
Sebelum berpisah, tentu saja Cakra ingin meminta hadiah kepada sang istri. Karena diperbolehkan, ia pun meminta haknya sebagai seorang suami.
"Jangan terlalu kuat," kata Berti.
"Ini sudah pelan, kok," sahut Cakra. "Kamu naik di atasku."
Berti menolak dengan menggelengkan kepalanya. Ia ingin suaminya sendiri yang bekerja keras lantaran Berti masih tidak menyukai pola pikir Cakra saat mereka bicara di rumah sakit tadi.
"Kamu cepat sedikit mainnya. Aku capek, nih," ucap Berti.
"Belum keluar. Gimana mau selesai," ucap Cakra yang semakin memperlebar kaki Berti, lalu menghunjam dalam.
Berti memeluk suaminya. Menanamkan kuku-kuku jarinya di punggung hingga Cakra meringis kesakitan. Selain nikmat karena desakan suaminya, ini juga sebagai pelampiasan Berti pada diri pria itu.
Cakra sedikit mempercepat gerakannya. Jika tidak begitu, maka akan butuh waktu lama sampai sari-sari dari dalam dirinya keluar. Ia terengah-engah bersamaan Berti yang semakin erat mendekap tubuh suaminya.
Cakra bergeser ke sisi samping tempat tidur. Sementara Berti lekas turun dari ranjang, dan segera masuk kamar mandi membersihkan diri.
"Hati-hati, Bert. Lantai kamar mandi licin," seru Cakra.
Berti langsung saja membasuh tubuhnya dari sisa-sisa penyatuan. Tidak peduli jika hari sudah malam dan ia tengah hamil saat ini. Cakra yang mendengar suara keran shower segera menuju bilik mandi.
"Bert, kamu mandi?" tanya Cakra dengan menggedor pintu. "Bert, buka pintunya."
Keran shower tidak lagi terdengar. Berti membuka pintu dan Cakra menatapnya kesal karena istrinya sungguh membasahi seluruh tubuh dari kepala sampai ujung kaki.
"Masuk angin, Bert," ucap Cakra.
"Biar saja," sahut Berti.
Cakra menghela napas panjang. Tanpa sadar ia masih belum mengenakan apa pun. Cakra meraih handuk yang dibuang Berti begitu saja di lantai kemudian melilitkannya ke pinggang.
"Ayo, duduk dulu. Biar aku oles minyak kayu putih punggungmu," kata Cakra seraya berjalan menuju meja hias, dan mengambil botol minyak.
Berti duduk di tepi tempat tidur dengan Cakra di sisi sampingnya. Cakra mengecup dulu pundak polos itu sebelum membalurkan minyak di punggung sang istri.
"Aku salah apa lagi?" tanya Cakra.
"Enggak ada," jawab Berti.
"Aku pergi kerja bukan liburan. Setelah anak kita lahir, baru kita liburan bersama."
__ADS_1
Berti cuma berdeham menanggapi ucapan suaminya. Bukan kepergian Cakra yang membuat ia marah, tetapi ucapan yang lebih memilih anak daripada istri. Haruskah Berti cemburu pada buah hatinya sendiri? Jawaban Cakra tadi sungguh menyakiti hatinya.
"Keringkan rambutmu dulu baru tidur," kata Cakra, lalu beranjak menuju bilik mandi.
"Lama-lama aku enggak tahan kalau gini," gumam Berti.
...****************...
Kepergian Cakra tiba juga akhirnya. Berti serta mertuanya mengantar sampai ke bandara. Rasa tidak rela itu tiba-tiba saja hadir. Mungkin saja karena pengaruh calon bayi yang tidak ingin ditinggal oleh sang ayah.
"Mama sering-sering jenguk Berti di rumah," pesan Cakra.
"Jangan khawatir, Nak. Yang penting kamu lekas pulang," ucap Widya.
"Cakra juga bakal cari orang kepercayaan buat mengurus restoran yang ada di luar biar enggak pergi terus," ucapnya.
Alasan saja dan Berti tahu itu. Cakra pernah mengatakan untuk tetap menggapai karier cemerlangnya. Tidak ada yang tahu di negara mana lagi ia akan melebarkan sayap bisnisnya itu.
Terlebih kalau Berti tidak salah ingat, Cakra memang ingin menikah di usia 40 tahun. Ketika semua impiannya itu telah tercapai. Karena menuruti permintaan orang tua, Cakra menikah, dan karena orang tuanya juga, pria itu melaksanakan kewajibannya sebagai suami.
Di saat Berti menginginkan Cakra, saat itu juga ia membenci suaminya. Pria yang cuma memanfaatkan Berti untuk kepentingannya. Cakra yang egois, kaku dan selalu merasa dia benar.
"Aku pergi dulu. Kamu baik-baik di rumah dan jaga anak kita," pesan Cakra.
Cakra berpamitan pada ayah dan ibunya serta Dafa yang ikut mengantar setelah itu, keempatnya langsung pulang.
"Nak, ada yang mau kamu makan?" tanya Widya.
Berti tersenyum. "Masih kenyang, Ma."
"Kalau kamu butuh sesuatu, kasih tahu Mama sama Papa," ucap Adhitama.
"Iya, Papa. Berti akan bilang pada Papa dan Mama."
Sesampainya di rumah, lagi-lagi Berti merasa kesepian. Hanya ada Minah yang menemani. Berti pun menyuruh ibunya untuk menginap di kediamannya serta mengundang Sari serta Arjuna untuk makam malam di rumah. Sudah lama mereka tidak bertemu. Sari juga bertingkah. Gara-gara penolakkan Cakra waktu itu, ia enggan untuk menemui sahabatnya.
"Aku beneran kangen kamu," ucap Sari.
"Kamu sibuk melulu. Kalian berdua pacaran?"
Arjuna tersedak minuman. Sari lekas memberi air minum, lalu mengusap punggung pria itu. Semakin curiga Berti akan sikap keduanya.
__ADS_1
"Bukannya tipe kamu itu seperti Cakra," celetuk Berti.
"Aku tidak pernah mengatakan itu. Tipeku itu pria tampan," ucap Sari.
"Dan kaya."
"Yang penting kerja keras."
"Sari sebentar lagi mau nikah?" tanya Santi.
"Enggak ada. Masih belum ada jodohnya," sahut Sari.
"Arjuna, kamu sibuk apa?" tanya Berti.
"Sibuk apalagi? Aku, kan, karyawan dia," sahut Arjuna.
"Kalian buat aku curiga, deh."
"Kalian lanjut ngobrol saja. Ibu mau temani ayah dulu," kata Santi.
Ilham sudah lebih dulu beranjak dari ruang makan. Kini giliran Sari, Berti serta Arjuna yang masih setia di kursi makan sembari menyantap puding mangga buatan Berti.
"Bagaimana kabar calon keponakanku?" tanya Sari.
Berti tersenyum, lalu mengusap perutnya. "Dia baik-baik saja."
"Masih mual dan muntah."
"Masih meski aku sudah minum pil yang diberikan dokter," kata Berti.
Sari melirik ke depan sana. Ia mendekatkan kursinya, lalu berbisik, "Kabar Banyu bagaimana?"
"Kalian bicara jangan bisik-bisik," sela Arjuna.
"Kamu diam," kata Sari seraya melototkan mata.
Arjuna terkesiap. "Iya, Nona."
"Aku mengabaikannya. Sampai sekarang dia masih kirim pesan padaku."
"Iya, Bert. Kamu itu sudah menikah dan lagi hamil. Jangan macam-macam, deh," ucap Sari.
__ADS_1
Berti mengiakan perkataan Sari. Namun sebenarnya adalah, ia tengah berada di fase ingin keluar dari kehidupan pernikahan. Ia mau bebas. Ingin memiliki suami yang pengertian, yang tahu betul apa keinginannya selama ini.
Bersambung