
Berti keluar begitu saja dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Tentu hal ini membuat Santi juga pusing lantaran hubungan anak dan menantunya masih renggang.
Sebagai seorang ibu, ia juga menyayangkan kejadian ini. Bagi Santi ini masalah sepele lantaran Cakra yang tidak bisa bersikap romantis. Namun, Santi mengerti jika istri kadang kalanya ingin dimengerti dan disayang.
Pernikahan itu bukan hanya hidup dengan orang yang dipilih, tetapi hidup bersama orang yang penuh dengan perbedaan. Menyelaraskan perbedaan bukan menyamakan perbedaan. Saling melengkapi antara satu sama lain.
"Dari mana kamu ketemu sama Berti? Tadi dia bilang mau jalan ke mal. Ibu temani, dia malah enggak mau," kata Santi.
Satu fakta lagi karena Berti telah berbohong. Cakra tidak mengerti ada apa dengan istrinya. Kenapa Berti malah sulit untuk diatur? Ia kehilangan kendali atas istrinya itu.
"Enggak ada apa-apa, Bu. Cakra menyusulnya karena khawatir saja."
"Kamu temani dia dulu."
Cakra juga mau menemani istrinya, tetapi Berti tengah berada dalam kemarahan. Yang ada nantinya malah terjadi pertengkaran sebab Cakra sudah lelah untuk berdebat.
"Nanti malam saja Cakra kemari," ucapnya. "Ibu jaga Berti dulu. Kalau mau keluar harus ada yang menemani."
Santi mengangguk. "Iya, Ibu enggak bakal izinin dia keluar lagi."
Cakra undur diri dari kediaman Ilham. Sementara Berti yang melihat dan mendengar percakapan suami dan ibunya terlihat kesal.
"Kenapa Ibu enggak mengerti perasaan Berti?" ucapnya.
"Nak, kalau sikapmu begini, sudah banyak pasangan yang bercerai. Cakra itu baik anaknya. Pekerja keras, apalagi yang kurang, Nak?"
"Ibu enggak ngerasain bagaimana hidup bersama Cakra."
Santi mengangguk. "Iya, Ibu mengerti. Tapi, Bert. Selagi suami itu tidak bermain perempuan, tidak kasar padamu, jangan dibuang. Susah, Bert, cari suami setia dan tanggung jawab. Kecuali kalau kamu punya pria idaman lain."
Berti tersentak mendengarnya. Ia tidak mengatakan hal tentang Banyu pada siapa pun, dan Cakra juga tadi tidak mengatakan kalau ia nyatanya tengah bertemu Banyu di taman.
"Kenapa Ibu bisa bicara begitu?" tanya Berti.
"Ibu hanya bicara saja," jawab Santi sambil lalu menuju dapur.
Berti duduk di sofa dengan mengembuskan napas lega. Ia sadar kesalahannya telah menemui pria lain meskipun Berti belum menyatakan perasaannya pada Banyu. Ia masih menganggap pria itu sebagai teman, tetapi tidak dapat dipungkiri jika ia memang menyukai sang mantan.
Gara-gara obrolan tadi, Berti teringat Banyu yang dipukuli oleh Cakra. Untung saja pria itu cukup kuat menahan tinju dari suaminya, dan tidak dapat dibayangkan jika Banyu sama seperti Arjuna yang langsung pingsan dalam sekali pukul.
Pesan terkirim, tetapi Banyu belum membacanya. Tanda centang dua masih belum berubah menjadi biru. Berti jadi khawatir dan ingin sekali menemui mantannya. Kemudian ia tersadar ketika Cakra dapat mengetahui keberadaannya.
__ADS_1
"Pasti Cakra tahu lokasiku dari GPS." Berti mendengkus juga kesal mengetahui fakta itu.
Tengah duduk bersantai, bel rumah berbunyi. Berti malas untuk beranjak dari sofa, dan membiarkan asisten rumah tangganya membuka pintu.
Tidak lama bibi yang namanya mirip dengan asisten rumah tangga Cakra datang menghampiri bersamaan sebuket bunga mawar warna merah muda.
"Non, ada kiriman bunga," ucap Inah seraya menyerahkan buket mawar pada Berti.
"Dari siapa?"
"Nona buka saja kartunya. Bibi mau ke dapur dulu."
Berti mengangguk. "Terima kasih, Bi."
Berti menghirup aroma bunga itu dulu, lalu membuka kartu dari si pengirim. Di sana tertera nama Cakra dan tulisan ungkapan berupa maaf.
"Ada angin apa dia kasih aku bunga," gumam Berti.
Mawar merah muda merupakan simbol cinta yang manis, kebahagian serta romantis. Pria yang mengirim bunga mawar muda pastilah seorang laki-laki yang penuh kelembutan.
"Bunga dari siapa?" tanya Santi.
Santi tersenyum. "Mau Ibu taruh di vas bunganya?"
Berti menggeleng. "Enggak usah, Bu. Biar aku bawa ke kamar saja bunganya." Kemudian berlalu dari hadapan ibunya.
"Semoga Berti mengurungkan niatnya untuk bercerai," gumam Santi.
Sementara di toko perhiasan, Cakra tengah memilih hadiah untuk diberikan kepada istrinya. Sebenarnya ia bingung lantaran Berti sudah punya segalanya, dan teringat pemberian dari Banyu yang terlihat unik, dalam arti romantis.
Cakra membeli satu set perhiasan berlian, tetapi tetap merasa ini masih kurang. Ia duduk di restoran dalam mal sembari mencari referensi di internet.
"Kayaknya Berti suka yang begini daripada perhiasan. Ariel kasih saran enggak bener. Berti juga banyak koleksi perhiasannya," gumam Cakra. "Apa kasih tiket liburan? Oh, ajak dia makan malam di restoran."
Cakra menggeleng karena untuk makan malam berdua, sepertinya tidak bisa lantaran Berti masih dalam keadaan marah. Karena sudah membeli perhiasan, maka itulah yang akan diberikan olehnya nanti.
Malam hari, Cakra baru mengunjungi istrinya. Dengan membawa buah, kue cokelat serta hadiah untuk Berti. Ia seakan melupakan kejadian tadi sore. Cakra menganggap jika istrinya itu tidak pernah bertemu dengan Banyu.
"Berti," panggil Cakra dengan membuka pintu kamar perlahan.
Istrinya tidak ada di kamar, padahal Santi memgatakan kalau putrinya itu di kamar. Tapi, Cakra mendengar suara air dari dalam bilik mandi. Cakra meletakkan paper bag di atas tempat tidur, dan duduk menunggu istrinya. Ia tersenyum melihat bunga yang tadi ia kirimkan berada di atas meja lampu tidur.
__ADS_1
Suara pintu dibuka terdengar, Cakra menoleh, dan Berti sedikit kaget tiba-tiba saja suaminya itu telah berada di dalam kamar.
Cakra langsung menghampiri istrinya, lalu memeriksa keadaan Berti yang sepertinya masih mengalami mual dan muntah.
"Aku gosok minyak kayu putih, ya," kata Cakra.
Berti hanya berdeham, tetapi ia membiarkan Cakra menggosok punggungnya dengan minyak kayu putih.
"Kenapa kamu enggak mau cerai?" tanya Berti. "Sudah tahu, kan, aku ini suka sama Banyu. Anak orang kamu buat babak belur."
"Kalau aku tahu kita nikah cuma buat cerai, mending aku enggak nikah, deh, sama kamu," ucap Cakra.
"Apa maksudmu?" Berti meradang.
"Pernikahan itu sakral buat aku. Cukup sekali seumur hidup bersama satu pasangan saja."
Berti menjauhkan diri dari suaminya, lalu matanya teralihkan pada paper bag yang ada di samping tempat tidur. Sejak kapan ada bingkisan di sana, dan kenapa Berti tidak menyadarinya.
"Ini buat kamu," kata Cakra seraya mengambil bingkisan itu, lalu menyerahkannya pada Berti.
"Ada apa ini? Tadi bunga, sekarang hadiah."
"Serbasalah, deh. Nanti aku enggak kasih, dibilang cuek lagi.
Berti tidak menanggapi, tetapi langsung membuka hadiah dari Cakra. Kotak beludru hitam, dan Berti sudah menduga jika itu adalah perhiasan.
"Makasih hadiahnya."
"Kok, enggak kamu buka," kata Cakra.
Berti membuka kotak itu. Satu set perhiasan yang berkilauan. Ia tersenyum. "Makasih banyak-banyak."
Rasanya ini karma bagi Cakra yang telah selama ini mengabaikan istrinya. "Aku ada bawa buah dan kue. Kamu mau?"
"Buatin aku susu," kata Berti.
"Malam ini aku tidur di sini, ya," pinta Cakra.
"Mas enggak boleh tidur bersamaku."
Bersambung
__ADS_1