Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Tunangan


__ADS_3

Menurut informasi dari mata-mata, yaitu Sari. Pihak mempelai pria telah datang. Sari juga mengabarkan kalau Cakra telah hadir dengan mengenakan setelan batik berlengan panjang. 


Berti bersyukur dalam hati. Ia sempat khawatir jika Cakra tidak hadir atau keluarganya harus menunggu lagi seperti pertemuan waktu itu karena mempelainya terlambat. 


"Kamu siap-siap saja, Bert. Sebentar lagi kita keluar," kata Sari. 


Berti mengangguk. Dalam kegugupan ini, tiba-tiba saja ia ingin buang air. Berti berusaha untuk menahannya karena tidak ingin mengacaukan pakaian yang dikenakan. 


"Ibu sudah datang. Siap-siap," kata Sari. 


"Aku bukan pergi perang. Kamu malah menyuruhku bersiap." 


Sari menyengir, membuka pintu lebar, dan mempersilakan ibu serta kerabat Berti menjemput calon istri dari Cakra. 


Berti keluar dengan diiringi ibu serta bibinya di sisi kiri dan kanan. Di belakangnya ada Sari yang ikut bersama menuruni anak tangga satu per satu. 


Cakra tersenyum melihat Berti yang tampak cantik ini, dan ia mengerutkan dahi atas kebaya yang calon istrinya kenakan. Berti sungguh memilih memakai kebaya yang Ariel pilihkan untuknya. 


Berti berdiri di samping Cakra. Acara tukar cincin pun dimulai. Cakra menyematkan cincin ke jari manis Berti begitu pula sebaliknya. Sekarang keduanya telah resmi bertunangan. 


"Selamat, Nak," ucap Santi dengan memeluk putrinya. 


"Selamat sahabatku," sambung Sari. 


Serta yang lainnya memberi ucapan selamat kepada mempelai. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan membahas tanggal pernikahan yang akan dilaksanakan dua bulan ke depan. 


"Mama sudah punya butik rekomendasi. Bagaimana kalau besok kita ke sana? Kalau cocok kita bisa langsung memesan baju," ucap Widya.


"Sekalian dengan baju untuk preweeding. Langsung pesan saja," timpal Santi. 


"Perencana pernikahannya belun dicari," kata Berti. 


"Tenang, Sayang. Mama sudah punya kenalan yang usaha sebagai perencana pernikahan," sahut Widya. 


"Mama?" tanya Daffa heran. 


Ibunya telah menyebut diri sendiri mama kepada Berti meski wanita itu belum resmi menjadi kakak iparnya. Dalam arti baru setengah jadi. 


"Kami akan menikah. Biarkan Berti menyebut mama dan papa kita dengan panggilan yang sama," ucap Cakra. 


Daffa mengangguk. "Begitu." 


Lagi-lagi Cakra tersenyum memandang calon istrinya. Berti merasa malu, ia pun menundukkan kepala dan mendapat senggolan dari Sari. 


"Curi-curi pandang, nih," bisik Sari. 


"Enggak, kok," balas Berti. 


"Senengnya yang mau nikah," goda Sari. 


Pipi Berti merona mendengarnya. "Kita lagi diskusi. Diam dulu." 

__ADS_1


Kesepakatan terjadi. Tanggal pernikahan telah ditetapkan termasuk dengan daftar tamu undangan yang diperkirakan akan mengundang dua ribu orang. 


"Cakra, Berti, karena kalian sama-sama sibuk. Mumpung masih ada waktu, segera selesaikan urusan kantor. Beri waktu untuk kalian sebelum dan sesudah pernikahan," ucap Ilham. 


"Betul! Terutama Cakra yang selalu sibuk. Kamu harus ambil cuti. Papa ingin segera mendapatkan cucu," sambung Adithama. 


"Benar, kami juga menginginkan cucu," sahut Widya dan Santi bersamaan. 


Berti ingin menghilang dari kumpulan dewasa. Dari diskusi tanggal pernikahan, beralih ke pembahasan masalah cucu. Berti belum saja menikah, dan ini membuatnya merasa malu. 


Berti melirik Cakra yang terkesan biasa saja atas pembahasan tersebut. Pria itu malah tertawa mendengar pengalaman lucu dari para orang tua. 


"Kenapa jadi membahas ini?" bisik Sari. 


"Aku malu," balas Berti. 


Sari tertawa kecil. "Aku juga." 


"Berti, bisa kita bicara?" tanya Cakra. 


"Bert, bawa Cakra bicara di taman. Kalian berdua harus saling mengakrabkan diri," ucap Ilham. 


"Iya, Pak," sahut Berti, yang bosan mendengar perintah itu.


Keduanya beranjak dari duduk mereka. Berti menyempatkan mengambil cemilan dan minuman untuk menemani mereka bersantai sejenak. 


"Biar aku bawa minumannya," kata Cakra. 


Keduanya berjalan di taman. Berti meletakkan sepiring kue di meja, dan Cakra menaruh minuman di tempat yang sama. Keduanya duduk berdampingan yang dibatasi oleh meja bulat. 


"Kamu ingin bulan madu di mana?" tanya Cakra. 


"Apa?! Bulan madu?" tanya Berti, memastikan jika telinganya tidak salah dengar. 


Cakra mengangguk. "Iya, bulan madu. Ada yang salah dengan pertanyaan itu?" 


Berti menggeleng. "Tidak, kok." 


"Pengantin baru harus bulan madu, kan? Aku akan persiapkan dari sekarang. Setelah menikah, kita akan pergi bulan madu. Aku harus menjadwalkan semuanya sebelum hari sakral kita tiba." 


Entahlah. Mendengar bulan madu, tubuh Berti bergetar. Untuk hal yang seperti itu, Cakra telah memikirkannya. Tidak heran jika tunangannya itu sukses dalam dunia bisnis. Cakra selalu berpikir tentang ke depannya. 


"Aku terserah kamu saja," ucap Berti. 


"Kamu suka pantai atau gunung?" tanya Cakra. 


"Keduanya." 


"Kamu mau luar negeri atau dalam negeri?" tanya Cakra. 


"Aku hanya pernah bepergian ke Malaysia dan Singapura. Selain itu hanya liburan ke luar kota," jawab Berti. 

__ADS_1


"Kamu mau ke Swiss atau Perancis?" 


Membayangkan Swiss dengan pengunungan yang indah sangat menyenangkan, tetapi Perancis juga negara yang sangat romantis. Sungguh pilihan sulit. 


"Aku ikut kamu saja," jawab Berti. 


Cakra menaikkan sebelah alisnya. "Kamu tidak bisa memilih? Pilihlah negara  yang lebih kamu sukai. Aku tidak mau kamu menyesal atas pilihanku nantinya." 


"Aku suka keduanya, dan tidak bisa memilih." 


Cakra meneguk minumannya, ia tidak menyukai gadis yang tidak bisa memiliki pendirian. Ia sudah memilih negara terbaik untuk bulan madu, tetapi Berti tidak dapat memilih salah satunya. 


"Aku pilih Swiss," ucap Berti akhirnya.


Cakra memandang tunangannya. "Aku akan memesan paket bulan madunya." 


"Selama berapa hari kita di sana?" tanya Berti. 


"Satu minggu," jawab Cakra. 


"Oke, aku setuju." 


Berti memandang Cakra lekat. Ia segera memilih negara yang menjadi pilihan Cakra tadi. Berti menyadari perubahan dari wajah tunangannya yang tampak kesal. Satu hal yang pasti, Cakra tidak ingin memanjakan atau memaksakan wanita dengan kata rayuan. 


"Kamu belum makan malam, kan? Lebih baik kita masuk," ucap Berti. 


"Iya, aku memang belum makan." 


"Apa makanan kesukaanmu?" tanya Berti. 


"Aku suka semuanya, tetapi aku lebih suka makanan sehat," jawab Cakra.


Tidak heran jika Cakra punya bentuk tubuh bagus. Pria itu sangat menjaga makanan yang masuk ke tubuhnya. Bagi Berti ini tidak sulit. Ia bisa memasak makanan sehat. Kehidupan rumah tangga nanti, semoga bisa ia jalankan. 


"Apalagi kesukaanmu?" tanya Berti sembari berjalan menuju ruang tengah. 


"Bekerja dan olahraga." 


"Kamu suka menonton film?" 


"Menonton film hanya membuang waktuku," jawab Cakra. 


Berti tertegun mendengarnya. Hiburan bagi Cakra hanya membuang waktu. Astaga! Pria macam apa yang akan dinikahi oleh Berti ini? 


Sesampainya di ruang tengah, Berti mencoba melayani Cakra dengan mengambilkan pria itu sepiring nasi. Cakra tidak berkomentar hanya saja alisnya naik sebelah. 


"Apa nasinya kebanyakan?" tanya Berti. 


"Tidak apa-apa. Aku bisa mengatasinya," jawab Cakra. 


Apa aku salah? Kenapa tadi aku tidak tanya dulu? batin Berti. 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2