Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Tetap Sama


__ADS_3

Tubuh yang lelah pun tidak membuat Berti melupakan Banyu. Pria itu begitu membekas dalam hatinya. Berti gelisah dalam tidur, bahkan ia sempat pindah ke sofa lantaran tidak ingin menganggu Cakra yang terlelap.


Lelah memejamkan mata, tetapi kantuk tidak juga datang. Ia ingin menghubungi Sari sekadar untuk bercerita, tetapi Berti enggan sebab sahabatnya itu pasti akan memberikan jawaban yang tidak ia inginkan.


Berti ingin setia pada Cakra seorang, tetapi perlakuan Banyu menggodanya untuk berpaling. Bahkan pria itu kini mengirimkan sebuah pesan hanya untuk mengucapkan selamat tidur.


Ia tidak ingin menghubungi Banyu atau membalas chat itu. Berti mengabaikannya, tetapi tetap membaca pesan tersebut. Ia membuka laman media sosial miliknya. Berti dan Banyu sempat saling follow ketika keduanya makan siang bersama.


Beranda yang kebanyakan memajang foto Banyu serta qoutes yang pria itu buat. Semakin ke bawah Berti men-scroll beranda itu, ia melihat beberapa kenangan dulu.


Sebuah jurnal yang di dalamnya memajang foto-foto antara Berti dan Banyu. Ia tidak percaya jika Banyu masih menyimpan, bahkan disitu tertulis bahwa wanita dalam potret itu adalah belahan jiwa seorang Banyu.


Berti mengusapnya. Potret ketika awal jadian serta ketika hubungan itu berjalan bersama. Rasanya begitu indah. Foto saat Berti menerima buket bunga di hari Valentine juga ada.


"Dia begitu romantis," ucap Berti.


Cakra yang merasa sisi tempat tidurnya kosong, bangun dan mencari istrinya. Ia menggeleng karena Berti malah senyum-senyum tidak jelas menatap ponsel. Ia tidak menegur, malah melanjutkan lagi tidurnya.


...****************...


Giliran Cakra yang dibuat bingung atas diamnnya Berti. Biasanya di waktu bangun pagi, kuping Cakra akan panas oleh tuntutan istrinya yang ingin liburan. Sekarang Berti cuma diam. Tidak protes sama sekali.


"Kamu marah lagi sama aku?" tanya Cakra.


"Tidak. Kenapa aku harus marah?"


"Kok, kamu diam?"


"Memang aku harus cerewet?" tanya Berti.


Bingung sendiri, tetapi bagus juga bagi Cakra jika istrinya mengerti jika mereka ke Singapura cuma untuk kerja dan bukan liburan.


"Beberapa hari lagi kita akan ke Malaysia. Kamu boleh, deh, beres-beres barang," kata Cakra.


Berti mengangguk. "Iya, Mas."


"Ayo, kita sarapan bersama. Ariel mungkin sudah menunggu."


"Aku sarapan di kamar saja, Mas."


Cakra mengangguk. "Iya, terserah kamu saja."


Berti mengecup punggung tangan suaminya, lalu mengantar ke depan pintu kamar. Sebenarnya ia merasa bersalah, tetapi Berti memang tidak ingin bersama Cakra untuk sementara ini.


"Sebenarnya apa yang kulakukan sekarang?" gumam Berti.

__ADS_1


Seharusnya ia tidak hanyut dalam jebakan mantan. Harusnya ia tidak mengiakan ajakan Banyu kemarin, dan harusnya ia langsung pergi saja ketika pria itu membahas masa lalu.


Perubahan itu terjadi dalam dua hari terakhir. Cakra merasa ada yang hilang karena istrinya tidak cerewat malah terkesan mengabaikan. Memang Berti tidak lupa melayaninya, tetapi Cakra merasa hilang karena tidak ada serentetan pertanyaan atau protes dari istrinya itu.


Sudah kedua kalinya Berti menolak untuk makan di bawah. Ia lebih suka memilih makan di dalam kamar dan itu membuat Cakra bingung.


"Istriku kenapa diam, ya?" tanya Cakra.


"Tuan tanya pada saya?" Ariel balik bertanya.


"Memangnya siapa lagi yang ada di depanku sekarang. Berti cuma mau makan di kamar. Ada apa dengannya?"


"Kenapa Tuan tidak tanya?"


"Aku cuma heran," jawab Cakra. "Biasa dia begitu cerewet dan sekarang dia jadi diam."


"Mungkin nyonya sudah lelah, Tuan," ujar Ariel.


"Lelah kenapa?"


Matilah! Ariel keceplosan bicara. "Saya tidak tahu, Tuan."


Cakra menatapnya tajam. "Lelah kenapa?" ucapnya mengulangi pertanyaan.


"Mungkin nyonya lelah protes, tetapi Tuan tidak peka."


"Nyonya pasti suka."


"Nanti kamu pulang dulu setelah dari Malaysia. Kami hanya sebentar saja di sana."


"Baik, Tuan," sahut Ariel.


Cakra beranjak lebih dulu dari restoran menuju kamarnya. Ketika sampai di tempatnya, Berti tengah menonton film romantis yang menceritakan seorang wanita yang masih terbelenggu pada masa lalunya. Begitu kebetulan dengan yang dialami Berti saat ini.


"Bert, kamu sudah beres-beres barang yang mau dititipkan pada Ariel?" tegur Cakra.


"Kan, Ariel baru pulang ke Indonesia setelah dari Malaysia. Oh, ya, Mas. Aku enggak ikut, ya."


"Kenapa?" tanya Cakra.


"Aku mau di sini saja."


"Aku bagaimana? Yang layani aku siapa?"


"Dulu juga kamu sendiri. Kok, sekarang malah ketergantungan sama aku," ucap Berti.

__ADS_1


"Itu dulu sekarang ada kamu. Pokoknya harus ikut aku ke mana pun."


"Ada syaratnya," kata Berti.


"Apalagi?"


"Mas harus temani aku nonton film ini."


"Iya," sahut Cakra.


Selagi ada kesempatan, Berti akan memanfaatkan ini. Mungkin dengan begini, ia akan lupa tentang Banyu yang sering menyanyakan kabarnya. Ada saja topik yang dibahas oleh pria itu meski Berti telah mengabaikannya.


Kalau bisa Cakra ingin menghentikan film yang menyajikan adegan menangis, lalu menggantinya dengan film aksi superhero yang menyelamatkan gadis cantik. Itu lebih romantis ketimbang si wanita yang menangis karena pasangannya selingkuh.


"Film apa, sih, ini?" ucap Cakra.


"Mas diam dulu. Ini moment yang ditunggu," kata Berti.


Cakra mengembuskan napas kasar. Berharap film yang diputar ini segera berakhir dan ia bisa merebahkan diri di atas tempat tidur yang saat ini tengah menunggunya.


"Bagus! Si cowok selingkuh dan ceweknya membalas," ucap Berti. "Tuh, Mas. Jadi cowok itu selain setia harus perhatian juga."


Cakra tidak menyahut. Berti tetap menyaksikan film itu dengan bibir yang menggerutu saking geramnya. Ia menggoyang-goyang tangan Cakra untuk mengajaknya bergabung dalam membahas adegan demi adegan yang ditampilkan dalam film tersebut.


"Mas, coba, deh, lihat," kata Berti, lalu menoleh pada suaminya. Ia mendengkus. "Malah tidur." Berti mengguncang tubuh Cakra dengan sedikit kuat. "Mas!"


Cakra terkesiap. "Apa?"


"Katanya mau nonton. Kok, malah tidur?"


"Aku ngantuk. Aku duluan," kata Cakra yang beranjak dari sofa. Kemudian langsung menjatuhkan diri di atas kasur.


"Mas!" tegur Berti.


"Sudah malam, Bert. Mending tidur," kata Cakra.


Bersambung


Visual tergantung masing-masing.


Cakra



Berti

__ADS_1



__ADS_2