
Cakra menghabiskan sepiring nasi yang diberikan oleh Berti. Pria itu tidak berkomentar apa-apa, bahkan seperti biasa saja. Berti menduga jika memang Cakra lapar, dan tadi itu hanya malu-malu saja.
"Kamu mau kue?" tawar Berti.
Cakra menggeleng. "Aku sudah kenyang. Waktu sudah malam, kami sepertinya harus pulang."
"Luangkan waktumu untuk besok. Kita harus memilih pakaian pengantin dan mengukur baju."
"Selepas makan siang. Kamu ingin aku menjemputmu?" tanya Cakra.
"Kita bertemu di butik saja. Aku akan pergi bersama ibu."
Cakra sedikit tersenyum. "Baiklah. Sampai jumpa besok. Aku harus pamit pada keluarga."
Berti mengikuti langkah Cakra yang berpamitan dengan kedua calon mertua serta sanak keluarga Berti lainnya. Berti pun demikian, menghantar kedua calon orang tua masa depannya ke luar.
Pernikahan semakin dekat, dua bulan sungguh tidak akan terasa nanti. Mulai besok ia harus bersiap menjadi istri dari seorang pengusaha bernama Cakra.
Berti melambaikan tangan ketika rombongan Cakra membunyikan klakson sebelum keluar dari gerbang utama kediaman Ilham Hartawan.
"Bert, aku balik, deh. Sudah malam juga," kata Sari.
"Kamu enggak nginep di rumahku?"
"Lain kali saja. Aku enggak mau ganggu orang yang akan sibuk mengkhayal nantinya," jawab Sari.
"Aku mengkhayal apa?" tanya Berti.
Sari menyengir. "Jangan pura-pura, deh. Kamu pasti ingin memimpikan calon suamimu."
"Apaan, sih. Enggaklah."
Bibir Sari mencebik. "Lihat saja nanti malam. Aku balik sekarang."
"Hati-hati," ucap Berti.
Lambaian tangan menjadi tanda pemisah antara keduanya. Kendaraan roda empat yang dikendarai oleh Sari keluar dari perkarangan rumah.
"Kamu lekas istirahat," kata Santi.
Berti mengangguk. "Iya, Bu."
Langkah cepat Berti menghantarkannya ke dalam kamar tidur. Ia membersihkan diri dulu sebelum menjatuhkan tubuhnya di atas kasur nomor satu beralaskan seprai katun dengan motif bunga lili.
Apa yang dikatakan Sari ada benarnya. Berti sama sekali tidak bisa tidur terlebih ia mengingat tentang Cakra. Ia akui jika sangat tertarik kepada calon suaminya itu, tetapi ini lebih dari sekadar hal itu. Ada sesuatu di bawah sana yang berkedut. Berti menginginkan Cakra berada di sisinya, memberi kehangatan yang belum pernah ia rasakan.
__ADS_1
"Pikiranku ini harus dibersihkan," gumam Berti.
Cakra memang luar biasa sempurna secara fisik. Berti belum ada melihat kecacatan dari pria itu. Wajah dan tubuhnya seperti foto model yang melihat saja bisa membuat para wanita meneteskan air liur.
Berti membayangkan tubuh yang dibungkus oleh pakaian itu. Tangannya tidak sabar untuk membelai otot-otot yang berbentuk, dan lebih anehnya Berti malah memperkirakan berapa ketahanan Cakra di atas ranjang? Melihat tubuh berotot itu, Berti ingin dihancurleburkan.
Berti menggeleng. "Astaga! Pikiranku kenapa seperti ini? Mungkin karena aku telah mengoleksi foto aktor dari Italia itu. Ini semua gara-gara menonton film dengan judul 'Satu Tahun Diculik Cowok Ganteng' Seharusnya aku tidak menyetujui permintaan Sari waktu itu."
Aktor berjenggot nan menggoda telah menjadi idola Berti dalam sekejap. Berti menyangkal jika segala hasratnya karena berasal dari tontonan. Ia sangat yakin dirinya terpacu karena ia adalah wanita normal, dan seorang Cakra akan dapat memuaskan segala apa yang ingin Berti inginkan.
"Aku harus tidur," ucap Berti.
Meski susah, tetapi Berti berusaha agar bisa terlelap. Satu-satunya cara adalah membayangkan dirinya dan Cakra bersatu melakukan hal yang paling menyenangkan. Khayalan itu terbukti berhasil. Ia tertidur dalam gelapnya malam.
******
Siangnya, Berti dan sang ibu telah berada di butik rekomendasi calon mertuanya. Memang butik yang mereka datangi bukan sembarangan. Ketika pemilik dari tempat tersebut menyambut, Berti benar merasa mimpi karena wanita ayu itu hanya bisa ia lihat di dalam TV dan majalah fashion.
"Jadi, ini calon menantumu?" tanya Avanie.
"Iya, cantik, kan?" ucap Widya.
"Cantik sekali. Cocoklah sama Cakra."
"Kenalin, ini Berti menantuku dan ini besanku, Santi."
"Silakan, kalian pilih saja mau yang mana atau punya gambaran sendiri, saya akan merancangnya," ucap Avanie.
"Ayo, Nak. Kamu pilih sesuai seleramu," kata Widya.
"Iya, Ma," sahut Berti.
"Cakra masih di jalan, Bert?" tanya Santi.
"Lagi di dalam perjalanan. Kita tunggu saja."
"Anak itu. Sudah tau mau ada janji malah datang terlambat," ucap Widya.
"Mungkin terkena macet," sahut Santi.
"Aku lihat ke depan, deh. Kamu pilih juga kebaya yang cocok untuk kita," kata sang besan, Widya.
Widya menunggu anak sulungnya di depan. Baru lima menit berdiri di depan pintu masuk, mobil yang ia kenali sudah merapat di parkiran butik. Cakra keluar dari dalam kendaraannya, danĀ disambut oleh sang ibu.
"Kenapa lama sekali?" tanya Widya.
__ADS_1
"Biasa, Ma. Aku banyak pekerjaan. Kalian sendiri yang bilang kalau aku harus menyelesaikan segala urusan sebelum hari pernikahan" jawab Cakra.
"Ayo, temui calon istrimu. Bantu dia memilih gaun."
"Apa Berti tidak bisa memilih sendiri?" tanya Cakra.
"Justru dengan pendapatmu dia akan senang!"
Cakra berdecak, "Kenapa merepotkan sekali?"
Widya cuma bisa menggeleng. "Anak ini sama sekali tidak peka."
Berti melepas majalah dari tangannya, dan segera beranjak dari kursi ketika Cakra tiba. Pria itu tersenyum sedikit, dan kembali menyilakan tunangannya untuk kembali melanjutkan memilih gaun pengantin.
"Sudah dapat pilihan?" tanya Cakra.
"Ada beberapa pilihan, tetapi aku ingin merancang sendiri gaun pengantinku," jawab Berti.
"Hari istimewa harus memakai gaun yang spesial juga."
"Ada beberapa pasang model, apa kamu ingin melihat aku mengenakannya?" tanya Berti.
"Kalau kamu sud .... "
"Tentu saja," potong Widya. "Cakra tentu ingin melihatmu dalam balutan gaun pengantin. Coba kenakan salah satu pakaian itu dan biarkan Cakra menilai."
"Benar," jawab Cakra. "Pakailah gaun yang kamu suka."
Berti senang mendengar hal itu, lantas mengambil beberapa gaun yang ia sukai untuk dicoba. Widya mendekati anaknya, lalu berbisik, "Ubah sikap cuekmu itu. Berti akan kecewa jika kamu tidak menyetujui pendapatnya tadi."
Sebenarnya Cakra ingin bilang jika mencoba baju lagi membuang waktu. Sudah jelas Berti ingin membuat gaun pengantinnya sendiri, lalu kenapa malah ingin memakai kebaya pengantin yang lain? Bagi Cakra hal itu menguras waktu. Seharusnya ia segera mengukur pakaian dan bukan duduk diam menunggu Berti dengan kebaya di tubuhnya.
Berti keluar dengan memakai kebaya putih berleher rendah. Cakra memandang dari atas ke bawah, dan siap untuk berkomentar.
"Bagaimana kalau ini?" tanya Berti.
"Bagus," jawab Cakra.
"Lehernya kerendahan, Sayang," sahut Santi.
"Benar kata Ibu. Coba kamu ganti yang lain," usul Cakra.
"Aku juga merasa begitu," ucap Berti.
"Kalau kamu sudah ta .... "
__ADS_1
"Ganti yang lain, Sayang," potong Widya.
Bersambung