
"Carikan aku pacar sewaan," kata Berti.
"Pacar sewaan? Buat apa?" tanya Sari.
"Pakai tanya lagi. Ya, buat manasin Cakra-lah."
"Seriusan kamu ingin bercerai dengannya?" tanya Sari memastikan.
"Serius!" ucap Berti. "Hidupku terlalu berharga untuk hidup bersama manusia batu seperti dia. Aku butuh kekasih bohongan yang tampan. Kamu ada teman atau kenalan gitu?" tanya Berti.
Sari mengembuskan napas kasar. "Ada, sih. Tapi harus tanya dulu orangnya. Karyawan baru hotel. Masih muda dan tampan. Tapi cuma karyawan biasa."
"Soal itu aku enggak peduli. Pokoknya suruh dia menghadapku. Aku bakal bayar dia," kata Berti.
"Pulang kerja kita ketemuan di kafe biasa. Aku bakal bawa cowoknya ke sana."
Berti mengangguk. "Oke. Pulang kerja aku bakal langsung ke tempat biasa."
"Aku balik, deh. Sekalian mau urusin cowok itu. Tapi kalau ada apa-apa, jangan salahin aku, ya," ucap Sari.
"Tenang saja. Aku bakal tanggung jawab."
Berti membuka pintu ruangannya. Sari keluar dan keduanya saling melambaikan tangan. Berti baru masuk kembali setelah Sari masuk lift.
Dering ponsel berbunyi. Sebuah pesan baru masuk dan itu dari Cakra. Berti mengerutkan kening karena pertama kali suaminya mengingatkan tentang makan siang dan pulang tepat waktu.
"Tumben sekali," gumam Berti. "Oh, dia sudah berjanji pada orang tuaku untuk berubah. Kita lihat saja nanti. Perhatian kecilmu ini tidak akan bisa membuatku luluh."
Di sisi lain, Cakra tengah sibuk menandatangani berkas yang diberikan padanya. Sementara ponselnya berada di tangan sang asisten, Ariel.
"Tuan, saya sudah kirim pesan pada nyonya," kata Ariel.
"Baguslah. Dia membuatku repot."
"Tapi, Tuan. Wanita memang ingin selalu diperhatikan. Apalagi pengantin baru."
"Aku sudah menikahinya. Membawanya bulan madu. Memberi jatah bulanan dan segalanya. Apalagi yang kurang?" tanya Cakra.
"Tidak ada, Tuan. Semua sudah cukup," sahut Ariel.
Percuma saja Ariel memberi saran. Toh, Cakra juga tidak mengerti. Pria itu cuma tahu tentang dunai pekerjaan. Lebih baik Ariel fokus saja pada pekerjaannya daripada mengurusi rumah tangga sang atasan.
*****
"Ini cowoknya?" tanya Berti.
__ADS_1
"Iya. Bagaimana menurutmu? Kalau aku, sih, dia memang tampan," kata Sari.
Berti mengangguk. "Boleh juga. Aku bayar dia."
"Maaf, saya mau diapakan?" tanya pria itu.
Sari dan Berti malah tertawa mendengarnya. Pemuda itu tampan. Hidung mancung, alis tebal dan bibir tipis. Tubuhnya juga tinggi meski tidak berotot seperti Cakra.
"Siapa namamu?" tanya Berti.
"Arjuna. Panggil saja Juna, Nona."
"Sesuai dengan namanya. Kamu memang tampan. Kamu dipanggil kemari karena aku perlu bantuanmu."
"Bantuan?" tanya Arjuna.
"Iya. Aku ingin bercerai dengan suamiku, tetapi dia tidak mau. Aku butuh kamu agar rencanaku berhasil," tutur Berti.
Arjuna merasa ia di dunia berbeda sekarang. Seorang wanita meminta bantuannya untuk berpisah dari suaminya. Sungguh permintaan aneh. Mungkin memang benar. Dunia tengah berada di zaman edan.
"Kamu minta berapa satu bulan?" tanya Sari.
"Saya takut, Nona," ucap Arjuna.
"Jangan khawatir. Aku jamin keselamatanmu,'' sahut Berti. "Aku kasih kamu lima juta sebulan. Bagaimana?"
"Panggil aku Berti. Mulai saat ini, bicara biasa saja padaku. Kita harus terlihat sedang menjalin kasih." Berti menyodorkan ponsel serta uang muka sebagai tanda jadi. "Kita tukeran nomor kontak. Ingat! Anggap aku ini adalah kekasihmu."
"Iya, Nona," ucap Juna.
"Aku sudah bilang namaku, kan?"
"Eh, maksudnya Berti.
Pertemuan selesai. Berti sampai di rumah pukul tujuh malam, padahal Cakra sudah mengatakan untuk pulang pukul lima sore. Berti tidak peduli jika suaminya akan marah lagi. Itu malah semakin bagus agar bisa berpisah dari Cakra.
"Mana Cakra?" tanya Berti ketika melihat Minah yang membuka pintu.
"Tuan di kamar, Nyonya."
"Sudah makan malam dia?"
"Barusan selesai. Habis itu tuan langsung balik ke kamar," kata Minah.
"Pasti dia lagi tiduran di sofa panjang dalam kamarnya," ucap Berti.
__ADS_1
"Bukan, Nyonya. Tuan ada di kamar atas."
"Di kamarku?" tanya Berti tidak percaya.
"Iya. Nyonya mau makan malam? Biar Bibi panasin lauknya."
Berti menggeleng. "Enggak usah, Bi. Aku sudah makan di luar. Kunci saja pintunya. Aku langsung ke atas saja."
Berti bergegas naik ke atas. Mungkin saja malam ini, ia akan bertengkar lagi pada Cakra. Pintu yang tidak dikunci dibuka. Berti masuk dan melihat suaminya duduk di atas tempat tidur sembari membaca buku.
Berti tidak menegur. Ia menyimpan tasnya, lalu berjalan mengambil pakaian ganti dan handuk. Berti masuk kamar mandi dan lekas menutup pintu.
"Astaga! Aku sungguh tidak memahami suamiku. Tumben sekali dia ada di kamar," gumam Berti.
Berti keluar setelah membersihkan diri. Cakra belum beranjak juga dari tempat tidur. Mungkin saja Cakra ingin tidur di kamar mereka. Berti ingin tahu sampai kapan suaminya itu akan bertahan.
Dering ponsel berdering. Cakra melirik telepon genggam miliknya yang berada di meja lampu tidur. Tidak ada yang menelepon dan artinya, itu bunyi dari ponsel Berti.
Segera saja Berti mengambil tas di meja sofa, lalu mengambil ponsel. Satu panggilan tidak terjawab dari Arjuna. Berti tersenyum karena ia sempat mengirim pesan agar Arjuna menelepon ketika ia sampai di rumah. Tidak disangka hari pertama sangat bagus. Kalau sudah seperti ini, maka Berti akan mengobrol dalam chat bersama kekasih settingannya.
Berti naik saja ke atas tempat tidur. Ia berbalas chat bersama Arjuna. Cakra menutup buku yang ia baca. Ia menghidupkan lampu tidur, lalu turun dari ranjang untuk mematikan lampu utama.
Berti ingin protes karena masih terlalu awal untuk tidur. Tapi, Cakra sudah naik lagi ke atas tempat tidur. Berbaring dengan membelakangi Berti.
Hal itu tidak menyurutkan keinginan Berti untuk chatting bersama Arjuna. Pria yang lebih muda dua tahun dari Berti itu, rupanya menarik juga. Berti menahan tawanya ketika membaca rayuan gombal dari Arjuna.
Suara tawa Berti, cahaya ponsel menjadi penganggu bagi Cakra. Ia membalik diri memandang Berti yang asik chatting bersama seseorang.
Cakra merebut ponsel begitu saja dari tangan istrinya. "Malam begini, kamu chatting sama siapa?"
Berti ingin meraih kembali ponsel itu dari tangan suaminya, tetapi keburu Cakra telah menyelipkan telepon genggam itu dibawah bantal.
"Kembalikan ponselku!" kata Berti.
"Tidur!" perintah Cakra.
"Ini baru pukul delapan. Aku tidak bisa tidur."
"Aku mau lihat siapa yang chatting bersama istriku," kata Cakra.
"Jangan pernah sekali melihatnya!" bentak Berti.
Cakra beringsut duduk. "Berti! Jangan sekali membentak suamimu. Apa ini sikapmu yang sebenarnya?" Cakra mengambil ponsel di balik bantal, lalu meletakkannya di sisi Berti. "Aku bilang tidur. Sampai aku melihat kamu bermain ponsel, tau sendiri akibatnya."
Berti mendengkus. Ia mengambil ponsel, lalu meletakkannya di atas nakas. Berti merebahkan diri dengan membelakangi suaminya. Selimut ditarik sampai Cakra tidak kebagian.
__ADS_1
Bersambung