Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Berangkat


__ADS_3

Semua dokumen untuk keperluan luar negeri telah siap. Pakaian serta barang pribadi lainnya juga telah dikemas. Besok adalah jadwal keberangkatan ketiganya. Selain Cakra dan Berti, sang asisten Ariel juga ikut.


Di rumah Berti juga sudah berkumpul keluarga. Baik kedua orang tua serta mertua. Sebelum pergi dan menetap selama beberapa minggu, Berti mengadakan acara makan malam bersama.


"Dafa," tegur Berti pada adik iparnya.


"Iya, Kak. Ada apa?"


Berti menoleh kiri dan kanan. Ia sengaja mengikuti Dafa ke dapur yang tengah mencuci tangan saat ini.


"Memangnya benar kakakmu enggak pernah pacaran?" tanya Berti.


"Dibilang pacaran, sih, kayaknya enggak pernah. Mungkin teman tapi mesra atau hubungan tanpa status," jawab Dafa.


"Kakakmu punya gebetan?" tanya Berti tidak percaya.


Dafa sempat berpikir. "Bagaimana, ya, menjelaskannya? Dulu ada, sih, yang datang ke rumah buat ketemu kakak. Tapi, ya, langsung diusir."


Berti terperangah. "Diusir?"


"Kakak tidak suka wanita-wania itu datang ke rumah cuma untuk belajar kelompok, tetapi malah datang merayu."


"Tidak salah jika kakakmu begitu. Dia, kan, memang pria tidak berperasaan."


"Tapi ada cewek yang ia suka. Sayangnya wanita itu tinggal di Malaysia. Makanya kakak buat bisnis di sana. Mungkin belum move on," kata Dafa.


"Apa?" Berti mengerjap berkali-kali. Ia tidak salah dengar. Cakra punya wanita yang ia suka.


"Kakak juga manusia, Kak Berti. Bukan patung yang tidak mengenal wanita. Sayangnya Kak Cakra itu tidak pandai mengutarakan isi dalam hatinya," ucap Dafa sambil lalu.


Berti menarik napas panjang kemudian mengembuskannya. Kecurigaannya benar. Cakra bersikap dingin terhadap perempuan yang tidak ia suka. Namun, Cakra akan bersikap manis pada wanita yang ia sukai. Bahkan Cakra sengaja membuka bisnis di Malaysia agar setiap bulan bisa menemui gadis itu.


Dafa tersenyum melihat Berti. "Kak Berti pasti marah. Jadi penasaran cara kak Cakra membujuk istrinya."


Raut wajah Berti berubah ketika kembali berkumpul bersama keluarga. Gara-gara ucapan Dafa, ia jadi kepikiran soal Cakra. Rasanya tidak mungkin suaminya menyukai perempuan lain. Berti bahkan memeriksa barang pribadi suaminya, dan tidak menemukan bukti apa pun.


"Semoga pulangnya bawa kabar baik, ya, Bert," ucap Widya.


Berti tersenyum. "Semoga, Mama."


"Kita pergi kerja, Ma. Bukan pergi liburan," sahut Cakra.


"Ya, sekalian. Ajak Berti jalan-jalan di sana. Jangan pelit jadi suami."


Berti melirik suaminya. "Berti sudah tidak punya penghasilan lagi. Seseorang telah memangkasnya."


Adhitama dan Widya terdiam. Permintaan Cakra yang membuat malu keduanya. Adhitama tidak ingin beranggapan kalau pernikahan antara keduanya karena Cakra yang berniat mengambil perusahaan.


"Nak, kita sudah sepakat tentang ini, kan?" sela Ilham agar suasana tidak canggung.

__ADS_1


"Berti hanya takut jika sudah mendapatkannya, maka seseorang itu dengan mudah meninggalkanku."


Cakra memandang istrinya. Tentu saja ia merasa tersindir dari kata-kata yang barusan dilontarkan Berti? Istrinya kini penuh dengan kecurigaan. Pertama dompet, ponsel, lalu pengalihan perusahaan.


"Sudah malam, sebaiknya kita pulang saja," kata Santi.


"Ibu tidak ingin menginap?" tanya Berti.


"Tidak usah, Sayang. Kamu baik-baik selama di negeri orang."


Berti mengangguk. "Iya, Bu. Berti akan selalu kasih kabar."


Semua pamit dari kediaman Cakra. Berti melambaikan tangan kepada mertua serta ibu dan ayahnya. Setelah kedua mobil itu hilang dari pandangan, barulah ia masuk.


"Kamu maunya apa?" tanya Cakra.


"Aku mau apa?"


"Ya, omonganmu tadi menyindirku. Kan, aku sudah bilang mau istri yang diam di rumah."


"Mau hartamu," kata Berti. "Mau kasih enggak?"


"Ambil saja. Toh, ini semua milikmu," kata Cakra.


"Beneran?"


Berti langsung memeluk lengan suaminya. "Beneran, ya, Mas."


"Iya," kata Cakra seraya melepas rangkulan tangan istrinya. Kemudian berjalan menaiki anak tangga.


Berti tidak peduli Cakra merasa risih, ia kembali menggenggam tangan suaminya. Berjalan bersama-sama menuju kamar tidur mereka. Kalau harta sudah Berti miliki, maka tidak ada lagi celah untuk wanita lain.


...****************...


Keesokkan harinya, Cakra dan Berti berangkat menuju bandara internasional. Bersama Ariel, ketiganya harus tiba dua jam sebelum jadwal keberangkatan menuju Singapura karena harus mengurus migrasi sebelum berkunjung ke luar negeri.


Entah kenapa Berti gugup lantaran ia takut jika ucapan Dafa itu benar adanya. Berti tidak ingin ada wanita yang bersama suaminya, padahal kemarin ia masih menginginkan Sari menggoda Cakra.


"Mas, kamu punya pacar?" tanya Berti.


"Ngomong apa, sih?"


"Kata Dafa kamu punya pacar di Malaysia. Kamu sengaja buka usaha di sana karena belum bisa move on, kan?"


"Jangan seperti anak kecil, deh, Bert. Omongan Dafa kamu percaya," kata Cakra.


"Artinya Dafa bohong sama aku?"


"Iya, aku enggak pernah pacaran," ungkap Cakra.

__ADS_1


Berti langsung memeluk Cakra. "Mas, kamu lucu."


"Banyak orang di sini. Main peluk saja kamu," kata Cakra dengan melepas rangkulan istrinya.


Berti mendengkus. "Mesra dikit, dong, Mas."


Cakra malah beralih tempat duduk. Menjauh dari Berti dan tetap memainkan ponselnya seraya menunggu panggilan keberangkatan. Ariel yang tidak tahu apa-apa malah duduk di samping Berti lantaran tidak ada lagi bangku kosong untuknya.


"Kamu sudah menikah?" tanya Berti.


"Belum, Nyonya," jawab Ariel seraya menaikkan kacamatanya.


"Berapa umurmu?"


"Hampir sama dengan tuan Cakra."


"Sudah punya pacar?"


Ariel tersenyum manis. "Belum sempat cari. Sibuk kerja. Mungkin nanti kalau ada jodohnya langsung menikah saja."


Berti balas tersenyum. "Benar, jika ada jodohnya langsung nikah saja."


Cakra berdeham yang malah membuat Berti serta Ariel kaget. Sejak kapan pria kaku itu tiba di hadapan keduanya.


"Pindah duduk sana," kata Cakra.


"Siapa? Aku atau Ariel?" tanya Berti.


"Kamu. Duduk bersama deretan wanita itu." Cakra menunjuk bangku yang tadi ia duduki.


Berti beranjak dari duduknya. Baru saja asik mengobrol bersama Ariel, malah diputus. Cakra duduk di kursi istrinya tadi. Ia menoleh pada Ariel.


"Jangan terlalu dekat dengan istriku," kata Cakra.


"I-iya, Tuan. Tadi hanya mengobrol biasa."


"Meski begitu, kenapa kamu harus duduk di sampingnya. Bisa cari kursi yang lain, kan?"


"Maaf, Tuan. Enggak kepikiran tadi," kata Ariel.


"Jangan ulangi. Aku membiarkanmu membeli hadiah untuk istriku bukan berarti aku menyuruhmu dekat dengannya."


"Maaf, Tuan. Lain kali tidak lagi," kata Ariel.


Mungkin saat ini Ariel tengah berada dalam dimensi lain. Tanpa diduga oleh Ariel sama sekali, Cakra cemburu melihat kedekatan dirinya bersama Berti.


Mukjizat telah datang pada diri Cakra. Membuktikan jika pria itu masih punya perasaan. Ada rasa cemburu, memiliki dan tidak ingin berbagi wanita.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2