
Pesan singkat dari Banyu membulatkan tekad Berti untuk pergi bersama sang mantan. Memang keduanya berjanji akan menjelejahi kota Singapura berdua, tetapi dalam hal ini, Berti belum mengiakan sepenuhnya. Kemarin ia mengatakan akan pergi jika menginginkannya. Tidak tahunya, Banyu kembali mengingatkan acara itu dan Berti tergiur untuk datang.
Cakra juga tidak marah ia jalan bersama pria lain. Suami Berti itu sibuk dengan segala hal yang dapat menumpuk kekayaan dan kesuksesan pria itu sendiri.
Keduanya berjanji akan bertemu di jalan Avenue number 45 street. Berti telah sampai di sana. Ia tersenyum ketika mendapati lambaian tangan dari Banyu.
"Aku kira beneran enggak mau datang," kata Banyu.
"Sebenarnya aku enggak mau pergi, tetapi bosan juga dalam kamar terus," jawab Berti.
"Kita ke mana dulu, nih? Kemarin kamu belum sempat belanja, kan?"
"Hari ini kita belanja, yuk," ajak Berti.
"Boleh juga."
Banyu mengajak Berti ke Orchard Road. Belanja aneka barang branded yang ada di sana. Dua tas, dua pasang sepatu serta tiga helai pakaian Berti beli.
Puas berbelanja, keduanya berkunjung ke taman bunga Singapura. Baik Berti dan Banyu tidak mau melewatkan moment paling berkesan ini.
"Aku lapar," kata Berti. "Capek juga seharian jalan."
"Kita langsung ke restoran saja," sahut Banyu.
Keduanya langsung mencari restoran yang cukup nyaman untuk mengisi perut yang tengah keroncongan sekarang. Karena kemarin Banyu telah mentraktir Berti, maka kali ini giliran wanita itu.
"Biar aku yang pesan," kata Banyu.
Berti mengangguk, lalu tersenyum. Ia ingin lihat apakah Banyu masih mengingat makanan kesukaannya. Beberapa saat, pelayan datang membawa makanan yang dipesan.
Lagi-lagi Berti dibuat takjub. Banyu tahu ia menyukai laksa jika berkunjung ke Singapura. Menu kepiting serta nasi ayam. Berti tidak akan kenyang jika belum makan karbohidrat yang satu itu.
"Tahu saja kesukaanku," kata Berti.
"Aku masih ingat apa yang kamu suka," sahut Banyu seraya tersenyums manis.
Pikiran Berti melayang pada Cakra. Entah suaminya itu tahu atau tidak makanan kesukaannya karena memang tidak ada pembahasan hal sepele mengenai kesukaan atau apa pun itu.
__ADS_1
Cakra irit bicara, selalu sibuk dengan buku dan ponsel serta malamnya, ia akan merengek meminta buat anak. Jika pun bicara, malah ada pertengkaran saja.
"Kamu makin cantik, Bert," puji Banyu.
"Jangan gombal."
"Seriusan!" Banyu mengangkat dua jarinya. Menunjukkan jika yang dikatakannya itu adalah benar. "Beruntung banget yang jadi suamimu."
Berti tersenyum samar. "Ya, kami sama-sama beruntung."
Punya suami tampan, mapan dan pekerja keras, siapa pun wanita itu akan menjadi sangat beruntung. Ini hanya masalah luarnya saja. Namun, lebih dalam pernikahan itu sangat hampa. Tidak ada hal manis atau candaan yang mewarnai kehidupan rumah tangga Berti maupun Cakra. Semua datar, lurus bak jalan tol.
"Berti!" tegur Banyu.
Berti terkesiap. "Iya, kenapa?"
"Kamu melamun. Makanannya bisa dingin kalau enggak dimakan sekarang."
"Iya, aku makan sekarang."
"Habis ini mau ke mana lagi?" tanya Banyu.
"Sudah sore, aku harus pulang," kata Berti.
"Gimana kalau kita jalan kaki saja."
"Cukup jauh untuk sampai ke hotelku."
Banyu tertawa. "Maksudku, kita jalan saja. Kalau kamu ingin pulang, aku akan antar. Kita lewatkan dulu hari ini bersama."
"Tawaran yang bagus. Boleh juga untuk berjalan kaki."
Berti membayar dulu makanan mereka setelah itu keduanya jalan bersama menyusuri jalanan kota yang bersih. Selama perjalanan, Banyu selalu melirik mantan kekasihnya. Memang Banyu sendiri masih ada rasa terhadap Berti.
"Andai kamu belum nikah," ucap Banyu.
"Kenapa?" tanya Berti.
__ADS_1
"Karena aku ingin kamu menjadi pendampingku."
Berti tertawa. "Apaan, sih? Gombal mulu."
"Aku masih suka kamu."
"Eh, kenapa tiba-tiba? Jangan bercanda, deh." Berti mulai tidak suka akan obrolan ini.
"Aku cuma ingin mengungkapkan apa yang kurasa, Bert." Banyu menatap Berti. "Tahun ini aku pulang dengan membawa segala hal yang mampu untuk meminang seorang gadis. Sayangnya itu sudah terlambat."
"Kenapa tidak menghubungiku?"
"Karena aku tidak ingin lemah. Setiap mendengar suaramu yang merdu itu, wajahmu tersipu malu, aku tidak tahan untuk pulang. Aku mencoba bertahan di sini selama tiga tahun. Berharap pulang nanti bisa memberimu kejutan. Bukankah kamu pernah bilang jika kamu akan menungguku? Kamu juga yang mengatakan untuk tidak menghubungimu sampai aku bisa menjadi pria yang layak untukmu."
"Aku kira itu hanya ucapan. Aku tidak berharap kamu menganggapnya serius."
Banyu melipat bibirnya. "Aku tahu kamu selalu menganggap hubungan kita waktu itu hanya cinta monyet. Tapi enggak begitu, Bert. Aku serius pada hubungan kita. Saat kamu minta putus dengan alasan itu, aku setuju karena memang begitulah jika ingin mendapatkanmu."
"Maafkan aku, Banyu. Aku sungguh minta maaf," ucap Berti.
"Tidak apa-apa, Bert. Aku cuma ingin kamu tahu tentang perasaanku saja," ungkap Banyu. "Cinta itu bagaikan takdir. Semampu apa pun kita menunggunya, jika bukan takdir, maka cinta itu akan pindah ke sisi lain."
"Banyu," ucap Berti lirih.
"Dulu aku ingin menjadi yang pertama mengecup pipimu. Aku ingin menjadi yang pertama memelukmu. Menjadi langit sebagai pelindungmu. Namun sekarang, sudah ada dia yang menjadi segalanya bagimu."
"Hentikan, Banyu," pinta Berti.
"Aku tidak berani merebutmu dari dia, Bert. Aku cuma ingin kamu tahu perasaanku selama ini. Aku terkhianati."
"Aku minta maaf," ucap Berti lagi.
"Jangan minta maaf karena ini bukan salahmu. Ini adalah takdir kita."
Berti tidak tahan lagi mendengar perkataan Banyu. Ia melangkah pergi begitu saja meninggalkan pria itu. Banyu tidak mengejar dan memang ia tidak pantas untuk itu. Berti sudah ada yang memiliki. Ada pria yang melindungi, memahami dan membuatnya bahagia saat ini.
Bersambung
__ADS_1