
Beberapa hari ini Cakra kesal setengah mati pada Berti. Pasalnya istrinya itu semakin bertingkah merajalela. Tidak didapat atur. Setiap perintah Cakra, larangan, selalu saja dilanggar.
"Menurutmu, apa yang harus aku lakukan pada istri yang tidak penurut?" tanya Cakra pada Ariel.
"Saya tidak tau, Tuan," jawab Ariel. "Saya takut salah menjawab."
"Katakan saja padaku. Aku cukup bersabar karena janji untuk memperbaiki hubunganku dengan Berti."
Ariel menunduk takut. Jika tidak dijawab, maka Cakra akan terus memintanya memberi pendapat. Jika dijawab, maka ia takut akan salah bicara.
"Menurut saya, sebaiknya Tuan lebih memperhatikan nyonya. Bisa liburan, makan berdua di restoran romantis, memberi bunga. Pasti nyonya bakal senang," kata Ariel.
"Apa? Menurutmu selama ini aku tidak melakukan itu? Aku membiarkan dia menghabiskan uangku, membiarkan dia bermain ponsel saat di tempat tidur. Kamu tau, istriku itu seperti orang gila yang tertawa sendiri. Setiap mau tidur, bangun tidur, dia selalu menghubungi orang yang dia sebut ayang itu. Aku bahkan membiarkan dia makan bersama seorang pria muda," tutur Cakra.
Ariel tertegun mendengar ucapan Cakra. Memang patung bergerak yang tidak punya perasaan. Istrinya makan bersama pria lain saja dia tidak cemburu.
"Apa Tuan tidak cemburu nyonya Berti makan bersama pria lain?" tanya Ariel.
"Ini namanya menghormati kebebasan seorang istri. Di luar dia boleh melakukan apa pun, tetapi di dalam rumah, dia adalah istriku."
Ariel membeku mendengarnya. Pikiran Cakra mengenai pernikahan terlalu bebas. Mungkin kelamaan di luar negeri. Namun, Ariel masih tidak habis pikir. Kok, ada pria seperti Cakra di dunia ini.
"Itu kesalahan, Tuan. Nyonya ingin diperhatikan."
"Aku jadi serbasalah sekarang. Karena dia, aku membuang waktu untuk bekerja. Ada banyak kesempatan yang telah terbuang karena ulah Berti," ucap Cakra. "Tapi saranmu yang itu boleh juga. Atur jadwal untuk jalan bersama istriku."
"Tuan, mengajak istri tidak boleh pakai jadwal."
Cakra menatap tajam asistennya. "Sejak kapan kamu berani mengaturku?"
Cakra menyodorkan ponsel miliknya, lalu beralih meneliti berkas yang berada di meja. Ariel mengembuskan napas perlahan. Ia ambil gawai itu, lalu mengirim pesan pada Berti.
"Apa ini?" ucapnya dengan nada kesal. "Kenapa bisa berkurang angka nol-nya? Bawa kemari orang yang bertanggung jawab atas laporan keuangan ini."
Hampir saja Ariel menjatuhkan ponsel di tangannya. "Baik, Tuan. Saya segera panggil ke sini."
"Tunggu!" kata Cakra. "Kamu sudah memberi pesan pada istriku?"
"Sudah, Tuan. Saya sudah menjadwalkan acara jalan-jalan pada Sabtu besok," ucap Ariel seraya mengembalikan ponsel Cakra.
Cakra mengangguk, lalu mengibaskan tangannya. "Kamu boleh pergi."
__ADS_1
Setelah Ariel ke luar dari ruangan, telepon berdering. Cakra mendecakkan lidah karena itu panggilan dari sang ibu. Segera saja ia menggeser tombol hijau sebelum ratu dalam hidupnya itu marah besar.
"Ada apa, Mama. Cakra sibuk."
"Mama mau ketemu sekarang juga," ucap Widya.
"Nanti sore saja."
"Sekarang, Cakra! Kamu enggak kerja sehari enggak bakal membuatmu jatuh miskin."
"Pikiran Mama ini sungguh sangat salah. Setiap detik, menit, adalah peluang bagi Cakra untuk mengembangkan perusahaan. Cakra tidak suka membuang waktu."
Dari seberang telepon sana, Widya beristigfar. "Mama tunggu kamu di rumah!"
Telepon terputus. Cakra memejamkan mata. Menarik napas, lalu mengembuskannya perlahan. Ia harus sabar dan tenang.
Ariel masuk bersama pria yang bertanggung jawab atas laporan keuangan. Cakra berdiri, menatap tajam keduanya.
"Kalau sampai perusahaan ini rugi satu rupiah saja, kalian berdua yang harus tanggung jawab," kata Cakra.
"Kami akan segera perbaiki kesalahannya," sahut Ariel.
"Kali ini kalian selamat. Saya harus pergi dan kamu, Ariel, bertanggung jawab di sini," kata Cakra.
Cakra merapikan jas, memakai kacamata hitam kemudian mengambil kunci di atas meja. Kedua bawahannya bergeser, Ariel membuka pintu dan mempersilakan Cakra keluar.
"Hampir saja," ucap pria bagian keuangan.
"Cepat perbaiki laporannya. Kalau tidak, kita bisa berakhir di perusahaan ini," sahut Ariel.
Tiada hentinya Cakra menggerutu karena disuruh pulang oleh sang ibu. Ia sudah menikah, tetapi mamanya selalu saja mencampuri urusan pribadinya.
Ketika telah sampai di kediaman orang tuanya, rupanya ia telah ditunggu oleh keluarga. Ayah dan ibunya serta sang adik, Dafa.
Cakra mengenyakkan tubuhnya di atas sofa tunggal berhadapan dengan ketiga orang yang siap memberi petuah pernikahan. Ya, ampun. Berapa menit yang akan ia habiskan demi mendengar ceramah yang akan memekakkan telinga.
"Mama menyuruhku menikah dan aku sudah terima. Lalu, untuk apalagi memanggilku kemari?" kata Cakra.
"Lihat, Papa. Anakmu bicara seperti itu padaku," ucap Widya.
Adhitama berdeham. "Dafa, kamu masuk ke kamar. Papa dan Mama ingin bicara dengan kakakmu."
__ADS_1
Dafa mengangguk kemudian berlalu dari sana. Ini masalah serius jika sang adik telah disuruh untuk menyingkir.
"Apa Berti masih meminta cerai?" tanya Adhitama.
"Papa menyuruhku pulang cuma buat menanyakan ini?" Cakra tidak percaya ia disuruh datang untuk masalah tidak penting.
"Dia pasti menganggap masalah ini tidak serius," terka Sang Ibu yang tepat sasaran.
"Apa yang ingin kamu kejar, Cakra? Sudah cukup apa yang kamu miliki saat ini. Perhatikan istrimu. Dia butuh sosok yang sayang dan mencintainya," ucap Adhitama.
"Cakra kurang apa, sih? Pulang ke rumah tepat waktu. Uang bulanan cukup. Pelayan di rumah ada. Tidak merokok, tidak menuntut Berti harus ini dan itu. Kurang apa lagi?"
Widya menepuk jidat. "Sepertinya waktu hamil Mama salah makan."
Adhitama garuk-garuk kepala mendengar penuturan putranya. "Itu bagus, Nak. Pertahankan itu."
Widya melotot ke arah suaminya. Adhitama mengangkat bahu. Semua yang dilakukan Cakra adalah benar. Berti beruntung mendapat suami seperti Cakra.
"Ini salah Mama. Cakra sudah bilang ingin punya istri yang diam di rumah. Enggak cerewet. Enggak menuntut Cakra harus ini dan itu," ucapnya.
"Mama salah. Seharusnya Mama menikahkanmu dengan bibi Minah," ucap Widya.
Cakra tersentak mendengarnya, sedangkan Adhitama malah tertawa. Minah tinggal di rumah, diam dan patuh pada Cakra. Seharusnya memang bibi Minah yang cocok menjadi pendamping Cakra.
"Apa Berti sudah ada tanda-tanda hamil?" tanya Widya.
"Belum," jawab Cakra.
Widya menatap curiga putranya. "Kamu normal, kan?"
"Mama bicara apa, sih?" gerutu Cakra.
"Apa alasan Berti meminta cerai karena kamu tidak bisa bertindak sebagai suami?" kata Widya. "Nak, katakan sejujurnya. Kamu sakit?"
Widya menatap putranya khawatir, sedangkan rupa Adhitama menjadi serius. Memang inilah yang keduanya diskusikan tadi malam. Cakra tidak punya kekurangan apa pun, tetapi Berti meminta pisah. Pasti karena ada sebab yang tidak bisa menantunya itu ungkapkan.
"Papa akan memanggil dokter terbaik untuk mengobatimu," ucap Adhitama.
"Papa dan Mama bicara apa? Kok, melantur begini?" sanggah Cakra.
"Terus apa? Jujur saja pada kami, Nak," desak Widya.
__ADS_1
Bersambung