Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Beda


__ADS_3

Belanjaan dilempar begitu saja di atas sofa. Berti membuka sepatu boots yang ia kenakan serta Blazer hitam yang membungkus tubuhnya.


Kepalanya tiba-tiba saja berdenyut setelah mendengar ungkapan cinta dari sang mantan. Timbul rasa bersalah karena telah membuat Banyu kecewa. Sebuah hubungan ia anggap biasa saja karena saat itu Berti belum memikirkan menikah.


Ia menerima perjodohan bersama Cakra karena tidak ingin didesak terus-menerus oleh kedua orang tua yang memang menginginkan dirinya untuk menikah dan segera memberikan cucu.


Andai waktu bisa diputar kembali, mungkin Berti akan memilih Banyu yang perhatian padanya. Berti ingat betul jika sang mantan memang punya sifat yang begitu penyayang dan romantis. Dengar saja tutur kata yang begitu menyayat hati itu. Menusuk sampai Berti merasa ia begitu sangat bersalah.


Hubungan berakhir, lalu kenapa harus memikirkan mantan lagi. Namun, kasus ini berbeda sedikit. Berti dibuat bersalah oleh Banyu karena tidak menepati janji. Permainan kata-katanya telah berhasil membuat hal itu terjadi.


"Kenapa Banyu bisa mengatakan hal demikian?" ucap Berti lirih. "Kenapa dia begitu percaya atas perkataanku itu?"


Namanya cinta dan Banyu sudah memutuskan ingin menikahi Berti, yang artinya, pria itu sangat serius. Hanya saja sudah terlambat. Perjuangan itu begitu sia-sia. Semua hancur karena takdir yang tidak bisa menyatukan mereka.


Pintu kamar diketuk. Berti bergegas merapikan sepatu, blazer serta belanjaannya di sofa. Itu pasti Cakra yang pulang dari restoran miliknya. Berti merapikan rambut, mengusap wajahnya, menarik napas kemudian mengembuskan napas panjang barulah ia membuka kunci kamar.


"Lama banget buka pintunya," kata Cakra.


Berti meraih tangan Cakra, lalu mengecup punggung tangan itu. Kemudian membantu suaminya melepas dasi, jas serta kemeja.


"Kamu baru pulang?" tanya Cakra yang melihat belanjaan Berti masih dibungkus.


"Iya, baru saja," jawab Berti yang melangkah menuju lemari, mengambil handuk serta pakaian ganti untuk suaminya.


Cakra tidak berkomentar apa-apa lagi karena sudah tahu pengeluaran yang dibelanjakan oleh Berti serta bersama siapa istrinya pergi. Sarapan pagi tadi istrinya itu sudah mengatakannya, tetapi ada janggal di sini. Cakra merasa ingin marah karena Berti baru pulang sore hari.


Selepas membersihkan diri, Cakra melanjutkan acara santainya dengan membaca buku di luar balkon kamar. Namun, ada yang kurang karena Berti tidak datang menemaninya. Sejak ia keluar mandi, istrinya itu malah meringkuk di bawah selimut. Cakra saja membuat teh hijau sendiri sebab Berti enggan untuk bangun dari rebahan nyamannya.


Sebanyak dua puluh lembar halaman yang dapat Cakra baca. Mentari sudah lama terbenam. Langit biru berganti hitam dengan ribuan cahaya kecil di atasnya. Meski gelap, tetapi Singapura begitu terang benderang lantaran lampu yang berkelap-kelip.


Cakra bangun dari duduknya kemudian masuk kamar, berpapasan dengan Berti yang sudah selesai mandi.

__ADS_1


"Cepat pakai baju. Kita pergi keluar," kata Cakra.


"Ke mana?" tanya Berti.


"Ganti baju saja. Kita keluar jalan-jalan malam lagi."


Berti mengangguk. "Iya, Mas ...."


Pakaian santai seadanya saja karena Berti yakin jika suaminya itu akan mengajaknya ke restoran biasa sebab Cakra juga memilih kaus serta celana jeans untuk digunakan.


Setelah berganti pakaian, Berti dan Cakra keluar dari gedung hotel tempat mereka menginap. Keduanya jalan kaki sebentar sampai menemukan taksi.


Rupanya Cakra ingin membawanya ke Sentosa Bay. Di sana memang indah ketika malam hari. Panorama malam yang spektakuler jangan sampai untuk dilewatkan.


Sebelum menjelajahi Sentosa Bay, keduanya makan malam dulu di restoran dekat sana. Nasi ayam serta kari kepala ikan, es kachang alias es serut jika di Indonesia, dan chile crab yang pedas.


"Mas tahu enggak makanan kesukaan aku?" tanya Berti.


"Pasti ada yang aku suka, Mas."


Cakra tampak berpikir. "Aku tidak tahu apa makanan kesukaanmu, tetapi soal selera, aku tahu kamu suka makanan pedas juga manis."


Berti tersenyum. Tidak buruk untuk soal jawaban Cakra. Mungkin Banyu lebih memberi contoh khusus seperti nama makanan, sedangkan Cakra lebih ke umum. Soal selera ia tahu, rasa mana saja yang istrinya sukai. Namun, pikiran Berti malah mengarah pada Banyu. Jelas mantannya lebih perhatian karena tahu detil setiap sajian kuliner yang Berti suka.


"Coba Mas tebak lagi. Apa makanan kesukaanku?" tanya Berti.


"Kamu ini enggak ada bahas lain apa? Tinggal makan saja susah. Nih, makan cepat. Entar keburu dingin."


Memang seharusnya Berti tidak membahas soal selera makanan. Lebih baik makan saja sebelum Cakra menggerutu. Selesai makan, keduanya menuju Sentosa Bay. Namun, Berti sama sekali tidak menikmatinya. Jalan berdua, tetapi seperti seorang diri. Cakra tidak ingin digandeng, bahkan pria itu jalan lebih dulu.


"Bert, kamu mau foto?" tanya Cakra.

__ADS_1


Berti menggeleng. "Enggak usah, Mas. Aku sudah pernah foto di sini."


Cakra mengerutkan kening karena tidak seperti biasanya Berti menolak untuk foto. Cakra memotret pemandangan kota juga mengambil gambar Berti secara diam-diam.


"Mas, kita pulang, yuk," ajak Berti.


"Eh, yakin mau pulang?"


Berti mengangguk. "Iya, aku mau pulang."


Lagi-lagi Cakra bingung akan sikap Berti malam ini. Ia berpikir mungkin ini karena dirinya yang memberi waktu jalan dan makan. Itu sebabnya, Berti terburu-buru untuk kembali ke hotel.


"Malam ini kita bisa bergadang. Kita agak larut saja pulangnya," ucap Cakra karena ia merasa bersalah.


"Aku mau pulang, Mas."


"Oke ...."


Masalahnya Berti mengingat jalan bersama Banyu tadi. Anggap saja dua hari, tetapi begitu membekas di hati Berti. Pujian dan gombalan pria itu membuat Berti tersipu malu. Beda sekali jalan dengan Cakra.


Sampai di hotel, Berti tidak melepas Cakra. Tentu saja karena ia ingin menyakinkan perasaannya sendiri. Berti sudah jatuh cinta pada suaminya dan tidak mungkin ia kembali jatuh pada sosok Banyu yang bermodalan pujian serta gombalan.


"Eh, sebentar, Bert. Aku buka baju dulu," kata Cakra, yang bibirnya sudah dijamah oleh Berti.


Cakra jatuh di atas tempat tidur. Berti membuka celana jeans serta ********** sekali, lalu naik di atas pangkuan pria itu. Menggesek sebentar sampai masuk mendekam suaminya.


Hal yang bikin Cakra heran lagi. Berti bahkan belum sempat membuka baju bagian atasnya, tetapi wanita itu sudah mulai menapaki tanjakan dan mengeluh ketika turun.


Berti jatuh dalam pelukan Cakra dengan terengah-engah. Namun, suaminya memeluknya erat, lalu menghunjam dari bawah. Berti memejamkan mata agar bayangan pria yang tadi siang bersamanya hilang. Namun, Banyu malah terlintas lagi dalam pikirannya.


Sempat-sempatnya ia berpikir jika bermain bersama Banyu mungkin akan berbeda. Setiap jengkal hunjaman pasti bagaikan dialog. Berti yakin, Banyu akan memuji bentuk tubuhnya, suaranya yang semakin membakar hasrat.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2