Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Ajakan


__ADS_3

"Aku belum bisa melakukannya. Mama pernah bilang kalau melakukannya harus saling mencintai," ucap Cakra.


"Mama bilang untuk mencintai istrimu, Cakra. Kamu jadi anak jangan berlagak polos. Umurmu bukan di usia yang masih remaja. Anak SD saja sekarang sudah pandai punya pacar," cerca Widya.


"Terus, apa Cakra harus bacakan puisi agar Berti senang?"


Widya menatap Adhitama. "Tolong, Papa. Mama mau bulan depan Berti harus hamil."


Selepas mengucapkan itu, Widya beranjak dari duduknya. Bisa-bisa ia terkena serangan jantung mendadak menghadapi Cakra.


"Kamu dengar perkataan mama-mu, kan? Berti harus segera hamil," kata Adhitama.


"Cakra keringat dingin kalau dekat dengan dia. Tiba-tiba saja tubuhku panas."


"Nanti juga terbiasa. Memang seperti itu kalau dekat bersama wanita untuk pertama kali. Ya, tapi masa kamu terus berkeringat selama tiga bulan ini. Katakan pada Papa, kalian tidak tidur bersama?"


Cakra terdiam karena memang ia jarang berdekatan dengan istrinya. Setiap ingin dekat, jantungnya berdebar, tubuh berkeringat terlebih saat Berti memakai baju tidur malamnya. Cakra sangat tersiksa.


Adhitama geleng-geleng kepala. "Dosa, Cakra! Dalam hubungan suami dan istri bukan hanya materi. Kamu juga harus memberi nafkah batin. Pantas saja Berti ingin cerai. Kamu membuat malu Papa. Ini, disuruh pacaran malah enggak mau. Kerjaannya di rumah terus sambil baca buku, main komputer. Enggak bergaul sama yang lain."


"Malah melantur ke mana-mana. Cakra sudah bilang dari awal kalau enggak mau nikah dulu sebelum umur empat puluh tahun. Mama dan Papa malah maksa. Oke, Cakra terima asal calon istrinya penurut. Tapi apa, Berti itu enggak mau ikut kata-kata Cakra," ungkapnya.


"Memang mama-mu berkata benar. Baiknya kamu dinikahkan bersama Minah," ucap Adhitama.


Cakra melihat jam tangan. Sudah cukup lama ia berdiskusi mengenai pernikahannya. Kakinya gatal untuk segera pergi menuju kantor dan menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.


"Cakra balik kantor. Sudah cukup mencampuri urusan rumah tanggaku," ucapnya.


Adhitama menggebrak meja. "Papa belum selesai bicara!"


Nada suara yang meninggi menunda keinginan Cakra untuk pergi. Widya dan Dafa yang mendengar amarah dari Adhitama segera menghampiri keduanya.


"Cakra bukan lagi anak kecil, ya," ucapnya.


"Kelakuanmu yang menunjukkan itu!" sahut Adhitama.


"Tenang, Papa," tegur Widya.

__ADS_1


"Anakmu ini, kelakuannya membuatku malu saja."


Alis Cakra berkerut mendengarnya. "Membuat malu? Bagian mana yang membuat malu?"


"Awas saja kalau Berti sampai minta cerai lagi. Kamu tau sendiri akibatnya," ucap Adhitama mengancam.


"Hebat! Anak kalian itu aku atau dia?" tanya Cakra.


"Cakra, Mama mau dengar kabar baik istrimu secepatnya," ucap Widya.


Tangan Cakra mengepal. Ia benci diatur-atur seperti ini. "Kalian akan segera mendapat kabar baiknya."


Cakra berlalu setelah mengatakan hal itu. Adhitama terduduk di kursinya. Ia menarik napas panjang sembari memijat keningnya yang tiba-tiba berdenyut.


"Mereka tidak tidur bersama. Bagaimana kita mau dapat cucu?" ucap Adhitama.


"Astaga! Cakra ini keterlaluan. Sebenarnya dari mana sikap masa bodohnya ini?" sahut Widya.


"Kamu tau sendiri jika Cakra belum mau menikah. Dia ingin karier-nya menanjak dulu. Anak itu kalau belum mendapat apa yang diinginkan tidak akan berhenti. Kamu malah ingin cepat dapat cucu. Dia masih muda," ucap Adhitama.


"Kok, Mama yang disalahin. Papa juga mau Cakra itu menikah juga, kan? Mama juga khawatir putra kita tidak normal. Dia saja tidak pernah bawa pacar ke rumah. Kehidupan Cakra terlalu lurus."


...****************...


"Pulang malam lagi! Punya istri enggak bisa diatur," ucap Cakra.


Berti kaget mendengar kemarahan Cakra. "Suamiku bisa marah juga ternyata. Aku kira dia patung."


Malam ini Berti pulang pukul delapan malam setelah ia makan malam bersama Sari. Rencananya untuk berpisah dari Cakra masih tetap ia lanjutkan.


"Sengaja mau bikin aku marah?"


"Cariin, dong, istri kamu. Telepon, kirim pesan," kata Berti.


"Kamu itu bukan lagi anak kecil!" bentak Cakra. "Aku enggak suka sikap ini!"


"Ya, kalau kamu enggak suka aku, kita bisa pisah. Gampang, kan?"

__ADS_1


Kata-kata andalan bagi Berti kali ini. Setiap Cakra protes pasti kalimat itu terlontar sebagai jurus terampuh untuk membuatnya bungkam.


"Jangan bilang aku enggak berani sama kamu, ya," ucap Cakra.


Berti malah tertawa meremehkan. "Aku malah menunggu itu."


"Mau kamu apa, sih?" tanya Cakra. "Aku kurang apa sama kamu?"


"Kamu enggak kurang apa pun," jawab Berti.


"Kalau aku enggak punya kekurangan, kenapa kamu bertindak seperti ini? Aku bebasin kamu di luar sana, asal pulang ke rumah tepat waktu."


"Aku kesepian, Cakra!" teriak Berti. "Kamu enggak pernah anggap aku ada dan kamu masih bertanya apa kekuranganmu. Coba kamu pikir, apa kamu pernah ajak aku ngobrol? Enggak pernah, kan? Pagi kamu ke kantor, lalu malam kamu kerja lagi di rumah setelah itu tidur. Pernah enggak kamu nanyain kabar aku? Enggak pernah."


"Buang-buang waktu buat pertanyaan basa-basi seperti itu. Kamu sudah dewasa, bisa jaga diri, bisa mengurus dirimu sendiri. Apa setiap menit, detik dan jam aku harus selalu tanya?" ucap Cakra.


"Itulah kekuranganmu! Kamu sama sekali tidak bisa mengerti perasaan wanita," kata Berti, lalu melangkah menaiki undakan menuju kamar atas.


"Bert, aku belum selesai bicara!" teriak Cakra yang menyusul istrinya.


Minah yang melihat dan mendengar pertengkaran itu hanya menggeleng. Tidak pernah ia melihat pengantin baru itu bermesraan. Selalu saja ada pertengkaran dan saling diam.


"Bert, aku belum selesai," kata Cakra.


"Apalagi?" tanya Berti malas.


"A-a ...."


"Apa, sih?" tanya Berti.


"Ayo, kita buat anak," ucap Cakra cepat.


Berti terperangah mendengarnya. "Buat anak?"


"Apalagi, ini, kan, yang kamu inginkan sebenarnya?"


"Kamu buat saja dengan guling," ucap Berti, lalu melangkah masuk kamar mandi tanpa menanggapi seruan Cakra yang masih ingin bicara padanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2