
Demi menepati janji pada sang istri, Cakra mengatur jadwal kerja untuk minggu depan. Ariel sebagai asisten begitu rumit untuk menyusun ulang karena masalahnya rutinitas yang tersusun rapi itu harus diubah secara mendadak.
"Jumat Tuan berangkat dan Minggu pulang dari Bali. Nah, Senin depan jadwal penuh," kata Ariel.
"Jadwal kerja saja kamu susun bukan kegiatanku di rumah," sahut Cakra.
"Kan, jadi satu, Tuan."
Karena tidak ada bedanya bagi Cakra. Mau di rumah atau perusahaan, ia tetap bekerja. Tentu saja Ariel begitu heran ketika atasannya mengatakan untuk membedakan jadwal itu.
"Minggu depannya lagi kita kunjungan ke Singapura, Tuan. Ini sudah rutin. Kita akan di sana selama dua sampai satu bulan," kata Ariel.
"Selama itu?" tanya Cakra, seakan jadwal yang tersusun adalah hal aneh.
Ariel mengerutkan keningnya. "Sekalian kita ke Malaysia. Bukannya Tuan yang menyusun agenda ini?"
Cakra mengibaskan tangannya. "Keluarlah dulu."
Ariel menganguk kemudian undur diri dari ruang kerja atasannya. Cakra bersandar di kursi kebesarannya. Ia memijat kening sembari memikirkan jadwal yang begitu padat sampai bulan depan.
Jika ke luar negeri artinya, Cakra akan berpisah dari Berti. Entah mengapa untuk berjauhan rasanya tidak mungkin terlebih tadi malam mereka melakukan lagi kegiatan yang membuat Cakra begitu puas.
"Apa karena masih baru, ya? Aku jadi ketagihan melakukannya," gumam Cakra.
Ia menggeleng, mengembuskan napas berat. Memang lebih baik tidak memikirkan atau mengingat kegiatan yang membuat dirinya lupa pada kewajiban yang lain.
"Fokus, Cakra," ucapnya pada diri sendiri.
Sialnya wajah dan suara Berti terlintas begitu saja di pikirannya. Terlebih ekspresi yang istrinya tunjukkan ketika ia menghunjam tubuh indah itu. Cakra beranjak dari duduknya, lalu berjalan menuju kamar mandi. Ia basuh wajahnya dengan air dingin yang mengalir.
"Malah ingat yang semalam," gumam Cakra kesal seraya menepuk kedua belah pipinya.
Cakra keluar dari kamar mandi. Hari ini ia tidak akan pulang cepat karena ada setumpuk berkas yang harus ditandatangani. Sekeras apa pun ia ingin agar Berti berada di depannya saat ini, Cakra harus bisa fokus pada pekerjaan.
Lain halnya dengan sang istri yang sangat bersemangat dalam bekerja. Ia menuntaskan pekerjaan secepat mungkin demi pulang lebih awal dan mempersiapkan keberangkatannya menuju Bali.
Kenangan semalam terngiang-ngiang dan ia tidak sabar memimpikan hal demikian ketika berada di pulau dewata nanti. Sari dan Arjuna akan pergi lebih dulu demi tidak menimbulkan kesalahpahaman dan di sana nantinya Berti akan memberitahu kepada Cakra kalau sebenarnya ia dan Arjuna tidak punya hubungan apa pun.
"Bu, ini laporan pemasukan barang dan pengeluaran untuk bulan ini," kata Yuni.
"Ini berkas yang kemarin. Segera diinput dan diberikan laporannya padaku," ucap Berti seraya menyerahkan berkas pada sekretarisnya. "Ini laporan stok barang?"
__ADS_1
"Iya, Bu," sahut Yuni.
"Segera pesan barang yang tidak ada dan untuk yang masa kadarluwarsanya mau habis, kita adakan promo beli satu gratis satu. Segera adakan rapat juga untuk promosi ini."
"Siap, Bu. Saya akan siapkan materinya."
"Pastikan hari Senin sudah siap," kata Berti.
Yuni mengangguk. "Baik, Bu."
Berti tidak pernah merasa bersemangat seperti ini. Rasanya pekerjaan sangat ringan. Mungkin juga karena perlakuan terakhir ini yang Cakra berikan untuknya.
"Nanti sore mau masak yang spesial buat Cakra. Dia pasti jatuh cinta dan enggak mau jauh dariku," gumam Berti dengan senyum bahagia.
...****************...
Pulang kantor, Berti tidak menemukan suaminya. Berti kira Cakra akan kembali cepat seperti sebelumnya, tetapi ini bagus juga untuk Berti karena ia ingin menyiapkan sesuatu yang spesial untuk suaminya.
"Hari ini kita masak saos tiram saja, Bi," ucap Berti.
"Pakai jagung, Nyonya?" tanya Minah.
Minah tersipu malu. "Supaya tokcer, Nyonya."
Berti terperangah. "Tokcer?"
"Masa Nyonya enggak tahu. Biar cepat jadi."
Giliran Berti yang malu. "Bibi bisa saja. Semoga cepat hamil. Biar orang tua dan mertua pada senang. Cakra juga sudah enggak sabar agar aku secepatnya mengandung."
"Amin," ucap Minah.
Asik memasak tidak terasa waktu menunjukkan pukul setengah enam sore. Namun, Cakra belum juga kembali. Tidak seperti biasa suaminya akan telat pulang.
Ditunggu-tunggu akhirnya, Cakra pulang di pukul tujuh malam. Wajah lelah suaminya begitu kentara. Berti segera menyiapkan air mandi serta pakaian ganti.
"Besok, aku ke kantor dulu sebentar selepas itu kita berangkat ke Bali," kata Cakra.
"Kamu sudah pesan tiketnya?" tanya Berti.
Cakra mengangguk. "Sudah."
__ADS_1
Berti tersenyum. Cakra menepati janjinya. "Aku akan siap-siap."
"Aku mau makan," kata Cakra.
"Ayo, Sayang, kita makan. Aku sudah siapin makanan istimewa untuk malam ini."
"Aku mandi dulu."
Berti menyenggol tubuh Cakra dengan lengannya. "Oh, iya. Kamu mandi dulu sana."
Cakra menaikkan sebelah alisnya. Ada yang aneh pada Berti saat ini yang tengah tersenyum dan bertingkah seperti anak kecil. Cakra tidak menghiraukan istrinya dan langsung saja melangkah masuk ke kamar mandi.
Berti mendengkus. "Ish, masa enggak ngerti, sih? Aku, kan, lagi kasih kode."
Ia menghentakkan kakinya kesal, lalu keluar dari kamar. Maksud hati ingin bermain dulu sebentar sebelum Cakra pergi mandi. Tapi suaminya itu tidak akan peka jika tidak diberitahu secara langsung.
Dua piring nasi habis dilahap Cakra. Masakan istimewa yang disiapkan istrinya memang lezat. Berti pun senang melihatnya meski Cakra tidak melontarkan kata pujian untuknya.
Selepas makan, Berti mengepak barang untuk keberangkatan besok sore. Sengaja ia membawa gaun malam serta pakaian renang yang lebih banyak.
"Kemarin waktu di Swiss, kami cuma tiduran tanpa melakukan apa-apa. Di Bali nanti, aku bakal buat bulan madu yang aku impikan menjadi nyata," gumam Berti.
Bagai berada di taman yang dipenuhi bunga warna-warni. Berti menyanyi sambil memasukkan baju ke kopernya dan Cakra. Tanpa sadar sang suami telah masuk ke dalam kamar dan memandangnya heran.
"Biasa dia marah-marah. Tapi kenapa sekarang dia malah merasa senang?" gumam Cakra.
Ia berdeham. Berti yang melihat kedatangan suaminya, lantas berlari memeluk Cakra. Mengecup kedua pipi pria itu seraya mengucapkan terima kasih.
"Kamu kenapa, sih?" tanya Cakra.
"Aku lagi bahagia," ucapnya.
"Oh," jawab Cakra dengan melepas pelukan istrinya. "Aku mau tidur. Jangan lupa buat matiin lampunya."
Berti mengangguk. "Setelah aku selesai beresin pakaian kita."
Cakra tidak menanggapi. Ia merebahkan diri di atas tempat tidur dan langsung memejamkan mata. Lelah bekerja serta perut yang kenyang membuat rasa kantuk itu datang begitu cepat.
Sementara Berti, tidak bisa tidur sama sekali. Ia ingin hari berganti dengan cepat. Ingin merasakan bulan madu yang sesungguhnya bersama suami yang telah mengisi hatinya.
Bersambung
__ADS_1