
Cakra heran karena Berti cuma membeli dua kemeja untuknya. Ia mengira istrinya itu akan membeli tas mahal sesuai gaya dari wanita itu sendiri. Bagi Cakra itu membuang uang. Tas dalam lemari saja bertumpuk dan jarang dipakai. Namun, ia maklum. Begitulah wanita, sama seperti sang ibu Widya yang juga hobi koleksi tas.
"Cuma beli dua kemeja?" tanya Cakra.
"Iya, enggak sempat belanja," jawab Berti.
Cakra menyatukan alis. "Memangnya kamu ke mana?"
"Ketemu sama mantan." Berti terang-terangan menyebutnya.
"Oh, terus kalian jalan?" tanya Cakra.
"Iya, kami makan bareng. Dia yang traktir."
"Oh, ya, sudah. Aku mandi dulu," ucap Cakra seraya mengambil handuk serta pakaian ganti, lalu melangkah ke bilik mandi.
Berti tercengang. Lagi-lagi mendapat kejutan dari Cakra. Suaminya tidak marah atau cemburu. Malah menganggap hal itu biasa dan terkesan remeh. Apa Cakra memang benar tidak punya hati? Atau Cakra memang tidak mencintainya?
"Mas, kenapa sifatmu begini?" gumam Berti.
Waktu Berti membawa Arjuna saja, Cakra langsung membuat pria itu masuk ke rumah sakit. Lalu ini, Berti juga terang-terangan sudah memberitahu kalau dia jalan bersama mantannya. Namun, Cakra tidak berbuat apa pun.
Beberapa saat, Cakra keluar dari kamar mandi. Ia melempar handuk begitu saja di atas sofa kemudian duduk dengan mengambil buku yang belum selesai ia baca.
"Memang pria tidak punya hati!" ucap Berti.
Cakra mengalihkan pandangan pada dirinya. "Siapa yang kamu maksud?"
"Siapa lagi kalau bukan kamu?" suara Berti bernada tinggi.
Cakra menghela napas. "Aku salah di mana lagi? Kayaknya aku ini tidak pernah benar di matamu."
Berti beranjak dari tempat tidur, berjalan menghampiri suaminya. "Istrimu jalan sama mantan, kamu tidak cemburu. Sikap apa itu, Cakra? Kamu ingin aku balikan sama mantan kekasihku!"
"Hanya jalan saja, kan? Kenapa aku harus cemburu?"
__ADS_1
"Kamu lihat para suami di luar sana. Mereka cemburu melihat istrinya jalan sama mantan," kata Berti.
"Aku enggak kenal mereka," jawab Cakra.
"Jika sikapmu seperti ini, jangan salahkan aku selingkuh!" ucap Berti.
Cakra menghempaskan buku di meja dan membuat Berti terkesiap. Pria itu bangun dari duduknya, menatap sang istri dengan raut kesal.
"Kamu berniat untuk selingkuh?" tanya Cakra.
"Jika kamu masih bersikap tidak peduli padaku."
"Tidak peduli di mananya? Aku itu percaya sama kamu!" ungkap Cakra. "Aku percaya kalau istriku itu tidak akan berbuat macam-macam di luar sana. Aku membebaskanmu dan sebagai istri, jaga kepercayaan suamimu itu! Aku salah di mananya? Kamu mau aku cemburu? Bersikap posesif padamu begitu?"
Berti terdiam atas ucapan suaminya. Apa ia salah telah mengatakan hal penting bagi hubungan pernikahan mereka? Bukankah tadi itu merupakan sikap tidak peduli karena Cakra menganggap kebersamaannya bersama Banyu adalah hal biasa?
"Aku capek, Bert. Tiada hari kamu mengeluh akan diriku. Sudah kubilang, aku ini Cakra! Bukan tokoh fiksi yang menjadi impianmu itu!"
"Aku cuma butuh perhatian sedikit, Mas," ucap Berti.
"Perhatian bagaimana lagi, Bert? Aku selalu menyediakan waktu buat kamu. Setiap malam aku selalu ada buat kamu. Apalagi yang kurang? Karena aku enggak bisa menemanimu berwisata? Kita kemari bukan untuk liburan."
Sebaiknya ia tidur daripada terus-terusan meladeni sikap Berti yang menginginkan dirinya bersikap romantis. Cakra tidak mengerti, kenapa wanita selalu menginginkan adegan yang menurut dirinya hanya dibuat-buat. Semua romantisme itu adalah kebohongan semata. Belum tentu dengan sikap itu, hubungan setiap pasangan akan langgeng. Lebih bagus bertingkah sesuai dengan jati diri. Pasangan tahu kelemahan dan kelebihan. Namun Berti, seakan ingin dirinya menjadi sosok yang sempurna. Seorang tokoh CEO, dingin, kejam dan posesif serta romantis. Bisa gila Cakra menuruti keinginan istrinya itu.
...****************...
Sebenarnya tidak terlalu mengherankan bagi Ariel yang melihat tingkah dari atasannya. Ia menebak jika keduanya pasti tengah berada dalam edisi pertengkaran yang Ariel lupa entah berapa episode terjadi dalam pernikahan Cakra dan Berti. Masalahnya juga tidak jauh-jauh karena Ariel tahu bahwa pasti sikap acuh tak acuh Cakra yang mendapat protes dari istrinya.
Keduanya sarapan dalam diam. Ariel sesekali menoleh takutnya Berti mengamuk di restoran yang penuh pengunjung hotel ini. Wajah dari istri atasannya juga tidak sedap dipandang. Sementara Cakra tidak tahu apakah pria itu marah, sedih atau apa. Datar saja yang terlihat.
Cakra meneguk air putih dalam gelas sampai habis, lalu menyeka bibirnya dengan tisu. Sisa lima belas menit dari jadwal masuk kantornya, dan itu cukup untuk sampai ke restoran miliknya sendiri.
"Ariel, kita berangkat," kata Cakra.
Ariel beranjak dari duduknya. "Siap, Tuan."
__ADS_1
"Aku ingin jalan sama Banyu," celetuk Berti.
"Mantamu itu bernama Banyu?" tanya Cakra.
Berti mengangguk. "Iya, dia Banyu. Kami berjanji untuk jalan bersama."
"Jalan saja boleh. Tapi ingat, kamu seorang istri. Jangan bertindak berlebihan. Aku percaya padamu," kata Cakra.
Berti mendengkus. "Kamu membiarkanku jalan bersama pria lain artinya, sama saja kamu memberi peluang agar aku berselingkuh."
"Pakai pikiranmu itu," kata Cakra. "Aku tidak melarangmu untuk bersenang-senang, tapi sebagai istri, kamu pasti tahu batasannya. Kamu sudah dewasa. Bisa membedakan baik dan buruk. Berpikir, Bert. Jangan tahunya mengeluh saja."
Cakra lantas mengajak Ariel segera keluar dari restoran. Berdebat dengan Berti sama saja membuang tenaga dan waktu.
Berti juga langsung meninggalkan restoran menuju kamarnya. Ia malah menangis, lalu melakukan panggilan video kepada Sari. Menceritakan masalahnya pada sahabat mungkin bisa membuatnya senang.
"Sari!" seru Berti ketika panggilan video tersambung.
"Kenapa lagi, sih, Bert? Bukannya senang-senang di Singapura," kata Sari.
"Ini semua karena Cakra yang enggak cemburu sama aku."
"Bukannya sudah biasa?"
"Tapi kali ini, aku jalan sama Banyu. Kami bertemu di Singapura," ungkap Berti.
"Banyu mantanmu itu? Terus bagaimana?" tanya Sari.
"Kami makan bareng dan Cakra tidak cemburu. Dia malah bilang untuk jaga batasan."
"Iyalah. Kamu bukan singel lagi. Harus bisa jaga diri terhadap mantan," kata Sari.
"Maksud aku bukan begitu. Aku penginnya Cakra itu bisa luangin dikit waktu. Masa aku di kamar mulu."
Sari menghela. "Suamimu, kan, memang begitu. Sudahlah, turuti saja kemauannya. Aku sibuk, nih. Sudah dulu, ya "
__ADS_1
Berti menggerutu karena Sari yang memutus panggilannya begitu saja. Kini Berti sendiri lagi dalam kamar. Tidak berbuat apa-apa dan ia merasa jenuh.
Bersambung