaman antara kita. Aku tidak ingin mereka beranggapan kita saling bertengkar. Oh, ya, aku tiga minggu lagi di sini. Bulan depan aku pulang," tutur Cakra.
"Jangan pulang selamanya malah bagus untukku!"
Berti memutus sambungan telepon secara sepihak. Ia tidak peduli Cakra di sana akan marah atau mengumpat dirinya. Amarah muncul karena perkataan terakhir dari suaminya.
"Bagaimana kita mau dekat jika kamu selalu sibuk? Aku benci kamu, Cakra," gumam Berti.
Berti secepatnya mengubah raut wajah sedih menjadi ceria. Ia harus fokus atas pekerjaan yang telah menunggu. Senyum terbit di bibir, langkahnya tegap menemui rekan kerja.
"Bisa kita lanjutkan?" tanya Berti.
"Tentu, Bu," jawab Ridwan. Pria berumur sekitar empat puluh tahun.
*****
Di seberang negara sana, Cakra terlihat kesal. Pasalnya Berti sudah berani menantangnya. Ia bahkan tahu kegiatan istrinya dari sang ibu. Jika Widya tidak menelepon, maka Cakra tidak tahu kalau Berti pergi ke luar kota.
Untung saja Cakra pandai beralasan agar ibunya tidak marah kalau hubungannya bersama Berti sedikit renggang.
"Tuan bertanya pada saya?" sahut Ariel.
"Memangnya ada siapa lagi selain kamu di kamar hotel ini."
Ariel menyengir. "Saya rasa, kalau istri marah harus dibujuk."
Cakra berdecak. "Merepotkan saja. Jangan harap minta dimanja. Dia bukan lagi anak kecil, melainkan sudah dewasa."
Kurasa Tuan Cakra salah paham maksud dari perkataanku, batin Ariel.
"Tuan, apa kita langsung berangkat menuju ruang pertemuan?" tanya Ariel mengalihkan pembicaraan.
Cakra mengangguk. "Iya. Aku tidak ingin membuang waktu."
Cakta beranjak dari duduknya. Ariel membuka pintu, mempersilakan atasannya keluar lebih dulu dari kamar.
******
__ADS_1
Apa yang dikatakan oleh Cakra ditelepon memang benar. Pria itu bulan depan baru pulang ke Indonesia. Meninggalkan Berti seorang diri di dalam rumah. Kesepian? Tentu saja. Tapi Berti sudah merasa terbiasa. Ini bulan kedua pernikahan mereka berdua.
Jika pengantin baru tengah manis-manisnya memadu kasih, Berti menjalani hari seperti ia masih gadis seperti dulu. Untunglah Sari selalu setia menemani. Tidak jarang juga Berti menginap di rumah orang tuanya.
Tentu saja dengan berbagai alasan. Ia pura-pura rindu pada Cakra yang bekerja. Mengatakan tidak sabar untuk bertemu suaminya, padahal kenyataannya berbeda sama sekali.
"Kapan Cakra pulang?" tanya Sari.
Berti mengangkat bahu. "Entah."
Berti menikmati es krim di dalam gelas. Sekaligus irisan kue red velvet yang menggugah selera. Makan makanan manis memang mengembalikan mood yang sempat memburuk.
"Kamu tidak takut gendut? Dari tadi makan melulu," kata Sari.
"Enggak, tuh. Sekali-kali enggak apa-apa."
"Saat Cakra pulang, kamu pakai baju yang kemarin aku pilihkan. Pria itu menyukai wanita seksi," ucap Sari.
"Aku lagi kesal dengannya, kamu malah menyuruhku memakai pakaian aneh."
"Mengalah saja. Sambut dia dengan baik. Kamu harus agresif. Peduli apa dengan imej. Kalian sudah jadi suami istri. Lakukan yang terbaik demi hubungan kalian," saran Sari.
Berti tampak berpikir. Masuk akal juga apa yang dikatakan oleh Sari. Mereka sudah suami dan istri. Buat apa malu-malu lagi dalam bertindak. Jika Cakra tidak mau memulai lebih dulu, maka Berti yang harus memulainya.
"Oke! Aku akan lakukan sesuai saranmu," ucap Berti.
"Bagus!" Sari tersenyum. "Aku tunggu hasilnya."
"Aku mau pulang. Cakra memberi pesan kalau ia akan sampai pada sore hari. Aku harus menyiapkan semuanya," kata Berti.
"Aku berdoa agar kamu berhasil. Dengar sahabatku! Pria itu harus berada di bawah kendali kita. Para wanita."
Berti mengangguk. "Aku akan lakukan sesuai saranmu."
Sari memeluk Berti dengan erat. "Telepon aku setelah kamu berhasil."
Bersambung
__ADS_1