
"Bert, aku ingin buat anak," ucap Cakra ketika istrinya telah selesai mandi.
"Apa, sih? Kalau kamu mau buat anak, ya, buat saja," sahut Berti.
"Buka bajumu," pintanya.
Berti menatap lekat suaminya. "Buat sama guling. Aku enggak mau sama kamu."
Telepon berdering. Berti lekas berjalan menuju ke sofa mengambil tas miliknya. Ia tersenyum melihat nama dari Arjuna, dan ketika ingin mendekatkan telepon ke telinga, Cakra merebut gawai itu.
"Ponselku!" teriak Berti.
"Di rumah, kamu harus ikut perintahku. Jangan main ponsel."
"Kenapa kamu malah jadi cerewet?"
"Ini semua karena kamu! Gara-gara kamu aku dimarahin oleh papa dan mama."
Berti berkacak pinggang. "Oh, pantas saja tiba-tiba saja pengen buat anak. Rupanya habis dimarahin."
"Bisa enggak kamu itu membuat sesuatunya lebih mudah."
Berti mengeleng, menatap Cakra dengan rasa heran. Dengan mudahnya pria itu mengatakan ingin membuat segalanya dengan gampang yang artinya, jika Cakra menginginkan sesuatu darinya, maka Berti harus menurut. Termasuk membuat anak yang menurut Berti seperti mengajak wanita makan di warung.
"Benahi dulu sikapmu baru kita buat anak," kata Berti yang langsung naik ke tempat tidur.
"Sikap apalagi? Kamu harus hamil secepatnya," sahut Cakra.
"Jangan bicara lagi. Aku akan hamil, tetapi sama pacarku."
Cakra ikut menyusul naik ke tempat tidur. Ia memerangkap kedua tangan Berti yang membuat istrinya terbelalak.
"Bilang sekali lagi," kata Cakra.
"A-apa?"
"Di dalam rumahku, kamu harus ikut aturan yang kubuat. Di sini, aku adalah pemimpinnya."
"Jadi, di luar sana aku boleh pacaran? Kalau aku hamil anak orang lain bagaimana?" tanya Berti.
"Akhiri hubunganmu dengan pria itu. Setelah kamu hamil anakku, terserah mau melanjutkannya lagi."
Berti tertegun dengan apa yang baru saja ia dengan dengar. "Aku mau cerai!" teriaknya.
Cakra tersentak. "Itu lagi yang kamu bahas."
Berti dapat melepas cengkeraman tangan Cakra. Ia beringsut duduk kemudian memukul lengan suaminya.
"Aku benci kamu!"
"Hentikan! Kenapa aku dipukul?"
"Keluar!" usir Berti.
"Aku mau tidur di mana?"
"Aku enggak mau buat anak. Aku enggak mau jadi istri kamu. Aku mau cerai!" ucap Berti.
__ADS_1
"Sadar, Bert. Kamu ini sudah tidak waras, ya."
"Kamu yang gila!"
"Aku ini suamimu! Jaga mulutmu itu!" hardik Cakra.
"Dengar ini, Cakra. Aku enggak mau punya anak dari kamu!"
"Harus mau," sahut Cakra.
"Keluar!" teriak Berti.
"Aku bakal keluar. Jangan teriak lagi."
Cakra turun dari tempat tidur, lalu keluar dari kamar dengan membanting pintu. Berti melempar bantal untuk sekedar melampiaskan segala kekesalannya.
...****************...
Setahu Berti, matahari masih terbit di sebelah timur. Jam menunjukkan pukul sembilan pagi, tetapi Cakra duduk di ruang keluarga sembari meneguk teh hijau yang disuguhkan oleh Minah.
"Tumben sekali enggak ke ruang kerja. Kamu enggak mungkin bosan menatap berkas-berkas yang ada di ruanganmu itu, kan?" tanya Berti.
"Kamu lupa kalau hari ini jadwal kita jalan-jalan," sahut Cakra.
"Jadi, pesan itu beneran dari kamu?"
"Memangnya dari siapa lagi?"
Berti mendekat, tetapi Cakra bergeser menjauh. "Jadi, apa hari ini kamu mau menuruti keinginanku?"
Berti langsung memeluk leher Cakra. "Terima kasih, Sayang."
"Lepas dulu leherku."
Berti menunjuk pipinya. "Ini dulu."
"Apa?"
"Kecup pipiku dulu," pinta Berti.
"Jangan dulu. Mending kamu ganti baju dan kita lekas pergi."
"Tunggu aku dulu, ya, Sayang," ucap Berti sembari mengecup pipi suaminya.
Cakra tertegun. Ia mengusap pipinya yang baru saja dikecup oleh Berti. Rasanya lembut ketika bibir itu menyentuh pipinya dan jantungnya berdetak lebih cepat.
"Lama-lama aku bisa terkena serangan jantung berdekatan dengan dia," gumam Cakra.
Kemarahan Berti sedikit mereda. Cakra akan mengajaknya jalan-jalan dan ini adalah kencan pertama mereka setelah resmi menikah. Berti harus melupakan kejadian semalam. Ia yakin setelah ini suaminya akan lebih perhatian.
Berti yakin ia bisa meluluhkan patung bergerak seperti Cakra. Batu saja dapat terbelah jika ditetesi air terus menerus. Begitu juga Cakra. Ia yakin sikap suaminya akan menghangat seiring waktu jika mereka terus bersama.
"Hari ini kita nonton, yuk," ajak Berti. Ketika mereka telah berada dalam mobil.
"Iya," jawab Cakra.
"Aku boleh belanja sepuasnya enggak?"
__ADS_1
"Boleh."
"Hari ini kamu sengaja menyediakan waktu untukku?" tanya Berti lagi.
"Iya," ucap Cakra.
Cakra melihat jam di pergelangan tangannya ketika mereka telah sampai di pusat perbelanjaan. Cakra mencegah Berti untuk turun terlebih dahulu.
"Dengarkan aku dulu," ucapnya.
"Apa?" tanya Berti.
"Satu jam untuk belanja. Satu jam lagi kita makan dan waktu tiga jam untuk kita menonton film. Jangan melebihi waktu yang telah kususun dengan baik," tuturnya.
"Apa, kamu menjadwalkan rencana jalan-jalan kita?" tanya Berti.
"Hidup akan teratur jika kita merencanakannya."
Berti tidak bisa bicara apa-apa. Buyar sudah harapan untuk Cakra berubah. Suaminya sudah punya sifat cuek, maka selamanya akan seperti itu.
Tanpa memperdulikan Cakra, Berti langsung membeli apa saja ketika mereka telah masuk mal. Waktu hanya satu jam, kesempatan Berti untuk menghabiskan uang suaminya.
"Beli yang penting dan bisa kamu pakai," kata Cakra.
"Kamu bilang aku boleh beli apa pun itu."
"Ya, beli sesuai kebutuhan kamu. Kamu cuma pilih-pilih pakaian sembarang tanpa tau kamu itu suka apa tidak barangnya."
"Aku cuma punya waktu satu jam," sahut Berti.
Dari toko baju berpindah ke toko sepatu dan tas. Berti membeli barang yang menurutnya bagus dipandang mata.
"Masih tersisa berapa menit lagi?" tanya Berti.
"Aku tidak bisa lihat jam. Kamu tidak lihat dua tanganku penuh belanjaan?"
Berti meraih pergelangan tangan suaminya untuk melihat jam. "Sudah lewat satu menit. Kita harus makan siang."
Tanpa menunggu Cakra lagi, Berti lekas menuju restoran di lantai dua. Makanan dipesan, dan dengan terburu-buru, Berti menyantapnya.
"Astaga! Perhatikan sikapmu," tegur Cakra.
"Kenapa? Bukankah dalam satu jam aku harus menghabiskan makanan ini semua," sahut Berti.
Berti kembali menyuap makanan ke dalam mulutnya dengan tergesa-gesa tanpa peduli bibir belepotan. Cakra bahkan tidak bernapsu untuk makan karena ulah istrinya.
"Kamu enggak malu dilihatin orang?" bisik Cakra.
"Kenapa, kamu malu?"
"Waktu makan kita masih panjang. Kamu tidak perlu terburu-buru."
"Suamiku akan marah jika aku tidak bisa menyelesaikan waktu makanku dalam satu jam," jawab Berti. "Untuk antri bayar makanan ini sekitar lima belas menit. Menunggu makan ini diantar sudah tiga puluh menit. Waktu makan lima belas menit. Jadi, pas enam puluh menit untuk berada di restoran."
Berti kira perjalanan kali ini ia bisa bermanja seperti pasangan suami istri yang lain. Ia kira bisa meminta pendapat Cakra mengenai barang yang ia beli. Namun, itu hanya khayalan saja. Faktanya Cakra tetap bersikap sama saja.
Bersambung
__ADS_1