
Selama seminggu berada di Swiss, tidak ada apa pun yang terjadi antara Berti dan Cakra. Seperti yang dikatakan oleh sang kepala keluarga jika mereka akan melakukannya ketika cinta itu hadir dengan sendirinya.
Berti tidak tahu apakah ini baik untuk pernikahannya atau tidak. Sungguh ia ingin menyerahkan seluruh hidupnya untuk Cakra. Apa pun yang suaminya minta, Berti akan sanggup memberikan.
Namun apa boleh buat jika Cakra sendiri enggan untuk menyentuhnya sebelum debaran jantung datang ke dalam dirinya. Berti harus berjuang sekarang. Ia harus menarik perhatian Cakra agar benih-benih cinta tumbuh di hati mereka.
"Akhirnya kita sampai juga di tanah air," ucap Berti.
"Kita langsung ke rumah saja," sahut Cakra.
"Enggak ke rumah ibu dulu? Baju belum dikemas, loh."
"Aku, kan, sudah bilang kalau kita sudah punya rumah sendiri. Begini saja. Kita undang mama dan ibu buat makan malam," kata Cakra.
"Ini sudah sore. Aku enggak sempat masak," sahut Berti.
"Pesan saja di restoran. Kamu mau ketemu ibu buat ngasih oleh-oleh, kan?"
Berti mengangguk. "Iya, sih."
"Lagian aku banyak kerjaan. Aku mau cepat-cepat pulang," ucap Cakra.
Mobil hitam berhenti tepat di tempat Cakra dan Berti berdiri. Seorang pria berkacamata keluar, tersenyum ketika memandang atasannya.
"Selamat datang kembali, Tuan, Nyonya," ucap Ariel seraya meraih koper bawaan Berti dan Cakra kemudian memasukannya ke dalam bagasi.
"Jika kamu terlambat lima menit lagi, tau sendiri akibatnya," kata Cakra.
Sontak Berti memandang suaminya. Mereka baru saja turun dari pesawat dan baru beberapa menit berdiri di pintu masuk bandara. Entah kapan waktu yang dijanjikan Cakra kepada Ariel hingga lewat lima menit saja, suaminya akan marah.
"Maaf, Tuan. Di gerbang masuk sana antri buat ambil kartu parkir," kata Ariel.
"Ayo, pulang. Aku ingin segera sampai di rumah."
Ariel segera membuka pintu bagian penumpang untuk kedua atasannya. Cakra duduk di depan, sedangkan Berti di kursi belakang. Ariel berlari kecil mengitari mobil menuju bagian kursi pengemudi.
Mobil mulai berjalan ketika Ariel telah sedia mengendarainya. Selama perjalanan, Berti tidak lepas memandang Cakra yang asik bermain ponsel. Sebagai istri, Berti belum pernah memegang gawai suaminya.
Ia tidak curiga sama sekali jika Cakra punya simpanan atau apa pun itu. Ia percaya tipe pria seperti Cakra sangat setia pada istrinya. Satu hal yang Berti tahu adalah. Cakra sangat menghargai waktu. Entah apa yang terjadi jika karyawan di perusahaan pria itu terlambat. Bisa-bisa mereka dipecat begitu saja.
__ADS_1
Empat puluh menit dihitung macet di jalan, mobil yang dikendarai Ariel sampai di rumah tingkat dua. Rumah besar dengan nuansa modern. Berti keluar lebih dulu tanpa harus menunggu Ariel membukakan pintu untuk dirinya.
"Ini rumah kita. Ada satu orang pelayan di sini. Namanya Bi Minah," ucap Cakra.
Pintu rumah dibuka. Seorang wanita seumuran ibu Berti keluar. Ia tersenyum, berjalan perlahan sembari memberi hormat.
"Selamat datang, Tuan, Nyonya."
"Bi Minah, dia Berti. Istriku. Bawa Nyonya ke kamar. Ajari dia apa yang boleh dan tidak ketika satu kamar denganku," ucap Cakra.
"Baik, Tuan."
"Aku langsung ke ruang kerja. Kamu istirahat saja," kata Cakra sembari mengusap kepala Berti.
Cakra masuk ke dalam bersama Ariel. Berti mengerjap beberapa kali, ia tertegun atas apa yang baru saja suaminya ucapkan. Apa ini? Dia di mana? Kenapa sifat Cakra berubah jadi galak begitu? Apa ini sifat yang sebenarnya? Memang setelah pernikahan sifat dari diri masing-masing akan keluar. Tapi ini Cakra yang manis berubah seperti bos angkuh.
"Nyonya," tegur Bi Minah.
Berti tersentak. "Iya, ada apa?"
"Ayo masuk. Kopernya biar dibawa sama penjaga rumah saja."
Berti mengangguk. "Iya. Ayo, kita masuk."
Bi Minah membawa Berti ke lantai atas. Hanya ada dua kamar di sana. Wanita sekitar lima puluhan itu membuka pintu kamar yang paling besar.
"Ini kamar Nyonya. Silakan masuk," ucap Bi Sari mempersilakan.
"Sebelah kamar siapa?" tanya Berti.
"Kamar kosong. Lebih banyak diisi dengan barang koleksi tuan Cakra."
Berti mengangguk. Penjaga datang bersama dengan membawa satu per satu koper majikannya.
"Koper warna hitam dibiarkan saja di lantai bawah," ucap Berti.
"Baik, Nyonya," ucap penjaga.
"Nyonya," tegur Bi Minah.
__ADS_1
"Ya," jawab Berti.
"Ini lemari untuk pakaian Nyonya. Sebelah kiri untuk tuan." Minah membuka lemari pakaian Cakra. Berjejer rapi kemeja serta jas suaminya. "Tuan orangnya sangat rapi. Dia akan marah jika barangnya tidak diatur sesuai warna." Bibi Minah membuka lemari dasi, jam tangan juga perlengkapan pribadi Cakra.
"Oh, jadi, si Cakra itu orangnya perfeksionis?" kata Berti.
"Apa itu, Nyonya?" tanya Bi Minah.
"Bukan apa-apa. Tolong kamu susun pakaianku di dalam koper itu. Yang di dalam plastik hitam semuanya kotor. Susun saja yang bersih di dalam lemari termasuk pakaian Cakra. Untuk hari ini Bibi dulu yang beresin. Saya mau telepon dulu," kata Berti.
"Iya, Nyonya. Tapi saya buat minum buat tuan dulu."
Berti mengangguk. "Iya, urus dulu mereka."
Minah keluar dari kamar sembari menutup pintu. Berti langsung merebahkan diri di atas kasur. Ia menghubungi orang tua serta mertuanya dan mengundang mereka makan malam di rumah.
Orang tua Berti kaget mendapati putrinya telah tiba di tanah air. Keduanya memang tahu Berti dan Cakra akan pulang, tetapi mereka tidak menyangka tiba-tiba saja sudah berada di rumah.
"Semua sudah diundang ke rumah. Tinggal order makanan buat nanti malam," gumam Berti. "Pesan makanan apa, ya? Tanya Cakra, tapi orangnya sibuk. Order seperti makanan yang ibu masak saja waktu itu."
Berti memesan makanan yang mirip seperti makan malam waktu di rumahnya. Ia juga memesan puding serta cheesecake sebagai makanan penutup nanti.
Selagi Berti berguling-guling di tempat tidur, pintu kamar terbuka. Cakra masuk ke dalam dan melihat itu, Berti lekas bangun dari tempat tidur.
"Mau mandi?" tanya Berti.
"Iya, siapkan pakaianku."
Cakra duduk di tepi tempat tidur. Sementara Berti mengambil pakaian di dalam lemari. Ia meraih kaus warna putih tanpa mengangkatnya, tetapi langsung menariknya hingga membuat pakaian di sisi atas terjatuh.
"Pakaiannya malah jatuh lagi," ucap Berti kemudian meraih baju yang jatuh ke lantai, dan meletakkan kembali ke tempatnya tanpa dirapikan lagi. "Pakaianmu." Berti menyerahkan kaus putih dan celana pendek kepada suaminya.
"Kamu enggak bisa rapi?" kata Cakra.
"Apa?" tanya Berti.
"Lihat pakaian yang tersusun jadi berantakan. Siapa yang mau merapikannya? Bi Minah tidak bilang kalau aku tidak suka barang milikku tidak rapi?"
Berti tersentak. "Aku akan merapikannya. Kamu tenang saja."
__ADS_1
"Selesai aku mandi, semua harus beres," ucap Cakra seraya melangkah ke kamar mandi.
Bersambung