Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Jenguk Anak


__ADS_3

Cakra meneguk habis minumannya, lalu membuka pakaiannya satu per satu. Mendekati Berti yang belum sama sekali membuka baju yang wanita itu kenakan.


Gelas masih dipegang, mimik wajah malu-malu seolah tidak terbiasa saja. Berti melirik tubuh kekar Cakra yang memang senang berolahraga. Kemudian bagian bawah yang mulai menegang. Kenapa daerah itu begitu lucu dalam keadaan mengecil? Ketika dipegang atau diusap, maka itu akan menjadi sangat menakutkan. Dalam arti itu sesuatu hal yang seorang wanita begitu puas akan hentakannya.


"Ayo, Bert," ajak Cakra.


Dasar suami yang memang sifatnya sudah seperti itu. Mengajak istri untuk bergulat saja tidak ada romantisnya, dan seharusnya Cakra belajar dari pengalaman yang lalu.


"Mas bilang mau panggil aku Bunda?" ucap Berti.


"Iya, Bunda. Ayo, kita main," ajak Cakra lagi.


Berti meletakkan gelas yang ia pegang ke atas meja lampu tidur setelah air di dalamnya ia habiskan. Kemudian menatap Cakra tanpa berkata apa pun.


"Buka bajumu," pinta Cakra.


"Mas saja yang buka. Lembut sedikit. Jangan tergesa-gesa."


Cakra mengecup bibir yang terus mencerocos itu, bersamaan dengan jemari yang membuka piama Berti. Perlahan Berti jatuh di atas tempat tidur tanpa melepas tautan bibir mereka.


Bibir itu menggoda bibir Berti. Mengigit, mencicip dengan lidah, membuat hawa panas pada sekujur tubuh. Jemari Berti terjalin di antara helaian rambut Cakra.


Kecupan turun di bawah dagu. Menelusuri tulang jenjang yang pasrah dijamah. Apa pun itu, begitu terasa nikmat. Sapuan indra, basah, geli, dan sakit menjadi satu.


Berti merasakan sentuhan itu turun lagi, mencengkeram satu sisi sensitif miliknya yang masih terbungkus kain berbusa. Ia bisa melihat bukti gairah Cakra yang sudah bangkit. Pria itu menginginkan dirinya. Getaran itu hadir ketika Cakra menggesekkan miliknya pada bagian dalam kaki.


Cakra mengangkat kepala untuk dapat melihat istrinya. Berti mencondongkan tubuh, lalu mengecup pria itu. Menggigit bibir bawah Cakra, mencucup, lalu menariknya seperti yang suaminya tadi lakukan.


Pakaian yang melekat pada Berti semua ditanggalkan. Kini Cakra lebih leluasa mencicip tubuh berkulit putih itu. Cakra meletakkan tangannya di bawah kelembutan milik Berti. Seakan menimbang berat dari bobot yang mengantung, lalu mencucupnya dengan satu ibu jari memilin ujung putik yang lain.


Sensasi hasrat meningkat seiring Berti yang terus menekan kepala Cakra. Kakinya melingkar pada pinggang pria itu, mengangkat tubuh, menggesek miliknya sampai Cakra merasakan basah di perutnya.


"Mas Cakra," panggil Berti.


Cakra cuma bergumam, lalu turun mengecup perut yang masih rata itu. Ia memandangnya lekat kemudian mengusapnya dengan lembut.

__ADS_1


"Mau langsung masuk?" tanya Cakra.


"Mainin dulu di bawah sana," pinta Berti malu-malu seraya menggigit ujung jari telunjuknya.


Cakra turun dari ranjang, duduk berlutut berhadapan dengan kelopak milik istrinya. Berti melebarkan kaki, mengundang Cakra datang bertamu ke dalam.


Sapuan yang membuat diri Berti terbang melayang. Sensasi nikmat yang tak terperikan, seperti ikan yang menggelepar karena kekeringan. Berti bergumam dengan tidak jelas, mencengkeram kuat ujung bantal ketika Cakra mencucup sari-sari tubuhnya.


Cakra mengalihkan posisi Berti, ia naik di atas kasur, lalu memposisikan diri. Cakra mulai masuk perlahan sembari mengecup kembali bibir istrinya.


"Pelan-pelan," kata Berti.


Cakra tidak menjawab, tetapi terus bergerak dalam tempo sedang. Tubuh itu terguncang bersama dua kelembutan yang naik turun. Cakra mencengkeram, menunduk untuk dapat kembali mencucup ujung putik itu.


"Enak, nggak, Bunda?" tanya Cakra.


Entah mengapa Berti jadi malu saat Cakra memanggilnya dengan sebutan 'Bunda', seperti ada yang baru. Tapi ia senang Cakra mau menurutinya kali ini.


"Ya, enaklah," jawab Berti.


"Aku mau di atas," pinta Berti.


Cakra mengangguk, lalu menarik dirinya. Ia jatuh telentang di sisi tempat tidur lain. Berti bangun, mengecup bibir Cakra sejenak, memeluknya dengan jari-jari lentik mengusap tubuh berotot itu.


Cakra berteriak ketika Berti dengan nakalnya menggigit bagian dari tubuhnya. Kecil, berwarna kecokelatan yang bila dicucup dan digigit akan membuat hasrat dari seorang pria naik.


"Lucu bentuknya," ucap Berti yang tidak mau kalah seperti Cakra. Ia menjadi bayi yang kehausan seolah bagian dari tubuh itu terisi oleh air.


Sementara Cakra membiarkan saja Berti yang mencucup tubuhnya secara bergantian. Puas menikmati, Berti naik ke atas tubuh suaminya. Masuk perlahan, lalu bergerak seiring suara gumaman tidak jelas dari bibirnya.


Cakra bertopang siku untuk dapat meraih ujung putik milik Berti. Kembali menimbang-nimbang kelembutan yang padat itu secara bergantian.


"Rambutmu wangi," kata Cakra seraya mengecup helaian rambut Berti. "Ini yang bikin aku kangen."


"Mas bohong," ucap Berti dengan terengah.

__ADS_1


"Kok, bohong, sih. Beneran, aku suka aroma sabun yang kamu pakai."


"Waktu di Hongkong, kamu rindu sama aku, enggak?" tanya Berti.


"Kangen," jawab Cakra.


"Beneran?"


"Iya, rindulah sama istri dan anakku. Pulang malah istri selingkuh."


"Aku enggak selingkuh, kita cuma teman jalan."


"Tapi Banyu masih suka sama kamu," ucap Cakra.


"Enggak usah bahas itu. Tengah enak juga."


Yang bahas pertama padahal Berti, tetapi Cakra yang malah disalahkan. Wanita memang pihak yang selalu benar.


Berti jatuh di atas tubuh suaminya dengan napas terengah-engah. "Capek, Mas."


"Hadap belakang," kata Cakra.


Berti menuruti permintaan suaminya. Berada dalam posisi seperti ingin merangkak dengan dua lutut menopang berat badan. Cakra mengecup punggung itu lebih dulu kemudian masuk menghunjam.


"Jangan terlalu keras," kata Berti.


"Sedikit keras enggak apa-apa," sahut Cakra yang maju mundur menggerakkan tubuhnya. "Kalau keras baru terasa."


Berti tertawa ketika Cakra dengan jahil menggelitik pinggangnya. Sambil menghunjam, keduanya malah bercanda.


"Mas, jangan begini," ucap Berti.


Cakra sedikit menggeram ketika nektar dalam dirinya keluar bersama terkurasnya tenaga atas adegan malam ini. Ia mengecup punggung Berti, memeluk istrinya dengan napas yang masih terengah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2