Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Kapan Hamil?


__ADS_3

Kesempatan bagi Berti untuk terus bermanja pada suaminya meskipun Cakra selalu saja menggerutu. Liburan kali ini memang diisi dengan aktivitas mereka bersama. Mungkin dulu memang seharusnya Berti meminta bulan madu di sebuah pulau. Dengan begitu, tidak akan ada penundaan malam pengantin ketika mereka baru menikah.


Berenang bersama di laut yang jernih. Snorkeling menikmati keindahan terumbu karang serta ikan kecil, lalu diakhiri makan malam romantis. Berti menyebutnya seperti itu bukan berarti Cakra berubah dengan memberi bunga atau hadiah, tapi suasana restoran itu yang membuat romantis. Kemudian diakhiri dengan ritual suami istri.


Sayangnya Cakra cuma punya waktu sekitar empat hari untuk menikmati suasana Maldives dan Berti harus merelakan kebersamaan itu.


"Belum juga seminggu di sini. Masa harus pulang," protes Berti.


"Aku, kan, harus kerja. Cari uang biar kita bisa liburan lagi," kata Cakra.


Jangan lupakan juga hitung-hitungan Cakra. Pria itu sangat menyukai uang yang keluar dan masuk. Pemasukan sebanyak-banyaknya dan pengeluaran sekecil-kecilnya.


"Mas pelit."


"Astaga! Aku dibilang pelit terus. Bedain, Bert. Antara pelit dan pria yang jeli mengatur keuangannya. Enggak selamanya hidup ini enak terus. Uang untuk liburan ini hasil tabunganku selama setahun," ungkap Cakra.


"Iya, deh, Mas," sahut Berti.


"Tahun ini kita nabung lagi buat liburan. Kamu kasih tahu saja mana tempat yang pengen kamu kunjungi."


Berti tersenyum. "Beneran?"


"Iya, kasih tahu saja tempat yang ingin kamu kunjungi."


"Ke Italia."


Cakra mengangguk. "Boleh, kamu doakan suamimu ini banyak rezeki."


Berti langsung memeluk suaminya. Malam ini, adalah malam terakhir keduanya berada di pulau Mihiri. Kenangan ini akan selalu Berti ingat karena di moment ini Cakra bertindak sebagai suami yang cukup romantis.


...****************...


Besoknya, Cakra dan Berti melakukan penerbangan menuju Jakarta. Perjalanan yang akan memakan waktu selama satu hari. Dipastikan keduanya akan sampai di pagi hari keesokkan harinya.


Cakra juga sudah memberitahu adiknya, Dafa untuk menjemput karena keduanya akan langsung berkumpul bersama keluarga. Berti telah menelepon jika mereka akan tiba pagi esok kepada orang tua serta mertua dan menyuruh mereka untuk berkumpul di rumah.


Sepanjang perjalanan dihabiskan dengan tidur. Baik Berti dan Cakra baru merasakan lelah yang teramat ketika berada dalam pesawat. Selama di vila, mereka seakan tidak pernah lelah untuk adu gulat di tempat tidur.

__ADS_1


Pesawat mendarat dengan selamat di jam 09.00 pagi. Perjalanan berat membuat Berti tidak sabar untuk segera sampai di rumah. Mereka harus menunggu lagi dijemput lantaran Dafa yang masih berada di jalan.


"Kalau begini, aku suruh Ariel saja yang jemput," gerutu Cakra.


Rupanya menunggu itu sangat melelahkan. Berti baru tahu betapa bermanfaatnya untuk selalu menepati waktu. Karena ia sendiri ingin marah karena Dafa.


Kendaraan roda empat berwarna hitam berhenti di depan Cakra dan Berti. Seorang pria keluar dengan senyum mengembang yang sama sekali merasa tidak bersalah.


"Telat lima menit lagi, tinjuku ini akan melayang," kata Cakra.


"Maaf, deh. Tadi macet," ucap Dafa.


"Datang lebih awal, dong. Enggak tahu kita lagi capek. Mau sampai rumah dengan cepat. Kamu malah datang terlambat."


"Iya, maaf," ucap Dafa seraya membuka pintu dan mempersilakan Berti serta Cakra masuk.


Berti langsung merebahkan kepalanya di pundak Cakra dan memejamkan matanya. Cakra sendiri tidak protes, malah merangkul istrinya untuk semakin dekat.


"Cepat jalan. Kakak iparmu ingin tidur," kata Cakra.


"Iya, enggak sabaran banget," gerutu Dafa.


"Gimana, Sayang. Apa sudah ada tanda-tandanya?" tanya Widya.


Berti menggeleng. "Belum, Ma."


"Baru pulang sudah ditanya," kata Cakra.


"Mama, kan, enggak sabar punya cucu."


Berti juga memikirkan itu. Belum ada tanda-tanda ia akan hamil. Memang mereka baru melakukan suami istri setelah beberapa bulan menikah. Namun, biasa pasangan yang subur bisa langsung jadi dalam sekali bercocok tanam.


"Sabar, Bu. Mungkin belum saatnya," ucap Adhitama.


"Kita doakan saja," sahut Santi.


"Semoga segera diberi keturunan," timpal Ilham.

__ADS_1


Selain makan bersama, Berti juga membagi oleh-oleh yang ia bawa dari luar negeri. Barang yang dititipkan pada Ariel ada di rumah. Hanya saja belum dibuka. Semua kebagian hadiah yang Berti beli waktu berkunjung ke Singapura serta Malaysia.


...****************...


Kesibukkan Cakra kembali, sedangkan Berti berdiam diri di rumah. Ada kalanya ia ke kantor, tetapi bersama Cakra untuk mengurus pengalihan kekuasaan. Suaminya yang akan mengelola supermarket milik keluarga, dan butik yang tersebar di beberapa daerah juga diambil alih.


Kini Berti hanya duduk manis di rumah menikmati hasil kerja suaminya, dan itu membuat Berti sangat bosan. Tidak ada yang ia kerjakan. Untuk pergi bersama teman-teman, mereka juga punya kesibukkan masing-masing.


Kadang Berti berkunjung ke rumah orang tuanya, dan di sana selalu ditanya mengenai kehamilan. Sama saja jika berkunjung ke tempat mertua. Pertanyaan 'kapan hamil?' selalu terngiang di telinga Berti.


"Mas, kapan kamu pulang?" tanya Berti dari balik telepon.


"Seperti biasanya, pukul lima sore," jawab Cakra.


"Aku bosan di rumah."


"Cari kerjaan lainlah, aku sibuk, nih," kata Cakra, lalu memutus sambungan telepon secara sepihak.


Berti melempar begitu saja ponselnya di tempat tidur. Hari-harinya tidak bersemangat lantaran merasa seorang diri. Berti juga mengurangi untuk bertukar kabar atau curhat pada Banyu. Selain karena ia sudah menikah, Berti tidak ingin menganggu mantannya yang pasti punya kesibukkan tersendiri.


Ketika Cakra pulang kantor, Berti sama sekali tidak melepasnya. Cakra belum sempat berganti pakaian, tetapi Berti malah menyuruhnya naik ke atas tempat tidur.


"Kamu sakit?" tanya Cakra.


Berti menggeleng. "Enggak, aku cuma mau di dekat kamu. Aromamu enak."


"Tapi aku gerah. Aku mandi dulu, ya," kata Cakra.


"Nanti dulu. Aku mau peluk."


"Aku dari kantor, Bert. Aku mandi dulu habis itu kita makan, lalu tidur."


"Sebentar saja, Mas. Aku rindu berat sama kamu," ucap Berti.


Cakra melepas rangkulan Berti, lalu turun dari tempat tidur. "Aku mandi dulu."


Berti memukul guling karena Cakra lepas dari genggamannya. Entah kenapa ia merindukan suaminya itu dan tidak ingin jauh darinya. Berti juga merasa tiba-tiba tubuhnya kurang sehat.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2