Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Pertemuan


__ADS_3

Cakra mengantar Berti pulang setelah keduanya berbelanja. Lagi-lagi tidak ada pembicaraan selama perjalanan di antara keduanya sampai mobil yang dikendarai oleh calon suaminya sampai di pintu gerbang rumah mewah.


"Mau mampir?" tawar Berti.


Cakra menggeleng. "Sudah terlalu sore, lain kali saja. Lagian besok kita akan bertemu untuk membahas pertunangan."


"Iya, baiklah, aku duluan. Terima kasih sudah meluangkan waktu."


"Tidak masalah, aku sengaja meluangkan waktu untukmu," jawab Cakra.


Berti membuka pintu, keluar dari mobil bermerek yang ia tumpangi. Ia melambaikan tangan kepada Cakra, pria itu membunyikan klakson kemudian mengendarai mobilnya dari hadapan Berti.


Penjaga membuka pintu gerbang untuk majikannya, Berti masuk dengan perasaan senang, tetapi juga gugup karena ia masih memikirkan pertunangan yang akan diselenggarakan seminggu lagi.


Begitu cepat. Cakra tidak membiarkan mereka saling mengenal lebih dulu. Berti menyadari ketika ia menerima perjodohan, artinya, saat itu juga ia bersedia menikah kapan pun. Mau itu seminggu atau sebulan lagi, ia harus sudah siap menjadi pengantin. Hanya saja Berti tidak percaya wajah setampan Cakra tidak memiliki pasangan, dan mendesak untuk segera menikah.


"Baru pulang?" tegur Santi.


"Bu, kebetulan! Berti mau bicara. Kita duduk dulu."


Berti mengajak sang ibu duduk, lalu memanggil bi Inah untuk menyiapkan teh serta cemilan. Berti meletakkan beberapa tas belanjaan di atas meja, dan tidak membiarkan sang ibu melihat barang tersebut.


"Pelit amat. Ibu cuma mau lihat belanjaanmu."


"Nanti dulu, Bu. Berti mau ngomong."


"Bicara saja, ibu nyimak," ucapnya.


"Cakra bilang kalau pertunangan akan diadakan satu minggu lagi. Memangnya benar, Bu?" tanya Berti.


"Nah, kebetulan kamu sudah ingatkan. Ibu baru saja dapat kabar kalau pertunangan kalian akan diadakan satu minggu lagi. Ibu sengaja mau kasih tau kamu pas pulang."


"Ibu setuju?" tanya Berti.


"Jelas, dong. Memang Ibu dan Bapak inginnya kamu menikah cepat. Besok kita pertemuan lagi di rumah Cakra. Kamu harus siap-siap," pesan Santi.


Berti mendesah. Rupanya ia orang pertama yang terakhir tahu. "Oke. Besok, Berti akan siap-siap buat ke acara pertemuan."


"Boleh Ibu lihat belanjaan kamu?"


Berti mengangguk. "Buka saja, Bu."

__ADS_1


*****


Malam besoknya, Berti serta keluarga tiba di rumah besar. Sisi sampingnya terdapat berbagai macam bunga seperti mawar, anggrek, keladi berbagai aneka jenis yang disusun di atas rak khusus. Ibu Cakra jelas terlihat penyuka tanaman.


"Selamat datang," ucap Widya. "Mari masuk."


Sambutan ramah yang keluarga Berti terima. Semua menyambut kedatangan mereka termasuk adik bungsu Cakra, yaitu Daffa. Namun, Berti malah tidak mendapati calon suaminya berada di sana. Ke mana Cakra? Tidak mungkin pertemuan ini terjadi tanpa kehadiran pria itu.


"Cakra mana, Bu?" tanya Berti.


"Udah kangen saja, Kak Berti," sahut Daffa.


Berti menyengir. "Bukan begitu, hanya heran saja dia enggak kelihatan."


"Sebentar lagi kak Cakra sampai, kok," ucap Daffa.


Detik jarum jam berjalan masih tidak menunjukkan kedatangan pria yang ditunggu-tunggu. Keluarga memutuskan untuk makan malam bersama dahulu selagi menunggu Cakra, dan Daffa selalu menenangkan Berti kalau kakaknya akan segera tiba.


"Sudah! Kamu jangan lagi bilang kakakmu akan sebentar lagi muncul. Lebih baik lekas makan makananmu," ucap Berti.


Makan malam selesai, Cakra tidak menampakkan batang hidungnya sampai tuan Adhitama undur diri sejenak dari obrolan keluarga menuju kamarnya. Berti yakin jika pria paruh baya itu akan menelepon sang anak yang tidak muncul.


Suara klakson mobil menyiram rasa gundah di dalam hati Berti yang kesal bercampur rasa takut. Daffa segera berlari ke depan, dan tidak lama membawa seorang pria yang ditunggu kehadirannya.


"Kami sudah selesai makan malam kamu baru datang. Kamu juga yang ingin pertunangan ini dipercepat. Calon istrimu gelisah menunggumu sedari tadi," sahut Adhitama yang muncul dari sudut ruangan kemudian bergabung kembali bersama keluarga.


Cakra memandang Berti, ia tersenyum. "Maaf, ya. Ini sungguh di luar dugaan."


"Nak Berti, kamu harus terbiasa dengan Cakra yang pulang terlambat. Dia punya bisnis besar," ucap Widya.


Berti tersenyum. "Iya, Bu. Berti mengerti, kok."


Usaha yang dijalankan Cakra memang lebih besar dari Berti. Ia maklum jika calon suaminya sibuk, dan mungkin ini akan terjadi pada pernikahan mereka ke depannya nanti.


"Jadi, apa saja yang sudah dibahas?" tanya Cakra.


"Ini terserah kalian berdua. Maunya pesta pertunangan yang bagaimana?" ucap Widya.


"Cakra maunya setelah pertunangan, habis itu menikah. Sebulan cukup untuk mempersiapkannya. Tapi kita harus minta persetujuan Berti dulu."


"Aku ingin pesta pertunangannya sesama keluarga saja. Kalau untuk pernikahan, aku rasa waktu satu bulan saat kepepet. Kita perlu mempersiapkan semuanya sampai matang," kata Berti.

__ADS_1


"Benar! Belum baju, gedung, katering dan segala macam. Dua bulan rasanya cukup buat mempersiapkan semuanya," ucap Santi menambahkan.


"Kalau Bapak ikut saja," sambung Ilham.


"Ini urusan para wanita," celetuk Adhitama.


Semua tertawa oleh celotehan dua pria dewasa. Memang waktu satu bulan terlalu singkat untuk mengadakan pernikahan besar sesuai reputasi keluarga Adhitama.


"Kita sepakat kalau begitu. Dua bulan ke depan, kita adakan pernikahan," ucap Cakra setuju.


Masing-masing anggota keluarga mengucap selamat kepada Berti dan Cakra. Sesama pria saling berpelukan, begitu juga wanita. Mereka berbahagia akhirnya, bisa menjadi satu keluarga.


Selesai pertemuan, Cakra mengantar Berti pulang. Keduanya kembali disuruh untuk menghabiskan waktu bersama sesering mungkin agar semakin dekat.


"Daffa bilang kamu tidak tinggal bersama orang tuamu," kata Berti.


"Aku sudah punya rumah sendiri. Saat kita resmi menjadi suami dan istri, kita bisa langsung pindah. Kamu juga boleh datang untuk mengubah beberapa ruangan yang mungkin saja tidak sesuai keinginanmu."


"Aku tidak berani. Tunggu sudah resmi saja," ucap Berti.


"Begitu, tapi jangan salahkan aku jika kamu tidak menyukai rumahnya."


Berti tersenyum. Cakra sangat baik sampai urusan rumah saja diperhatikan. Pria itu tidak ingin sampai Berti tidak menyukai tempat tinggal mereka nantinya.


"Sebelum menikah, rumahmu adalah milikmu. Setelah menikah, baru rumah kita," kata Berti.


Cakra kira Berti akan mengatakan jika setelah menikah rumahnya akan menjadi milik wanita itu. Rupanya Berti tidak berpikir begitu. Saat mereka berumah tangga nanti, yang ada hanya milik bersama.


"Kamu secepatnya pesan pakaian pengantinnya. Dua minggu lagi aku akan pergi ke Singapura. Mungkin aku akan berada di sana selama tiga atau empat minggu," ucap Cakra.


"Kerjaan?" tanya Berti.


"Aku mendirikan restoran di sana."


"Wah! Sungguh hebat," ucap Berti memuji.


"Hanya melebarkan sayap bisnis saja," ucap Cakra.


"Aku doakan semoga lancar."


Cakra tersenyum. "Amin. Calon istriku mendoakanku. Terima kasih."

__ADS_1


Jantung Berti berdetak kencang seperti biasanya, dan ia berusaha untuk menenangkan rasa yang meledak-ledak dalam benaknya. Seakan ada letupan kembang api yang bersinar dengan aneka ragam warna, Berti merasa ia telah jatuh hati kepada calon suaminya sendiri.


Bersambung


__ADS_2