Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Menurut


__ADS_3

Tentu saja kabar bahagia itu disambut baik oleh keluarga. Adhitama serta Ilham yang telah datang ke rumah Cakra, memberi selamat kepada anak serta menantunya.


Perayaan ini disambut dengan makan siang bersama. Wejangan dari kedua ibu menjadi asupan lengkap dari menu hidangan yang disajikan. Jika Berti disayang, maka Cakra lebih kepada tuntutan.


"Ingat, Cakra. Jika istrimu ngidam, wajib kamu turuti," kata Widya.


"Biar enggak ileran bayinya," sahut Santi.


"Cakra dulu ileran, loh, Jeng. Gara-gara kepengen makan pizza enggak kesampaian. Keduluan mules waktu itu."


Cakra terbatuk-batuk mendengarnya. Memang ketika Widya membicarakan itu, ia tengah meneguk air putih. Berti mengusap punggung belakang suaminya serta memberi lap kering untuk Cakra menyeka bibir.


"Saya mau beli waktu itu, tapi hari sudah malam. Mana ada restoran pizza buka larut malam. Eh, subuhnya Widya sudah mau melahirkan," sahut Adhitama.


Cakra tidak tahu apa itu menjadi berhubungan antara makanan yang tidak dapat dimakan sewaktu hamil dengan kondisinya yang waktu kecil ileran. Yang pasti ia mengiakan saja segala perkataan dari orang tua maupun mertuanya.


"Berti juga tidak boleh turun-naik tangga, Cakra. Lebih baik kalian pindah kamar bawah," kata Santi.


"Iya, Bu. Kami akan pindah," sahut Berti.


"Nak, selama kehamilan ini, kamu harus selalu menjadi suami yang siaga. Jaga istrimu," Ilham menimpali.


"Iya, Ayah," jawab Cakra.


"Istri mual atau sakit badan. Kamu pijat, kasih minyak kayu putih," tambah Widya.


Kesal, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Telinga Cakra seolah berdengung mendengar nasihat yang diberikan oleh keempat orang tuanya.


"Ayah, Ibu, Mama dan Papa. Cakra akan mengurus Berti. Kalian jangan khawatir soal itu," ucapnya.


"Awas saja kalau ada apa-apa sama cucu pertama kami," ancam Widya.


"Mama doanya enggak baik," kata Cakra.


"Kurangi sedikit pekerjaanmu. Istri dulu yang harus diutamakan."


"Iya, Mama. Semua nasihat kalian akan Cakra turuti."


Ketenangan itu akhirnya, Cakra dan Berti dapatkan. Orang tua serta mertua pulang ke rumah masing-masing. Sementara Berti tengah duduk bersantai di ruang TV sambil melakukan panggilan video bersama sahabatnya. Tentu saja memberitahu kabar bahagianya itu kepada Sari.


"Bi Minah," panggil Cakra.


"Iya, Tuan," sahut Minah yang segera menghampiri majikannya.


"Nanti pindahin sedikit barang-barang di atas ke kamar bawah. Minta bantu saja sama tukang kebun dan cuci harian," kata Cakra.


"Siap, Tuan. Bibi akan pindahkan nanti barang-barangnya."


Cakra mengeluarkan dompet, lalu memberi uang seratus ribu sebanyak lima lembar untuk upah dari dua pelayan harian di rumahnya.


"Mas, suapin aku buah, dong," pinta Berti.


Cakra langsung duduk di samping Berti kemudian mengambil piring berisi potongan buah di meja, lalu menyuapi istrinya.

__ADS_1


"Habiskan buahnya," kata Cakra.


Berti menggeleng. "Aku mau muntah lagi."


Keduanya beranjak dari sofa. Berti sedikit berlari menuju kamar mandi bawah untuk segera mengeluarkan makanan yang ia lahap tadi.


"Makannya sedikit-sedikit," kata Cakra. "Kamu enggak dengar omongan dokter tadi."


"Aku enggak bisa makan. Kata mama sama ibu mualnya akan berkurang kalau umur kehamilanku sudah lima bulan."


"Makannya sedikit saja. Obatnya sudah kamu minum, kan?"


Berti mengangguk. "Aku mau tidur."


"Iya, istirahatlah. Aku mau ke ruang kerja sebentar."


"Mas temani aku, dong. Aku enggak mau ditinggal," ucap Berti.


Wajib dituruti! Cakra mengingat kata dari orang tuanya. Akhirnya, ia tidak membantah sama sekali permintaan Berti. Cakra membawa istrinya menuju kamar bawah untuk beristirahat.


"Peluk aku," kata Berti.


Cakra manut dengan melingkarkan tangan di perut istrinya. Namun, tangannya itu malah mendapat cubitan dari Berti.


"Salah lagi?" tanya Cakra.


"Jangan kuat-kuat. Di sini ada anak kita."


Cakra maklum karena ia tidak tahu. Ia meletakkan tangan di pinggul bawah Berti. Menepuknya pelan agar sang istri terlelap.


Hidangan makan malam sama sekali tidak membuat Berti berselera. Ia enggan makan meski masakan itu terlihat sedap di mata. Tentu saja hal ini merepotkan Cakra yang harus membujuk istrinya.


"Mau makan apa?" tanya Cakra.


"Mau yang pedas, tapi enak," jawab Berti.


"Nasi goreng?" tebak Cakra.


"Aku mau mie tiaw goreng yang pakai baso," ucap Berti. "Aku mau itu, Mas."


"Aku cariin, deh," kata Cakra yang langsung beranjak dari duduknya.


"Makasih, Sayang," ucap Berti.


Cakra mengembuskan napas panjang ketika ia telah masuk mobil. "Sepertinya hari-hariku akan menjadi sangat repot," gumamnya sambil lalu.


Cukup lama karena harus mencari mie tiaw goreng dengan campuran baso sebagai pelengkapnya. Cakra menemukan penjualnya di pinggir jalan dengan bantuan aplikasi makanan. Kalau dipikir-pikir, ia tidak harus keluar rumah. Tinggal pesan, terus tunggu, makanan pun datang. Namun, ingat lagi pesan dari sang ibu kalau ia sendiri-lah yang harus melayani Berti.


Cakra langsung pulang setelah mendapat makanan pesanan Berti. Sampai di rumah, sang istri yang setia menunggu segera menyambut.


"Nih, pesananmu." Cakra menyerahkan satu bungkus mie pada Berti.


"Makasih, Sayang," ucap Berti.

__ADS_1


Cakra bergidik. "Biasa saja ngomong saja. Aku jadi malu."


"Aneh," ucap Berti pelan.


Dari aromanya saja sangat menggugah selera. Berti menyalin mie itu, lalu menyantapnya sedikit. Ketika Cakra menyodorkan satu gelas air putih, Berti mendorongnya.


"Perutku bakal mual lagi," kata Berti.


"Minum sedikit saja. Suaramu bisa sakit karena minyak."


Berti meneguk setengah gelas air itu dan tidak terjadi apa-apa sampai beberapa saat ia mulai merasakan hal sama.


"Aku capek kalau begini terus," ucap Berti.


"Sabar, namanya hamil," sahut Cakra.


"Aku mau langsung istirahat saja."


Cakra membawa istrinya ke kamar bawah. Merebahkan Berti di atas tempat tidur, lalu menyelimutinya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Berti.


"Aku belum mau tidur."


"Mas harus tidur juga. Aku enggak mau jauh-jauh."


"Aku harus kerja, Bert," kata Cakra.


"Nanti dulu. Mas temani aku sekarang."


Cakra mengembuskan napas panjang, lalu ikut masuk ke dalam selimut. Tidak ingin lepas dari sang suami, Berti memegang tangan Cakra agar tidak lari.


Rasanya Cakra baru saja terlelap, tetapi ada suara serta guncangan yang menyuruhnya harus bangun.


"Apalagi?" tanya Cakra.


"Aku lapar, Mas. Kita masak mie instan, yuk," kata Berti.


"Jangan makan mie terus. Kami harus makan makanan bergizi."


"Ayo, Mas. Buatin aku mis instan rasa soto."


"Iya, iya," ucap Cakra dengan rasa malas untuk bangkit dari tempat tidur.


"Jangan lupa pakai telur," kata Berti.


Cakra tidak menjawab, ia berjalan keluar dari kamar menuju dapur. Baru sehari, tetapi ini sudah sangat merepotkan. Berti pun ikut menyusul dan ia memang ingin melihat suaminya itu memasak.


"Memangnya kamu beneran lapar?" tanya Cakra.


"Iyalah, cepetan masaknya," kata Berti.


"Ini anak apa kamu yang ngerjain aku?"

__ADS_1


"Dua-duanya," jawab Berti.


Bersambung


__ADS_2