Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Cuma Kenal Pria


__ADS_3

Perjalanan yang memakan waktu sekitar tiga jam, akhirnya, membawa Berti dan suami sampai di hotel yang telah direservasi sebelumnya. Ariel mengatakan jika ini adalah hotel langganan Cakra. Setiap ke Singapura, maka mereka akan menginap di sini karena lokasinya yang dekat dengan kantor.


Kamar yang dipesan sangat luas dengan fasilitas yang lengkap tentunya. TV, mesin pembuat kopi, bar serta kursi sofa lengkap dengan meja bundar. Belum lagi balkon yang menghadap ke penjuru kota Singa. Setidaknya Berti tidak akan bosan selagi menunggu Cakra pulang kerja.


"Aku ingin ke kantormu," kata Berti.


"Di sini aku membuat usaha kuliner. Kamu ingin berkunjung ke restoran yang kumiliki?" tanya Cakra.


Berti mengangguk. "Iya, aku ingin."


Rupanya Cakra membuka restoran di gedung plaza. Ia menyewa beberapa ruang kosong dan menjual makanan khas indonesia. Lebih banyak pada menu mie, ayam geprek, dan rendang.


"Istirahat dulu. Besok kita pergi sama-sama," kata Cakra.


Berti belum bisa untuk merebahkan diri di kasur. Ia menyusun pakaian lebih dulu ke dalam lemari yang telah tersedia. Sementara Cakra telah memejamkan mata di atas tempat tidur.


Malamnya, Cakra mengajak Berti untuk berwisata malam di Singapura. Keduanya berkunjung ke garden by the bay. Menikmati pertunjukan cahaya warna-warni serta musik.


Paling asik ketika keduanya berjalan santai seperti warga lokal pada umumnya lantaran Singapura termasuk negara yang aman untuk berkelana di malam hari.


Berti juga tidak menyangka jika Cakra mau mengajaknya keluar. Ia kira akan diam di kamar hotel saja, tetapi Cakra mengerti. Hal pertama yang ingin Berti lakukan ketika tiba di negara asing adalah jalan-jalan.


"Kita pulang, yuk," ajak Cakra.


"Nanti dulu. Belum juga puas main."


Cakra melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sudah dua jam. Kita harus pulang."


"Aku mau antri es krim," kata Berti.


"Tadi kamu makan apa? Bukannya es krim vanila?"


"Maunya yang cokelat. Soalnya enak," ucap Berti.


"Kenapa enggak beli sekalian, sih, tadi? Lagian antriannya panjang banget. Besok malam lagi saja."


"Mana kutahu kalau es krim itu enak."


"Yang namanya es krim sama saja. Manis dan enak. Kita pulang sekarang," kata Cakra yang melangkah lebih dulu.


Wajah Berti cemberut. Mau tidak mau ia menuruti langkah Cakra dari belakang. Mereka akan lama di Singapura. Masih ada banyak waktu hanya untuk berwisata kuliner.


Sampai di kamar hotel, Cakra lebih dulu membersihkan diri dan Berti menyiapkan pakaian ganti serta membuat teh hijau untuk suaminya.


Tidak lama Cakra keluar. Berti senang karena Cakra lupa membawa pakaian ganti ke kamar mandi. Suaminya itu dengan senang hati keluar dengan handuk yang melilit di pinggang serta handuk kecil yang disangkutkan ke pundak.

__ADS_1


"Aku sudah buatkan teh hijau," kata Berti seraya melangkah ke kamar mandi.


Cakra menyeruput habis teh itu kemudian duduk di sofa dengan menghabiskan bacaan yang belum habis ia baca. Buku setebal delapan ratus halaman baru setengah ia jajal.


Tidak lama Berti keluar. Namun, Cakra heran karena istrinya tidak memakai baju tipis transparan. Istrinya itu malah memakai setelan piama celana pendek. Sama halnya dengan Berti yang heran karena Cakra belum berpakaian.


"Biasa kamu pakai baju saringan itu. Kenapa sekarang malah pakai piama?" kata Cakra.


Berti tahu maksud suaminya itu. Rupanya ingin mengajak bermain olahraga ranjang. Memang kesempatan bagus untuk melakukannya di kamar hotel mewah ini. Namun sayang, Cakra harus menunda keinginannya itu.


"Tunda dulu untuk beberapa hari. Aku lagi kedatangan tamu," kata Berti.


"Tamu siapa?" tanya Cakra.


"Siklus bulanan."


"Kamu jangan bohong, dong. Masa gagal lagi. Sudah beberapa hari kamu menolakku."


"Mau periksa? Nih, silakan." Berti maju beberapa langkah mendekati Cakra dan suaminya mundur menjauh. "Lagian siapa yang nolak? Kamu sendiri sibuk dan langsung tidur saja habis kerja."


"Kapan datangnya?" tanya Cakra.


"Tadi malam."


"Terus kapan selesainya?"


"Dulu aku belum pandai," jawab Cakra.


Ada saja alasan Cakra untuk membungkam Berti. Mau menyanggah juga tidak bisa. Memaklumi sudah pasti jika pria itu mengungkit masa lalu.


Berat hati, tetapi apa daya jika sang istri berhalangan. Cakra mengambil pakaian yang tadi ia letakkan di sofa, kemudian membawanya ke kamar mandi.


Saat ia keluar dari bilik mandi, Berti sudah bergelung dalam selimut. Cakra ikut menyusul naik ke atas tempat tidur. Menatap istrinya yang telah memejamkan mata.


"Bert," panggilnya.


Namun, Berti tidak memperdulikan. Mau bagaimana lagi melayani Cakra jika dirinya saja tengah kedatangan siklus bulanan. Memakai bibir? Berti tidak sanggup melakukannya.


...****************...


Keesokkan paginya, Berti, Cakra dan Ariel, mengunjungi restoran mereka. Ketiganya juga sempat makan di sana. Berti memesan geprek telur asin serta keju yang memang rasanya sangat enak.


Cakra mengatakan koki yang memasak memang adalah orang Indonesia asli. Berti juga sempat mengunjungi dapur. Ia kagum karena cara mengulek sambalnya masih mengunakan kayu ulek. Sambal yang diulek dan diblender jelas terasa bedanya.


"Rencananya aku mau buat restoran ini di Hongkong. Di sana banyak warga kita yang bekerja. Mereka bisa menikmati hidangan nusantara," kata Cakra.

__ADS_1


Memang otak bisnis. Cakra seperti tahu celah mana saja yang ingin ia jadikan ladang uang. Berti cuma melongok ketika suaminya bicara panjang lebar. Hanya untuk masalah pekerjaan, Cakra bicara banyak.


"Cakra!"


Berti menoleh pada seorang wanita cantik yang berjalan mendekat. Namun, Cakra malah tidak ambil pusing dan mungkin tidak mendengar seruan itu. Ia tetap asik menyantap nasi rendang di depannya.


"Cakra! Rupanya kamu memang kamu," kata wanita itu.


Cakra memandang wajah wanita itu. Perempuan berambut panjang, memakai setelan celana pendek serta kaus oblong. "Kamu siapa, sih?"


Wanita itu tersentak. Sementara Berti menahan tawa. Sekuat mungkin ia mengigit lidahnya untuk tidak meledak.


"Aku ini Dewi. Teman masa sekolahmu. Kita satu SMA."


"Oh, salam kenal," kata Cakra.


"Hai," sapa Berti.


"Oh, kamu siapanya Cakra?" tanya Dewi.


"Aku istrinya."


"Cakra!"


Kali ini Cakra dan lainnya menoleh. Cakra tersenyum melihat seorang pria menghampirinya. Keduanya bahkan saling merangkul.


"Wah, liburan kemari juga?" ucap Cakra.


"Iya, sama istriku. Ini Dewi, teman sekolah kita dulu. Kamu masih ingat, kan?" kata Teguh.


"Oh, aku lupa."


Teguh malah tertawa. "Aku paham. Dia istrimu?"


Jelas karena Cakra cuma berteman dengan teman lelaki di sekolah. Sementara untuk perempuan, ia tidak dekat dengan mereka kecuali ada tugas yang mengharuskan bergabung bersama wanita.


"Iya, Berti namanya."


"Salam kenal," kata Teguh seraya mengulurkan tangan.


Berti menyambut uluran tangan itu. "Hai."


"Cakra, kamu lupa denganku?" tanya Dewi.


"Aku cuma ingat Teguh," kata Cakra.

__ADS_1


Dewi mendengkus. Berti yang tidak enak hati, mempersilakan keduanya duduk dan mengajaknya makan bersama. Akhirnya, ada teman juga di negeri Singapura ini.


Bersambung


__ADS_2