Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Ingin Cerai


__ADS_3

Sama sekali tidak ada percakapan antara keduanya. Tidak ada inisiatif Cakra untuk mengajak istrinya bicara. Pria itu seolah menganggap bisunya Berti adalah hal sepele.


Cakra sibuk dengan bisnisnya yang semakin berkembang. Sementara Berti meratapi nasib pernikahan hampa yang ia jalani. Sungguh Berti tidak tahan hidup bersama Cakra, dan ia memutuskan untuk berpisah.


Keputusan Berti sudah bulat. Ia tidak tahan lagi. Mungkin juga Cakra menginginkan hal sama, tetapi tidak bisa mengatakannya. Tidak ada ketertarikan di antara mereka, apalagi cinta. 


Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Cakra sudah pulang kantor sedari tadi, dan suaminya itu juga telah selesai makan malam. Berti akan membicarakan keinginannya untuk berpisah dan inilah saat yang tepat. 


Berti sudah cukup bersabar selama tiga bulan ini dan jika ia tetap mempertahankan rumah tangganya lagi, maka Berti bisa gila dalam tekanan hati yang Cakra berikan. 


Walau gugup, Berti tetap memberanikan diri mengetuk ruang kerja Cakra. Masa bodoh jika  Cakra akan marah bila diganggu. 


"Ini aku, Berti," serunya. 


Perhatian Berti teralihkan pada gagang yang ditekan dari dalam. Pintu dibuka dengan menampilkan sosok Cakra. 


"Ada apa?" tanya Cakra. 


Sudah Berti duga Cakra akan mengajukan pertanyaan saat ia datang mencari. Bukankah wajar seorang istri menemui suaminya? Cakra malah bertanya. 


"Aku ingin bicara. Untuk kali ini, luangkan waktumu. Aku hanya bicara sekali dan setelah mendengar keputusanmu, aku tidak akan menganggu lagi," ucap Berti. 


Cakra mengangguk. "Masuklah." 


Berti melangkah masuk. Aroma khas Cakra yang ditangkap oleh indra penciuman Berti. Suaminya yang tidak bisa ia gapai sama sekali. Pria tidak peka di seluruh dunia. 


"Duduklah," kata Cakra mempersilakan. 


Aneh. Bahkan Berti serasa asing di ruangan yang suaminya tempati. Cakra memperlakukannya seperti tamu jauh yang baru bertandang ke rumahnya. 


Berti mendaratkan tubuhnya di sofa panjang, sedangkan Cakra duduk di sofa singel dengan bersilang kaki. Lihatlah gaya sok berkuasanya itu. Berti seperti bawahan saja berhadapan dengan seorang bos besar. 


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Cakra. 


Berti menatap lekat wajah suaminya. Ia ingin mengungkapkan apa yang menjadi tujuannya datang, tetapi bibirnya terasa kelu untuk berucap. 


"Bert," tegur Cakra. 


Berti terkesiap atas teguran itu. Ia meneguk ludah, lalu mengalihkan pandangan lurus ke depan. Ia harus menghilangkan keraguan dalam hatinya dan mengatakan segala hal yang selama ini ia rasakan. 


"Aku mau kita cerai," ucap Berti. 

__ADS_1


"Apa? Katakan sekali lagi," pinta Cakra. 


Berti menatap Cakra. "Aku ingin berpisah darimu. Aku ingin cerai."


Cakra terdiam sesaat dengan tatapan tidak percaya pada istrinya. Ia tidak salah dengar. Sama sekali tidak terpikirkan Berti bisa mengucapkan permintaan seperti itu. 


"Apa uang bulananmu kurang? Aku bisa menambahkannya," ucap Cakra. 


"Sangat cukup," sahut Berti. 


"Kenapa mengajukan permintaan seperti itu?" 


"Kamu bilang kenapa? Hubungan kita seperti ini, kamu masih tidak mengerti? Apa kita menjalankan rumah tangga yang sebenarnya? Tidak, kan?" 


"Jangan asal mengucapkan kata-kata itu, Bert. Tidak baik. Aku tidak sama sekali tidak berniat mengabulkan permintaanmu itu. Aku menolaknya!" 


"Aku tidak bisa hidup bersama pria sepertimu!" ucap Berti. 


"Tenangkan pikiranmu. Bagaimana keluarga kita? Setidaknya pikiran mereka." 


"Aku akan mengatakan hal yang sebenarnya terjadi. Selama ini hubungan kita yang tidak bisa dikatakan sebagai sepasang suami istri. Aku lelah menunggu dan tidak sanggup menerima sikap tak acuhmu," ungkap Berti. 


"Ini bukan hanya soal itu! Pernahkah kamu perhatian padaku? Pernahkah kamu memujiku? Pernahkan kamu mengucapkan cinta padaku? Tidak pernah!" 


"Aku sudah mengatakan untuk memberiku waktu. Aku perlu itu." 


"Sampai kapan, Cakra?" tanya Berti lirih. "Sedangkan kamu mendirikan tembok yang begitu tinggi. Aku sudah mencoba mendekat, tetapi kamu seakan jijik padaku. Apa kurangnya aku? Apa yang tidak kamu sukai dariku? Katakan, Cakra." 


"Aku hanya belum bisa melakukannya saja," kata Cakra. 


Berti bangun dari duduknya. "Keputusanku sudah bulat. Hubungan kita ini memang harus diakhiri. Aku mau kita cerai!" 


"Aku enggak mau!" ucap Cakra bersikeras. 


"Aku akan urus suratnya meski kamu menolak." 


Berti berjalan menuju pintu. Ketika ia ingin menarik gagang pintu, suara Cakra membuatnya terhenti. Sebuah perkataan yang tidak disangka-sangka oleh Berti. 


"Kamu punya pria idaman lain, kan?" ucap Cakra. 


"Apa, sih? Tiba-tiba saja kamu mengatakan hal yang enggak benar." 

__ADS_1


"Kalau kamu enggak punya pria lain, lalu untuk apa kita bercerai?" kata Cakra. 


"Karena sikapmu! Semua yang ada di dalam dirimu, aku membencinya," ucap Berti. 


"Sebagai istri, kamu terima kekurangan suamimu ini. Jangan hanya karena aku cuek, kamu malah seenaknya minta berpisah? Kamu kira pernikahan itu lelucon?" 


Mata Berti membelalak mendengar perkataan Cakra. Kenapa di sini seakan ia yang salah? Suaminya tidak bisa menjadi pria yang baik. Berti menginginkan kehangatan, tetapi Cakra membangun tembok es. 


"Kurang apa lagi aku? Setiap perilakumu aku terima. Kamu minta pisah kamar, aku diam. Selama ini kamu yang menjauh dariku. Dari pada kita hidup seperti ini, lebih baik berpisah saja. Toh, di rumah ini kita sudah menjalani hidup masing-masing," cerca Berti. 


"Aku menolak!" ucap Cakra tegas. 


"Terserah apa yang ingin kamu katakan. Keputusanku sudah final. Kita harus berpisah!" 


Berti membuka pintu, lalu keluar. Ia berlari menaiki satu per satu anak tangga dengan Cakra yang mengejarnya dari belakang. 


"Kita belum selesai bicara," kata Cakra. 


"Apalagi? Semua sudah jelas." 


Berti masuk kamar. Ia menutup pintu, tetapi Cakra menahannya. "Dengarkan aku, Bert. Aku minta maaf atas perilakuku kepadamu. Tapi kumohon untuk tidak mengajukan tuntutan cerai." 


"Terlambat. Permintaan maafmu sudah telat," kata Berti. 


"Pikirkan orang tua kita, Bert. Mereka menjodohkan kita dengan harapan keluarga kita saling menyatu. Jika kita berpisah, maka hubungan persahabatan itu akan renggang." 


"Lalu bagaimana perasaanku? Aku enggak mau hidup dengan pria yang tidak mencintai diriku. Kita tidak saling cinta, Cakra. Untuk apa pernikahan ini berlanjut?" 


"Aku akan perbaiki semuanya. Aku akan mengubah sikapku." 


"Telat! Aku tidak ingin bersamamu lagi," ucap Berti, lalu mendorong pintu sekuat tenaga hingga tertutup kemudian menguncinya. 


"Bert, buka pintunya," seru Cakra. 


Cakra mengumpat kesal, ia turun ke bawah menuju ruang kerja. Cakra mengambil ponsel yang terletak di atas meja, lalu menghubungi orang tua serta mertuanya. 


"Maaf, Berti. Jika aku tidak bisa menyakini dirimu, orang tua kita pasti bisa," gumam Cakra. 


Cakra menelepon mertuanya lebih dulu setelah itu barulah orang tuanya. Ia mengundang mereka semua untuk datang ke rumah guna menasihati Berti. Cakra cuma bisa meminta bantuan mereka saja agar rumah tangganya tetap utuh. 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2