Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Membuat Kesal


__ADS_3

"Jangan aneh-aneh, deh. Mending fokus saja untuk merebut hati suamimu," kata Sari.


"Aku tetap ingin bercerai. Kamu harus membantuku."


"Ya, masa aku harus jadi pelakor. Aku enggak mau," tolak Sari.


"Kamu hanya menggodanya. Setelah dia jatuh cinta padamu, maka kamu boleh mencampakkan Cakra. Pokoknya sampai aku punya alasan agar bisa menceraikan dirinya," kata Berti.


"Begini saja. Bagaimana kalau kamu melakukan hal yang tidak disukai Cakra? Apa pun itu. Hal yang disukai oleh suamimu itu. Jika dia kesal dan tidak tahan, maka Cakra sendiri yang akan memutuskan perceraian."


Berti menganguk-anggukan kepala. "Benar juga. Cakra akan membenci dan saat itu ia akan menceraikan diriku."


"Waktu kerja mau dimulai. Kamu mau di sini atau balik kantor? Aku harus kembali kerja," kata Sari.


"Kamu kembalilah. Aku juga bakal balik ke kantorku."


Sari membayar dulu makanan mereka, lalu mengantar Berti ke depan. Keduanya berpisah dan kembali ke pekerjaan masing-masing.


Di dalam perjalanan, Berti memikirkan ucapan Sari. Apa yang dikatakan sahabatnya itu ada benarnya juga. Berti bisa membuat Cakra kesal dan suaminya akan membencinya.


"Baiklah, aku akan mulai permainan ini dari sekarang," gumam Berti.


Berti menepikan mobilnya. Ia mengambil ponsel di dalam tas, lalu menelepon Yuni sang asisten. Berti tidak akan kembali ke kantor, melainkan ia akan pergi ke tempat di mana para wanita sangat senang menghabiskan uang di sana.


Kendaraan roda empat melaju ke sebuah mal. Sesampainya di sana, Berti langsung berbelanja dengan kartu kredit yang diberikan oleh suaminya. Ia tidak akan menahan diri. Barang yang menarik baginya, ia beli.


"Sepatu, tas, sudah aku beli. Apa lagi yang kurang?" Berti tampak berpikir. Kemudian ia menjentikkan jari. "Aku beli perhiasan saja."


Berti melangkah ke toko perhiasan dan membeli satu cincin berlian dengan harga cukup mahal. Kebetulan kartu yang diberikan oleh Cakra tanpa limit batasan.


Di lain tempat, Cakra tidak henti menerima pemberitahuan pesan. Ia belum sempat memeriksa satu per satu pesan itu sebab fokus menyelesaikan pekerjaan.


Gangguan dering dari pesan masuk membuat Cakra kesal. Ia mengambil ponsel, lalu membaca pesan yang masuk. Cakra membelalak saat ia melihat angka yang dihabiskan oleh istrinya sendiri.


"Tiga ratus juta! Apa yang dia beli?" ucap Cakra.

__ADS_1


Langsung saja Cakra menelepon Berti. Ia bangun dari kursi kebesarannya dan mondar-mandir seperti tidak sabar untuk bicara.


"Sial! Di mana dia?" murka Cakra.


Lagi-lagi panggilan Cakra tidak terjawab. Cakra mengirim pesan di aplikasi obrolan berwarna hijau dengan logo gagang telepon. Parahnya Berti hanya membaca pesan itu tanpa berniat membalasnya.


"Tenang, Cakra. Istrimu masih marah," ucapnya pada diri sendiri.


Cakra mengantongkan ponsel di saku kemejanya. Ia kembali duduk dan mengerjakan pekerjaan yang tertunda. Pertengkaran semalam pasti menjadi penyebabnya. Cakra akan memaklumi istrinya untuk kali ini.


******


Pukul lima sore Cakra sampai di rumahnya. Namun, ia tidak menemukan sang istri telah pulang. Cakra tetap melakukan kegiatannya setelah berberes diri. Ia ke ruangan pribadinya dan bekerja kembali.


Sampai waktu makan malam, Cakra masih tidak menemukan istrinya di rumah. Rupanya Berti belum pulang, dan makan malam disiapkan oleh Minah.


"Nyonya sama sekali enggak ada telepon?" tanya Cakra.


"Tidak ada, Tuan. Nyonya belum pulang," jawab Minah.


Cakra mengembuskan napas panjang. Ia menyandar di bantal kursi makan dengan pandangan menatap dek rumah.


"Baik, Tuan."


Ingin menyantap makanan saja, Cakra enggan. Pikirannya kacau gara-gara Berti yang masih belum juga pulang. Minah datang dengan membawa ponsel. Cakra mengambil, lalu menyuruh asisten rumah tangganya pergi. Ia ingin menghubungi mertuanya, tetapi enggan sebab Cakra sudah janji akan memperbaiki hubungannya bersama Berti.


"Aku tunggu dia saja. Mungkin Berti akan pulang seperti waktu itu," gumam Cakra.


Cakra tidak bernapsu menyantap makan malamnya. Ia beranjak dari sana, lalu berjalan ke ruang tamu. Kini giliran dirinya yang akan menunggu Berti pulang.


Pukul sepuluh malam, terdengar suara mobil masuk ke halaman rumah. Cakra bangkit dari duduknya, lalu membuka pintu. Benar saja. Istrinya pulang dengan membawa barang belanjaan.


Berti berhenti melangkah saat ia melihat Cakra di depan pintu. Suami dinginnya menatapnya tajam, tetapi Berti memasang wajah meremehkan. Bagaimanapun, Cakra tidak akan pernah peduli dengan apa yang ia lakukan.


Berti berjalan mendekat, ia tidak masuk karena Cakra berdiri di depan pintu. "Kamu tidak mengizinkanmu masuk?"

__ADS_1


Cakra bergeser. Berti masuk setelah diberi peluang. Pintu ditutup dengan keras dan dikunci. Berti akui ia kaget, tetapi ia tidak ingin menoleh ke belakang. Berti berjalan menaiki anak tangga dengan Cakra mengikuti dirinya.


Keduanya masuk kamar, masih belum ada perkataan yang keluar dari Cakra. Berti tidak peduli, ia meletakan semua belanjaan di sofa, lalu mengambil handuk dan pakaian ganti di dalam lemari setelah itu masuk bilik mandi.


"Astaga! Jantungku berdegup kencang. Cakra tetap diam, tetapi wajahnya sangat menyeramkan," kata Berti yang masih bersandar di balik pintu.


Berti membersihkan diri, setelah selesai ia keluar. Tidak disangka Cakra masih berada di dalam kamar. Pria itu duduk di sofa dekat tas belanjaannya.


"Habis tiga ratus juta dalam sehari. Kamu pikir cari uang itu gampang!" ucap Cakra.


"Cari uang itu sulit. Tapi aku menghabiskan uang suamiku. Kenapa? Kamu keberatan?" Berti balik bertanya.


Cakra bangkit dari duduknya. "Aku cari uang siang dan malam dan kamu seenaknya menghabiskan uangku demi barang-barang mewah itu!"


"Kamu tidak terima? Aku akan ganti. Cuma tiga ratus juta saja, kan?"


"Ganti kamu bilang? Ini bukan masalah itu, Berti! Aku cuma enggak mau punya istri pemboros!" murka Cakra. "Kembalikan kartunya."


"Jika cuma minta balik kartu, enggak usah marah-marah. Tinggal minta saja harus memarahiku," gerutu Berti.


Berti mengambil kartu kredit dari dalam dompet, lalu menyerahkannya kepada suaminya. Cakra dengan kasar mengambil kartu miliknya dari tangan Berti.


"Jatah bulananmu akan aku kurangi. Dalam sebulan aku hanya akan memberimu lima juta saja," ucap Cakra.


"Terserah. Aku juga punya penghasilan."


"Satu lagi, aku enggak suka kamu pulang malam. Waktu pulang harus pukul lima sore," kata Cakra.


"Enggak bisa begitu, dong. Kamu ingin mengurungku?" protes Berti.


"Istri macam apa yang pulang malam sementara suaminya di rumah?"


"Aku bosan. Suamiku memang tidak pernah di rumah," sahut Berti. "Eh, dia ada di rumah, tapi di dalam dunianya sendiri."


Cakra membalik diri, ia keluar kamar dengan membanting pintu. Kesal dan tidak tahu lagi harus bicara apa. Berti selalu bisa menjawab setiap perkataannya.

__ADS_1


Berti tersenyum. "Lumayan. Ini baru permulaan. Besok kamu akan kembali marah lagi."


Bersambung


__ADS_2