
"Cakra tidak mungkin pria yang tidak normal," kata Sari.
"Dia menyatakan cintanya pada Ariel, Sari. Kamu tahu kalau mereka itu sering ke luar negeri," ucap Berti.
"Nak, tidak mungkin Cakra begitu," Ilham menimpali.
"Benar, Bert. Ibu tidak percaya kalau Cakra rupanya belok," sahut Santi.
"Kenapa kalian semua tidak percaya? Cakra memang tidak normal. Pokoknya hubunganku dan Cakra cukup sampai di sini. Tidak ada lagi kesempatan untuk dia. Kami harus berpisah!" ucap Berti.
"Berti!" seru Cakra.
Semua menoleh pada Cakra yang baru saja datang. Berti mengepal geram pada suaminya. Ia merasa jijik telah disentuh oleh pria pembohong seperti suaminya itu.
"Pergi kamu, Mas. Aku enggak sudi melihatmu lagi," ucap Berti.
"Aku salah apalagi, Bert?" tanya Cakra.
"Kamu masih enggak sadar atas apa yang kamu lakukan? Keterlaluan!" ucap Berti, lalu berjalan cepat menuju kamar. Menutup pintu kemudian menguncinya.
"Bert!" panggil Cakra.
"Cakra, kamu sungguh belok?" tanya Sari, lalu menggeleng tidak percaya. "Kamu menikahi Berti cuma untuk menutupi kebohonganmu, kan?"
"Belok apa, sih?" Cakra menatap tajam Sari.
Otomatis keberanian tadi langsung menciut. Sari berlindung di belakang Santi. Hatinya belum kuat untuk menghadapi mulut pedas Cakra.
"Kata Berti kamu menyatakan cinta pada Ariel. Apa itu benar, Nak?" tanya Santi.
"Berti sungguh menganggapku tidak normal?"
"Coba kamu katakan yang sesungguhnya," pinta Ilham.
Mana mungkin Cakra mengatakan hal itu pada mertuanya. Yang ada ia akan sangat malu. Saat bersama Ariel saja ia gelagapan, dan entah mengapa menyebut tiga kata itu begitu susah.
Cakra teringat saat di kantor ketika ia bersama Ariel, dan tiba-tiba pintu dibuka begitu saja bersamaan dirinya yang mengungkapkan perasaannya. Masalahnya pernyataan cinta itu bukan untuk Ariel.
"Bagaimana caranya mengungkapkan kalau aku ini menginginkan istriku?" tanya Cakra.
"Tuan tinggal bilang cinta. Kata sederhana juga bisa meluluhkan hati wanita. Puji dia setiap hari."
"Apa itu tidak berlebihan?" tanya Cakra.
"Tentu saja tidak. Malah yang berlebihan bisa membuat wanita berbunga-bunga."
Cakra terperangah. "Mungkin ini makanya pria dibilang tukang gombal. Apa aku harus mengatakan cinta pada istriku?"
"Begitulah," jawab Ariel.
"Kamu jangan mengatakan ini kepada siapa pun. Sebenarnya aku malu. Sepertinya aku tidak bisa mengatakan hal romantis pada Berti," ucap Cakra.
__ADS_1
Ariel berusaha untuk menahan tawa. Rupanya pria di depannya ini juga punya kekurangan. Memang kehidupan rumah tangga dan bisnis sangat berbeda. Kadang karena kurang komunikasi, pernikahan bisa berantakan.
"Tinggal bilang saja 'aku cinta kamu'. Semua pasti bakal beres, Tuan."
"Kok, aku jadi malu, sih," ucap Cakra.
Ariel menggigit lidahnya agar tidak tertawa. Ia berdeham. "Coba Tuan ucapkan."
"Apa?"
"Aku cinta kamu," kata Ariel.
Cakra berdeham. "A-aku ...." ia menggeleng. "Sepertinya tidak bisa."
"Coba lagi, Tuan."
"Aku cinta kamu. Ya, aku cinta kamu," ucap Cakra.
Saat itu Berti malah datang. Cakra mengembuskan napas panjang. Sekarang istrinya salah paham. Masalah kemarin saja belum kelar dan ini timbul hal lain lagi.
"Aku masih normal. Semua ini hanya salah paham. Aku harus bicara pada Berti," ucap Cakra, lalu berjalan menuju kamar.
Sari, Santi serta Ilham cuma melihat saja. Memang ketiganya tidak percaya, tetapi bisa saja Cakra memang belok. Apa pun itu, semoga kenyataannya tidak, dan memang faktanya tidak benar.
"Bert, buka pintunya dulu. Aku bisa jelasin semua," ucap Cakra dengan suara sedikit keras.
"Mas pergi dari sini!" sahut Berti dari dalam.
"Apalagi yang ingin kamu katakan?"
"Apa, Bert? Aku enggak dengar," kata Cakra.
Berti memutar kunci, lalu membuka pintu. Cakra bersyukur karena itu. Ia masuk, tetapi malah mendapat pukulan dari Berti.
"Tindakanmu itu bikin malu!" ucap Berti.
Cakra membiarkan tubuhnya dipukuli. Ia menutup pintu, lalu menguncinya. Kemudian dengan mudah, ia menangkis tangan Berti.
"Sakit, Mas," ucap Berti dengan mengusap pergelangan tangannya.
"Aku juga sakit. Kamu menamparku, lalu memukuliku."
"Kamu pantas untuk itu," kata Berti. "Mau apa kamu? Aku enggak bisa menolerir perbuatanmu. Aku mau kita bercerai sekarang juga."
"Aku normal!" ucap Cakra. "Aku sudah membuktikannya padamu. Sekarang kamu hamil, kurang perkasa apa aku?"
"Kamu sengaja menikahiku agar bisa menyembunyikan rahasiamu itu, kan?"
"Dengar dulu, Bert. Kamu itu salah paham. Aku enggak punya hubungan apa pun sama Ariel dalam hal seperti yang otakmu itu pikirkan. Aku mau mengungkapkan perasaanku, tetapi aku itu malu," tutur Cakra.
Berti terdiam. Ia ingin Cakra menjelaskan semuanya. Berti duduk di atas tempat tidur, sedangkan Cakra mendaratkan tubuhnya di sofa. Mereka saling berhadapan meski berjauhan.
__ADS_1
"Maaf kalau aku kurang mengerti perasaanmu. Jujur kalau aku itu menikahimu karena aku memang menginginkannya. Aku tidak mau menyentuhmu karena aku takut, Bert. Aku juga malu denganmu. Entahlah, rasanya aku gemetaran dan aku ingin kita sama-sama menerima satu sama lain," ungkap Cakra.
"Aku sudah menerima dari awal dan aku sudah mengatakannya," ucap Berti.
"Waktu pertama lihat kamu, aku memang tertarik, tapi aku takut buat kenalan."
"Di mana?" tanya Berti antusias.
"Di restoran waktu itu."
"Mas bohong," ucap Berti.
"Aku tidak pernah bohong," jawab Cakra.
"Terus?"
"Rupanya kita dijodohkan," sahut Cakra.
"Cuma itu?" tanya Berti.
"Selanjutnya kamu tahu sendiri."
Berti langsung melempar bantal kepada Cakra. "Mas jangan buat aku marah."
"Bert, aku memang enggak bisa bikin kata-kata romantis, tapi bagiku, kamu itu segalanya. Kamu istriku, pendamping hidupku di masa sekarang dan nanti," ucap Cakra seraya bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendekati Berti.
Cakra duduk berlutut di hadapan istrinya, meraih tangan yang sejak kemarin ingin ia kecup. Cakra melakukannya, mengecup lembut punggung tangan Berti, lalu beralih mengusap perut yang belum membuncit itu.
"Maafin aku, ya. Aku kurang perhatian, kurang bikin kamu senang. Aku bakal usaha supaya kamu bahagia hidup bersamaku," ucap Cakra.
Berti malah menitikkan air mata. "Kamu jahat."
"Iya, aku memang jahat."
"Kamu enggak cinta sama aku. Kamu cintanya cuma sama anak yang kukandung, kan?" ucap Berti.
"Kalian penting bagiku," jawab Cakra.
"Buktinya waktu aku suruh pilih anak atau istri, kamu pilih anak. Itu artinya, kamu enggak sayang sama aku."
"Bukan enggak sayang, Bert. Jika kamu suruh aku milih istri dan anak, ya, aku pilih anak karena anak itu anugerah. Anak tidak bisa dipilih karena dia hadiah. Sementara kamu adalah pilihan. Aku menerimamu sebagai istri karena aku menyukaimu. Untuk apa aku bertahan sampai sekarang kalau bukan karena aku ingin kamu menjadi pendampingku. Anak hadir karena kehendak kita berdua. Kamu mengandung karena hasil keputusan kita berdua yang ingin memiliki buah hati," tutur Cakra.
Berti mengangguk. "Maafin aku, Mas."
"Aku banyak salah sama kamu. Aku minta maaf," ucap Cakra.
"Aku banyak menuntut."
"Aku juga kurang peka dan menganggap remeh semuanya," ucap Cakra seraya beralih duduk di samping Berti. "Jangan begini lagi. Kamu itu penting bagiku."
Berti mengangguk. "Iya, Mas."
__ADS_1
Bersambung