
"Berti!" teriak Cakra, lalu menyusul istrinya masuk kamar.
Berti sengaja menunggu suaminya masuk, lalu ia menantang Cakra yang berada di depan dengan raut wajah marah.
"Kamu berani mengumpat suamimu!" ucap Cakra keras.
"Kenapa?" tantang Berti. "Kamu lihat aku, Mas. Aku dandan cuma buat ikut kamu ke pesta, tapi kamu malah pergi sendiri tanpa memberi kabar."
"Ini masalah kecil. Jangan diperbesar."
"Kecil kamu bilang?" Berti tertawa sumbang. "Sebenarnya aku ini kamu anggap apa?"
"Kamu istriku," jawab Cakra.
"Istri? Kamu bilang aku istri?" mata Berti berkilat tajam. "Istri yang tidak pernah disentuh suaminya. Istri yang hanya menjadi pajangan di rumah. Istri yang hanya tercatat dalam buku nikah. Itu yang kamu bilang istri, huh!"
"Aku minta maaf karena tidak menghubungimu soal pesta. Sungguh, Bert. Aku minta maaf. Kita akhiri pertengkaran ini," ucap Cakra.
"Enteng banget kamu ngomongnya. Seolah masalah ini selesai begitu saja."
"Lantas kamu mau apa? Aku harus apa biar kamu enggak marah lagi?" ucap Cakra.
Berti menatap wajah suaminya yang sama sekali tidak peka, dan entahlah. Berti tidak tahu harus mengatakan apa kepada Cakra. Ia duduk di tepi tempat tidur. Cakra mengembuskan napas panjang, lalu keluar kamar.
Air mata Berti tidak tahan lagi untuk keluar. Setetes demi setetes, lalu meraung. Hatinya sakit tersayat-sayat. Sementara suaminya tidak peka sama sekali. Cakra malah keluar dari kamar dan Berti yakin suaminya itu akan tidur di ruang kerja malam ini.
Seharusnya Cakra membujuknya. Memeluk, mengucapkan kata-kata sayang dan cinta untuk meluluhkan suasana hati Berti. Ini tidak sama sekali. Cakra sudah dewasa. Mustahil pria itu tidak pandai dalam merayu seorang wanita.
Cakra kesal, ia masuk ke ruang kerja dan merebahkan diri di kursi kesayangannya. Ia kesal karena Berti yang marah-marah tidak jelas.
"Aku sudah minta maaf, dia malah marah. Aku sibuk berbincang dengan rekan bisnis di pesta tadi. Aku juga sibuk kerja. Dia sama tidak mengerti," gumam Cakra.
******
Setelah pertengkaran semalam, Cakra tidak tidur di kamar. Kegiatan itu pun berlangsung setelah beberapa hari. Cakra dan Berti tidak bertegur sapa. Berti tetap melayani suaminya, tetapi mulutnya terkunci untuk bicara.
__ADS_1
Hari-hari itu berlanjut. Cakra memutuskan tidur di kamar bawah. Baju-baju juga dipindah di sana. Berti tidak mengatakan apa pun saat Minah membereskan semua barang milik suaminya. Itu keputusan Cakra dan ia malas lagi untuk berdebat.
"Bi, apa semua barang saya sudah dipindahkan?" tanya Cakra.
"Sudah, Tuan," jawab Minah.
"Nyonya sudah makan?"
Minah menggeleng. "Nyonya belum pulang, Tuan."
"Mobilnya ada," kata Cakra.
"Oh, tadi pagi nyonya dijemput sama nona Sari."
Cakra mengangguk. "Mungkin dia makan malam bersama sahabatnya."
Cakra melambaikan tangan agar Minah pergi dari hadapannya. Ini kali pertama Cakra tidak makan bersama Berti. Meski mereka puasa bicara, istrinya itu tetap memasak dan menemaninya makan malam.
"Dia butuh senang-senang kali," gumam Cakra.
"Kalau enggak mau makan, jangan diaduk-aduk begitu," tegur Sari.
"Aku lelah. Aku ingin cerai," ucap Berti.
Sari tersedak minum mendengar pernyataan sahabatnya. Ia terbatuk-batuk dan Berti segera bangun dari duduknya, lalu mengusap punggung sahabatnya itu.
"Minumnya hati-hati, dong," ucap Berti.
"Sudah, aku baik-baik saja."
Berti duduk di kursinya lagi. Sari menyeka bibir dengan tisu, lalu meneguk air putih di dalam gelas sampai habis, barulah ia merasa tenang.
"Coba katakan lagi. Kamu bercanda, kan?"
"Aku serius. Aku ingin cerai saja dengan Cakra. Aku lelah berurusan dengannya," tutur Berti.
__ADS_1
"Kamu pikir, pernikahan itu sama dengan pacaran? Ya, jelas beda, Bert."
"Aku yakin kalau Cakra setuju dengan keputusanku."
"Ish, kamu itu serius dikit. Jangan bercanda enggak jelas gini. Gimana orang tuamu? Mereka berharap kamu punya anak. Hidup bahagia. Terus apa alasan kamu buat cerai? Hanya karena Cakra cuek? Yang ada malah kamu yang disalahkan," tukas Sari.
"Kenapa aku yang disalahkan? Aku akan mengatakan dengan jujur masalah rumah tangga kami."
"Memangnya Cakra selingkuh? Dia main kasar sama kamu? Uang pemberiaannya enggak cukup? Semua itu enggak, kan? Aku yakin jika kamu mengatakan semua itu, maka orang tuamu akan bilang kamu sebagai istri tidak becus memikat hati suami," ucap Sari.
"Bicara denganmu malah membuat hatiku makin jengkel," kata Berti.
"Hei! Aku ini memberimu petuah. Pikir baik-baik tentang rencana perceraianmu itu."
"Sudah malam, kita pulang, yuk," ajak Berti. "Makanannya biar aku yang bayar."
Sari mengangguk. Keduanya bangkit berdiri menuju kasir. Berti memberi uang pas untuk membayar, lalu mereka keluar menuju mobil.
Dalam perjalanan, Berti diam saja. Sari tidak ingin mengganggu sahabatnya. Ia biarkan Berti untuk sendiri. Sari yakin jika sahabatnya itu tengah memikirkan keputusan terbaik yang diambil untuk rumah tangganya.
Mobil dikendarai Sari sampai di rumah mewah. Berti membuka sabuk pengamannya, lalu keluar. Sari menurunkan kaca mobil.
"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Sari.
Berti tersenyum. "Aku baik-baik saja. Kamu hati-hati di jalan."
Sari mengangguk. "Iya. Dah."
Penjaga rumah membuka gerbang. Berti baru masuk setelah mobil Sari hilang dari pandangannya. Hari ini, Berti sengaja pulang telat. Ia juga melihat mobil Cakra yang terparkir di luar. Kebiasaan suaminya yang enggan mengunakan sopir. Kalaupun ingin, maka Cakra tinggal menelepon sopir di rumah orang tuanya.
Berti memencet bel dua kali. Tidak lama pintu terbuka. Kali ini bukan Minah yang membuka, tetapi suaminya. Berti memalingkan wajah, lalu masuk ke dalam. Terdengar pintu ditutup. Cakra tidak menegur, padahal Berti siap untuk mendengar ceramah yang akan suaminya berikan. Namun, tidak terjadi apa-apa. Cakra malah melangkah masuk ke ruang kerja.
Berti tersenyum getir. Ia tahu jika suaminya tidak akan pernah peduli meski ia pulang larut malam atau terlambat. Mungkin juga Cakra sungguh tidak peduli tentang apa yang Berti buat di luar sana.
Ia punya suami, tetapi seperti tidak memiliki. Berti dan Cakra kini menjadi orang asing yang tidak saling sapa dan hidup sendiri. Semenjak suaminya memutuskan untuk pindah kamar, Berti tidak lagi melayaninya. Hanya sarapan dan makan malam saja. Namun, mulai malam ini, Berti tidak akan melakukan tugasnya sebagai istri. Mulai malam ini, Berti akan meminta asisten rumah tangganya yang mengurus Cakra.
__ADS_1
Bersambung