Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Sah


__ADS_3

Hari yang ditunggu tiba juga akhirnya. Setelah melalui proses panjang dalam arti melakukan segala persiapan pernikahan, Cakra dan Berti akan resmi melangsungkan ijab kabul.


Berti sudah siap dengan kebaya pengantin. Wajahnya berseri-seri hari ini. Antara gugup juga bahagia. Semua campur aduk. Berbagai ucapan selamat sudah ia terima dari teman-temannya.


Sungguh hari ini tidak pernah terbayangkan olehnya. Ia menikah! Bersama seorang pria tampan, mapan, dan lebih tidak ada yang menyangka jika itu semua adalah dari perjodohan.


Berti sungguh beruntung dalam hidup ini. Ia merasa bagai putri yang dipinang pangeran. Cakra Adhitama. Siapa yang tidak mengenal sosoknya. Terlebih membayangkan hidup bersama. Alamak! Berti ingin cepat-cepat resmi menjadi istri dari pria itu.


Pintu kamar dibuka. Santi masuk bersama Sari dan beberapa wanita lainnya. Berti tersenyum karena ini saat yang paling ditunggu-tunggu.


"Ayo, Nak," ucap Santi.


Berti mengangguk. "Iya, Bu."


"Jangan gugup," bisik Sari.


"Kamu bicara begitu, aku malah gugup."


Sari terkikik geli, lalu berkata, "Maaf. Semangat. Calonmu sudah menanti."


Semua keluar dari kamar. Satu per satu menuruni anak tangga. Ruangan tamu sebagai tempat berlangsungnya akad telah penuh dengan kerabat serta teman dekat.


Berti didudukkan di samping pria yang memakai baju dengan warna senada dengannya. Ia mencuri lirik, begitu juga Cakra yang menampilkan senyum bahagia.


Kerudung diletakkan di atas kepala. Cakra menjabat tangan sang wali, yaitu Ilham, dan ijab kabul segera diucapkan.


Saksi mengucapkan kata sah. Semua mengucapkan hamdalah, mengucap syukur atas lancarnya ijab kabul. Uang sebesar seratus juta rupiah, seperangkat perhiasan berlian sebagai maharnya.


Cakra menyelipkan cincin pernikahan di jari manis istrinya, begitu juga Berti. Satu kecupan mendarat di kening. Jantung Berti berdegup kencang mendapati kelembutan dari bibir Cakra. Ia tersenyum malu-malu di hadapan suaminya.


Tiba saatnya untuk meminta restu kepada orang tua perempuan terlebih dulu. Berti mencurahkan segala rasa terima kasih kepada ayah dan ibunya. Meminta berkat kebahagian untuk pernikahan mereka.


"Ayah, Ibu, maafkan segala kesalahan Berti. Maafkan Berti yang selalu menyusahkan Ayah dan Ibu."


"Ayah dan Ibu bangga padamu. Kami bahagia atas pernikahan ini. Semoga pernikahan kalian selalu diberi keridhoan oleh Sang Pencipta," ucap Ilham.


"Selamat, Nak. Kamu mewujudkan cita-cita kami. Semoga kalian semua selalu bahagia," ucap Santi menambahkan.


"Ayah, Ibu, kami mohon restu." Giliran Cakra yang bersalaman.


"Jaga Berti, Nak. Dia putri kami satu-satunya."


"Pasti, Ayah. Cakra akan selalu membahagiakan Berti."


Setelah itu, giliran orang tua Cakra kemudian kerabat serta sahabat yang secara bergantian memberi ucapan selamat.

__ADS_1


"Akhirnya, sahabatku ini telah resmi menjadi istri orang," celetuk Sari. "Selamat, ya, Berti, Cakra."


"Terima kasih," balas Cakra.


"Kamu kapan nyusul?" tanya Berti.


"Apa aku harus minta dijodohkan juga?" Sari berbisik di telinga Berti. "Aku ingin calon suami, seperti suamimu."


"Cakra hanya ada satu di dunia. Dia sudah menjadi milikku."


"Haish! Semoga ada lagi pria seperti itu," ucap Sari.


Tamu-tamu berpamitan. Rumah Berti cukup lenggang, tetapi pukul satu siang nanti, mereka harus berada di hotel karena resepsi akan diadakan di sana.


"Cakra, Berti. Kalian makan siang dulu. Kita nanti berangkat ke hotel," ucap Widya.


"Iya, Ma," sahut Berti kemudian melirik suaminya. "Mau makan di kamar atau di sini?"


"Di sini saja," jawab Cakra. 


Berti melayani suaminya. Kali ini ia tidak lagi mengambilkan Cakra nasi terlalu banyak. Hanya sedang-sedang saja dengan lauk pauk yang pas. Keduanya makan bersama di kursi pelaminan.


"Cie, cie, pengantin baru. Makannya berduaan," goda Daffa.


"Pergi sana," usir Cakra.


"Terima kasih. Hadiahmu mana?" tanya Cakra.


"Ada, kok. Nanti malam saja dibuka."


"Awas saja kamu kasih barang aneh," ancam Cakra.


Daffa menyengir. "Pasti Kakak suka sama hadiahku ini."


"Sana pergi. Kakak mau makan dulu," ucap Cakra.


Daffa tidak lagi menganggu sang kakak. Berti juga penasaran atas hadiah yang mereka dapatkan dari kerabat serta sahabat.


"Ngomong-ngomong, kamu sudah siapkan pakaian buat kita pergi bulan madu, kan?" tanya Cakra.


"Harus besok perginya?"


"Memangnya kapan lagi? Aku, kan, sudah bilang waktu itu," kata Cakra.


"Iya, aku hanya tidak mengira saja kalau besoknya kita langsung berangkat. Aku sudah siap untuk kepergian ke luar negeri."

__ADS_1


"Besok pagi-pagi kita berangkat. Tiketnya juga sudah dipesan."


"Iya." Berti memandang suaminya. "Aku harus panggil kamu apa? Kakak atau Mas?"


"Panggil se-nyaman kamu saja," jawab Cakra.


Selesai makan siang, Cakra dan Berti bersiap menuju hotel. Rombongan pengantin masuk ke dalam mobil mereka masing-masing. Cakra bersama Berti, Sari serta Daffa yang mengemudi.


*****


Cakra dan Berti dipisah ke kamar yang bersebelahan. Untuk saat ini mereka harus menunda untuk bersama. Ada acara akbar yang harus menghadirkan mereka berdua.


Gaun berwarna gold melekat sempurna di tubuh Berti. Ia tampak cantik dalam riasan yang bold dengan tatanan rambut yang disanggul ke atas. Mahkota cantik tersemat di kepalanya, menandakan kalau ia adalah ratu pada malam ini.


"Apa semua sudah siap. Kita harus segera ke ballroom hotel," ucap Daffa.


"Pengantin sudah siap. Pengiring pengantin juga," sahut Sari.


Berti keluar menemui suaminya. Rombongan pengantin telah siap menuju pelaminan. Cakra mengulurkan tangan yang disambut oleh Berti. Keduanya berjalan diikuti oleh pengiring pengantin.


Tamu-tamu sudah berdatangan. Ada yang merekam, memotret ketika Cakra dan Berti berjalan menuju pelaminan. Berti tidak henti menebarkan senyum kebahagian.


Namun, sudah beberapa jam berlalu. Cakra tidak ada memujinya. Berti sudah berdandan cantik, tetapi suaminya tidak ada mengucapkan sepatah pujian.


Biasanya seorang suami akan memuji istrinya. Namun, Cakra tidak demikian. Bahkan, mereka jarang bicara. Berti mengerti kalau suaminya mungkin belum terbiasa, tetapi memuji cantik apa tidak bisa? Setidaknya pujian itu menyenangkan hatinya.


"Sampai pukul berapa undangannya selesai?" tanya Cakra.


"Sembilan malam," jawab Berti.


"Oh, baguslah. Kita punya waktu untuk istirahat."


Mendengar hal itu, jantung Berti tiba-tiba saja berdetak kencang. Mereka sudah resmi menjadi suami istri, dan ini adalah malam pertama bagi keduanya.


Berti merasa panas. Ia yakin saat ini wajahnya sudah memerah. Oh, tidak! Otaknya tiba-tiba berhenti berpikir.  Apa yang harus ia lakukan nanti malam?


"Bert!  Kamu melamun?" tanya Cakra.


Berti terkesiap. "Tidak, kok."


"Jangan melamun. Tamu ingin bersalaman dengan kita."


"Iya," jawab Berti.


Berti ingin mengutuk dirinya. Bisa-bisanya pikirannya berada di tempat lain. Untung saja Cakra menyadarkannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2