Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Bantu Aku Cerai


__ADS_3

Cakra mengetuk pintu, tetapi Berti enggan untuk membukanya. Ia bahkan bersembunyi dibalik bantal agar suara gaduh yang Cakra timbulkan tidak terdengar.


"Aku tidak akan membukanya," ucap Berti bersikukuh.


Kembali pintu kamar diketuk. Namun, suara kali ini membuat Berti tidak dapat mengabaikannya. Ia segera turun dari ranjang, lalu berjalan ke depan. Ia dengar sekali lagi jika suara yang memanggilnya sangat ia kenali.


"Ayah, Ibu," ucapnya, lalu membuka kunci kamar.


Benar saja dugaan Berti. Ibu dan ayahnya tepat berada di depan kamar. Sang ibu malah hanya mengenakan daster serta jaket tebal saja untuk datang ke rumahnya. Sementara sang ayah memakai piama tidur bersama baju hangat dan sandal jepit.


"Ayah, Ibu. Kalian di sini?" kata Berti.


Pandangan Berti beralih pada suaminya. Ya, siapa lagi yang mengundang kedua orang tuanya untuk datang kecuali Cakra. Nampak orang tuanya terburu-buru untuk tiba di rumah anak menantunya.


"Ayo, turun ke bawah. Kita bicara di sana," ucap Ilham.


Berti mengangguk, lalu berjalan bersama menuruni anak tangga. Tidak disangka rupanya bukan hanya orang tuanya saja yang datang, tetapi mertua Berti juga turut hadir. Kebetulan sekali, Berti akan mengutarakan niatnya untuk berpisah dari Cakra.


"Duduk," kata Ilham.


Berti duduk di sofa panjang dengan diapit oleh Ilham dan Santi. Cakra duduk di sofa single, sedangkan kedua orang tuanya duduk saling berhadapan dengan besan.


"Nak, kenapa? Ada masalah apa sampai kamu ingin minta cerai?" tanya Santi.


Berti memandang Cakra. Rupanya suaminya telah mengatakan segala hal tentang mereka. Berti akan lihat apakah permintaannya disetujui atau tidak untuk masalah ini.


"Benar, Bu. Berti enggak tahan sama Cakra. Dia tidak perhatian. Selalu cuek sama Berti," ungkapnya.


"Nak, pernikahan itu bukan main-main, apalagi perceraian. Masa hanya karena Cakra cuek, kamu minta cerai?" kata Ilham.


"Tapi, Pak. Cakra itu tidak pernah ...."


Berti tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Tidak seharusnya juga masalah tempat tidur dibawa-bawa, apalagi bicara soal cinta. Berti tidak ingin hal itu dibahas. Ia tidak ingin membuat malu dirinya sendiri.


"Sayang, Cakra memang begitu. Dia cuek dan lebih mementingkan pekerjaan," ucap Widya.

__ADS_1


"Apa Cakra pernah berkata kasar padamu, Nak? Apa dia pernah memukulmu?" tanya Adhitama.


Berti menggeleng. "Tidak pernah."


"Ibu mengerti, Sayang. Awal-awal pernikahan memang berat. Nak Cakra baik, kamu harus bersyukur bisa menjadi istrinya," kata Santi.


Ucapan Sari ada benarnya. Alasan Berti tidak diterima begitu saja. Ia juga tidak bisa membicarakan perihal lain mengenai hubungannya bersama sang suami. Cakra terlalu sempurna. Kekurangannya hanya cuek dan masih belum bisa meniduri Berti itu saja.


"Maaf, Berti gegabah tadi. Maaf telah merepotkan kalian datang kemari," ucap Berti.


"Tarik kata-katamu itu, Sayang. Ibu dan Bapak tidak mau kamu menyebut perceraian lagi," kata Santi memperingatkan.


"Iya, maafin Berti."


"Kamu juga Cakra, perhatian sedikit sama Berti," saran Widya.


"Jangan kerja terus. Istrimu perhatiin," timpal Adhitama.


"Iya, Ma, Pa. Cakra akan berusaha berubah," sahutnya.


Cakra menghela napas. "Maafin Berti. Dia mungkin masih kesal sama Cakra."


"Sebaiknya kamu bujuk dia. Ibu dan Bapak mau pulang," kata Santi.


"Ingat, Cakra. Baik-baik sama istrimu," pesan Widya.


"Iya, Ma. Cakra akan bujuk Berti."


Semua bangkit dari duduknya. Cakra bersalaman bersama mertua serta orang tuanya. Mengantar mereka sampai ke depan pintu. Setelah semua masuk mobil dan pergi dari rumah, barulah Cakra menutup pintu.


"Berti tidak mengatakan hal yang sebenarnya. Lebih baik aku lihat dia. Apa dia sungguh menyesal atau masih marah," gumam Cakra.


Cakra lekas menaiki undakan menuju kamar tidur Berti. Ia menekan gagang kunci dan rupanya Berti tidak menguncinya. Cakra masuk dan melihat istrinya itu malah melipat tangan di perut dan memang Berti tengah menunggu Cakra.


"Puas?" tanya Berti.

__ADS_1


"Astaga! Masih marah lagi?"


"Kamu pikir dengan mendatangkan orang tuaku, niatku untuk bercerai pupus begitu saja?" Berti menggeleng. "Enggak semudah itu. Keputusanku sudah bulat. Kita tetap pisah."


"Aku capek bahas ini. Kamu banyak buang-buang waktuku. Sekeras apa pun kamu mau berpisah, maka aku akan berusaha mempertahankannya," ucap Cakra, lalu keluar dari kamar dengan membanting pintu.


"Lihat saja nanti. Kita akan tetap berpisah," gumam Berti.


*****


Siangnya, Berti menemui Sari di restoran hotel tempat wanita itu bekerja. Keduanya makan siang bersama sekaligus Berti ingin curhat tentang apa yang terjadi semalam.


"Jadi?" tanya Sari.


"Sesuai dugaanmu. Orang tuaku malah menganggap masalah kami ini hanya sepele saja."


"Jelas saja. Aku juga menganggapnya begitu. Kecuali Cakra itu melakukan KDRT. Selingkuh atau apalah pokoknya," ucap Sari.


"Bagaimana supaya aku punya alasan untuk cerai?" tanya Berti.


"Ya, ampun. Jadi, kamu masih ingin berpisah dari Cakra? Pikir-pikir dulu, Bert. Nanti nyesel, loh. Cakra itu tampan dan kaya."


"Kalau kamu mau, ambil saja."


"Sembarangan!" kata Sari.


Berti menatap Sari yang menyantap es krimnya dengan lahap. Sari cantik dan seksi. Pria mana pun akan tertarik terhadapnya. Namun, Sari sangat pemilih. Dia hanya ingin pria yang mapan saja menjadi pendampingnya.


"Sudah aku putuskan!" ucap Berti tiba-tiba.


Sari hampir saja tersedak es krim. "Apa, sih?"


"Kamu! Bantu aku cerai."


"Apa?" tanya Sari tidak percaya.

__ADS_1


Bersambung. 


__ADS_2