Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Hasil?


__ADS_3

Cakra mencoba membangunkan Berti yang terlelap. Hari sudah sangat sore dan istrinya malah tidur ketika matahari terbenam. Biasanya Berti akan membuatkannya secangkir teh hijau sebelum makam malam, tetapi ini tidak ada sama sekali.


"Bangun, Bert. Sore gini malah tidur," ucap Berti.


Berti mengeliat dengan membuka sedikit matanya. Ia melihat Cakra, lalu memejamkan mata kembali.


"Bangun, dong. Buatkan aku teh sana."


"Minta sama bibi. Aku mau tidur," kata Berti.


Cakra mencoba membangunkan istrinya. "Bangun! Mandi sana."


Dengan kesal Berti menjawab, " Iya ...."


"Aku tunggu di bawah," kata Cakra.


Berti tidak menyahut. Ia turun dari tempat tidur, lalu ke kamar mandi. Sementara Cakra berjalan keluar kamar. Berti merasa malas untuk mandi. Tubuhnya benar-benar lemah.


"Kenapa, sih? Apa aku kurang olahraga?" gumam Berti yang enggan untuk mandi.


Namun, Berti ingin melawan kemalasannya. Air dingin menjadi lawan yang tepat untuk membangkitkan semangat. Berti basuh seluruh tubuh dengan air dingin.


Segar memang terasa, tetapi tidak lama gejala itu muncul lagi. Rasa malasnya yang ingin melayani Cakra serta tidak adanya napsu makan. Lauk enak yang tersaji di meja makan tidak mampu menggugah selera Berti.


"Kamu sakit?" tanya Cakra yang melihat istrinya cuma mengaduk-aduk makanan.


"Jalan, yuk, Mas. Bosan di rumah," kata Berti. "Kita enggak pernah jalan bersama selama menikah."


Cakra mengangguk. "Ya, sudah. Kamu habiskan makannya dulu."


"Aku sudah kenyang. Kita makan di luar saja," ucap Berti, lalu beranjak dari duduknya untuk berganti pakaian.


Cakra memandang Berti sampai istrinya itu menghilang dari pandangan. Ia heran dengan tingkah istrinya itu.


"Bi Minah," panggil Cakra.


"Iya, Tuan."


"Itu Berti kenapa?"


"Kata Nyonya dia kurang sehat. Badannya lemah," jawab Minah. "Tadi juga Bibi yang masak buat makan malam."


Cakra mengangguk. "Aku susul dia, deh. Sakit, tapi masih mau jalan malam."


Cakra pun tidak menghabiskan makan malamnya. Ia langsung menyusul Berti dan akan mencegah istrinya untuk keluar malam.


"Bert, kamu sakit, kan? Kita enggak usah keluar. Di rumah saja," kata Cakra.


"Aku sudah ganti baju, nih. Masa enggak jadi," protes Berti.


"Aku juga banyak kerjaan. Berkas banyak belum diselesain."


"Pokoknya aku mau jalan. Terserah, deh, kamu mau ikut apa enggak."


"Oke, aku ikut."


Cakra sendiri tidak percaya kenapa ia bisa patuh pada Berti. Ia menggaruk kepala, lalu menyambut pakaian ganti yang istrinya berikan.

__ADS_1


"Aku tunggu di bawah," kata Berti.


Bergegas Cakra berganti pakaian, lalu menyusul istrinya ke bawah. Keduanya keluar, lalu masuk mobil.


"Mau ke mana?" tanya Cakra.


"Jalan saja. Bosan di rumah."


"Ya, ke mana? Harus jelas tujuannya."


"Ke kafe cinta," kata Berti.


"Di mana tempatnya?"


Berti tertawa. "Kamu sungguh enggak tahu tempat itu?"


Cakra menggeleng. "Enggak tahu."


"Itu kafe buat pasangan."


"Ngapain ke sana. Kita sudah menikah. Jangan jadi anak remaja."


"Ke mal saja, deh," ucap Berti akhirnya.


Tempat yang mendapat anggukan kepala dari Cakra. Mesin segera dihidupkan dan Cakra mulai mengendarai mobil keluar dari halaman rumah.


Perjalanan memakan waktu tiga puluh lima menit. Keduanya keluar dari mobil, lalu berjalan masuk dalam mal. Seperti biasa, Cakra tidak ingin digandeng jika berada di muka umum.


Berti semakin bosan dengan jalan-jalannya. Yang dilihat hanya itu-itu saja serta pengunjung yang berjalan-jalan, sedangkan perutnya mulai keroncongan.


"Kita cari restoran."


"Makan udon saja, Mas," usul Berti.


Cakra mengiakan dan mereka menuju restoran udon. Berti memesan mie yang dicampuri kari serta irisan tipis daging lembut. Tidak lupa lemon tea dingin sebagai pelengkap.


"Pedas banget," kata Berti yang langsung menyeruput lemon tea.


Cakra cuma menggeleng, tetapi ia tidak berkomentar apa pun. Ia tidak habis memakan mie putih itu, tetapi Berti melahap semua hingga ke kuah karinya.


"Habis ini kita pulang," kata Cakra.


"Belanja dulu."


"Belanja apalagi? Masih kurang tas sama baju di rumah? Ini sudah malam, Bert."


"Belanja cemilan," kata Berti.


"Ayo, cepat."


Pergi bersama Cakra bawaannya selalu terburu-buru. Berti bergegas menuju supermarket membeli beberapa minuman dingin, susu steril serta cemilan ringan untuk di rumah.


"Kamu sebelah sana, dan aku sebelah sini," kata Cakra.


"Kok, beda?"


"Biar cepat. Kalau bagianmu cepat, aku ke sana. Kalau bagianku lebih cepat kasirnya, kamu kemari," kata Cakra.

__ADS_1


Sungguh efisien dari pembagian waktu. Keduanya sama-sama mengantri. Ini dinamakan susah senang tetap bersama. Entahlah, Berti merasa ini aneh dan lucu, tetapi ada keuntungan juga di sana karena kasir bagian Cakra lebih cepat selesai, dan Berti menghampiri suaminya.


Selesai berbelanja, keduanya langsung saja pulang. Dalam perjalanan, Berti merasakan keanehan. Perutnya tidak nyaman dan merasa diaduk-aduk.


"Kamu bawa mobilnya pelan-pelan, dong," kata Berti.


"Ini kecepatan sedang, kok."


"AC-nya kamu nyalain enggak? Kok, panas," ucap Berti yang merasa gerah.


Cakra menaikkan suhu dalam mobilnya, tetapi tidak lama Berti menurunkannya karena dingin. Duduk Berti gelisah, mulutnya tidak nyaman dan ia merasa mual.


"Mas, berhenti di pinggir jalan. Aku mau muntah," kata Berti.


"Hah, muntah?"


"Cepetan, aku mabuk, nih," kata Berti.


Cakra tidak bisa berhenti karena mereka berada di jalan raya yang padat, dan tidak mungkin Cakra menghentikan mobil di pinggir jalan yang ramai.


"Cepetan, aku enggak tahan lagi," kata Berti.


"Kamu jangan keluar. Tahan dulu," ucap Cakra yang menghentikan mobil di tepi jalan. Cakra meraih belanjaan yang berada kursi belakang. Membuang isinya di kursi, lalu memberi plastiknya kepada Berti. "Muntah di sini. Sebentar lagi kita sampai. Enggak mungkin kamu muntah di pinggir jalan ramai begini."


Berti mengambil plastik itu. Isi yang masuk tadi ia keluarkan dan itu terasa pedas sebab Berti memakan cabe lumayan banyak.


"Kan, aku bilang juga apa. Rakus, sih. Makan cabe banyak gitu," gerutu Cakra.


"Tisu," pinta Berti.


Cakra memberikannya, lalu memberi istrinya minum air mineral. Untungnya Berti membeli beberapa botol air mineral dingin.


"Terus ini buang di mana?" tanya Berti.


Cakra menutup mulutnya. "Ikat plastiknya, biar aku yang buang di tong sampah."


Berti mengikatnya, lalu menyerahkan sekantung plastik berisi cairan yang membuat mual si pemegangnya. Cakra keluar dari mobil. Ia berjalan cepat menuju tempat sampah.


"Besok ke dokter, deh," gumam Berti.


Cakra dapat bernapas lega setelah masuk dalam mobil dan kembali melanjutkan perjalanan ke rumah. Sementara Berti tidak berhenti minum dan sempat-sempatnya ia menikmati sebatang cokelat dalam perjalanan.


"Perutmu enggak tahu kenyang," tegur Cakra.


"Abis muntah pasti lapar. Mulutku juga pahit."


Sesampainya di rumah, Berti turun lebih dulu dari mobil, dan langsung menuju keran air yang berada di halaman rumah. Di sana ia kembali mengeluarkan isi dalam perutnya.


"Kan, serakah lagi," kata Cakra dengan mengusap punggung belakang istrinya.


"Perutku enggak enak. Masuk angin kali," ucap Berti.


"Kamu masuk dulu ke dalam, biar aku yang siram ini."


Sekali lagi Cakra menutup hidungnya, lalu menyiram muntahan Berti dengan selang air. Pengalaman Cakra malam hari yang malah dibuat repot oleh istrinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2