Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Lawan


__ADS_3

Cakra mengendarai mobil menuju kediaman Ilham. Sedari tadi tidak ada panggilan atau pesan dari istrinya, padahal Cakra sudah berinisiatif mengirim pesan dengan menanyakan kebutuhan istrinya.


Namun, pesan itu cuma dibaca saja tanpa dibalas. Biasa Cakra merasa terganggu jika Berti mengirimnya banyak pesan dan sekarang ia malah mencari di mana pesan itu tersasar. Mengapa tidak ada satu pun notifikasi pesan dari istrinya itu. Cakra sadar, mungkin ini yang dirasakan Berti. Sungguh tidak enak rasanya jika diabaikan.


Sampai di rumah mertua, Cakra disambut oleh Ilham. Ia melihat Berti yang berada di ruang TV, tetapi istrinya itu langsung beranjak dari sana menuju kamar setelah melihat Cakra.


"Makan malam dulu, Nak," ucap Santi.


"Cakra barusan makan, Bu," jawabnya. "Apa Berti tidak ada permintaan?"


"Oh, tadi dia minta dibuatkan puding. Istrimu makan yang banyak, kok, tenang saja."


"Cakra susul dia dulu."


"Nak, perhatian sedikit sama Berti. Dia anak kami satu-satunya dan memang kami sering memanjakannya," ucap Ilham.


"Iya, Ayah. Cakra juga berusaha."


"Tapi, Berti sudah memanggil pengacara tadi," kata Santi.


"Apa?" Cakra kaget mendengarnya.


"Cuma konsultasi, Nak. Ayah dan Ibu akan membujuknya," sahut Ilham.


Cakra tidak lagi menanggapi perkataan mertuanya. Ia melangkah menuju kamar dengan rasa amarah. Berti memang sudah bertekad untuk bercerai rupanya. Cakra tidak menduga akan secepat ini.


"Bert, buka pintunya," kata Cakra seraya mengetuk pintu.


Tidak ada jawaban dari dalam sana. Santi dan Ilham memperhatikan. Ingin menghampiri, tetapi mereka mau Cakra menyelesaikan masalahnya pada Berti.


"Ibu takut kalau Berti dipukul," ucap Santi.


"Ayah ada di sini. Tidak usah khawatir."


Cakra kembali mengetuk pintu. Ia menekan gagang kunci, tetapi tidak bisa terbuka karena Berti memang menguncinya dari dalam.


"Mau pintunya aku dobrak?" kata Cakra saking kesalnya.


Terdengar kunci yang diputar. Cakra menekan kenop pintu, lalu mendorongnya dengan pelan. Takutnya Berti masih berada di balik pintu.


"Kenapa ke sini?" tanya Berti.


Bukan lagi pelukan dan kecupan yang Cakra dapat, melainkan pertanyaan seolah dirinya tidak boleh datang menemui istrinya sendiri.


"Istriku di sini," jawab Cakra sembari menutup pintu.


"Untuk apa kamu menemui Banyu."


"Cepat sekali kabarnya," kata Cakra. "Aku harus bilang dia kekasihmu atau temanmu?"


"Mas itu enggak tuli, kan? Aku suka sama Banyu."


Cakra membuka jas, lalu meletakkannya di badan sofa. Ia duduk sembari menatap istrinya itu. Hanya ada tatapan kemarahan di mata Berti kali ini.


"Aku minta maaf, Bert. Aku bakal turuti kemauanmu," kata Cakra.


"Mas ngomongnya sudah telat," sahut Berti.

__ADS_1


"Aku biarin kamu sendiri dulu. Kamu tenangin diri kamu, tapi kumohon, Bert. Jangan temui Banyu lagi. Aku tidak mau berpisah darimu. Kita sudah memiliki calon anak. Apa enggak kasihan dengannya?"


"Baru sekarang ucapanmu itu manis. Maaf, Mas. Aku butuh pendamping yang mencintaiku."


Cakra menghela napas. Ia tidak ingin mendebat Berti karena percuma, masalahnya tetap berputar di situ saja. Cakra kembali memakai jas di tubuhnya, lalu mendekati sang istri. Namun, Berti mundur beberapa langkah karena tidak ingin disentuh.


"Ingat, Bert. Jangan temui Banyu lagi," kata Cakra.


Namun, Berti tidak menjawab ucapan suaminya. Ia memalingkan wajah ke arah lain. Cakra cuma bisa menatapnya, lalu ia melangkah keluar kamar.


Ketika mendengar suara mobil, Berti mengintip di balik tirai kamar. Suaminya masuk kendaraan roda empat itu dengan diantar oleh sang ayah.


"Dalam keadaan begini, kamu masih tidak mengatakan kalau aku ini penting bagimu, Mas," gumam Berti.


...****************...


Sudah dua hari Cakra tidur sendiri dan ia tidak fokus bekerja. Ariel pun disuruh cepat pulang untuk membantu di kantor karena sungguh ia tidak dapat bekerja saat ini.


Pikirannya berada pada Berti, terlebih mendengar jika istrinya itu telah memanggil pengacara untuk berkonsultasi.


"Tuan Cakra," tegur Ariel.


"Bagaimana caranya meluluhkan hati wanita?" tanya Cakra.


"Tuan bisa kasih bunga, perhiasan, makan malam romantis dan selalu katakan cinta," jawab Ariel.


"Kok, kamu bisa tahu? Kan, kamu enggak punya pacar."


"Saya juga pernah pacaran, Tuan. Kalau pacar saya ngambek, ya, saya kasih hadiah. Kasih perhatian, puji dia biar hatinya berbunga-bunga," ucap Ariel seraya tersenyum.


Cakra malah bergidik ngeri. "Enggak usah senyum. Bikin geli saja."


"Oh, kalau itu biasa terjadi karena kurang kuat di ranjang," jawab Ariel cepat.


Cakra menggebrak meja. "Kamu bilang apa?"


"Maaf, Tuan," ucap Ariel.


"Jawab yang serius."


"Ada banyak faktor. Kurang perhatian, kurang hot, kurang duit, bisa juga kurang tampan," kata Ariel.


"Benar juga," gumam Cakra. "Kamu urus dulu masalah kantor, aku pulang dulu."


"Tapi, Tuan. Kita ada rapat penting."


"Tunda saja, aku ini lagi pusing," jawab Cakra yang langsung berjalan keluar.


Cakra mengendarai mobilnya menuju mal. Namun, di tengah perjalanan, notifikasi dari lokasi keberadaan Berti muncul. Ponsel baru yang Cakra berikan kepada istrinya telah di-setting.


Mobil segera menuju taman kota sesuai lokasi Berti saat ini. Hari ini istrinya keluar dan tengah mengunjungi taman. Pikiran Cakra tidak ingin berburuk sangka. Ia sudah melarang Berti untuk tidak bertemu Banyu dan semoga istrinya itu mematuhinya.


"Aku kira kamu enggak datang," kata Banyu.


"Bosan di rumah terus."


"Kamu sudah makan? Kamu baik-baik saja, kan? Dedek bayinya sehat, kan?" tanya Banyu beruntun.

__ADS_1


Berti tertawa kecil. "Kayak dokter saja. Iya, aku baik begitu juga dengan anak yang aku kandung."


"Aku khawatir sama kamu."


"Aku senang kamu memperhatikanku," ucap Berti.


Banyu tersenyum. "Aku sudah bilang untuk selalu ada bersamamu."


"Aku ingin cerai dengan Cakra. Aku enggak tahan hidup sama pria yang tidak mengerti perasaanku."


"Kamu sudah pikirkan baik-baik?" tanya Banyu. "Aku enggak mau ikut campur masalah rumah tanggamu. Apa pun keputusanmu, aku selalu dukung."


"Kamu bilang Cakra menemuimu."


"Sudahlah, jangan lagi dibahas. Kita di sini buat senang-senang, kan?" ucap Banyu. "Oh, iya, aku ada sesuatu buat kamu."


"Apa?" tanya Berti.


"Kamu pejam mata dulu."


Berti memejamkan mata, lalu Banyu mengambil kotak di samping tempatnya duduk yang memang telah disiapkan.


"Buka matamu," perintah Banyu.


Perlahan Berti membuka mata, dan melihat satu buah kotak di depannya. "Untukku?"


"Tentu saja. Ayo, dibuka," kata Banyu.


Berti mengambil kotak itu dari tangan Banyu, lalu membukanya. Berti takjub mendapati hadiah yang teman pria-nya berikan. Snowball dengan figur ibu dan bayi di dalamnya.


"Cantik banget," ucap Berti, lalu menekan tombol musiknya. "Makasih, Banyu."


Cakra menggeleng melihat istrinya tertawa bersama pria lain. "Berti!" teriaknya.


Berti dan Banyu menoleh. Keduanya bangun dari duduknya. Cakra berjalan mendekat, menatap marah pada keduanya. Ia merebut snowball itu dari tangan Berti, lalu membuangnya begitu saja di tanah.


"Mas di sini," ucap Berti.


"Menjauh darinya," kata Cakra.


Banyu meraih tangan Berti. "Istrimu sudah tidak ingin bersamamu lagi. Lepaskan dia. Biarkan dia bebas meraih kebahagiannya sendiri."


Cakra mengepal. "Lepaskan tangan istriku."


"Sadarlah, Cakra. Kamu hanya menyiksa Berti."


"Aku bilang lepaskan, Sialan!"


Cakra melayangkan tinjunya ke rahang Banyu dan membuat Berti ikut terhuyung lantaran Banyu masih tidak melepas tangannya. Cakra menyambutnya, lalu memberi pukulan pada lengan yang masih menggenggam tangan istrinya.


"Kurang ajar!" Banyu mendaratkan kepalan tangannya, tetapi ditahan Cakra, dan malah ia terkena lagi bogem mentah dari suami Berti itu.


"Sudah, Cakra!" teriak Berti.


"Sudah kuperingatkan untuk tidak menemui istriku!" ucap Cakra dengan nada tinggi. "Ayo, kita pulang." Cakra meraih lengan istrinya, lalu menyeretnya menuju mobil.


Banyu meringis sakit akan wajahnya. Pukulan tadi begitu kuat dan rasanya giginya ingin patah. Tidak hentinya Banyu mengumpat karena kekalahannya ini.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2