Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Junior


__ADS_3

Pagi hari pun kondisi Berti tidak membaik. Cakra sampai harus memanggil mertua serta ibunya untuk datang ke rumah menjenguk sang istri. Hari ini ia ada rapat dan tidak dapat menemani Berti yang tengah sakit.


"Kamu bawa dulu istrimu ke rumah sakit," kata Widya.


"Mama, kan, ada. Aku beneran enggak bisa hari ini. Masa jadwalku harus diundur," ucap Cakra.


"Kerjaan saja yang kamu pikirkan. Bawa istrimu ke rumah sakit. Istrimu muntah-muntah begitu. Siapa tahu menantu Mama itu tengah hamil."


"Hah, hamil?" tanya Cakra.


"Kamu langsung bawa Berti ke rumah sakit. Ayo, Cakra. Perhatian sama istri. Apa kamu enggak malu sama mertuamu? Berti itu putri mereka satu-satunya. Segala perhatian selalu tercurah untuknya, sedangkan kamu cuek begini," tutur Widya.


"Cakra pesan nomor antrian dulu."


Cakra lekas menelepon rumah sakit untuk mendaftar lebih dulu. Memberitahu nama asli istrinya serta tanggal lahir yang sayangnya pria itu lupa. Untungnya Widya mengingatkan kunjungan mereka waktu di Bali, dan Cakra ingat tanggal ulang tahun istrinya itu.


"Mama suruh Berti siap-siap dulu sana," kata Cakra.


"Mama sama ibumu ikut juga."


"Berti yang sakit kenapa Mama mau ikut?"


"Mama mau ikut," desak Widya.


"Mending Mama pergi belanja. Kan, kata Mama Berti hamil."


Widya mendengkus. "Kurang diajar, nih, anak."


Cakra tidak memperdulikan ucapan Widya. Ia lantas menelepon Ariel dengan mengabarkan jika tidak akan datang ke kantor, dan sementara rapat penting itu ditunda serta jadwal yang tersusun harus diubah kembali.


Widya naik ke lantai atas menemui Berti dan ibunya. Santi yang perhatian mengolesi minyak kayu putih di perut dan punggung anaknya seraya memberi pijatan lembut.


"Nak, ayo, siap-siap. Kita ke rumah sakit," kata Widya.


Berti menggeleng. "Berti baik-baik saja, Ma. Lagian Berti malas mau keluar."


"Kita periksa dulu, Nak."


"Iya, Sayang. Wajahmu pucat dan makanmu kurang. Kita ke rumah sakit saja," sahut Santi.


"Ibu siapkan keperluannya. Aku panggil Cakra buat kemari," kata Widya.


Santi mengiakan permintaan besannya. Menyiapkan pakaian ganti buat Berti serta membawakan bekal seperti tisu kering serta minyak kayu putih.


Cakra yang dipanggil lantas naik ke atas. Berti tengah bersiap berganti pakaian. Memperbaiki rambutnya yang kusut, dan menyempatkan mengolesi bibir pucatnya dengan lipstik merah.


"Kita ke rumah sakit, Bert. Bukan ke mal," tegur Cakra.

__ADS_1


"Kamu ini cemburu kalau istrimu dilirik orang," kata Widya.


Cakra terdiam, lalu ia segera meraih tangan Berti serta membawa tas bahu milik istrinya. "Mama dan Ibu di sini saja sampai kita pulang."


"Iya, kalian pergilah. Mama dan Ibu pergi belanja dulu," kata Widya.


Keempatnya keluar dari kamar. Cakra menuntun Berti menuruni anak tangga satu per satu. Ia memperhatikan kondisi sang istri yang lemah karena sarapan pagi tadi, Berti kembali muntah.


"Kita periksa dulu, ya," ucap Cakra.


Berti menatapnya, lalu mengangguk. "Iya, Mas."


"Ganti dulu sandal istrimu, Cakra," tegur Widya.


Jangan dilupakan jika Berti masih memakai sandal bulu khusus di dalam rumah. Cakra menuju rak sepatu yang ada di garasi kemudian mengambil sandal jepit untuk istrinya.


"Kok, sandal jepit, sih?" protes Berti.


"Kamu mau pakai sepatu berhak tinggi itu?" kata Cakra.


"Yang lain, kan, ada."


"Pakai ini saja. Ini lebih nyaman untukmu," kata Cakra yang langsung memasangkan sandal itu di kaki Berti. "Ayo, jalan. Kita bisa kesiangan nanti."


Widya dan Santi cuma bisa menggelengkan kepala melihat anak serta menantunya. Yang satu biar sakit harus tetap cantik dan satu lagi selalu terburu-buru, seperti dikejar waktu.


"Semoga Berti hamil, ya, Bu," ucap Widya.


Sesampainya di rumah sakit, keduanya langsung menuju ke bagian pemeriksaan kandungan. Di sana mereka menunggu lagi sampai giliran dipanggil.


"Kayaknya bakal lama, nih," kata Cakra.


"Makanya, kamu buat rumah sakit sendiri," celetuk Berti.


"Aku kenal sama Direktur rumah sakit ini. Dia teman papa dan anaknya temanku."


"Terus kenapa kita harus antri?"


"Haruslah, kan, kita cuma periksa. Kalau darurat baru kita disiapkan kamar khusus," ucap Cakra.


"Kenapa aku dibawa ke dokter kandungan?" tanya Berti.


"Kata mama kamu hamil."


"Hamil?" Berti malah kaget.


"Kita periksa dulu," kata Cakra.

__ADS_1


Jantung Berti malah berdetak kencang. Gugup melanda juga takut jika nyatanya ia hanya masuk angin biasa. Namun, rasa penasaran itu juga membuncah agar dokter segera memeriksa dirinya.


Berti memberitahu keluhannya dulu kepada perawat yang berada di depan ruangan dokter. Segala pertanyaan Berti jawab termasuk kapan terakhir ia tengah kedatangan tamu bulanan.


Ketika gilirannya dipanggil, tangan Berti menjadi dingin. Dokter menyuruhnya untuk langsung berbaring di atas ranjang pasien. Namun, ada yang uring-uringan melihat istrinya diperiksa. Pasalnya dokter yang memeriksa adalah seorang pria. Salah Cakra sendiri yang tidak menanyakan nama dokter itu ketika menelepon pihak rumah sakit. Ia langsung mendaftar saja dokter yang praktik pagi ini.


Dokter itu tersenyum. "Selamat, ya, Bu. Anda hamil."


"Sungguhan, Dok?" tanya Berti.


"Iya, ini, coba Ibu lihat bulatan hitam yang kecil ini," ucap Dokter. "Apa ini anak pertama?"


"Iya, Dok. Ini kehamilan pertama bagi saya."


Dokter itu tersenyum kemudian meletakkan alat USG di tempatnya dan menyuruh perawat wanita membantu Berti bangun dari ranjang pasien.


"Selamat, Pak. Istri Anda hamil," ucap Dokter dengan mengulurkan tangan.


Cakra menyambut uluran tangan itu. "Terima kasih, Dokter."


Berti duduk di samping Cakra, memberitahu keluhannya kepada dokter apa yang ia alami. Dokter segera menulis resep serta memberi saran yang berkaitan dengan ibu hamil.


"Terima kasih, Dokter. Kami permisi dulu," ucap Cakra.


"Iya, sama-sama," balas Dokter.


Keduanya keluar dari ruangan pemeriksaan. Cakra dan Berti langsung menuju bagian pengambilan resep serta adminitrasi yang jaraknya berdekatan.


"Mas, aku hamil," ucap Berti yang asik memandang hasil USG di tangannya.


"Kita punya anak," sahut Cakra.


Berti merebahkan kepalanya di pundak sang suami. "Keluarga kita pasti senang."


"Iya," jawab Cakra seraya menyingkirkan kepala Berti. "Banyak orang kamu malah pengen dipeluk."


"Pokoknya hari ini Mas jangan ke kantor. Sama aku saja di rumah," kata Berti.


"Hari ini aku akan di rumah."


Cakra beranjak dari duduknya ketika nama Berti dipanggil. Vitamin serta obat mual sudah didapat. Keduanya langsung keluar dari gedung rumah sakit.


Sampai di mobil, Berti tidak melepas pegangan tangan suaminya. Cakra terpaksa harus menyetir dengan mengandalkan sebelah tangannya.


"Aku senang banget hari ini," ucap Berti.


Cakra menoleh pada istrinya, lalu mengecup punggung tangan Berti, dan tentu saja itu merupakan satu kejutan. "Iya, aku juga."

__ADS_1


Meski tanpa ucapan romantis, tapi Berti senang dengan perlakuan suaminya hari ini. Mungkin anak dalam kandungannya membawa berkah bagi hubungan keduanya.


Bersambung


__ADS_2