
Jam pergi ke kantor pun harus diundur satu jam karena Cakra harus mengurus istrinya. Kasihan juga melihat Berti yang tidak bisa makan dengan banyak. Selalu saja mual dan muntah mendera.
"Aku sewa perawat saja, deh, buat kamu," kata Cakra.
"Mas enggak mau mengurusku?" tanya Berti.
"Masa aku terus di rumah. Aku, kan, mesti kerja. Lagian kamu ini manja banget. Dikit-dikit harus aku."
"Kamu, kan, suamiku," kata Berti. "Ini anak kita yang mau."
"Ibu hamil mana ada yang sepertimu."
"Kok, Mas Cakra tahu."
"Ya, masa anak kita enggak perhatian. Bapaknya mau kerja cari duit. Pulangnya aku bakal peluk kamu, deh," kata Cakra.
"Libur beberapa hari dulu. Aku maunya sama kamu."
"Enggak bisa. Aku sibuk banget. Serius, deh, Bert. Aku lagi persiapan buka cabang restoran di Hongkong. Aku juga rencana mau buka supermarket lagi," kata Cakra.
"Lalu, aku?" tanya Berti.
"Kamu diam saja di rumah. Jaga baik-baik anak kita."
"Kamu sukses, sedangkan aku berdiam diri di rumah."
"Kamu iri dengan kesuksesan suamimu? Seharusnya kamu bangga," kata Cakra. "Aku bakal suruh mama dan ibu sering kemari buat jenguk kamu. Jangan keluar dan diam saja di rumah."
Cakra mengusap puncak kepala Berti, lalu meraih tas kerjanya yang berada di sofa kemudian melangkah pergi. Berti cuma bisa memandang. Sekarang ia tengah mengandung. Karier yang ia bangun sudah diputus oleh suaminya sendiri. Tiba-tiba saja Berti merasa sangat iri atas keberhasilan Cakra.
Wanita hamil bukan berarti tidak bisa bekerja. Berti akan meminta kepada Cakra agar nantinya bisa kembali pergi ke kantor atau menjadi wakil Cakra di perusahaannya.
Setumpuk pekerjaan telah menunggu Cakra. Ia punya keinginan yang begitu kuat di umur yang belum genap mencapai tiga puluh tahun. Cakra ingin sukses dalam karier, mengumpulkan sebanyak-banyaknya pundi-pundi uang. Ia tidak berpuas diri dengan satu usaha saja. Ia ingin dipandang, dihormati, dan disanjung.
Baru selesai rapat, ponsel berdering. Cakra menyuruh semuanya untuk keluar dari ruang rapat dan ia lekas mengangkat panggilan telepon itu dari Berti.
"Ya, ada apa?" tanya Cakra.
"Aku mau mangga muda," jawab Berti di ujung telepon sana.
"Kan, di kulkas masih ada."
"Itu yang matang. Aku maunya mangga muda."
"Memang boleh makan begituan?" tanya Cakra.
"Mas harus bawain mangga mudanya." Berti langsung memutus panggilan telepon itu.
__ADS_1
Cakra mendengkus. "Di mana lagi cari mangga muda."
Sebelum itu, Cakra mengirim pesan pada Widya. Ia tidak ingin sembarangan mengiakan permintaan Berti. Ia akan tanya dulu pada ibunya apakah boleh ibu hamil diberi makan buah dengan rasa asam itu.
Sang ibu mengatakan boleh saja asal jangan kebanyakan. Cakra beranjak dari duduknya, lalu keluar dari ruang rapat. Jika Berti menginginkan sesuatu, maka ia harus menurutinya.
"Tuan Cakra," tegur Ariel.
"Ada apa?"
"Saya mau membahas jadwal kunjungan kita ke luar negeri."
"Kita atur ulang jadwal itu," ucap Cakra.
"Atur ulang lagi, Tuan?" Ariel membuka pintu ruangan dan mempersilakan Cakra masuk.
Cakra langsung duduk di kursi kebesarannya seraya membaca kembali jadwal yang telah disusun oleh Ariel.
"Kunjungan kita undur jadi bulan depan. Lalu, kunjungan ke Surabaya suruh ketua bagian lapangan saja buat meninjau proses pembangunan supermarketnya," kata Cakra. "Luangkan waktuku untuk bulan ini. Alihkan untuk bulan depan. Istriku tengah hamil, aku harus berada di dekatnya."
"Nyonya hamil? Selamat, Tuan. Saya turut senang," ucap Ariel seraya mengulurkan tangan.
Cakra menjabat uluran tangan itu. "Terima kasih. Oh, aku mau pulang. Kalau ada hal penting segera telepon."
"Baik, Tuan," ucap Ariel.
"Hati-hati di jalan, Tuan," ucap Ariel.
Cakra cuma berdeham, lalu melangkah pergi setelah Ariel membuka pintu untuknya. Sesampainya di lantai bawah, Cakra menuju mobil yang berada di parkiran. Langsung saja ia masuk kendaraan roda empatnya, lalu segera berlalu menuju penjual buah.
Lebih mudah mencari solusi menghadapi restoran yang sepi pengunjung daripada mencari buah mangga muda. Cakra sudah berkeliling, tetapi hasilnya nihil. Buah itu sama sekali tidak ia dapatkan.
"Telepon Berti, deh. Siapa tahu dia mau ganti buahnya," gumam Cakra yang langsung melakukan panggilan video. Tidak lama panggilan tersebut tersambung. Rupanya Berti baru selesai mandi. "Dari pagi tadi, kamu baru mandi?" tanya Cakra.
"Aku malas mandi, kenapa?"
"Buah mangganya enggak ada. Aku sudah keliling buat cari."
"Di rumah ibu ada pohon mangga. Ngapain Mas capek cari di penjual buah," kata Berti.
"Kenapa kamu enggak bilang dari tadi, sih?" Cakra jadi kesal.
"Kan, Mas enggak tanya aku," jawab Berti.
Cakra menatap istrinya. Ia kehabisan kata-kata atas perilaku Berti. Namun, ada hal yang membuat Cakra pusing.
"Tutup tubuhmu. Ngapain handuknya dibuka." Cakra melindungi ponselnya, dan cuma mengintip dari sela jari tangannya. Untung saja kaca mobil tidak tembus pandang.
__ADS_1
"Mas, aku nungguin, nih," ucap Berti.
"Aku pulang sekarang."
"Buah mangganya dulu," kata Berti.
"Iya, iya," jawab Cakra yang langsung menutup telepon.
Mobil segera melaju ke kediaman Ilham. Pohon itu berada di belakang rumah sebagai pelindung dari sinar matahari. Cakra menatap buah mangga yang sulit untuk ia ambil.
"Kenapa Ayah enggak tanam mangga cangkokkan. Kan, pohonnya rendah dan gampang diambil," ucap Cakra.
"Ayah lebih dulu menanam pohon ini. Lagian enggak tinggi. Tuh, ada galah bambu. Ambil pakai itu saja buahnya," kata Ilham.
Untuk mendapatkan sesuatu perlu usaha dan kini Cakra membuktikan hal itu. Dengan usaha ia berhasil menjatuhkan tiga buah mangga muda.
"Kayaknya ini cukup," kata Cakra.
"Oh, ya, Cakra. Istrimu lagi hamil. Jangan kamu pakai dulu," ucap Ilham.
Cakra terperangah. "Hah, pakai apa, Ayah?"
"Jangan berhubungan suami istri."
"Memangnya enggak boleh?" tanya Cakra.
"Boleh, tapi ini, kan, kehamilan pertama Berti. Cucu pertama bagi kita semua. Ayah enggak mau terjadi apa-apa dengannya."
"Ayah jangan nakutin, dong."
"Ibu pernah keguguran gara-gara Ayah. Dulu itu Ayah enggak tahu ibu hamil muda. Jiwa muda Ayah dulu masih bergelora," Ilham tersenyum mengatakannya. "Kalau kandungan istrimu sudah lewat tiga bulan, baru boleh."
Cakra tersenyum tipis. "Iya, Ayah. Cakra pulang dulu. Berti pasti nungguin."
"Pamit sama ibu dulu," ucap Ilham.
Cakra jadi tidak bersemangat selepas pulang dari rumah mertuanya. Ucapan sang ayah serta tubuh Berti yang putih mulus terlintas dalam pikirannya.
Berti begitu senang menyambut suaminya pulang dari kantor. Ia memeluk Cakra, mengecup kedua belah pipi dan bibir suaminya. Namun, Cakra seperti tidak bersemangat.
"Buah mangga," kata Cakra.
"Mas kenapa, sih?"
"Jangan menggodaku."
Bersambung
__ADS_1