
"Sudah enggak minta cerai lagi, kan?" tanya Cakra. "Enggak boleh, Bert. Kamu terus berkata seperti itu."
"Karena kamu yang enggak cinta sama aku."
"Aku cinta sama kamu," jawab Cakra.
Berti memalingkan wajahnya. "Sudah dipaksa baru mau."
Cakra menggaruk kepalanya. "Salah terus akunya. Aku belum makan siang, nih. Perutku kelaparan."
"Ayo, makan dulu." Berti bangun dari duduknya, tetapi Cakra meraih tangan itu. "Apa lagi? Katanya mau makan."
"Aku sudah lama enggak di dekat kamu."
Berti menepuk punggung tangan suaminya, lalu melepas tangannya dari pegangan Cakra. "Enggak ada."
Kemudian berjalan membuka pintu, lalu keluar. Cakra mengembuskan napas panjang, rupanya masih harus bekerja keras lagi. Tapi ia sudah cukup senang Berti tidak marah, dan paling penting mengurungkan niatnya untuk bercerai.
"Bert, bagaimana?" tanya Santi.
"Ibu, Sari mana?"
"Sudah pulang. Nak, bagaimana Cakra?"
"Cuma salah paham saja, Bu. Berti yang salah, kok."
"Aduh, Nak. Kalau ada apa-apa jangan langsung marah. Kasih kesempatan dulu buat suamimu menjelaskan," ucap Santi.
"Iya, Nak. Ayah sampai kaget tadi," Ilham menimpali.
"Iya, Bu, Ayah. Berti siapkan makanan buat Cakra dulu. Dia belum sempat makan siang tadi."
Baik Santi dan Ilham merasa lega. Cakra keluar dengan senyuman ketika melihat mertuanya. Ia bergabung bersama Ilham, sedangkan Santi beralih dengan mengirim pesan kepada besannya. Kabar gembira ini harus segera diberitahu.
"Berti mengurungkan niatnya?" tanya Ilham.
"Iya, Ayah. Semoga dia enggak lagi minta cerai."
"Maklumi, Cakra. Dia lagi masa hamil. Lagi masa sensitif. Salah sedikit saja langsung marah, nangis," ucap Ilham.
"Iya, Ayah. Cakra mengerti."
Lebih baik mengiakan saja ucapan Ilham meski sebenarnya Cakra juga jengkel terhadap istrinya. Ia juga bosan mendengar kata perpisahan dari mulut Berti. Jika diturutkan bisikan setan, mungkin sudah dari dulu Cakra mengucapkan talak.
Namun, ia ingat ucapan dari papanya. Tahun pertama pernikahan memang seperti itu. Dulu Widya juga sering mengajukan cerai, tetapi Adhitama begitu sabar menghadapinya, dan sekarang Cakra juga mengalaminya. Ia sudah menerima Berti sebagai pasangan dan seharusnya ia mempertahankan keutuhan rumah tangganya.
"Mas, makanannya sudah siap," kata Berti.
"Ayo, Ayah, kita makan," ajak Cakra.
__ADS_1
"Ayah sudah makan, kamu saja," ucap Ilham.
Sekarang tinggal bermanja saja. Berti langsung menggandeng lengan Cakra menuju ruang makan. Meski Cakra malu pada ayah mertuanya, tetapi ia tidak melepas tangan itu.
"Aku masak makanan kesukaan kamu," kata Berti.
Cakra mengangguk, lalu duduk di kursi makan. Berti melayani suaminya dengan baik, menuangkan nasi serta lauk pauknya.
"Enak, enggak?" tanya Berti.
"Enak, kok," jawab Cakra yang menyuap nasi ke mulutnya.
"Mas harus habiskan makanannya."
"Iya, aku bakal habiskan. Malam ini kita pulang ke rumah, ya," pinta Cakra.
Berti mengiakan. Melihat Cakra yang makan dengan lahap, Berti pun ikut makan. Situasi keduanya sedikit mencair kali ini dengan Berti memancing obrolan dan Cakra menjawabnya.
...****************...
Akhirnya, Berti mau diajak pulang ke rumah mereka berdua. Untuk bersama sang istri memang lebih enak di tempat tinggal sendiri. Mau gandengan, saling berpelukan atau bersentuhan akan lebih leluasa.
Tidak ada yang berubah dari rumah yang sempat Berti tinggalkan selama beberapa hari. Semua masih dalam pengaturan Berti, dan Minah begitu senang istri majikannya pulang.
"Mas mau teh hijau?" tawar Berti.
Cakra menggeleng. "Aku mau mandi. Kamu istirahat saja."
Cakra hanya berdeham, ia masuk kamar mandi langsung, sedangkan Berti menyiapkan pakaian ganti suaminya. Tengah memilih baju, suara ponsel memanggil terdengar. Berti menghentikan sejenak pekerjaannya, lalu mengambil telepon genggam miliknya dari dalam tas.
Satu nama yang telah mengisi kekosongan Berti. Sang mantan menelepon. Namun, ia enggan untuk mengangkatnya. Berti membiarkan saja ponselnya berdering. Mengatur nada dering telepon genggamnya menjadi senyap agar tidak menganggu.
"Siapa yang telepon?"
Berti terlonjak kaget. "Kapan keluarnya? Kok, aku enggak dengar suara pintu dibuka."
"Pintunya enggak aku tutup rapat," jawab Cakra. "Mantanmu lagi yang menelepon?"
Berti menunduk. "Maaf, Mas."
"Pria dan wanita memang enggak bisa berteman, makanya dulu aku enggak suka dekat sama teman perempuan."
"Kamu saja yang kayak patung."
"Memamg benar, kan? Kamu lihat sendiri Banyu itu terus mengharapkanmu," ucap Cakra seraya meraih baju ganti yang istrinya siapkan. "Aku enggak mau mengekangmu, Bert. Boleh berteman, asal jaga kepercayaanku."
"Tapi kamu enggak izinin aku kerja."
"Karena kerja akan ada banyak bertemu orang, terutama pria."
__ADS_1
"Mas, aku mau kerja. Aku bosan di rumah. Teman-temanku semua kerja."
"Kamu lagi hamil, Bert," ucap Cakra.
"Mas ...." Berti memasang wajah cemberut.
Cakra menghela napas panjang. "Kerja di butik saja. Jangan lupakan tanggung jawabmu."
"Memangnya selama ini aku kurang melayanimu?"
Cakra terdiam, melempar handuknya di keranjang kotor pakaian, lalu meraih buku bacaan yang tergeletak di meja lampu tidur.
"Aku mau minum susu," kata Berti. "Mas buatin, ya."
"Tunggu di sini sebentar."
Cakra meletakkan kembali bukunya, lalu keluar dari kamar. Berti memandang suaminya, dan apa yang dikatakan Sari memang benar. Ia bersalah, dan kurang bersyukur. Ia dan Cakra harusnya saling menutupi kekurangan masing-masing.
Tidak lama, Cakra masuk ke kamar dengan membawa dua cangkir gelas, yang anehnya terdapat gambar serta nama di badan gelas tersebut.
"Ini susunya," kata Cakra sembari menyerahkan gelas itu pada Berti.
"Suami," ucap Berti, lalu beralih pada cangkir Cakra. "Istri." Lalu, ia tertawa karena warna merah muda pada gelas serta tulisannya.
"Kenapa? Aneh, ya? Kamu enggak suka?" tanya Cakra.
"Sejak kapan di rumah kita ada gelas begini. Mas lucu, deh."
"Serbasalah. Ini aku pesanlah. Untuk anak kita juga ada, tapi belum jadi."
Berti tertawa. "Mas, beneran, deh, lucu."
"Buang saja kalau enggak mau. Aku malu, nih," kata Cakra.
"Enak saja. Enggak bisa. Ini punya aku," kata Berti.
Cakra sudah berusaha untuk romantis dengan memesan cangkir couple, malah Berti yang membuat itu terkesan lucu.
"Mas enggak usah berubah kayak yang gimana. Aku itu cuma minta perhatian sama waktu."
Cakra mencebik. "Nanti bilangnya enggak bisa ngomong cinta, inilah, itulah, ribet."
Berti melipat bibirnya agar tidak tertawa. Apa yang diucapkan Cakra ada benarnya juga. Ia senang suaminya mulai memperhatikan hal kecil seperti ini, tetapi Berti tidak ingin memaksa Cakra yang nantinya membuat pria itu merasa tidak nyaman atau terbebani.
"Se-nyaman Mas saja, tetapi jangan cuek sama aku. Jalan harus gandengan, harus perhatian sama aku, terus seminggu sekali harus makan malam di restoran romantis," ucap Berti.
"Iya, kamu atur saja. Cepat habiskan susumu itu. Aku juga mau minum susu," kata Cakra.
"Susu apa?" tanya Berti.
__ADS_1
Cakra menunjuk bagian itu. "Sudah lama, nih. Pengen jenguk anak."
Bersambung