
Berti sungguh tidak percaya Cakra marah hanya karena masalah baju yang ia jatuhkan. Untuk hal sepele seperti itu, apa tidak berlebihan? Berti segera merapikan lipatan pakaian sebelum Cakra selesai mandi.
"Hari pertama pulang saja, aku dimarahi," gumam Berti.
Ketukan kamar terdengar. Berti melangkah membuka pintu. Bi Minah datang melapor bahwa ada pegawai restoran yang mengantarkan makanan. Untung Berti ingat jika ini makan malam keluarga. Kejadian bersama Cakra tadi bisa ia lupakan.
"Ada makan malam keluarga, Nyonya?" tanya Bi Minah.
"Iya, saya lupa memberitahu. Kita ke dapur bersama. Bantu saya susun makanannya."
"Iya, Nyonya. Tenang saja. Jika tau begini, Bibi bisa siap-siap tadi."
Berti tersenyum. "Saya kelelahan tadi. Sekarang kita susun makanannya. Aku tanya dulu apa Cakra mau makan atau tidak."
"Bibi, buatkan aku teh hijau," seru Cakra.
"Baik, Tuan," jawab Bi Minah.
Berti menoleh kepada suaminya yang tengah membawa berkas di tangan tanpa memandangnya. Berti ingin menegur, tetapi ia ragu.
"Bagaimana membuat teh hijaunya? Biar saya belajar selera tentang Cakra."
"Seperti biasa saja, Nyonya. Cuma diseduh. Saat santai, tuan memang suka minum teh," ungkap Bi Minah.
Berti mengangguk. "Biar saya yang buat. Bibi lanjut bereskan meja makan saja."
Minah mengiakan, lalu melanjutkan apa yang diperintahkan. Sementara Berti menggantikan Minah membuat teh. Semoga kali ini Cakra bisa melihat ketulusannya. Berti ingin menunjukkan kalau ia bisa menjadi istri yang baik.
"Mas, minumnya," tegur Berti.
Cakra menoleh kepada istrinya. "Mas?"
Berti meletakkan secangkir teh di meja. "Aku bingung mau panggil kamu apa. Mas saja boleh?"
"Terserah kamu saja. Se-nyaman kamu."
"Aku sudah undang orang tua kita kemari," kata Berti.
Cakra cuma berdehem kemudian melanjutkan kembali kegiatannya. Berti sedikit kesal karena diacuhkan. Cakra begitu susah untuk disentuh, bahkan tidak memberi peluang untuk dia masuk.
"Aku siap-siap dulu," kata Berti.
"Iya," sahut Cakra tanpa melepas tatapan matanya dari kertas berisi angka dan abjad.
Dalam hati, Berti menggerutu. Cakra adalah patung bergerak. Sama sekali tidak ada kedekatan dan ketertarikan. Berti telah membuka peluang selebar-lebarnya. Ia ingin menghilangkan kecanggungan, tetapi Cakra menghalangi dengan menjadi tembok raksasa yang sulit ditembus.
__ADS_1
"Apa, sih, maunya tuh, suami?" gerutu Berti sembari membuka pakaian, lalu menggantinya dengan handuk kimono. "Ini baru seminggu kami menikah. Wajar Cakra masih malu-malu." Berti menjerit. "Malu apanya? Tampangnya sama sekali seperti tidak tau malu. Ah, terserah, deh. Lebih baik aku mandi saja."
Selesai membersihkan diri, Berti pergi menyusul Cakra yang berada di bawah. Ia mendengar suara riuh dan bergegas menuruni anak tangga. Benar saja. Suara gelak tawa berasal dari orang tua serta mertuanya yang telah datang ke rumah.
"Ibu, Ayah!" seru Berti.
"Oh, putri Ibu." Santi merentangkan tangan.
Berti masuk ke dalam pelukan sang ibu. "Kangen, Ibu."
"Sama Ayah, tidak?" celetuk Ilham.
Berti beralih memeluk sang ayah. "Kangen juga, dong."
"Ibu dan Ayah juga," sahut Ilham.
Berti menarik diri, ia memberi pelukan kepada Widya serta Adhitama. Adik iparnya, Daffa juga turun hadir di acara makan malam keluarga.
"Kak Berti keramas, ya?" seloroh Daffa.
"Apa, sih?" tegur Widya.
"Saat waktunya tiba, kamu juga merasakannya, Daffa," timpal Adhitama.
Jika bisa, Berti ingin sikap Daffa berada di diri Cakra. Adik iparnya saja tahu apa artinya rambut basah. Kenapa si patung bergerak itu tidak tahu? Ah, Berti mengerti. Cakra hanya berpura-pura. Mereka akan melakukannya setelah cinta itu datang, dan entah kapan itu.
"Kalau diajak pasti kita mau, ya, Jeng," sahut Santi.
"Pasti," jawab Widya.
"Biarkan saja para wanita. Kita ngobrol saja di ruang tamu," ajak Adhitama.
Cakra cuma bisa manut atas ajakan itu, padahal ia sangat malas. Pasti pembahasannya tidak jauh dari kegiatan bulan madu mereka. Maklum, kedua orang tuanya memang ngebet punya cucu.
"Bagaimana, Cak? Di sana lancar, kan?" tanya Adhitama.
"Papa bicara apa, sih? Malu, ah," jawab Cakra.
Ilham tergelak. "Papamu sudah pengen dapat cucu. Bapak juga sebenarnya."
"Kita akan usaha. Semua tergantung sama yang di atas kalau ingin memberi," ucap Cakra.
"Benar, Nak. Manusia cuma mampu berusaha, tapi Tuhan yang menentukan," sahut Ilham.
"Tapi kami memang sangat berharap," kata Adhitama menambahkan.
__ADS_1
"Sudahlah, Adhi. Kita serahkan saja semuanya pada mereka. Jangan ditekan. Nanti Cakra malah stres," ucap Ilham. "Nak, jangan dibuat pikiran, ya."
Cakra mengangguk. "Iya, Pak."
Untunglah mertuanya pengertian. Jika sama seperti Adhitama, maka Cakra akan stress memikirkan masalah anak. Urusan bisnis sudah membuat pusing, ditambah anak lagi. Semakin runyam pikiran Cakra.
Ia tidak ingin gara-gara seorang anak, impiannya terganggu. Sebenarnya Cakra belum ingin menikah karena masih ada impian yang belum tercapai. Tapi orang tuanya terus memaksa. Apa boleh buat jika sudah begitu, ia harus menerima apa yang diperintahkan.
Tidak jauh berbeda dari Berti. Ia juga dirundung banyak pertanyaan oleh ibu dan mama mertuanya. Bagaimana pengalaman mereka selama di Swiss? Bahkan kedua wanita dewasa itu menceritakan pengalaman mereka saat bulan madu.
Berti ingin mengatakan jika antara ia dan Cakra tidak terjadi apa pun. Bulan madu yang ada dalam bayangan Berti tidak terjadi. Andai ia bisa bicara jujur pada semua.
"Mama dan Ibu jangan ngomongin itu mulu. Berti malu."
Santi dan Widya tertawa. Mereka senang menggoda pengantin baru. Wajah Berti memerah karena mendengar kisah dari kedua orang tuanya.
"Sudah waktunya makan malam," kata Berti.
"Biar Mama yang panggil para suami," sahut Widya.
"Kita langsung ke dapur saja, Nak," ucap Santi.
Makan malam akhirnya tiba juga. Istri-istri melayani suaminya masing-masing. Hanya Daffa si jomlo yang melayani dirinya sendiri.
"Kamu cepetan menyusul, Daf," ucap Ilham.
Daffa tertawa. "Daffa, sih, mau. Tapi harus lulus dulu." Ia menjeling pada Cakra.
Cakra berdehem. "Belajar dulu yang benar baru pacaran."
"Memangnya aku Kakak yang enggak pernah pacaran."
Berti tersedak nasi mendengar pernyataan Daffa. Dengan sigap Cakra memberinya minum dan mengusap punggung belakangnya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Cakra.
Berti mengangguk. "Iya, aku tidak apa-apa."
"Hati-hati makannya."
"Iya, terima kasih," ucap Berti.
Daffa berusaha menahan tawa. Cakra melotot padanya. Sontak saja Daffa menundukkan kepala, lalu makan dengan cepat.
"Sudah, kita lanjutkan makannya saja," ucap Widya.
__ADS_1
Bersambung