
Pagi hari, Cakra tidak melihat istrinya di ruang makan. Sarapan yang menyiapkan juga Minah, dan ia ragu untuk naik ke kamar atas lantaran kejadian semalam.
Cakra melihat jam di pergelangan tangan. Masih terlalu awal hingga tidak mungkin Berti berangkat ke kantor lebih dulu.
"Nyonya masih belum turun?" tanya Cakra.
"Belum, Tuan," jawab Minah.
Cakra mengangguk. "Lanjutkan saja pekerjaan Bibi."
Minah membungkukkan sedikit tubuhnya, lalu undur diri dari hadapan sang majikan. Cakra meraih ponsel yang ia letakkan di meja samping gelas minum. Ia memutar-mutar gawai itu sebelum memutuskan untuk melakukan panggilan telepon.
"Telepon mama saja," ucapnya memutuskan. Kemudian Cakra men-dial nomor Widya. Tidak lama panggilan itu diterima.
"Halo, Nak," sapa Widya.
"Mama tau obat luka enggak?" tanya Cakra.
"Siapa yang luka?" tanya Widya.
"Cakra tanya obat. Mama malah balik tanya. Tinggal jawab saja."
"Obat merah," jawab Widya sembari menggerutu.
Cakra berdeham, "Obat untuk wanita."
"Berti terluka? Kamu memukulnya? Astaga, Cakra! Kamu apaian Berti?" cerocos Widya.
"Bukan itu, Mama. Cakra perlu obat untuk wanita. Berti kesakitan semalam."
"Pasti kamu yang mukul. Mama ke rumah kalian sekarang. Apa yang harus Mama bilang ke orang tua Berti, Cakra?" Widya sudah mulai emosi.
"Kami melakukannya semalam," ucap Cakra akhirnya.
"Melakukan apa?"
"Pokoknya Berti baik-baik saja," ucap Cakra dengan memutus sambungan telepon secara sepihak. Cakra mendecakkan lidah saking kesalnya. "Ribet kalau ngurus perempuan," ucapnya.
Kembali telepon berdering. Widya kembali menelepon, tetapi Cakra langsung menggeser tombol warna merah, dan memblokir nomor mamanya sendiri.
Ia tidak napsu untuk sarapan. Di kepalanya masih kepikiran kejadian semalam. Inilah kenapa Cakra tidak ingin menikah sebelum usianya mencapai empat puluh tahun. Pikirkannya akan teralihkan oleh wanita. Namun, orang tuanya malah khawatir jika ia bukan pria normal.
Cakra pergi menemui Berti di kamar. Ia langsung saja masuk dan mendapati Berti yang masih berbaring di tempat tidur. Cakra mendekat, tetapi istrinya membelakangi dirinya.
"Masih sakit?" tanya Cakra.
"Enggak tau."
__ADS_1
"Aku bicara padamu, Bert. Lihat aku, dong," ucap Cakra.
Berti beringsut duduk dari rebahannya dan menatap Cakra. "Apa? Puas kamu nyakitin aku?"
"Aku salah di mananya lagi?" tanya Cakra.
"Ya, kamu mikir," ucap Berti.
"Bisa enggak kamu, tuh, kalau ngomong baik-baik. Kasih tau, aku ini harus apa. Aku enggak ngerti kalau kamu bisanya cuma marah," tutur Cakra.
"Emang sesusah apa, sih, buat kamu mengerti aku? Aku, tuh, butuh perhatian, kasih sayang. Aku butuh suami yang memperlakukan aku dengan lembut," ucap Berti.
Cakra malah tercengang mendengarnya. Perhatian, kasih sayang dan lembut. Bagian mana ia berbuat kasar pada Berti. Rasanya ia tidak pernah main tangan dengan istrinya.
"Jangan aneh-aneh, deh, Bert. Kita ini bukan lagi anak remaja," sahut Cakra.
Jangan berharap jika Cakra akan berubah romantis. Berti sudah mengutarakan suami yang ia inginkan, tetapi Cakra menyanggahnya dengan usia mereka yang sudah tua.
Berti juga harus mengubur impiannya. Mendapati suami yang akan menggendongnya ke kamar mandi setelah malam pertama atau suami yang akan memberikan kecupan sayang di keningnya ketika bangun tidur.
"Pergi ke kantor saja sana. Uangmu akan berkurang kalau telat ngantor," ucap Berti kesal.
"Aku lihat dulu lukamu."
"Luka apa?"
Mata Berti melotot dan sontak ia merapatkan kakinya. "Mau ngapain? Aku enggak mau buat anak lagi. Punyaku masih sakit."
"Ya, makanya aku mau lihat." Cakra menarik selimut yang dipakai Berti. Ia terkejut mendapati noda merah di atas seprai yang putih. "Ini apa?" tanyanya.
"Entahlah," jawab Berti.
"Pantas saja kamu kesakitan. Aku mainnya kasar, ya?"
"Kamu itu ...."
Berti tidak melanjutkan kalimatnya. Terlalu capek untuk membahas perbuatan Cakra semalam, sedangkan pelakunya sendiri tidak sadarkan diri.
"Lebarkan sedikit kakimu," pinta Cakra.
"Dilebarkan saja sakit," dusta Berti. "Mending pergi kerja sana. Pikirin, deh. Apa kesalahanmu tadi malam. Aku sama sekali enggak menikmatinya."
Cakra terdiam, lalu bangkit duduknya. Ia berjalan keluar dengan membanting pintu kamar. Berti tersadar dengan apa yang ia ucapkan dan merasa apa yang ia ucapkan sungguh di luar batas.
...****************...
"Tuan, waktunya kita makan siang," ucap Ariel.
__ADS_1
"Kosong jadwalku sore ini," perintah Cakra.
"Tiba-tiba saja. Biasanya tidak pernah. Apa Tuan ada sesuatu hal?" tanya Ariel.
"Kosongkan saja. Jangan banyak tanya," kata Cakra.
"Ba-baik, Tuan."
"Keluar! Jangan mengganguku."
Sejarah baru dalam masa kerja Ariel. Atasannya tidak berminat dalam pekerjaan dan memilih untuk rehat sejenak. Memang Cakra adalah manusia biasa yang juga punya rasa letih terhadap pekerjaan.
Selepas kepergian sang asisten, Cakra membuka sebuah situs web yang baru pertama kali ia buka seumur hidup. Ia tahu situs itu ketika mendengar teman kuliahnya membicarakan seorang bintang yang naik daun. Namun, saat itu Cakra sama sekali tidak berminat menonton atau melakukan hal gila, seperti memuaskan hasrat diri sendiri.
Cakra gelisah ketika menonton adegan yang membuatnya panas dingin. Salah tingkah juga malu pada diri sendiri. Menunjukkan tubuh bagian atasnya, ia tidak masalah, tetapi memperlihatkan secara langsung bagian bawah rasanya tidak mungkin. Semalam saja mereka melakukannya dengan keadaan kamar yang temaram.
"Ini tidak benar. Tidak seharusnya aku menonton film seperti ini. Gara-gara Berti aku harus mengotori diriku. Tadi malam aku juga mendadak," gumamnya, lalu melirik lagi video yang masih memutar adegan panas. "Astaga! Apa enggak kotor?" komentar Cakra.
Meski banyak berkomentar buruk, tetapi Cakra menyelesaikan menonton dua buah film. Ia mengusap wajahnya kasar karena tontonan itu malah membuatnya menginginkan Berti.
"Pulang saja, deh," kata Cakra yang lekas berberes.
Karyawan perusahaan heran melihat Cakra menenteng tas kerjanya keluar ruangan. Pasalnya Cakra tidak akan pulang sebelum waktunya. Jika pergi keluar karena urusan kantor, maka Ariel yang akan membawa semua perlengkapan. Bahkan, Ariel sang asisten juga heran ketika Cakra mengabarkan kalau dirinya akan pulang.
"Apa Tuan lagi kangen sama istrinya?" gumam Ariel yang penasaran. "Bagus juga, sih. Pekerjaan jadi sedikit lebih santai.
Sesampainya di rumah, Berti malah heran melihat suaminya pulang. Tidak biasanya dan sungguh mengejutkan.
"Ada yang ketinggalan?" tanya Berti.
"Aku mau pulang saja."
"Tumben."
"Memang aneh, ya, aku pulang cepat?" tanya Cakra.
"Baru sadar kalau kamu itu memang aneh. Enggak masalah kalau kamu membuang waktumu yang berharga itu? Bisa saja, kan, sahammu bisa turun dan kamu mengalami kerugian."
"Perkataanmu kayak mau aku bangkrut," sahut Cakra.
Berti mendengkus mendengarnya. "Aku siapin makan siang buat kamu."
"Enggak perlu," tolak Cakra cepat. "A-aku ...."
"Aku apa?" Berti menyela.
"Aku mau buat anak lagi."
__ADS_1
Bersambung