
Pelan-pelan Berti keluar kamar ketika Cakra tengah tertidur pulas. Selepas membersihkan diri bersama, tepatnya mereka mandi berdua dan melakukan gerakan panas sekali lagi, Cakra terlelap.
Berti sengaja membuat suaminya bekerja keras agar bisa menyelinap pergi menemui Sari yang tengah menangis dan entah apa sebabnya. Tidak mungkin Cakra memukul Sari seperti yang pria itu lakukan pada Arjuna. Namun, bila mengingat sifat Cakra yang tidak peduli antara pria dan wanita, mungkin saja.
Berti memesan taksi untuk mengantarnya ke hotel tempat Sari menginap. Tidak terlalu jauh dari penginapannya. Sekitar lima belas menit, Berti tiba di Santana dan Arjuna telah menunggunya.
"Sari sungguh menangis?" tanya Berti.
"Iya, katanya dia sakit hati. Harga dirinya terluka. Sebagai wanita ia dikuliti, padahal kulitnya baik-baik saja," beber Arjuna.
"Bukan itu maksudnya," ralat Berti
Arjuna mengedikan bahu. Keduanya masuk lift yang mengantar ke lantai tiga kamar hotel. Sampai di sana, keduanya masuk bersamaan. Arjuna mendecakkan lidah ketika melihat Sari masih menangis.
"Kamu kenapa, Sari?" tanya Berti.
Sari lantas memeluk sahabatnya. "Suamimu itu, Bert."
"Dia kejam padaku."
"Kejam kenapa?" tanya Berti.
"Sebagai wanita aku dipermalukan. Harga diriku dinjak-injak. Mulutnya itu, aku ingin menjahitnya," kata Sari.
"Cakra kenapa?" Berti kembali bertanya.
"Dia bilang aku penggoda."
"Hanya ucapan itu kamu malah nangis," sela Arjuna.
"Kamu tahu apa?" teriak Sari.
Berti melotot pada Arjuna agar diam. Ia menenangkan sahabatnya yang shock atas ucapan Cakra. Memang ini semua ide Berti yang menginginkan Sari sebagai penggoda. Akhirnya, rencana itu gagal total, dan Sari yang malah seperti dirugikan.
"Suamimu itu mengatakan ini padaku, 'memangnya aku tidak tahu gelagatmu. Dasar penggoda.' Dia bilang aku seperti itu, Bert," ungkap Sari.
"Kan, kamu memang berniat menggodanya," sahut Arjuna.
"Arjuna!" bentak Sari.
"Maaf, deh. Jangan pecat aku."
Ada rasa bahagia yang Berti rasakan. Cakra yang dingin itu, rupanya pria setia. Cakra bahkan mewanti-wanti Berti untuk berjauhan dengan Sari. Kenapa Berti merasa suaminya begitu menggemaskan? Kaku, tetapi lucu.
Berti mengusap punggung Sari agak lebih tenang. "Kamu saja tidak bisa menggodanya. Pesonamu sudah luntur ternyata."
"Dia saja jomlo. Untung tidak diberi bogem mentah. Kalau ditinju, abis sudah," kata Juna.
Sontak Sari memegang hidungnya yang memang hasil dari tangan dokter. Berti tertawa melihat itu, sedangkan Sari melotot pada Arjuna.
"Satu bulan kamu masuk shift malam," ucap Sari.
__ADS_1
"Jangan!" kata Arjuna.
Sari memalingkan wajah. Nasibnya harus mendapat hinaan dari Cakra. Suami sahabatnya itu benar-benar patung. Balok es yang tidak pernah mencair meski matahari terus menyinarinya.
"Besok kita janjian di mana?" tanya Berti.
"Aku enggak mau ketemu Cakra," ucap Sari.
"Aku juga," sahut Arjuna.
Berti mencebik. "Ya, aku jalan sama siapa?"
"Sama suamimu lah. Lagian besok siang, kita harus pulang," kata Sari.
"Benar juga. Kami juga pulang dengan pesawat malam besok," sahut Berti yang sedikit kecewa karena belum puas untuk bersenang-senang bersama. "Aku balik hotel dulu, deh. Takutnya Cakra bangun dan mencariku."
"Sampai ketemu di Jakarta," ucap Sari.
Berti bersama Arjuna keluar kamar. Arjuna mengantar Berti ke lantai bawah dan sampai taksi datang menjemput barulah ia kembali ke kamarnya sendiri.
Rupanya Cakra sudah bangun ketika Berti tiba di kamar hotelnya, bahkan pria itu tengah menyantap makan malam.
"Dari mana?" tanyanya.
"Tempat Sari," jawab Berti yang langsung mendaratkan kecupan di pipi suaminya dan duduk di sofa. Hadiah karena Cakra tidak tergoda akan wanita cantik.
Cakra menggeleng. "Diberitahu suami malah enggak dengar."
"Dia tidak berniat begitu," kata Berti yang merangkul lengan suaminya.
"Istrimu juga lapar," kata Berti.
"Makan saja. Itu ada piring kosong," ucap Cakra.
Benar yang dikatakan Cakra. Memang ada piring kosong. Berti tinggal membaliknya dan menuangkan makanan di atasnya. Berti tersandar di badan sofa. Tahukan Cakra jika satu kalimat ajakan saja bisa membuat hati Berti berbunga-bunga.
"Mas Cakra cinta sama aku enggak?" tanya Berti tiba-tiba.
"Kamu kenapa, sih?" Cakra bingung.
"Jawab saja. Cinta sama aku tidak?"
"Memang perlu aku jawab?" tanya Cakra.
"Iya, dong."
"Entah," jawab Cakra, lalu beranjak dari sofa, berjalan menuju kamar mandi.
Berti mengerjapkan mata beberapa kali. Ia tidak akan heran akan ucapan Cakra.
...****************...
__ADS_1
Pagi besoknya, Berti meminta Cakra menemaninya berbelanja. Hanya menemani jalan, tetapi Cakra dan Berti ke arah tujuan yang berbeda. Suaminya itu tetap menjaga jarak. Tidak ada gandengan maupun acara memilih barang yang bersama.
"Cepat sedikit, sore kita harus pulang," kata Cakra.
"Sebentar, aku mau beli daster bali buat di rumah. Beli buat mama dan ibu juga," sahut Berti.
"Lima belas menit aku kasih waktu."
Berti hanya bisa menggerutu dalam hati. Ia bergegas memilih daster sebagai oleh-oleh pulang dari Bali.
Selepas berbelanja, Berti lekas mengepak pakaiannya, sedangkan Cakra sibuk sendiri bersama istri pertama yang paling pria itu sayang, yaitu ponsel.
"Bert, aku akan ke luar negeri," kata Cakra.
"Kapan?"
"Minggu depan. Kamu ikut aku."
"Berapa lama?" tanya Berti.
"Dua sampai tiga minggu. Aku akan berkunjung ke Singapura dan Malaysia."
"Aku tidak bisa ikut untuk waktu yang lama. Kamu tahu sendiri jika aku perlu mengurus perusahaan," kata Berti.
"Pulang dari sini, kita langsung balik ke rumah ayah. Kita menginap di sana. Kamu kasih tahu orang tuamu," ucap Cakra.
"Kenapa tiba-tiba?"
"Cepatlah berkemas. Aku ingin kita tidak terlalu malam sampai di Jakarta," kata Cakra.
"Kamu bantuin aku beresin pakaian."
Cakra patuh melaksanakan perintah istrinya. Di satu sisi Berti tiba-tiba merasa ada satu hal yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Entah karena apa, tetapi Berti merasakan kecemasan.
Dari kemarin Cakra ingin menemui orang tuanya dan tiba-tiba Berti diajak keluar negeri. Berti tidak ingin tinggal di negara orang dan meninggalkan orang tua serta sahabatnya di tanah air. Jika sampai itu terjadi, Berti yakin ia akan stress menghadapi sifat dingin Cakra.
"Mas Cakra," panggil Berti.
"Apa?"
"Kok, tiba-tiba mau nginep di rumah ayah," kata Berti.
Cakra memandangnya. "Nanti kamu juga tahu."
Semakin penasaran Berti dibuatnya. Sungguh, jika Cakra berniat akan pindah keluar luar negeri, maka Berti akan menolaknya mentah-mentah.
Setelah semua siap, Berti dan Cakra keluar dari kamar hotel. Taksi yang dipesan sudah menunggu di depan. Berti menyuruh sopir untuk menaikkan koper mereka selagi menunggu Cakra menyelesaikan adminitrasi kamar.
"Ayo, masuk," kata Cakra.
"Sudah selesai?"
__ADS_1
Cakra mengangguk, lalu membuka pintu mobil untuk istrinya. Tumben, tetapi Berti senang dengan perlakuan kecil ini. Cakra memperhatikan dirinya.
Bersambung