Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Tidak Niat


__ADS_3

Cukup sudah. Berti sudah tidak tahan lagi. Selama seminggu berusaha menggoda suaminya, tetapi Cakra sama sekali tidak tertarik.


Cakra bahkan terkesan menjauh dengan alasan lembur kerja. Seminggu terakhir, Cakra pulang pukul sepuluh malam, lalu tidur di ruang kerja. Berti merasa dirinya sama sekali tidak menarik di mata suaminya. Ia sudah berusaha menampilkan penampilan terbaik, tetapi hasilnya nihil.


"Malam ini kita ada pesta. Kamu ikutlah denganku," kata Cakra.


"Pesta?" tanya Berti.


Cakra mengangguk. "Iya. Pesta para pengusaha. Kami mengadakan acara amal. Kamu ikut denganku. Temanya batik. Siapkan pakaianku juga."


"Kenapa baru hari ini kamu bilang?"


"Aku lupa," jawab Cakra enteng.


"Apa Ariel tidak mengingatkanmu? Kamu mengatakan pesta secara mendadak."


"Kamu enggak bisa pergi?" tanya Cakra, "tidak apa-apa. Aku biasa pergi sendiri."


"Sebenarnya kamu niat enggak, sih, mengajakku?" tanya Berti.


Cakra menatap istrinya. "Kalau aku enggak niat, ya, aku enggak bakal kasih tau kamu."


"Kamu kasih taunya malah pagi ini. Aku juga butuh persiapan."


"Persiapan apa? Tinggal pakai baju batik saja. Masalah kecil saja kamu buat besar," gerutu Cakra.


Berti bangkit dari duduknya. Ia meraih tas yang ada di kursi samping. "Aku berangkat dulu."


Sama sekali suaminya tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Berti. Sungguh Berti tidak mengerti Cakra. Ia adalah istri dari seorang pengusaha ternama. Wajar kalau Berti ingin tampil memukau malam nanti. Cakra malah memberitahu pagi ini.


"Dia tidak sempat memberitahu karena menghindariku. Dia sungguh keterlaluan!" gerutu Berti kesal.


Cakra tidak habis pikir dengan istrinya. Selalu saja marah tanpa alasan yang jelas. Cakra tidak memberitahu masalah undangan saja, Berti sudah menggerutu seperti itu.


"Dasar wanita. Maunya apa, sih? Bikin pusing kepala saja," gumamnya.


******


Siangnya, Berti memilih gaun yang akan dikenakannya untuk nanti malam. Ia berada di butik miliknya sendiri. Berti juga akan memanggil penata rias ke rumahnya sore nanti.


"Gara-gara Cakra, aku kepepet cari gaun. Tapi untungnya di butik milikku sendiri, ada pakaian yang kuinginkan," ucapnya.


Berti mengambil gaun batik warna hitam dengan campuran cokelat. Warna itu akan cocok bersama pakaian yang akan suaminya kenakan. Selesai memilih gaun, Berti langsung pulang ke rumah. Ia harus menyiapkan pakaian untuk Cakra.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Berti menyempatkan makan siang terlebih dulu. Setelah itu pergi menyiapkan pakaian yang akan Cakra kenakan. Berti memilih kemeja batik warna cokelat. Ada beberapa warna yang menjadi koleksi suaminya, tetapi Berti memilih pakaian itu.


Berti membawa kemeja serta celana panjang kain keluar kamar. "Bi Minah!" serunya dari atas.


"Iya, Nyonya," sahut Minah yang bergegas menghampiri.


"Tolong baju Cakra disetrika. Malam ini mau dipakai," kata Berti.


"Nyonya lempar saja bajunya ke bawah. Bibi capek mau naik ke atas."


Berti tertawa. "Bibi siap tangkap, ya."


"Siap," kata Minah.


Berti menggulung-gulung pakaian Cakra, lalu melemparnya ke bawah yang ditangkap langsung oleh Minah.


"Bibi mantap," kata Berti.


Minah tertawa. "Bibi ini mantan pemain voli."


Berti cuma menggeleng seraya tersenyum. Ia kembali ke kamar. Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Satu jam lagi penata rias akan datang. Pesta diadakan pukul tujuh malam.


"Tidur dulu sebentar, deh. Setelah mereka datang, langsung mandi dan berangkat," gumam Berti.


Satu jam terlewat ketika Berti mendengar ketukan dari luar kamarnya. Dengan malasnya, ia bangun, lalu turun dari ranjang empuk. Suara Minah terdengar. Berti membuka pintu.


"Tukang salon datang," ucap Minah.


"Tukang salon?" tanya Berti.


"Itu, Nyonya. Yang mau merias."


Berti mengangguk. "Penata rias, Bi. Saya mandi dulu. Suruh tunggu di kamar bawah saja. Bawa juga baju Cakra ke sana."


"Baik, Nyonya," sahut Minah.


Berti menutup pintu kembali setelah Minah menuruni anak tangga. Ia mengambil handuk di dalam lemari, lalu masuk kamar mandi.


Selesai membersihkan diri, dengan masih memakai kimono handuk, Berti keluar kamar menuruni anak tangga. Di bawah sudah ada satu wanita dan satu pria yang menunggu.


"Hai!" sapa Berti.


"Hai, Nona Berti," sahut keduanya.

__ADS_1


Keduanya adalah penata rias langganan Berti. Iva dan Doni. Setiap ada pesta perusahaan atau acara resmi, maka Berti akan memanggil mereka.


"Tadi ketiduran. Maaf banget sudah nunggu lama," ucap Berti.


"Enggak apa-apa. Kita juga disediain minum ama cemilan," sahut Iva.


"Kita langsung saja, nih?" tanya Doni.


"Langsung saja. Kita ke kamar sini," kata Berti yang menunjuk kamar di dekat tangga.


Keduanya mengikuti Berti ke kamar yang dituju. Ruangan itu juga terdapat meja rias yang memudahkan Doni serta Iva melakukan tugasnya.


Doni mulai mengaplikasikan bedak serta make up ke wajah Berti. Sementara Iva, menata rambutnya. Berti menginginkan tampilan simpel, tapi terlihat anggun. Iva menyarankan agar rambutnya digerai saja, tetapi dibikin gelombang besar. Doni merias tipis wajah Berti, tetapi tidak membuatnya terlihat pucat dengan warna make up yang dipakai.


Waktu semakin cepat berjalan. Berti sudah selesai dengan penampilan cantiknya. Doni dan Iva juga pulang setelah selesai melaksanakan tugasnya dan mendapat bayaran. Tinggal menunggu Cakra yang sudah pukul enam sore tidak kunjung pulang.


"Kok, dia belum pulang? Katanya mau ke pesta perusahaan," ucap Berti. "Mungkin bentar lagi. Tunggu saja, deh."


Berti duduk di sofa tamu sembari menunggu suaminya dengan membaca buku. Waktu terus berjalan, bahkan sudah pukul tujuh malam. Namun, Cakra sama sekali tidak tampak batang hidungnya. Berti mencoba menelepon suaminya, tetapi tidak diangkat.


"Dia ke mana, sih? Biasanya tepat waktu pulang. Ini enggak seperti biasanya."


"Nyonya enggak mau makan malam dulu," tegur Minah.


"Enggak usah, Bi. Aku mau tunggu Cakra saja."


"Baik, Nyonya," sahut Minah, lalu pergi.


Berti tetap menunggu suaminya di ruang tamu. Sampai jarum pendek jam menunjuk angka ke delapan, sembilan, lalu sepuluh malam. Di pukul itulah, suaminya pulang.


Cakra keluar mobil. Ia mengerutkan kening ketika melihat pintu rumah terbuka. Cakra masuk ke dalam dan kaget istrinya duduk di ruang tamu.


"Belum tidur?" tanyanya.


Berti mengangkat wajah memandang suaminya. Penampilan Cakra berbeda dari tadi pagi. Suaminya memakai celana kain hitam serta kemeja batik.


Berti bangkit dari duduknya. Ia menatap tajam Cakra. "Kamu itu sebenarnya niat enggak ajak aku ke pesta? Kamu enggak lihat aku dandan? Dengan entengnya kamu menanyakan kenapa aku belum tidur. Aku belum tidur karena nungguin kamu!"


Cakra tersentak. "Maaf. Aku kira kamu enggak mau datang. Tadi pagi kamu marah-marah. Aku sengaja enggak pulang."


"Tega kamu, ya. Jarimu itu buat apa, sih? Ponselmu itu enggak bisa menghubungiku? Buat apa kamu kasih tau ada pesta, tapi ujungnya malah pergi sendiri!" ucap Berti.


"Aku sudah bilang. Aku kira kamu enggak mau datang," kata Cakra.

__ADS_1


Berti melempar tas tangannya ke arah Cakra dan mengenai tubuh pria itu. "Sialan!" umpatnya.


Bersambung


__ADS_2