
Buat anak? Siapa yang ingin menolaknya. Cakra langsung mengiakan permintaan Berti yang mengajaknya menanam benih demi kelangsungan hidup selanjutnya. Terlebih Cakra malah lebih suka Berti menaiki dirinya. Gaya seperti itu membuatnya santai, tetapi membuatnya begitu nikmat.
Napas Berti yang terengah-engah juga begitu menyenangkan untuk didengar. Saat istrinya sudah lelah, maka Cakra akan mengambil alih dengan akhir paling berkesan.
Cakra menaikkan selimut pada tubuh istrinya yang polos sebab Berti langsung tertidur tanpa membersihkan diri lebih dulu. Pandangannya jatuh pada dua bagian lembut dari sang istri.
Cakra menyentuhnya, memainkan ujung bagian itu dengan ibu jarinya. Ia tertawa kecil saat bagian kecokelatan itu malah naik dan Berti melenguh atas tindakannya.
Jahilnya Cakra malah mencucup milik Berti. Menekan bagian sebelahnya dengan satu tangannya. Pas di tangan, terasa hangat saat ia mencengkeramannya.
"Aku capek," ucap Berti.
Cakra menarik bibirnya dari sana. "Iya, tidurlah."
Selimut dinaikkan sampai batas leher. Cakra tidur mendekat agar ia dapat selalu menghirup aroma tubuh dari Berti. Rupanya hadiah kalung yang ia berikan begitu membuat istrinya bahagia.
Pagi hari, Berti telah bersiap-siap untuk bertemu Sari dan jalan bersama Cakra tentunya. Ia juga menepati janji merayakan ulang tahunnya hari ini.
"Kamu sudah pesan meja untuk kita, kan?" tanya Berti.
"Tinggal makan saja, kan? Tidak perlu reservasi dulu," sahut Cakra.
"Nanti keburu diambil orang. Aku ingin meja dengan posisi yang bagus. Maunya kita langsung duduk hadap pantai," tutur Berti.
Cakra tidak ingin berdebat. Ia bangun dari duduknya kemudian keluar dari kamar. Karena ini adalah hari istimewa Berti, maka ia akan menurutinya meski kesal karena merasa sang istri menganggapnya pelayan.
Berti tidak peduli Cakra bilang dia jelek atau cantik sekarang. Yang jelas ia ingin memakai baju pantai yang telah ia bawa. Berti memakai pakaian renang kemudian melapisinya tank top dan celana pantai di atas lutut. Tidak lupa ia mengenakan terusan cardigan putih.
Saat Cakra kembali, ia lagi-lagi heran memperhatikan istrinya. Pakaian yang begitu mengundang perhatian. Cakra mengerti ini Bali, dan ia puas melihat wanita yang cuma memakai pakaian mini.
"Jelek sekali pakaianmu," tegur Cakra.
"Aku atau pakaianku yang jelek?" tanya Berti sembari berkacak pinggang.
"Keduanya."
"Kalau aku jelek, kenapa kamu masih ingin menikah denganku?"
"Karena terpaksa saja," jawab Cakra.
"Jadi, kamu terpaksa menikahiku karena perjodohan?"
"Baiknya kita keluar. Kamu harus menemui temanmu itu, kan?"
"Kamu sungguh terpaksa menikahiku?" tanya Berti.
"Pakai baju yang pantas sedikit. Ini memang pantai, tapi pakaianmu membuat mata sakit memandangnya. Sudahlah, aku tunggu kamu di bawah," kata Cakra, lalu keluar dari kamar.
__ADS_1
Berti terduduk di atas tempat tidur. Cakra membuatnya melambung dalam sekejap, dan sedetik kemudian juga menjatuhkannya ke jurang kesakitan.
"Enggak ngerti Cakra ini orangnya seperti apa. Kalau ngomong main keluar, enggak pernah tahu kalau dia nyakitin perasaan aku," gumam Berti yang merasa sedih. Kembali jika ia sudah merasa kecewa, maka Berti menyesal telah tidur dengan suaminya sendiri.
Pesan dari Sari menyadarkan Berti agar ia berbahagia hari ini. Berti keluar kamar dan segera menyusul Cakra di lantai bawah sebab Sari telah sampai di hotel.
"Arjuna mana?" tanya Berti.
"Enggak mau ikut kemari. Katanya menunggu kita di pantai saja. Kita jadi buat santai, kan?"
Berti sedikit kecewa karena Arjuna tidak bisa gabung bersama mereka. "Enggak seru, dong. Aku juga mau kita ke belanja."
"Kita ketemuan di sana saja nanti. Dia masih takut sama Cakra," ucap Sari.
Berti mengangguk. "Kita makan saja dulu. Cakra juga sudah menunggu."
"Eh, suamimu kasih hadiah apa?" tanya Sari penasaran.
"Kalung ini." Berti menunjukkan kalung yang ia kenakan.
"Bisa romantis juga rupanya."
"Mungkin dia dapat ilham tadi malam," sahut Berti.
Sari cuma bisa tertawa, tetapi tawa itu langsung berhenti ketika melihat Cakra. Pria angkuh dan sombong, tetapi tampan. Lelaki yang membuat setiap mata perempuan ingin dekat akan aura misteriusnya.
"Duduk," perintah Cakra.
"Hai, Cakra," sapa Sari.
Cakra hanya memandang, lalu mengalihkan perhatiannya pada ponsel. Berti mengusap pundak sahabatnya untuk bersabar. Diabaikan begitu saja, Sari sakit hati, apalagi Berti.
"Kita langsung pesan makanannya saja," kata Berti.
Cakra melambaikan tangan pada pelayan. Ketiganya memesan makanan lebih dulu sebelum melanjutkan acara jalan-jalan bersama.
Berti menyenggol kaki Sari di bawah sana. Cakra sibuk memainkan ponsel, ia tidak menyadari kasak-kusuk yang dilakukan oleh kedua wanita di depannya.
"Coba kamu goda dia. Siapa tahu Cakra tertarik padamu," bisik Berti.
"Kamu ini gila, ya? Masa menyuruhku menggoda Cakra. Aku enggak mau," tolak Sari.
"Coba saja. Kali saja dia tertarik padamu. Aku kesal bersamanya."
"Mending kita ngomong nanti saja," kata Berti.
Selepas makan siang bersama, Berti mengajak Cakra dan Sari jalan-jalan ke pantai tentunya. Seperti sebelumnya, Cakra tidak ingin berdekatan atau bergandengan tangan pada Berti.
__ADS_1
"Apa aku jelek?" tanya Berti tiba-tiba.
"Setiap wanita cantik," jawab Sari.
"Cakra bilang aku jelek. Kamu bayangkan, Sari. Suamiku sendiri mengataiku seperti itu."
"Mungkin dia hanya bercanda. Lupakan saja tentang Cakra. Lebih baik kita main air laut."
"Arjuna mana?" tanya Berti.
"Aku telepon dia dulu. Tapi suamimu bagaimana?"
"Biarkan saja," sahut Berti.
Sari mengangkat bahu, menyerahkan semua pada Berti. Keduanya berlari menuju bibir pantai, sedangkan Cakra duduk di kursi sembari memperhatikan istrinya.
"Hai!" tegur Arjuna.
Berti menoleh, ia memperhatikan Arjuna dari atas sampai ke bawah. Pria itu memakai kacamata hitam, pakaian pantai yang kancingnya sengaja dibiarkan terbuka.
Sari malah tertawa melihat penampilan Arjuna. "Percaya dirimu terlalu tinggi."
"Minum susu, Juna," ucap Berti.
Arjuna tidak menghiraukan kritikan dari kedua wanita itu tentang tubuhnya yang kurus. Ia malah menoleh ke sisi kiri dan kanan. Berharap pria yang membuatnya masuk rumah sakit tidak berada bersama Berti dan Sari.
"Suamimu mana?" tanya Juna.
"Tuh, dia duduk di sana," tunjuk Berti.
Arjuna menoleh pada pria yang tengah berbaring di kursi pantai. Ia mundur selangkah kemudian lari, tetapi lebih dulu dicegah Sari.
"Mau ke mana kamu?" Sari menahan Arjuna dengan menarik bajunya.
"Aku mau liburan bukan mau ke rumah sakit."
"Kamu tetap di sini. Temani kita-kita," kata Sari.
Berti tertawa. "Temani kami, Juna. Soal Cakra jangan takut."
"Enggak mau!" Arjuna menarik bajunya, lalu lari menjauh dari keduanya.
"Dasar penakut," kata Sari.
"Sari, kamu dekati Cakra," pinta Berti.
"Kamu masih ingin melanjutkan rencana ceraimu itu?"
__ADS_1
"Uji saja. Aku merasa dia bukan suamiku. Cakra cuma teman tidurku," ucap Berti.
Bersambung