
Akhirnya, masalah ini sampai di telinga orang tua lantaran Berti yang bertekad untuk pulang ke rumah ibu dan ayahnya. Dengan terpaksa Cakra mengantar istrinya pulang, dan tentunya hal itu membawa bahan pertanyaan bagi keduanya.
Cakra yang tiba-tiba pulang dari luar negeri, lalu Berti yang datang dengan menangis sembari mengutarakan niatnya untuk berpisah dari suaminya.
"Sabar, Bert. Tenangkan dirimu, Nak. Jangan main ucapkan cerai saja," ucap Santi.
"Ibu sama saja. Enggak ngerti perasaanku. Selama ini aku tersiksa, Bu," kata Berti.
"Bawa Berti masuk kamar dulu, Bu. Dia lagi hamil. Suruh dia istirahat," ucap Ilham.
Santi mengangguk, dan segera membawa putrinya ke kamar tamu lantaran kamar tidur Berti sebenarnya ada di atas.
"Nak, ada apa ini?" tanya Ilham.
Cakra mengusap wajahnya dengan kasar. "Enggak ada apa-apa, Ayah. Berti mungkin lagi marah saja."
"Enggak mungkin dia minta cerai begitu saja. Ada apa ini? Kamu juga tiba-tiba pulang cepat."
Sebenarnya Cakra malas untuk mengatakan masalah rumah tangganya. Namun, ini sudah terlanjur basah. Berti juga pasti tengah menceritakan semuanya pada sang ibu.
"Berti protes kalau aku kerja terus. Dia juga minta kerja lagi, tapi aku melarangnya. Ini memang salahku yang kurang perhatian," ucap Cakra.
"Ada apa dengan anak itu. Nanti Ayah bicara padanya."
"Sudahlah, Ayah. Jangan dimarahi istriku. Cakra titip dia dulu di sini. Besok, kalau amarahnya sudah mereda akan Cakra bawa pulang."
Ilham mengangguk. "Kamu menginap di sini saja."
"Kalau Cakra di sini, Berti pasti marah lagi. Pagi-pagi Cakra datang. Kalau ada apa-apa, Ayah bisa telepon."
"Kamu jangan khawatir soal itu."
Cakra beranjak dari duduknya. Sebelum pergi, ia menoleh pada kamar yang tadi dimasuki oleh Berti. Cakra tidak ingin membongkar kejadian yang baru saja ia dapatkan dari Dafa atau mengatakan kalau ia mendengar sebuah mobil yang mengantar istrinya pulang.
"Cakra pulang, Ayah," pamitnya.
"Hati-hati, Nak."
Langkah Cakra memang berat untuk meninggalkan Berti. Namun, apalah daya jika ia bersikeras untuk bersama istrinya, maka Cakra takut hal itu akan berpengaruh pada kondisi janin yang dikandung Berti.
__ADS_1
Sementara di kamar, Berti masih menangis dengan Santi yang terus menenangkannya. Ilham masuk kamar melihat kondisi putrinya itu.
"Ibu temani Berti dulu. Besok saja kita bicara," kata Ilham.
"Cakra mana?" tanya Santi.
"Dia pulang. Besok pagi dia kemari."
"Ada apa sebenarnya. Apa Cakra selingkuh di luar negeri sana?"
"Pikiranmu, Bu."
"Lalu apa, sampai Berti ini mau pisah," kata Santi.
"Besok saja kita bicara," sahut Ilham. "Sudah, Nak. Jangan nangis lagi. Kasihan calon anakmu."
Santi mengusap punggung Berti. "Ayo, Sayang. Kita tidur."
Perlahan Santi merebahkan Berti. Menyelimuti putrinya, lalu mengusap puncak kepala sang anak agar lebih tenang.
Sementara Cakra yang mengendarai mobil harus terima jika malam ini tidak bisa memeluk Berti. Kali ini, ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
...****************...
Cakra dan Berti disidang oleh keempat orang tua mereka. Ini kali kedua Berti meminta cerai pada suaminya. Bila masih diperbaiki, bukankah lebih baik kembali bersama.
"Kamu lagi hamil, Nak. Mama tahu mungkin kamu dongkol pada Cakra yang kurang perhatian. Dia memang anaknya begitu, Sayang. Mama yakin dia bisa berubah nantinya," ucap Widya.
"Enggak sesederhana itu, Mama. Bersama Cakra aku makan hati. Dari awal pernikahan sampai sekarang dia tidak pernah tahu apa mau Berti."
"Sebagai seorang istri, kita harus patuh pada suami," kata Widya. "Cakra menginginkanmu diam di rumah dan berhenti bekerja itu karena ia merasa mampu sebagai suami. Untuk kekurangannya, bukankah setiap pasangan itu harus menerimanya? Betul tidak, Pak, Bu?" tanya Widya pada besannya.
Seperti inilah hal yang Berti dapatkan karena orang tua maupun mertuanya begitu memaklumi sifat Cakra. Mereka tidak tahu bagaimana menjadi Berti yang bersuamikan seorang Cakra.
"Berti tetap pada keputusan awal. Berti mau pisah dengan Cakra. Kalian semua enggak tahu apa yang kurasakan."
Berti mengatakan segalanya kepada mertua serta orang tua Cakra. Semua dari awal sampai akhir, kecuali hubungannya bersama Banyu akhir-akhir ini.
Adhitama dan Widya cuma terdiam karena mereka tahu kalau Cakra waktu itu belum menyentuh Berti karena merasa belum siap. Sebenarnya memang tidak ada yang mengejutkan bagi keduanya karena mereka tahu Cakra memang begitu. Hanya Ilham dan Santi yang sedikit kaget.
__ADS_1
"Itu kekuranganku, Berti. Aku ini tidaklah sempurna seperti yang kamu inginkan," ucap Cakra.
"Aku cuma minta waktumu sedikit, Mas."
Cakra tahu bahwa ini hanya alasan terkecil dari istrinya. Faktanya adalah Berti telah jatuh hati kembali pada mantan kekasihnya yang super romantis. Namun, Cakra tidak ingin mengatakan hal itu di depan semuanya.
"Aku akan berubah, Bert," ucapnya.
Berti menggeleng. "Aku tetap mau kita pisah."
Berti langsung bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke kamar dengan Cakra yang menyusul.
"Keluar dari sini!" usir Berti.
Cakra tidak mengindahkannya. Ia mengunci pintu kamar agar suara mereka tidak terdengar ke luar.
"Ayo, pulang ke rumah," kata Cakra.
"Aku mau tetap di sini."
Cakra menghela napas panjang. "Berhenti bersifat kekanak-kanakan. Kita ini sudah sama-sama dewasa. Kamu dengar apa kata mama tadi."
"Aku sudah cukup menerima semua kekuranganmu," sahut Berti.
"Bert, kamu ingat saat aku tanya apa tipe suamimu? Kamu bilang padaku, kalau kamu cuma ingin suami yang bertanggung jawab dan setia. Aku menerima pernikahan ini karena ucapanmu waktu itu. Aku sadar kekuranganku tidak bisa berkata-kata manis," ucap Cakra.
"Lalu, kamu memperlakukan diriku bagai patung. Pajangan yang enggak punya perasaan, kan? Istri mana pun enggak bakalan sanggup hidup sama kamu."
"Aku minta maaf, Bert. Sungguh, aku bakal usaha menjadi suami yang kamu inginkan."
"Selalu saja begitu. Besoknya, kamu ulang lagi. Sudah, deh, Mas. Kamu itu memang belum siap untuk nikah. Kamu lebih mencintai dirimu, kariermu, sedangkan aku ini cuma penghias di rumahmu. Cuma status untukmu," kata Berti.
Cakra terdiam mendengarnya. Memang benar apa yang diucapkan Berti. Ia ingin meniti karier sampai menjadi orang besar, tetapi ia tidak menganggap kalau Berti itu istri pajangan.
"Aku akan menjadi yang terbaik untukmu," ucap Cakra. "Kita ulang dari awal lagi. Aku akan berusaha, Bert."
Berti menggeleng. "Cukup, Mas. Jangan memaksaku. Lebih baik kamu pergi. Melihat wajahmu, aku ingin marah terus."
Cakra menjejalkan tangan ke dalam saku jas. Ia meletakkan ponsel di meja lampu tidur. "Ponsel untukmu. Kartunya sudah aku pindahkan. Telepon aku kalau ingin sesuatu."
__ADS_1
Setelah itu, Cakra keluar dari kamar. Berti meraih ponsel baru yang suaminya berikan. Memang tadi Cakra menyempatkan diri untuk membeli telepon genggam sebelum ke rumah Ilham.
Bersambung