
Berti merasakan guncangan di tubuhnya. Ia mengerjap, perlahan matanya terbuka. Cakra berada di depannya dan sudah berpakaian rapi. Eh, mau kemana suaminya sudah rapi begini? Berti masih mengantuk. Cuaca masih dingin dan ia ingin memeluk guling, lalu melanjutkan tidur cantiknya.
"Kita akan pergi ke Swiss. Cepat bangun," ucap Cakra.
"Apa?" Berti langsung bangun. "Aku lupa?" seraya memegang kepalanya. "Jam berapa ini?"
"Pukul empat subuh. Setengah jam lagi kita harus berangkat ke bandara. Cepatlah bergegas."
Berti langsung turun meraih koper. Ia mengambil pakaian ganti setelah itu berlari menuju bilik mandi. Cakra menggelengkan kepala melihat istrinya.
"Apa dia selalu tidak tepat waktu begini? Aku tidak suka wanita yang mengabaikan waktu," gumamnya.
Dalam sepuluh menit, Berti keluar dari kamar mandi, ia bergegas menuju meja hias. Menyisir rambut, lalu membereskan tas make up dan skincare kemudian memasukkannya ke dalam koper.
"Bagaimana dengan baju pengantin kita?" tanya Berti.
"Biarkan saja. Nanti Dafa dan Ariel yang akan mengurus. Kita tinggal pergi saja," jawab Cakra.
Berti bernapas lega, ia kembali memeriksa dokumen keberangkatan serta perlengkapan lain. Ia tidak mau sampai ada satu barang yang ketinggalan dan membuat Cakra kesal di hari pertama pernikahan mereka.
"Semua sudah siap. Kita tinggal berangkat," kata Berti.
"Ayo, kita turun ke bawah. Sopir rumah sudah datang."
"Sudah datang?" ulang Berti dengan ekspresi tidak percaya.
"Kenapa kaget begitu?" Cakra mengangkat sebelah alisnya.
"Bukan begitu. Sopirmu cepat sekali datangnya," jawab Berti.
"Dia sudah tau kita mau ke luar negeri. Ayo, kita lekas turun."
Berti mengiakan. Cakra membawa dua koper di tangan, sedangkan Berti mengikuti langkah suaminya. Keduanya masuk ke dalam lift. Lantai dasar menjadi tujuan mereka.
Apa yang dikatakan suaminya memang benar. Sopir kediaman Adhitama telah datang untuk mengantar mereka ke bandara. Cakra membuka pintu belakang untuk sang istri, lalu koper diambil oleh sopir untuk diletakkan di bagasi.
Cakra duduk bersama sopir yang mengemudi. Setelah semuanya beres, mobil berlalu meninggalkan hotel.
__ADS_1
Empat puluh lima menit, mobil yang ditumpangi Berti dan Cakra tiba di bandara. Sopir keluar lebih dulu, lalu membuka pintu agar atasannya bisa turun. Berti merasa dingin karena ia tidak memakai jaket. Ia terlalu terburu-buru tadi sampai lupa mengeluarkan baju hangat.
"Terima kasih, Pak. Kami masuk," ucap Cakra.
"Sudah tugas saya. Tuan dan Nyonya hati-hati di jalan."
Berti tersenyum. "Iya, terima kasih."
Cakra berjalan lebih dulu dengan koper disusul oleh Berti. Mereka mengurus keberangkatan dan menunggu sampai tiba waktunya pergi.
Berti menyesal karena ia memakai kaus berlengan pendek. Pagi-pagi begini memang sangat dingin dan suaminya malah tidak peka. Cakra memakai sweater rajut. Seharusnya ia memperhatikan seorang istri yang kedinginan.
"Dingin?" tanya Cakra.
Jelas sekali, bahkan Cakra masih bertanya mengenai hal ini. "Sedikit," jawab Berti.
"Sudah tau mau keluar negeri pagi buta begini. Kenapa kamu enggak pakai jaket?"
"Aku terburu-buru tadi."
Berti mendengar saat Cakra mendecakkan lidah, lalu melepas sweater dari tubuhnya. Cakra menyampirkan baju hangat ke tubuh Berti.
"Aku enggak mau kamu sakit," ucap Cakra yang membuat Berti terdiam.
Berti memakai sweater rajut pemberian dari suaminya, dan gantinya Cakra yang merasa dingin. Hari pertama sudah merepotkan. Mungkin bagi pasangan lain, hal kecil begini tidak masalah, tetapi bagi Berti jelas berbeda.
Keberangkatan tiba, Cakra dan Berti menuju pesawat mereka. Cakra memegang tangannya yang membuat detak jantung Berti berdetak kencang.
******
Dari Jakarta, mereka transit ke Doha setelah itu barulah ke Zurich. Perjalanan yang panjang dan melelahkan. Sampai di hotel, Berti langsung merebahkan diri di atas tempat tidur.
"Aku pesankan makan," kata Cakra.
Berti cuma berdehem. Ia lelah melakukan perjalanan jauh dan ingin memejamkan mata sejenak. Cakra menelepon pihak hotel, meminta mereka menghantarkan menu makan siang. Sebenarnya makan sore karena waktu menunjukan pukul lima belas.
Selagi menunggu, Cakra mengatur pakaiannya di dalam lemari. Ia melihat Berti yang sudah terlelap. Cakra cuma mengggeleng, lalu beranjak menuju bilik mandi.
__ADS_1
Beberapa saat sang putri tidur merasa terganggu. Dengan malas Berti bangun karena ketukan pintu. Ia melangkah gontai ke depan untuk membuka kunci, dan sedikit kaget melihat pelayan yang berdiri dengan kereta makanan.
Berti merapikan rambutnya. "Silakan."
Pelayan pria masuk ke dalam mengantar makanan. Kebetulan Cakra baru saja keluar dari kamar mandi. Berti mengucapkan terima kasih dan Cakra memberi tip untuk pelayan itu.
"Tidurmu pasti terganggu," kata Cakra.
"Sedikit. Aku memang harus bangun. Aku ingin membersihkan diri dulu."
"Kita makan dulu," kata Cakra.
Berti mengiakan kemudian duduk bersama Cakra di sofa. Ia melayani suaminya dulu. Ayam yang dimasak mentega, scootel. Berti tidak tahu apa nama makanan itu, tapi itu seperti makaroni yang diberi taburan seledri.
"Kuharap kamu suka makanannya," ucap Cakra.
"Aku suka apa pun," jawab Berti.
Selesai makan, Cakra sibuk bersama ponsel di tangan. Sebenarnya istri Cakra adalah telepon genggam itu. Gawai yang selalu Cakra pegang, sedangkan istrinya malah tidak disentuh. Berti tengah menyusun pakaiannya di lemari sembari mencuri pandang ke arah Cakra.
Sungguh situasi ini tidak ada dalam bayangan Berti. Tidak ada kemesraan di antara mereka. Obrolan romantis saling memuji atau apalah bagi pasangan pengantin baru benar-benar tidak ada. Mereka terjebak dalam keheningan, asing tanpa ada salah satu yang memulai lebih dulu.
"Apa kamu lelah?" tanya Berti, mencoba untuk mencairkan suasana.
Cakra menoleh ke arahnya. "Sedikit. Besok saja kita jalan-jalan. Malam ini kita di kamar saja."
"Oh, Oke."
Berti tidak ingin membantah meski ia tidak sabar untuk melihat kota malam Swiss. Untungnya hotel yang mereka sewa sangat mewah. Ada balkon untuk pasangan yang ingin bersantai. Berti bisa duduk di sana seraya memandangi lampu kota dan kendaraan.
Pakaian ganti sudah dibawa dan Berti telah berada di kamar mandi. Gaun hitam berbahan satin di atas lutut bertali satu. Hasil dari rekomendasi sang ibu serta sahabatnya.
Santi mengatakan selama bulan madu, ia harus memakai pakaian yang memamerkan kulit mulusnya. Swiss tengah berada di musim gugur. Cuaca yang sangat nyaman. Udaranya juga tidak panas dan dingin.
"Jika Cakra tidak memulainya, lebih baik aku saja yang berinisiatif. Lagian aku membawa lebih banyak pakaian terbuka," gumam Berti.
Selesai membersihkan diri, Berti keluar dengan rasa percaya dirinya. Rambutnya sengaja dibiarkan tanpa terikat. Namun, apa yang diharapkan sangat berbeda dari khalayannya.
__ADS_1
Bersambung