Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Perayaan


__ADS_3

"Minah, ada angin apa si Cakra pulang cepat?" tanya Widya. "Biasanya dia tidak akan pulang sebelum waktu pulang kantor. Hidupnya itu terlalu terencana."


"Saya kurang tau, Nyonya. Tapi saya dengar sedikit waktu tuan bicara sama nyonya Berti."


"Mereka bertengkar? Apa Berti terluka?" tanya Widya beruntun.


"Bukan, Nyonya," jawab Minah. "Tuan bilang dia mau bikin anak. Itu, sih, yang saya dengar."


"Buat anak?" Widya tersenyum sembari menutup bibirnya. "Kayaknya memang benar lagi buat anak. Ayo, kita masak buat mereka berdua."


"Saya sudah masak, Nyonya."


Widya mengibaskan tangannya. "Kita buat sup tulang daging. Aku juga harus bikin susu buat Berti. Ah, harus pesan jamu buat Cakra."


Widya panik sendiri. Ia merogoh ponsel di dalam tas, lalu menelepon seseorang di sana. Tidak tahu apa yang dibicarakan. Yang Minah lihat, Widya senyum-senyum sendiri dan tampak bahagia.


"Ayo, Bibi. Kita masak makanan spesial untuk malam ini. Aku juga sudah pesan jamu untuk mereka," ucap Widya.


Minah mengiakan saja. Wajar Widya merasa bahagia karena selama ini selalu menganggap Cakra tidak bisa mencintai seorang wanita. Rupanya Cakra berhasil melaksanakan tugasnya sebagai seorang suami.


Di dalam kamar, Cakra dan Berti masih belum melakukan apa pun. Mereka tetap duduk di atas tempat tidur tanpa bicara. Malu dan canggung menjadi satu.


"Mama datang," kata Cakra membuka pembicaraan. Lebih mudah membicarakan persentase bersama karyawan daripada bicara pada istri sendiri.


"Aku mandi duluan."


"Tunggu," cegah Cakra ketika Berti ingin turun dari tempat tidur.


"Apalagi? Mama menunggu kita," ujar Berti.


"Tadi kamu menikmatinya tidak?" tanya Cakra.


Berti mengerti alasan dari Cakra. Rupanya suaminya ini merasa tersinggung atas ucapannya tadi pagi. Memang pria mana pun bila bicara soal ketangguhan, maka akan sensitif.


"Lumayan," jawab Berti, lalu turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.


Cakra menjatuhkan diri di tempat tidur sembari menatap langit-langit kamar. Terngiang-ngiang ucapan Berti barusan. Setidaknya sudah ada kemajuan dari gerakan yang pertama. Dengan ini Berti juga tidak akan menginginkan perceraian lagi darinya.


"Tinggal menunggu Berti hamil setelah itu aku bisa fokus pada pekerjaan lagi. Sepertinya aku perlu menata ulang jadwalku," gumam Cakra.


Dalam kamar mandi, Berti juga merasa suaminya itu sudah ada kemajuan. Ia senang karena Cakra menyempatkan pulang cepat demi untuk bersamanya.


"Pura-pura enggak merasa tertarik sama istri sendiri. Buktinya ketagihan," gumam Berti.


Ia berputar ke kiri dan kanan melihat tubuhnya di cermin. Tidak ada yang bisa memalingkan wajah dari seorang wanita cantik termasuk manusia batu seperti Cakra. Pria normal akan luluh dihadapkan pada kenikmatan tubuh seorang wanita.

__ADS_1


"Aku harus mandi cepat. Mama menunggu di bawah," kata Berti yang baru ingat ada ibu mertuanya.


Selepas membersihkan diri, Berti menyiapkan baju ganti dulu untuk Cakra, lalu keluar dari kamar. Ketika menuruni anak tangga satu per satu, ia mendengar suara riuh di lantai bawah.


"Ibu, Ayah, kapan datang?" tegur Berti.


"Barusan, Nak," ucap Santi dengan senyum lebar. Ia mengusap rambut panjang Berti yang masih basah.


"Minum susu dulu, Sayang." Widya menyodorkan satu gelas susu pada menantunya.


Berti mengambil gelas itu dengan wajah yang bingung. Ada apa sebenarnya? Ada acara apa? Kenapa ia tidak tahu apa pun? Mertua dan orang tuanya datang ke rumah.


"Kamu enggak terluka, kan, Sayang?" tanya Santi.


Berti menggeleng. "Tidak. Memangnya Berti terluka kenapa?"


"Minum dulu susunya, Sayang," Widya menyela.


Berti meneguk habis susu itu. Ia disuruh duduk di sofa, lalu Santi memijit pundak dan lengannya sambil tersenyum. Sementara ayah dan papa mertuanya malah asik mengobrol.


"Bu, ini ada apa sebenarnya?" tanya Berti.


"Mama masakin kamu sup tulang. Kamu harus makan. Besok Mama harus belanja buat kalian berdua. Kamu harus banyak makan ikan biat cepat jadi," kata Widya.


"Jangan lupa beli tiram, pisang, sama almond buat Cakra," sahut Santi.


Sepertinya Berti paham dengan apa yang terjadi. Ini adalah perayaan tentang dirinya yang telah menjadi istri Cakra sepenuhnya. Masalahnya, apa harus sampai heboh begini? Lalu, dari mana mereka tahu Berti dan Cakra telah melakukannya?


Cakra yang baru turun juga heran karena kedatangan mertua dan ayahnya. Langsung saja ia bergabung dengan kedua pria yang tengah mengobrol.


"Ayah apa kabar?" tanya Cakra.


Ilham menepuk pundak menantunya. "Ayah baik. Bagaimana hubunganmu sama Berti? Kalian baik-baik saja, kan?"


"Iya, kami baik-baik saja."


"Bagus. Ayah senang mendengarnya."


"Kebahagian kita akan semakin lengkap dengan hamilnya Berti nanti. Aku tidak sabar untuk nimang cucu," sahut Adhitama.


Ilham tertawa. "Sama kalau begitu. Kita harus tetap sabar."


Cakra menoleh pada istrinya yang tengah disuapi buah alpukat oleh ibunya. Sekarang Cakra menyesal telah menghubungi mamanya tadi pagi. Seharusnya ia tidak bertanya mengenai obat luka, dan bisa dilihat jika Widya sudah mengetahuinya, maka kehebohan itu akan terjadi.


Waktu makan malam tiba, Berti dan Cakra cuma duduk karena kedua mama mereka yang melayani. Mereka disuruh makan banyak, minum susu lagi serta buah yang membuat Cakra merasa diperlakukan seperti anak kecil.

__ADS_1


"Mama," seru Dafa yang berlari dengan menenteng kantong plastik hitam.


"Untung kamu cepat datang. Dapat jamunya?" tanya Widya.


"Antri panjang. Untung Dafa sudah pesan duluan."


"Sudah dicampur telur bebek, kan?" tanya Widya.


"Beres," sahut Dafa.


Widya mengambil bungkusan itu dari tangan Dafa. Membawanya ke dapur dan menyalinnya. Tidak lama ia datang dengan gelas di tangan kemudian meletakkan jamu itu di depan Cakra.


"Habiskan," perintah Widya.


"Apa ini?" tanya Cakra yang menghirup aroma khas jamu dan ia tidak menyukainya.


"Buat kamu. Ayo, diminum," desak Widya.


"Cakra enggak suka."


"Minum. Ini juga buat kamu."


Tidak ingin membuat kegaduhan, Cakra meneguk habis minuman yang dibeli Dafa. Cukup satu kali ia diperlakukan seperti ini demi membuat senyum terbit di bibir orang tua dan mertuanya.


"Kalau kamu tau khasiatnya, pasti bakal nagih minum jamu itu," celetuk Adhitama.


Widya tertawa. "Ya, ampun, Papa. Bikin malu saja."


"Sudah malam, sebaiknya kita pulang. Kita tidak boleh menganggu anak-anak," sahut Santi.


"Benar, Jeng. Sebaiknya kita pulang. Besok kita ke sini lagi."


"Apa?" sahut Cakra.


Widya menaikkan alisnya. "Kenapa? Enggak boleh Mama ke rumahmu?"


"Boleh, dong, Mama," jawab Cakra cepat.


Kedua orang tua dan mertua pamit pulang. Suasana rumah kembali hening dengan Berti yang langsung naik ke kamar. Sementara Cakra yang ingin memeriksa berkas pekerjaan malah merasakan hawa tubuhnya yang memanas. Ia keluar dari ruang kerja dan lekas naik ke kamar atas.


"Bert!" panggilnya.


Berti yang tengah bersalin baju kaget. "Ada apa?"


Cakra mengunci pintu kemudian berjalan menghampiri istrinya. "Kita buat anak lagi."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2